
Napas Hara terasa meniup wajah Aria, pipinya memerah, dan terlihat sangat gugup.
" waaaa, t,t,tidak, tidak, Hara sangat manis."
" w,w,wajahnya begitu imut."
" bagaimana ini?"
" gue tidak bisa bernafas." gumam Aria yang masih melotot menatap mata Hara.
Aria menelan ludahnya karena gugup berdekatan dengan wajah Hara.
Husshhh,husshhh Nafas Hara meniup pipi Aria..
" w,w,wanginyaaa.." Mata Aria terbelalak.
Brukkkk, Aria terjatuh kejang-kejang tidak kuat wajahnya berdekatan dengan wajah Hara.
" waaa, kamu kenapa Aria." teriak Hara panik.
*
" Aria, heyy Aria." badan Aria bergoyang-goyang.
" Aria bangun."
Plakkk,plakk,plakkk terasa ada yang menepuk-nepuk pipi Aria.
Aria membuka perlahan matanya, dan melihat Hara sedang berada di depannya.
" waaaaa, " teriak Aria kembali.
" sadar Aria." ucap Hara.
Hara memberikan sebotol minuman kepada Aria yang baru sadar.
Aria melamun dan celingukan mencari Syifa kembali.
" Kemana Syifa?" tanya Aria.
Hara menggelengkan kepalanya, dan menatap Aria.
" Syifa sudah pergi Aria." ucap Hara.
" ehhh, sudah pergi..." Aria memegang kepalanya sendiri.
" dan yang lebih penting..." ucap Hara.
Aria melihat kaget kepada Hara.
"Lebih penting apa Hara?" tanya Aria.
Hara menggelengkan kepalanya, dan tertunduk malu memalingkan pandangannya dari Aria.
" K,Kamu masih saja lemah Aria." terang Hara.
Aria tercengang mendengar perkataan Hara, karena bagi Aria ini adalah sebuah pengucilan karena benar Aria masih saja tidak berdaya berdekatan dengan Hara.
Aria menjadi panik, dan mencoba untuk mencari alasan karena dia pingsan.
" b,b,bukan begitu Hara." ucap Aria panik.
" A,A,Aku hanya..."
Tiba-tiba Hara tersenyum lebar kepada Aria, dan memotong pembicaraan Aria.
"Justru aku tenang Aria," ucap Hara.
Aria melotot heran dengan perkataan Hara.
" justru Aku sangat tenang,"
"Dengan kamu yang begini, kamu tidak akan berani menyentuhku sedikitpun Aria." terang Hara tersenyum lebar.
***
Triningg,, Satu pesan masuk di Ponsel Aria.
" Kak, enggak usah beli makan malam, aku udah makan kok." isi pesan dari Syifa.
__ADS_1
Aria mengeluh setelah mendapatkan pesan dari Syifa.
"Syifa telah berani jalan bersama lelaki, apa dia akan melangkahi kakaknya ini." ucap Aria
" tadinya aku ingin membelikan dia makan malam, tapi dia sudah makan duluan." tegas Aria.
Hara mengajak Aria berjalan di pusat kota, dan dia menuju bangunan penginapan yang di tempati Hara dulu.
" eh, kita mau ngapain kesini Hara?" tanya Aria.
" sudah ikuti aku saja." tegas Hara.
Hara dan Aria berjalan masuk ke penginapan itu, dan ternyata Hara mengajaknya ke puncak bangunan itu.
" ini kan?" tanya Aria lagi.
Hara menganggukkan kepalanya, dan melihat ke sekeliling pemandangan dari atas bangunan itu.
" kamu tidak perlu mengkhawatirkan Syifa,, Aria, semakin kamu mengekang, dia akan semakin memberontak."
" untuk sekarang biarkan dia hidup dengan keinginannya sendiri." ucap Hara.
Tiba-tiba Hara berbicara begitu kepada Aria, dan Aria pun menyadari, apakah selama ini salah Aria juga yang terlalu mengekang Syifa hingga dia jadi suka melawan kepada Aria.
Aria melamun memikirkan perkataan Hara tentang perlakuannya kepada Syifa.
Aria menatap Hara yang berada di sampingnya itu.
" Hara, kenapa kamu tadi bisa berada di belakangku?" tanya Aria.
Hara menjelaskan dirinya sedang berjalan-jalan di pusat kota, kemudian melihat Aria yang berjalan mengendap-endap seperti mengikuti sesuatu.
" ohh, jadi begitu ya." gumam Aria.
" terus, kamu sendiri ngapain di pusat kota begini, apa kamu mengikuti Syifa dari rumah?" tanya Hara lagi.
Aria langsung menatap Hara setelah pertanyaan dari Hara, dan langsung tertunduk sedih.
" A,Aku sedang mencari mu Hara." jawab Aria.
" eh, mencari ku?" tanya Hara lagi.
Aria menjelaskan kepada Hara, sudah sewajarnya Aria mencari Hara karena mereka berpacaran, dan nomor Hara juga tidak aktif, jadi dia sangat khawatir kepada Hara.
" Aku tidak menganggap mu sebagai pacarku Aria."
