
Dung,dungdung,dung,dung,,, Suara musik masih di putar sambil menikmati angin sejuk, dan makanan yang tersedia.
"Yuhuuuuuuuu" Yasmin dan Mbak Ania sedang berdansa menikmati liburan mereka.
Di tambah Tarian bebek yang di perlihatkan oleh Syifa, Yang membuat Aria merasa malu karena Syifa adalah Adiknya.
"Syifa,, kamu bikin malu saja."
"Sifat mu sangat berbeda denganku." gumam Aria memegangi jidatnya sendiri.
Di antara cewek yang ikut bersama rombongan, cuma Hara yang terlihat sangat tenang, Hara selalu berada di samping Aria, dan tidak pernah jauh dari Aria di malam terakhir ini.
Hara yang sedang tertawa menyaksikan kekonyolan mereka semua pun mencolek paha Aria.
"Apa kamu tidak ingin ikut bersenang-senang dengan mereka Aria?" tanya Hara.
Aria bingung mau jawab apa dengan pertanyaan Hara itu, yang hanya bisa Aria lakukan cuma tersenyum sambil menggaruk kepalanya.
Mbak Ania tersenyum sambil menghampiri Aria dan Hara yang sedang duduk berdua.
"Ayo Hara, kamu juga ikutan!" ucap Mbak Ania menari tangan Hara.
Sontak Hara langsung menolak ajakan dari mbak Ania, dengan alasan dia tidak bisa nyanyi dan joget.
"Kamu ini Hara,, sayang sekali." ucap Mbak Ania kembali.
Lalu, Mbak Ania melihat ke arah Aria yang sedang memperhatikan mereka berdua.
"Apa kamu ingin menghabiskan waktumu dengan lelaki ini?" tunjuk Mbak Ania kepada Aria.
"Sayang sekali Hara, padahal kamu ini cantik, masih banyak lelaki yang lebih ganteng dari Aria." ucap Mbak Ania.
Aria pun menjadi panik dengan perkataan mbak Ania kepada Hara.
Hara kelihatannya sedikit marah dengan kelakuan mbak Ania itu.
"Terserah kau saja Ania." balas Hara.
Mbak Ania pun tertawa mendengar perkataan Hara yang menjadi jutek setelah Mbak Ania menyinggung Aria.
"Hehe,, Hanya becanda kok.." celetuk Mbak Ania.
"Aku pergi dulu,, silahkan nikmati waktu kalian berdua malam ini." imbuh Mbak Ania meninggalkan Aria dan Hara.
Aria hanya bisa melongo dengan yang di lakukan mbak Ania itu, kenapa bisa Mbak Ania jadi blak-blakan begitu.
"Si Raiga itu, dia tidak pernah berubah." celetuk Hara.
"Ehhh, ada apa dengan Raiga?" gumam Aria.
Aria melihat ke arah Raiga yang sedang duduk memainkan Ponselnya, sesekali dia minum dari gelas yang berbeda.
" huahhh, siall,, Ternyata si Raiga menyetok minuman beralkohol itu." gumam Aria.
Tiba-tiba Hara sedikit bergeser menempelkan badannya di badan Aria.
"Ehhhh.." Aria langsung menatap Hara yang mendekatinya.
"Aria, kamu jangan berfikir negatif kepada Raiga, meskipun dia sering minum, dan orangnya terlihat dingin,, tapi Raiga orangnya penyayang, dia pasti akan melindungi orang yang di sekitarnya."
"Bukan hanya aku, Yasmin pun pasti akan Raiga lindungi." jelas Hara.
Aria menatap Raiga yang sedang melamun sambil memegang botol minumannya.
__ADS_1
"Jika Hara percaya kepada Raiga, gue tidak bisa apa-apa, selain mempercayainya juga." gumam Aria.
"Ahh, aku mau ngambil jaket dulu Aria,,, Hawanya sudah terasa sangat dingin." terang Hara meninggalkan Aria.
**
Aria melihat jam di ponselnya, dan waktu sudah menunjukan pukul 11 malam.
"Sudah setengah jam, Hara belum kembali juga."
"Jenuh juga." gumam Aria beranjak dari duduknya.
Aria bingung sendiri kemana Aria akan pergi, kemudian Aria mengingat suatu tempat yang pernah Aria temukan di penginapan ini.
"Ahhh, mungkin gue bisa beristirahat di sana." gumam Aria.
Aria berjalan meninggalkan teman-temanya yang sedang gembira ria itu, dan menuju sesuatu tempat yang terpikirkan tadi.
Aria berjalan menyusuri kamar-kamar di atas, kemudian menaiki tangga yang yang menuju atap penginapan ini.
"Ehhhhh,,,"
Aria yang sudah berada di atap dikagetkan oleh Hara yang sedang merapikan tikar dan tenda itu.
"Hara..." panggil Aria sedikit berlari menghampiri Hara.
"K,kamu mau ngapain?" tanya Aria.
Dengan santai sambil merapikan tendanya, Hara pun melirik ke arah Aria.
"Aku berpikir disini tempatnya enak juga, jadi aku putuskan untuk tidur disini malam ini." terang Hara.
"T,tapi disini dingin Hara." sahut Aria.
Hara melirik ketus kepada Aria.
