
clekk, Syifa membuka pintu kamarnya.
Aria yang sedang membersihkan meja menatap Adiknya yang masuk ke kamar milik mereka berdua.
" Apa Yasmin sudah mendingan?" tanya Aria
" ya, begitulah." jawab Syifa.
" begitulah bagaimana?"
" itu bukan jawaban Syifa." ujar Aria.
" lihat saja sendiri." jelas Syifa sambil merebahkan dirinya di kasur.
Aria menatap heran Syifa yang baru datang sudah rebahan lagi.
" kamu ini Syifa, jadi anak perawan jangan malas begitu." ucap Aria.
" berisik." teriak Syifa.
Aria menghela nafasnya sambil mengeluh karena adiknya sekarang selalu membangkang.
Setelah beberapa lama, Aria memakai jaketnya, dan bersiap-siap untuk pergi.
" Kakak mau kemana?" tanya Syifa.
Sambil bergegas dan merapikan jaketnya Aria berbicara kepada Syifa.
" Aku mau melihat Yasmin dulu,"
" Aku ingin bertemu dengannya."
Syifa menatap Aria sambil menahan kantuknya.
" jangan lupa bawa oleh-oleh." teriak Syifa.
Aria berjalan keluar kamarnya, dia berencana menjenguk Yasmin yang sedang sakit, dia berjalan sambil melihat-lihat pedagang buah di sekitar jalanan.
Aria akhirnya sampai di depan pintu kamar Yasmin.
Aria mengangkat tangannya untuk mengetuk pintunya.
" uhugg,uhuggg" batuk Yasmin di dalam kamar.
Eeekkkkk, Yasmin membuka pintu sebelum Aria mengetuknya.
Aria dan Yasmin saling pandang kaget karena mereka sedang bertatap muka.
" A,A,Aria."
" Ada perlu apa?" tanya Yasmin.
Aria tersenyum kepada Yasmin.
" Aku hanya ingin tahu keadaanmu saja Yas." jawab Aria.
Yasmin berjalan keluar membuang sampah, dan kembali masuk ke kamarnya.
" Ayo masuk Aria." ajak Yasmin.
Aria mengikuti Yamin, dan duduk di karpet yang telah tersedia.
Aria melihat-lihat ruangan kamar Yasmin.
Dan Pandangan Aria tertuju kepada wajah Yasmin yang pucat.
Yasmin yang kelihatan kedinginan memakai selimutnya sambil duduk menghadap Aria.
Aria memegang jidat Yasmin dan mengecek suhu tubuhnya.
" huhh panas, tuh tanganku sampai mau terbakar." ledek Aria tersenyum.
Yasmin menatap cemberut Aria.
" sudah minum obat." tanya Aria kembali.
Yasmin menganggukkan kepalanya.
" apa perlu kita pergi ke dokter?" tanya Aria lagi.
Yasmin menggelengkan kepalanya.
Huhhh, Aria menarik nafas panjangnya, dan mengambil bingkisan plastik yang di bawanya tadi.
" mau ini?" tanya Aria sambil mengacungkan buah anggur.
Yasmin menganggukkan kepalanya tersipu malu.
" ini..."
Aria menyodorkan anggur di tangannya, tapi mulut Yasmin malah menganga.
" eh, kenapa kamu malah membuka mulutmu Yasmin?" tanya Aria.
" suapin." ucap Yasmin manja.
" ahhh, sudahlah..." keluh Aria sembari menyuapi Yasmin.
Yasmin sedikit kegirangan karena Aria menyuapinya, dan mengunyah sambil tersenyum malu.
Aria menemani Yasmin dari siang sampai sore hari, dan kemudian Syifa datang ke kamar Yasmin.
Eekkkk, Syifa membuka pintu kamar Yasmin.
Aria yang sedang menjaga Yasmin yang sedang tidur melihat ke arah Syifa.
__ADS_1
" akhirnya kamu datang juga Syifa." ucap Aria pelan.
" tidurnya sudah lama?" tanya Syifa.
" mungkin setengah jam yang lalu." jawab Aria
Kemudian Syifa menatap curiga Aria.
" apakah kakak tidak melakukan sesuatu kepada kak Yasmin saat dia sedang tidur?" tanya Syifa.
