
"Ma kita berangkat dulu." ucap Aria dan Syifa.
Setelah menghabiskan waktu dengan Hara, Aria pulang ke kampung halamannya menyusul Syifa, dan sekarang waktunya Aria dan Syifa beraktifitas kembali setelah seminggu lebih libur.
"Mulai beraktifitas seperti biasa lagi." keluh Syifa.
Aria menatap adiknya itu sambil tersenyum.
"Kau ini, kalau kita tidak bekerja, kita tidak akan mendapat uang."
"Semangat." ujar Aria mengangkat tangannya.
Syifa menatap wajah Aria sambil memelas.
"Semangat, semangat."
"Semangat, ketek mu bau"
"Kakak semangat karena bisa bertemu Hara kan?" ujar Syifa.
Aria langsung memalingkan pandangannya dari Syifa, bagaimanapun omongan Syifa sedikit benar.
"K,K,kau ngarang Syifa."
"ketek ku tidak bau." sahut Aria.
*
Aria yang sedang duduk di kursi bis pun melamun melihat luar, dan Aria terpikirkan Hara.
"Aria, aku ingin membuat kenangan bersamamu." pinta Hara.
Kata-kata dari Hara muncul dalam benak Aria.
"Hara, aku sangat merindukanmu." gumam Aria yang melamun.
**
Sampai juga.
Brukkkk, Syifa duduk seperti orang kecapean di kamarnya.
Diikuti Aria yang membawa 3 tas besar di tangan dan punggungnya.
"Jalanmu sangat lama kak." terang Syifa.
Sambil ngos-ngosan Aria menjawab perkataan adiknya itu.
"Jelas aku lambat Syifa."
"Semua bawaan mu di titipkan kepadaku." sahut Aria.
"Aku yang capek." keluh Aria.
"Hehe.." Syifa hanya tersenyum mendengar keluhan kakaknya itu.
Aria membereskan barang bawaannya, dan merapikan barangnya di lemari.
"Mama memang pengertian, memang mama tahu benar cemilan kesukaanku." ucap Syifa yang merasa senang.
Aria tidak menghiraukan adiknya yang sedang senang tersebut, dan terus merapikan bajunya.
Baju Aria pun sudah rapi, Aria berjalan melewati Syifa yang sedang memakan cemilannya.
"Rapikan dulu bajumu." ujar Aria sambil menggeleng-geleng kepala Adiknya itu.
Syifa yang sedang makan pun cemberut, lalu mengeplak pantat Aria.
"Tidak sopan kau Aria." teriak Syifa dengan nada kesal.
Aria tertawa berlari menghindari Syifa yang marah, dan memasuki kamar mandi.
Setelah semuanya rapi, dan kini Aria bersiap-siap untuk tidur merapikan kasurnya, sambil rebahan di kasurnya, Pikiran Aria pun kembali tertuju kepada Hara.
Dan hari yang tidak bisa di lupakan bersama Hara, Aria semakin mencintai Hara.
"Hara sedang apa kamu sekarang." gumam Aria memejamkan matanya.
*
"Kak bangun kak, kita kesiangan." Teriak Syifa.
Aria yang kaget dengan suara Syifa langsung terbangun melihat jam.
__ADS_1
" Sial, sudah jam ½ 8." ucap Aria panik.
Aria buru-buru membereskan alat kerjanya kemudian berlari dari kamarnya menuju pintu.
Clekkk, Aria membuka pintunya.
Dakkk, pintu Aria menghantam sesuatu.
Aria melihat ke belakang pintu yang di bukanya.
Dan ternyata Hara sedang berdiri sambil memegangi keningnya kesakitan.
"Aww,sakit..." ucap Hara meringis kesakitan.
"Huaaaa, bagaimana ini?" gumam Aria.
Aria berjalan pelan mendekati Hara, dan berusaha memegang kening Hara.
"Kamu tidak apa-apa Hara?" tanya Aria.
Hara mengalihkan pandangannya, dan tidak memandang Aria.
Hara cemberut dan wajahnya memerah.
"Hara..." ucap Aria pelan.
Hara meninggalkan Aria dan berjalan masuk ke kamarnya.
"Ehhh..." Aria melamun terdiam ketika Hara meninggalkannya.
"Gue benar-benar bodoh." gumam Aria.
*
Waktu sore hari telah tiba, Aria berjalan pulang seperti kertas yang tertiup angin.
"Gue tidak fokus."
"Hara, maafkan gue." gumam Aria yang berjalan melamun.
Aria berdiri di depan kamarnya, kemudian menatap pintu kamar Hara berharap Hara akan keluar.
Dan benar, Hara pintu kamar Hara terbuka, Hara keluar dari kamarnya.
Aria tersipu melihat Hara yang keluar itu, Hara menatap sinis ke arah Aria, kemudian dia membuang sampah yang di bawanya.
Hara tetap menatap sinis Aria, dan berdiri di depannya.
"A,a,ada apa Aria?" Hara memalingkan pandangannya.
