
"Ahhh, Raiga sakit..."
"Awww, Raiga pelan-pelan, sakit Raiga." rintih Yasmin.
Aria melotot menempelkan telinganya di pintu.
"Sedang apa mereka?" gumam Aria.
"I,Itu terlalu besar Raiga..."
"Pelan-pelan Raiga..." terdengar rintihan Yasmin dari dalam kamar.
"Ahh,Ahh, Raiga pelan-pelan." ucap Yasmin lagi.
"Awas jangan sampai salah menusuknya.." tambah Yasmin.
Pikiran Aria tidak karuan, dan menuju ke arah hal negatif.
Brukkkk, Aria mendorong pintu kamar Yasmin.
"Kaliannnnnnn..." Teriak Aria.
"Apa yang sedang kalian lakukan?" teriak Aria kembali.
Yasmin dan Raiga kaget dengan kedatangan Aria, dan melotot melihat Aria.
Raiga sedang memegangi kaki Yasmin yang sedang duduk.
Aria melamun melihat Raiga yang memegangi kaki Yasmin.
"Apa yang kalian lakukan?" tanya Aria heran.
Yasmin memegangi kakinya sendiri, dan mengelus-elus nya.
"Kaki Yasmin tertusuk duri Aria."
"Jadi Raiga mencoba mengeluarkan durinya." tunjuk Yasmin kepada Raiga.
"Tapi jarumnya kebesaran." ujar Yasmin.
Raiga sedang duduk memegang sebuah Jarum.
"Bikin gue kaget saja..." gumam Aria memegangi jidatnya sendiri.
"Siapapun yang mendengarnya akan salah paham." tambah Aria.
Aria akhirnya bisa bernafas lega, karena tidak terjadi hal aneh seperti yang Aria dengar.
Aria pun mencoba membatu mengeluarkan duri itu dari kaki Yasmin, akhirnya duri itu pun berhasil keluar.
"Sudah mendingan, tidak terlalu sakit." ucap Yasmin tersenyum.
Raiga berdiri, dan membalikan badannya.
"Syukurlah, Ayo yang lain pasti sudah menunggu.." ujar Raiga.
Aria, pun menuruni tangga menghampiri yang lain.
"Kalian sangat lama sekali.." ucap Mbak Ania.
"Maaf, ada sedikit kendala.." sahut Raiga tersenyum.
Mereka pun menyiapkan acara bakar-bakar yang telah di siapkan pada malam ketiga ini.
"Tidak terasa, ini malam terakhir kita disini." ucap Syifa.
Aria yang sedang mengipasi ayam pun kepanasan sesekali mengelap keringat di keningnya.
"Kamu tampak butuh bantuan.." ucap Hara yang jongkok di samping Hara.
"Ah, H,Hara.." sahut Aria.
"Ini sedikit panas." imbuh Aria.
Hara tersenyum sambil menatap Aria yang sedang mengipasi ayam tersebut.
"Biar aku yang membalikkannya." pinta Hara memegang gagang panggangan.
"T,tidak perlu Hara." tolak Aria.
__ADS_1
Hara hanya menggelengkan kepalanya, dan tetap membalikan panggangan itu.
"Yang lain juga sedang menyiapkannya Aria, aku tidak ingin hanya duduk saja." jelas Hara.
Aria dan Hara akhirnya membakar ayam itu berdua, asap dan bara yang meletup-letup terdengar begitu khas.
"Aria.." panggil Hara.
Aria pun melihat kepada Hara yang ada di sampingnya itu.
Coettt,,, Hara menyentuh hidung Aria dengan tangannya, kemudian Hara tersenyum lebar menatap Aria.
"A,Ada apa Hara?" tanya Aria.
Hara tersenyum seakan menahan tawanya melihat wajah Aria.
"huhhhhh, kamu ini..." ucap Aria.
"Aku tidak yakin hubungan kalian hanya sebatas teman saja." ucap seseorang di belakang Aria dan Hara.
Aria dan Hara barengan menengok ke belakang.
"Ania." ucap Hara.
"Mbak Ania." sahut Aria.
Mbak Ania berkumpul bersama Aria dan Hara.
"Apa dugaan ku benar?" tanya Ania.
"D,Dugaan apa?" tanya balik Aria pura-pura bodoh.
Mbak Ania tersenyum melihat Aria dan Hara yang sedang berduaan.
"Apa kalian pernah ciuman?" goda Mbak Ania.
Aria langsung merespon pertanyaan mbak Ania, dan sangat menyangkalnya.
"A,Apa yang Mbak Ania katakan."
"K,kita ini cuma teman, tidak lebih." jelas Aria.
"Apa benar itu Hara?"
"Apa tidak ada sesuatu yang terjadi antara hubungan kalian?" tanya mbak Ania kepada Hara.
Hara yang tetap fokus membalikan panggangan menjawab mbak Ania dengan santai.