" kenapa kamu repot-repot mencari ku." ucap Hara terlihat tidak peduli kepada Aria.
" hahhh, benarkah?" teriak Aria.
Hara berbalik arah menghadap Aria, dan menatap tajam mata Aria.
"Dengar Aria." tegas Hara.
Hara menjelaskan kepada Aria bahwa Hara tidak benar-benar mencintai Aria, dan Hara hanya memanfaatkan waktu Aria untuk menemaninya saja.
" apakah sudah jelas Aria?" tanya Hara.
" sekarang kau bebas untuk dekat dengan siapapun, jangan pedulikan aku." tegas Hara.
Hara meninggalkan Aria tanpa kata-kata lagi, dia berjalan menjauhi Aria yang sedang melamun bagai tersambar petir.
" lalu, bagaimana dengan kado yang kamu berikan kepadaku Hara?".
" apakah kamu menghabiskan uangmu untuk kebahagiaan palsuku?"
" bagaiman dengan waktu yang telah kita berdua habiskan bersama."
" apakah semudah itu kamu melupakannya?" teriak Aria.
Hara tidak memperdulikan Aria, dan tetap berjalan menjauhi Aria.
Aria hanya melamun sedih karena perkataan Hara, dia tidak bisa berbuat apa-apa.
" t,t,tidak mungkin." gumam Aria menyandarkan tubuhnya di tembok.
" kenapa Hara tega berbuat seperti itu." gumam Aria lagi.
Aria berjalan balik ke rumahnya.
__ADS_1
" sudah jam 10."
Aria bergumam dan berfikir apa yang terjadi dengan Hara dari kemarin, Hara seolah tidak ingin bersama Aria, dan Aria berpikiran Hara tidak bisa memenuhi janjinya kepada Aria.
Aria berjalan ke rumahnya, dengan badan yang lemas dan tidak bergairah.
" begadang lagi." gumam Aria.
Aria berdiri di depan pintu kamarnya, sembari melihat ke pintu kamar Hara.
" apa semudah itu kamu melepaskan gue Hara,"
" waktu yang kita lalui bukanlah hal yang harus gue lupakan dengan cepat." gumam Aria.
Clekk, Aria membuka pintu kamarnya, ruangan sangat gelap tidak ada cahaya sedikitpun.
" Syifa..." panggil Aria lirih.
Aria mengambil Ponselnya, dan mencoba menerangi dengan senter yang ada di Ponselnya itu.
Clekkkk, Suara orang menyalakan stop kontak lampu kamar Aria.
Aria melihat ke dinding yang ada lampu berkelap-kelip dengan tulisan.
" Selamat Ulang tahun ke 22 Aria."
brayyyy,, lampu di kamar Aria menyala.
" SELAMAT ULANG TAHUN ARIA"
Yasmin dan Syifa tersenyum menyambut kedatangan Aria.
Mata Aria terbelalak melihat Sahabatnya dan Adiknya yang menyambutnya, tapi Aria terlihat sangat murung.
" Selamat ulang tahun Aria, ternyata kamu sudah bertambah tua." ucap Yasmin menghampirinya.
" Terimakasih Yasmin." jawab Aria yang masih terlihat murung itu.
Aria tersenyum palsu dengan sambutan yang di buat oleh Yasmin dan Syifa.
Syifa menatap kakaknya, dan menyadari ada sesuatu yang beda dengan Aria.
" apa kakak tidak senang dengan ucapan dari kita?" tanya Syifa.
Aria langsung kaget dengan pertanyaan Adiknya itu.
" ah,*,*,*,tidak, aku sangat senang." ucap Aria.
" ini hadiah untukmu Aria." ucap Yasmin.
" ehh, benarkah?" tanya Aria tidak percaya.
Baru kali ini Aria di kasih kado ulang tahun oleh Yasmin.
Aria menerima kado dari Yasmin, dan tetap saja Aria sangat murung galau karena Hara.
" apa kamu tidak senang dengan pemberianku Aria?" tanya Yasmin.
Aria gelagapan menjawab pertanyaan dari Yasmin, dan Aria berkata dia sangat bersyukur karena Yasmin memberi kado di hari ulang tahunnya.
"Mana darimu Syifa?" tanya Aria.
Syifa membawa ranjang cucian miliknya, dan menaruhnya di depan Aria.
" ini kado dariku kak."
" terimalah." ucap Syifa.
" waaaa, kenapa kamu ngasih pakaian kotor kepadaku Syifa?" teriak Aria.
Syifa dan Yasmin tersenyum melihat wajah panik Aria ketika Syifa memberikan pakaian kotornya untuk di cuci oleh Aria.
Clekkk, seseorang membuka pintu kamar Aria.
Aria melihat orang tersebut, ternyata orang yang masuk ke kamar Aria adalah Hara yang membawa kue dengan lilin yang bertulisan 22.
Hara tersenyum lebar kepada Aria, dan berjalan ke depan Aria.
" Selamat Ulang Tahun Aria." ucap Hara.
__ADS_1
Wajah Hara sangat merah, dan dia tidak berani menatap Aria sama sekali.
Aria hanya bisa tertegun melihat Hara yang membawa kue ulang tahun untuknya.