"Ehh, kenapa Hara terlihat gugup." gumam Aria.
Aria menggaruk pipinya, membuka pembicaraan dengan Hara.
"A,apa kabarmu?"
"b,b,bagaimana keadaan jidatmu?" tanya Aria.
Aria tersenyum sambil melotot kaget.
"Kenapa gue menanyakan kabar jidat Hara!."
"Seharusnya, gue menanyakan kabar saat liburannya." gumam Aria.
Aria melihat jidat Hara biru, dan berusaha memegangnya.
"J,Jidatmu?" ucap Aria berusaha memegang jidat Hara.
Hara menghindari tangan Hara, dan wajahnya sangat tersipu malu.
"A,aku baik-baik saja." jawab Hara.
Hara melepaskan pegangan tangan Aria, dan berusaha cepat-cepat masuk ke dalam kamarnya.
Tapi, sekali lagi Aria menarik tangan Hara, dan menyeretnya ke dada Aria.
Brukkk, kepala Hara terbenam di dada Aria, wajah Hara sangat merah dan tidak berani menatap wajah Aria.
"Apa kamu tidak merindukanku Hara?" tanya Aria.
"Aku sangat merindukanmu, apa kamu merasakan hal yang sama Hara." ucap Aria lirih.
Aria memeluk tubuh mungil Hara, dan mencengkram bagian belakang tubuhnya.
__ADS_1
Hara berusaha melepaskan pelukan Aria, tapi Aria tetap memeluk Hara.
"A,Aria, i,ini di luar."
"Aku takut orang lain melihat kita." tegas Hara.
Aria melepaskan pelukannya dari Hara, dan memegang belakang kepalanya sendiri.
"Ah, iya.."
"Maafkan aku Hara."
"Aku terbawa suasana." ucap Aria sambil tersenyum malu.
Hara sedikit tersenyum sambil tersipu malu, dan mengajak Aria masuk ke kamarnya.
Hara membereskan kamarnya, lalu membawa minum untuk Aria.
Aria yang masih memakai pakaian kerjanya duduk di kamar Hara sambil memperhatikan Hara yang kelihatannya sibuk.
Hara membawa wadah yang berisikan air minum untuk Aria.
"Ini Aria air minumnya...."
tiba-tiba Hara tersandung, dengan sigap Aria menangkap tubuh Hara yang terlihat akan terjatuh.
Craanggg, gelas pun berjatuhan, tapi Aria berhasil menahan tubuh Hara yang akan ikut terjatuh.
"Kamu tidak apa-apa Hara?" tanya Aria.
Wajah Aria dan Hara sangat berdekatan, mata Aria dan Hara saling bertatapan.
"Hara..." panggil Aria.
Aria berusaha memegang pipi Hara, tetapi Hara yang wajahnya tersipu malu menghindari tangan Aria, dan menjauhkan dirinya dari tubuh Aria.
"Ahh, maaf Aria, aku akan membawakan airnya lagi." ucap Hara.
Hara buru-buru menjauhi Aria, dan mengambilkan air untuk Aria lagi.
Sementara itu, Aria menatap heran Hara.
Hara bersikap sangat gugup kepada Aria, bahkan Hara jarang sekali memandang mata Aria.
Biasanya, Hara selalu menempel kepada Aria.
"Hara, apa yang merasuki mu?" Pikir Aria.
Hara kembali menghampiri Aria, dan tetap tidak menatap Aria.
Aria yang merasa heran dengan sikap Hara duduk di samping Hara.
Hara tertunduk malu di dekat Aria, dan sangat berbeda dengan Hara yang terakhir kali Aria temui.
"Hara..." panggil Aria lagi
Hara seperti terkejut dengan panggilan Aria, dan menjauhkan tubuhnya dari sisi Aria.
Aria sangat heran kepada Hara, dan menarik tubuh Hara kembali.
Brukk, Hara terseret ke sisi Aria kembali, dan meletakan tangannya di dada Aria.
"Kamu kenapa Hara?"
"Sikapmu sangat Aneh!"
"Apa ini ada hubungannya dengan pertemuan kita sebelumnya?" tanya Aria.
Wajah Hara terlihat sangat gugup, bola matanya melirik kesana-kemari seakan sedang memikirkan sesuatu.
"Jawab aku Hara?" paksa Aria sambil memegang bahu Hara.
Hara melepaskan kedua tangan Aria dari bahunya, dan berdiri sambil membelakangi Aria.
"Aria, sebaiknya kamu ganti baju dulu."
"K,Kamu kan baru pulang kerja."
"Kamu pasti capek, sebaiknya kamu istirahat dulu."
"A,aku mau mandi dulu." tegas Hara.
Aria melamun heran kenapa sikap Hara begitu kaku, dan bertanya-tanya kenapa Hara membelot kan pembicaraan mereka, malahan menyuruh Aria pulang.
__ADS_1
"Hara apa yang terjadi lagi padamu."
"Apa kamu tidak merindukanku?" gumam Aria melotot menatap Hara.