
"Syifaaaaa." teriak Aria berjalan sedikit berlari menghampiri Syifa.
Syifa pun kaget dengan teriakan kakaknya yang sangat kencang itu.
"Kau, kau memang keterlaluan Syifa, Aku semalaman mencari mu tahu." ucap Aria menjewer kuping Syifa.
"At,at,at, s,sakit..." teriak Syifa sambil mencoba melepaskan jeweran Aria.
"Sakit..." teriak Syifa melotot kepada Aria.
Aria dan Syifa saling menatap, Aria menatap serius Adiknya itu, sementara Syifa yang habis di jewer Aria hanya bisa memasang muka cemberut.
"Kamu ini Syifa.." ucap Aria dengan nada lembut.
"Apa kamu tahu apa yang kamu lakukan itu berbahaya, Aku tidak tahu apa yang harus aku katakan kepada Mama, jika terjadi hal-hal yang tidak-tidak denganmu."
"Kamu pikir aku tidak khawatir denganmu hah..." imbuh Aria mengelus-elus kepala Syifa.
Syifa hanya tertunduk mendengar Aria yang sekarang sedang mengoceh.
"Maafkan aku karena telah membentak mu, aku tidak menyalahkan mu atau membela Hara."
"Yang aku lakukan adalah menjaga adikku supaya tidak buruk sangka kepada orang lain, supaya kamu tidak mempunyai rasa benci kepada siapapun."
"Kalau kamu marah dengan aku dan Hara kemarin, marahi saja aku, jangan bawa-bawa Hara, apalagi sampai kamu menyangka nya yang tidak-tidak, karena itu mutlak kesalahanku yang membuat kita terjatuh."
"Aku katakan sekali lagi, Hara bukan orang yang kamu kira, malahan semalam Hara menemaniku mencari mu, bahkan dia rela bertanya kepada orang-orang di sekita, bahkan aku sekalipun tidak berbuat seperti itu." tegas Aria.
"Jika kamu masih marah, marahlah sekarang selagi kamu bisa, tapi ingat jangan bawa-bawa orang lain." pungkas Aria.
Syifa membalikan badannya ke arah jendela kaca tersebut dan terlihat mengepalkan tangannya.
"Aku bukan buruk sangka atau apapun, yang aku lakukan hanya demi kakak." Ucap Syifa.
"Yang aku lakukan ini agar kakak tidak terlalu berdekatan dengan Hara, sulit rasanya melihat kakakku terus murung saat Hara sibuk dengan pekerjaannya." imbuh Syifa cemberut.
Aria menatap Syifa dengan ledekan khasnya.
"Hmm, rupanya adikku ini perhatian sekali yaa..." Aria mengetuk-ngetuk kepala Syifa dengan tangannya.
"Habisnya terlihat..." ucap Syifa cemberut menyingkirkan tangan Aria.
Aria duduk di kursi di meja Syifa, sambil memandangi adiknya itu, Aria menyangga dagunya sendiri.
"Jangan ulangi lagi yaa.."
"Aku khawatir tau."
"Bagaimanapun kamu ini adikku satu-satunya, aku tidak ingin kamu kenapa-napa." tutup Aria.
Syifa hanya menundukkan kepalanya mendengar perkataan Aria, Syifa terlihat bersalah kepada Aria.
Tidak lama berselang, datang pelayan membawakan makanan ke meja Aria dan Syifa.
"A,Aku tidak memesan makanan." ucap Aria kepada pelayan tersebut.
"Ibu Hara yang pesan, katanya bapak yang ini belum makan, jadi Ibu Hara pesankan." ucap pelayan tersebut.
Aria menatap pelayan yang telah berjalan jauh dari mejanya.
"Heyy Syifa, Apa kamu dengar?"
"Dia memanggilku bapak."
"Apakah aku setua itu?" tanya Aria keheranan.
__ADS_1
Sambil sedikit menahan tawanya, Syifa memalingkan pandangannya.
"Sudah terima saja, memang kakak ini sudah tua." ujar Syifa.
"Hahhhh...," teriak Aria.
Kini Syifa dan Aria telah akur kembali, Syifa telah bersikap seperti semula.
"Nanti sore kita pulang Syifa." ajak Aria.
Syifa hanya melamun, dan tidak menjawab Aria.
"Hey Syifa." panggil Aria.
Dengan santai Syifa melihat ke arah Aria sambil menyangga dagunya itu.
"Aku sudah tidak kerja di sana lagi."
"Sekarang ini adalah tempat kerjaku." celetuk Syifa.
Aria sedikit melamun ketika mendengar perkataan Adiknya itu, kemudian Aria baru tersadar apa yang di katakan oleh Syifa.