Aria melihat ke dalam tenda yang di buat Hara.
"Ini seriusan?" tanya Aria kaget.
Ternyata di dalam tenda yang telah Hara buat, di sana ada peralatan tidur beserta selimut yang sangat tebal.
Hara menarik napas panjangnya, lalu masuk ke dalam tendanya.
"Terus, menurutmu ngapain aku capek-capek membawa barang ini, kalau aku tidak tidur disini Aria." jawab Hara.
"Benar juga..." gumam Aria.
Hara menggesekkan tangannya karena kedinginan, dan membuat teh hangat dengan termos kecilnya.
Aria hanya bisa melihat Hara dari luar tenda, karena tidak berani masuk.
"Aria..." panggil Hara mengacungkan gelas teh kepadanya.
"Ehhh," Aria kaget dengan teh yang di tawarkan Hara.
Aria berjalan masuk ke dalam tenda, dan duduk menghadap Hara yang sedang kedinginan itu.
"Brrrrr,,,,Dinginnyaa.." ucap Hara menatap ke arah luar.
Hara sesekali meniupkan mulutnya kedalam tangannya agar terasa hangat, dan Aria yang kini sudah bersama Hara lagi cuma bisa menatap Hara.
"C,Cantiknya pacarku..." gumam Aria melototi Hara.
__ADS_1
Hara yang sadar dirinya sedang dipandangi oleh Aria memalingkan wajahnya, sambil menutupi bagian bawah tubuhnya dengan selimut.
"Kenapa kamu terus memandangiku Aria?" tanya Hara dengan wajah memerah.
Aria tersentak dengan pertanyaan Hara itu, kenapa Hara terganggu dengan Aria yang terus memandanginya.
"A,apa aku salah memandang wajah pacarku sendiri." ucap Aria.
Hara terlihat sangat malu dengan perkataan Aria, hingga Hara tidak berani memandang ke arah Aria.
"D,Dibawah sangat berisik, jadi aku ingin berdiam diri disini." ucap Hara gugup.
Trininggggg, suara pesan masuk di ponsel Hara, dan Hara pun langsung melotot kaget ketika melihat ponselnya itu.
Trangggg,trangggg,trangggg, kaleng terjatuh lagi dekat pintu, Aria pun beranjak dari duduknya mencoba melihat sekitar.
"Aria.." panggil Hara menarik kencang tangan Aria.
Wussshhhh, brukkkkk,,
Aria tertarik oleh Hara, sehingga Aria terjatuh menindih Hara membuat wajah Aria dan Hara bertatapan dekat.
Mata Hara terlihat sangat ketakutan ketika matanya bertatapan dengan Aria, seolah-olah dia ingin menangis.
Napas Aria menjadi sesak dan tidak beraturan, Aria memegang pipi kiri Hara dangan tangan kanannya, dan mengelus-elus pipi Hara dengan ibu jarinya.
Tatapan ketakutan Hara semakin menjadi, dia seolah-olah ingin berteriak kencang ketika pipinya di sentuh oleh Aria.
Aria mendekatkan wajahnya ke wajah Hara, Hara pun yang terlihat pasrah hanya bisa memejamkan matanya yang ketakutan itu.
"Aneh,, Apa yang terjadi kepadamu Hara?" tanya Aria
Hara langsung membuka matanya, dan kembali memalingkan pandangannya dari Aria.
Aria pun bangun dari posisi menindih Hara, Aria juga menyadari satu hal, Hara yang sekarang adalah Hara yang canggung, dan tidak ingin di sentuh oleh Aria.
"Kamu ini kenapa Hara, Aku sangat bingung, terkadang kamu sangat manja kepadaku,, tapi ada kalanya kamu juga sangat canggung kepadaku."
"Sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Aria.
Hara hanya mampu melamun mendengar perkataan dari Aria, dan menutup matanya dengan tangannya sendiri.
"Maafkan aku Aria, aku sedang pusing dengan restoran milik ibuku, di sana lagi ada pemogokan kerja,, dan ibuku sekarang sedang sakit di buatnya."
"Sekarang, aku sedang bingung dibuatnya, pertama-tama aku merasa diriku tidak berguna karenya menyerahkan pekerjaan kepada ibuku."
"Kedua,, aku juga ingin bersamamu di sini, aku disini bukan karena acara ulang tahun Raiga, tapi untuk membuat kenangan bersamamu."
"Apa yang harus aku lakukan Aria?" tanya Hara.
Aria sedikit melotot mendengar permasalahan Hara.
"J,Jadi dia meninggalkan pekerjaannya demi gue, bukan demi acara Raiga."
Hara berani terbuka kepada Aria tentang masalahnya, berarti Hara sudah mempercayai Aria.
Aria tertunduk lesu mendengar masalah Hara, karenanya pula Hara berada dalam masalah yang genting ini.
"Hara rela mengorbankan pekerjaannya demi gue."
"Hara kesini karena ingin bersama gue, gue harus hibur Hara."
"Bagaimana pun, gue harus membuatnya ceria seperti tadi siang." gumam Aria memandangi Hara.
__ADS_1
Aria bergeser dan duduk sambil menatap Hara yang sedang berbaring itu.
"Hara, bisakah kamu bangun sebentar?" Aria menarik tangan Hara.