"Mau kita pacaran, atau tidak pun,, tidak ada urusannya denganmu Ania." ujar Hara.
Mbak Ania pun berdiri kembali, tersenyum melihat Aria dan Hara.
"Kalian ini seperti Anak kecil saja."
"Masih main petak umpet." terang mbak Ania meninggalkan Aria dan Hara.
Hara tidak memperdulikan perkataan Mbak Ania dan terus menatap bara api yang berada di depannya.
**
"Sini,, sini ayam bakarnya taruh disini."
"aku jadi lapar."
"Sudah jam 9 lewat, aku belum makan."
Semuanya semakin berisik ketika makanan sudah siap, dan semuanya tentu berkumpul di luar sambil menikmati udara sejuk malam ini.
Aria yang sedang berjalan membereskan makanan melirik ke arah cermin yang berada di luar.
Betapa terkejutnya Aria karena wajahnya penuh dengan coretan arang.
"Waaaa,, ulah siapa ini?" gumam Aria kaget.
Kemudian, Aria mengingat Hara yang sesekali menyentuh wajahnya saat Aria dan Hara memanggang tadi.
"Hara,,, ini pasti ulah mu." keluh Aria.
"Kenapa Aria?" tanya Hara menahan tawanya.
__ADS_1
Sontak, Aria langsung menunjuk ke wajahnya yang penuh coretan tersebut.
"Hehehehe,,," Hara berlalu begitu saja melewati Aria.
Aria pun berkumpul dengan teman-temannya mengelilingi makanan tersebut, sesekali Aria melihat ke arah Yasmin dan Raiga yang sedang berdekatan itu.
Tetapi kelihatannya Yasmin tidak mengingat kejadian semalam.
"Yasmin mengetahui gue dah Hara berpacaran,, siapa yang memberitahunya?" Aria bertanya-tanya dalam benaknya.
Dug,dug,dug,, Suara musik yang di putar oleh mereka bergema di malam terakhir ini di penginapan.
Aria sambil manggut-manggut melihat Hara yang tersenyum lebar sedang menatap Syifa dan Yasmin bernyanyi.
Sretttt,sreeettt, Aria menggeser kan pantatnya untuk berdekatan dengan Hara.
Hara yang menyadari Aria berusaha untuk mendekat menatap Aria dengan senyum manisnya, lalu melambaikan tangannya supaya Aria lebih mendekat.
Sekarang Aria dan Hara duduk saling berdekatan, sambil melihat Yasmin yang sedang menari-nari sambil merapikan tempat untuk makan.
Hara yang sedang duduk sambil menopang lututnya pun menatap mana kepada Aria.
"Apa Aria kesepian?" tanya Hara tersenyum manis.
Syuhhhhhhh, Angin sejuk menerpa badan Aria dan Hara.
Rambut Hara yang berterbangan oleh angin semakin menambah kecantikannya, dan membuat Aria terpana.
"Cantiknyaa.." ucap Aria pelan.
"Hmmmm, apa Aria?" tanya Hara yang masih memandangi Aria.
Aria langsung memalingkan wajahnya dan tersipu malu, bagaimanapun sekarang Aria sedang berdekatan dengan kekasihnya itu.
"T,t,tidak ada apa-apa." jawab Aria.
Aria pun menikmati makanannya bersama teman-temannya.
"Hmmm, enak, dan juga udaranya sangat sejuk." ucap Syifa.
Aria menatap sahabatnya Radi yang sedang duduk melamun, dan menghampiri Radi.
"Tumben sekali lu tidak bergairah." tanya Aria.
Radi yang sedang melamun menatap Aria dengan santai.
"Tidak ada yang berbeda dari gue, mau lagi gairah atau apapun gue tetap begini." celetuk Radi.
Radi melihat ke arah sekitar, lalu berdiri meninggalkan Aria sendirian.
"Gue sedang enggak mood disini." terang Radi meninggalkan Aria ke depan sana.
"Dia memang enggak berubah." gumam Aria.
Aria pun melanjutkan makannya, dan kembali ke samping Hara.
Hara pun sedikit melamun sambil tertunduk menatap makanannya.
"Kenapa kamu melamun Hara?" tanya Aria.
Hara terperanjat kaget mendengar suara Aria, lalu tersenyum kepada Aria.
"Ahh, tidak, a,aku hanya sedikit sedih saja."
"Ini malam ketiga kita berada di sini, itu berarti kita besok harus pergi dari sini." terang Hara.
Aria hanya bisa menatap Hara yang terlihat sedih.
Hara pun mengangkat kepalanya menatap ke arah langit.
"Heyy, Aria."
"Aku ingin selalu bersamamu."
"Aku ingin membuat kenangan denganmu." tutur Hara.
Mata Aria berkaca-kaca mendengar perkataan dari Hara, dan Aria pun duduk menghadap Hara.
"Apa yang kamu bicarakan Hara."
__ADS_1
"Jelas,, aku akan selalu bersamamu." jawab Aria.