"Hahhhh.." teriak Aria kaget.
"A,A,apa yang kamu katakan ini beneran Syifa?" tanya Aria.
Syifa menatap serius mata Aria, pandangannya pun tidak goyah sama sekali.
"Apa kakak rasa aku ini becanda?" tanya balik Syifa.
"T,t,tapi,, bagaimana tempat tinggal mu, jaraknya kan jauh?" sahut Aria.
Syifa yang masih menatap Aria pun membelalakkan matanya dengan tatapan sinis kepada Aria.
"Aku yakin kakak sudah tau, disini kan ada kamar-kamar yang kosong, jadi aku bisa menempatinya."
"J,jadi pakaianmu bagaiman?" tanya Aria lagi.
Syifa sangat terlihat kesal dengan pertanyaan-pertanyaan yang di ucapkan oleh kakaknya.
"Tentu saja kakak yang harus membawanya kesini." jelas Syifa sedikit membentak.
"Hahhhh,,," teriak Aria heran dengan kemauan Syifa itu.
"A,apa kamu masih punya akal sehat Syifa."
"Pertama-tama kamu kabur, dan sekarang kamu mau pindah kerja kesini dan menyuruhku mengambil semua barang mu."
"Kau ini aneh sekali Syifa." ucap Aria.
"Tidak, aku tidak aneh, ini kehidupanku, jadi apapun semauku." ucap Syifa.
"Yang terpenting aku tidak membebankan kehidupanku kepada kakak." tegas Syifa.
"Jelas kamu membebaniku Syifa, kamu yang mau pindah, aku yang harus repot-repot membawa bajumu kesini." gerutu Aria.
**
Aria berjalan keluar dari toilet restoran Hara, lalu dari ruangan sebelah terdengar suara yang memanggil Aria.
"Hey, Aria..." panggil seseorang pelan.
Aria celingukan melihat orang yang memanggilnya itu.
"Hara." sahut Aria.
__ADS_1
Hara melambaikan tangannya memanggil Aria, lalu Aria pun menghampiri Hara yang berada di sana.
"Bagaimana?" tanya Hara.
"B,Bagaimana apanya?" tanya Aria heran.
Aria pun celingukan, dan menjelaskan kepada Hara sambil berjalan ke atap tempat restoran tersebut.
"Hmmm, jadi begitu yaa.." ujar Hara.
Aria hanya bisa menganggukkan kepalanya.
"Aku bingung sama kemauan Syifa, sudah jelas kalau dia bersamaku, Syifa akan tetap dalam pantauan ku." keluh Aria.
Hara hanya bisa tersenyum dengan keluhan Aria itu.
"Tenang saja Aria, apa kamu lupa, bahwa aku juga masih disini."
"Jadi aku bisa menggantikan Aria memantau Syifa." ujar Hara.
Aria hanya melotot menatap Hara.
"T,tidak, bagaimana kamu bisa memantau Syifa."
"Terus, S,Syifa kan sedikit tidak suka kepadamu." ucap Aria tertunduk sedih.
Hara tetap tersenyum mendengar Aria yang berbicara, dan menyandarkan kepalanya di bahu Aria.
"Percayakan saja padaku Aria, ini adalah kesempatanku untuk membuat Syifa lebih dekat denganku." tegas Hara.
"Lagipula, jika Syifa kesini Aria juga bisa sering menjenguk Syifa."
"jadi kita bisa lebih sering bertemu setiap minggu." tutup Hara dengan senyum manisnya.
Sambil menatap wajah Hara yang sedang bersandar di pundaknya, dalam benak Aria pun berkata.
"B,benar juga."
"J,Jadi gue juga tidak mengganggu fokus Hara dalam pekerjaannya."
"ide yang bagus juga." gumam Aria sambil manggut-manggut.
***
ngengggggg, Hara sedang menyetir mobilnya mengantar Aria.
"Ahhh, sampai juga." ucap Aria.
Aria pun turun dari mobil Hara, dan berjalan ke kamarnya dengan Hara.
"Kalau sudah selesai membereskan barang Syifa, kabari aku Aria."
"Aku menunggu di kamarku." ucap Hara.
Aria hanya melamun melihat Hara yang sedang berjalan ke kamarnya.
"Ehh, apa ini hanya perasaanku saja."
"Hara terlihat aneh lagi."
"Dia bersikap dingin kembali." gumam Aria.
Dan Aria pun membereskan pakaian Syifa, sambil melihat-lihat ke ruangan kamar Aria.
"Akan sepi jika tidak ada Syifa disini."
__ADS_1
"Aku bingung dengan keputusanku melepas Syifa jauh denganku." gumam Aria.