Aria terjengkang kaget mendengar pertanyaan Syifa yang aneh itu.
" m,m,melakukan sesuatu bagaimana Syifa?" tanya Aria menepuk jidatnya sendiri.
Syifa tersenyum, dan mengalihkan pandangannya ke arah Yasmin yang sedang tidur.
" yaa, seperti mengelus-elus pahanya, atau melakukan sesuatu!".
Tangan Syifa berpose *******-*****.
" ap,ap,apa yang kamu pikirkan Syifa,"
" a,a,aku tidak mungkin melakukan itu." tegas Aria yang sedikit canggung.
Syifa tersenyum lebar melihat kakaknya yang salah tingkah itu.
Aria membereskan barangnya dan beranjak pergi dari kamar Yasmin.
" aku pergi dulu Syifa."
" jangan lupa, temenin Yasmin sampai dia sembuh total." pesan Aria kepada Syifa.
Aria pun bergegas meninggalkan ruangan itu.
" hey Kak." panggil Syifa.
Aria menoleh ke arah Syifa yang memanggilnya.
" ingat jangan macam-macam dengan orang yang ada di kamar sebelah." ucap Syifa.
Aria mengiyakan peringatan dari Syifa, dan meninggalkan kamar Yasmin.
Aria berjalan santai di pusat kota, dia melewati penginapan yang dulu di tempati Hara.
" sejak tadi malam, gue belum bertemu lagi sama Hara." gumam Aria.
Aria melanjutkan jalan kakinya itu, dan sampai di depan pintu kamarnya.
Aria melihat ke arah pintu kamar Hara.
" apa di pikiran Hara cuma kerja,kerja, dan kerja..."
" apa dia tidak mau keluar dengan gue, seperti pasangan lainnya." gumam Aria bertanya-tanya dalam benaknya.
" sstttt,ssstttt, Hey Aria." seseorang memanggil pelan Aria.
Aria celingukan mencari sumber suara yang memanggilnya.
" ini, aku Hara." ucapnya lagi.
Aria melihat ke arah pintu Hara, dan kepala Hara nongol di sana.
" huaaaa..." Aria meloncat kaget melihat Hara yang memakai masker wajah.
" hehehe.." Hara tertawa melihat terkejut melihatnya.
Aria menarik nafasnya sambil memegangi dadanya.
" kenapa kamu selalu mengagetkanku Hara." keluh Aria.
Hara tersenyum lebar dan mengajak Aria masuk ke kamarnya.
" ada perlu apa Hara?" tanya Aria yang sudah di dalam kamar Hara.
Ternyata Hara ingin meminta bantuan untuk memasang lampu di kamarnya.
Aria memasangkan lampunya menggunakan kursi yang ada di kamar Hara.
" Sudah Hara, tinggal nyalain." ucap Aria.
Hara menyalakan lampu, dan berjalan ke arah Aria sambil menatap heran Aria.
" tumben stelan mu gaya begitu?" tanya Hara.
Aria celingukan dengan pertanyaan Hara yang menjurus itu.
" eh,Hara memperhatikan gue, "
" a,apakah gue Harus jujur kepada Hara?" gumam Aria
Tiba-tiba perkataan Hara beberapa waktu lalu muncul kembali di benak Aria.
" Aku, Aku hanya ingin di akui oleh pacarku sendiri, aku ingin membantu pacarku yang terlihat sangat tertekan saat ini, aku yakin kamu menyembunyikan sesuatu dariku sekarang." ucap Hara sedih.
Hara masih menatap Aria karena Aria belum memberikan jawaban dari pertanyaannya itu.
" Aria," panggil Hara menepuk badan Aria.
Aria yang sedang melamun kaget akhirnya berbicara jujur kepada Hara, bahwa Aria baru pulang menjenguk Yasmin yang sedang sakit.
Hara sedikit melamun, dan tersenyum kepada Aria.
" oh begitu ya." ucap Hara tersenyum.
" terus bagaimana keadaan Yasmin sekarang?" tanya Hara.
__ADS_1
Aria sedikit gugup ketika menceritakan keadaan Yasmin, tapi Hara tetap mendengarkan pembicaraan pacarnya itu.
" mudah-mudahan Yasmin lekas sembuh." ucap Hara.
Aria menatap wajah pacarnya itu, ternyata Hara tidak tersinggung ketika Aria berbicara tentang Yasmin.
" kamu memang terbaik Hara." gumam Aria menatap haru Hara.
Hara menatap Aria yang wajahnya berubah.
" Ada apa Aria?" tanya Hara heran.
Aria menggelengkan kepalanya, dan tersenyum kepada Hara.
***
Aria dan Hara menghabiskan beberapa jam di kamar Hara.
Aria menatap Hara yang sedikit melamun.
" ada apa Hara?" tanya Aria heran.
Hara terkejut sambil menggelengkan kepalanya.
" ah,t,tidak ada apa-apa!" terang Hara gugup.
Aria terus menatap pacarnya itu, dan dia ingin menanyakan sesuatu tentang hubungannya dengan Hara.
" hey Hara, apa hubungan kita tidak aneh?" tanya Aria.
Hara langsung menatap heran Aria.
" A,aneh bagaimana?" tanya balik Hara.
Aria menjelaskan hubungannya dengan Hara yang tidak seperti pasangan lainnya, Aria dan Hara hanya bertemu saat Hara bekerja saja, dan itupun di dalam kamar Hara.
Aria mengungkapkan bahwa dia juga butuh keluar dengan Hara, dia mempunyai keinginan untuk makan bersama, mengunjungi tempat hiburan berduaan dengan Hara.
Hara hanya melamun mendengar keluhan dari Aria, dan tidak menjawab perkataan yang di ucapkan oleh Aria.
" Apa ini mengganggu pikiranmu Aria?" tanya Hara.
Aria menganggukkan kepalanya.
" aku ingin pergi keluar denganmu Hara!" tegas Aria dengan mata yang berbinar-binar.
Hara menatap ke arah jendela dengan tatapan yang kosong.
" maafkan aku Aria,"
" Aku sangat sibuk, Aku tidak bisa menuruti keinginanmu." tegas Hara.
Aria tertunduk kecewa, dan di buat sedih oleh Hara.
" A,A,Aku tidak memaksamu Hara, kalau kamu tidak bisa, aku bisa pergi keluar sendirian."
Aria cemberut dan membelakangi Hara seperti anak kecil yang sedang ngambek.
Hara tersenyum melihat tingkah Aria yang sedang ngambek itu.
" apakah itu benar Aria?"
" apakah kamu akan pergi sendirian?" goda Hara.
Aria masih ngambek dan membelakangi Hara.
" a,a,aku akan pergi sendirian." tegas Aria gugup.
Hara menghampiri Aria dan menemplokan badannya di punggung Aria.
" hmm, jadi kamu mau bermain denganku?" goda Hara pelan.
Aria masih ngambek pada Hara, dan dia hanya menganggukkan kepalanya.
" baiklah, kalau kamu mau bermain denganku, kamu mau di bawah apa di atas?" goda Hara lagi.
Aria terkejut mendengar perkataan Hara, dan menjauhkan tubuhnya dari Hara yang menggodanya itu.
" b,b,bukan bermain seperti itu Hara."
" y,y,yang aku maksud, bermain keluar jalan-jalan bersama." ucap Aria panik.
Hara tersenyum lebar melihat Aria yang masih saja panik dengan godaannya itu.
Aria salah tingkah dengan perkataan Hara itu.
" baiklah minggu depan Aria." ucap Hara tersenyum lebar kepada Aria.
" minggu depan aku akan meluangkan waktuku untuk jalan-jalan denganmu." ucap Hara.
Mata Aria langsung berbinar-binar dengan perkataan Hara.
" benarkah?" Sahut Aria yang terlihat bahagia.
Hara menganggukkan kepalanya, dan mengusap kepala Aria.
" tidak mungkin aku menolak ajakan dari pacarku..."
" aku juga ingin membuat kamu bahagia Aria." tegas Hara yang tersenyum lebar kepada Aria.
" yeahhh, wuhuhh."
Aria meloncat kan badannya kegirangan karena Hara akhirnya mau pergi keluar bersamanya.
Hara tersenyum bahagia melihat Aria yang sedang bergoyang-goyang itu.
__ADS_1