
Aku menatap pria bernama Key dengan penuh amarah. Perbuatan yang dia lakukan terhadap muridku itu sudah diluar batas. Jadi dengan izin Kerajaan, aku memiliki hak untuk mengeksekusi seseorang yang telah mengancam nyawa anak-anak muridku.
"Kau terlihat baik-baik saja yah, walau telah mendapatkan luka serius seperti itu. Mantan Holy Knight Hullian Empire, Key Graham," ucapku mengeluarkan sebuah tongkat sihir dengan Rainbow Lotus Flower (Note: Bunga Teratai Pelangi) sebagai penghubung kekuatan sihir yang ku miliki dengan tongkat ini.
"Wah, wah, senang sekali rasanya dikenali oleh musuh lama, Lotus Magician yang mencapai tingkat Grand Wizard, Lilith von Azkham. Sekarang memutuskan untuk menjadi Kepala Academy, yah?" balasnya menaruh bilah tumpul pedang ditangannya ke pundak.
"Sayang sekali, aku sudah lama meninggalkan gelar itu. Sekarang aku adalah Kalzaream Principal Academy, Lilith von Azkham! Flare Lance! Barrage!!"
Aku mengayunkan Rainbow Lotus Staff kearah depan dan memunculkan ratusan Flare Lance yang melesat kearah Key. Debu bertebaran dimana tempat Key berdiri tadi, aku yakin itu tidak cukup untuk mengalahkannya. Bisa dibilang, tadi itu adalah salam pembuka dariku untuknya. Benar saja, setelah debu bertebaran tadi mulai menghilang, siluet pria terlihat tanpa terluka sedikitpun. Bahkan lukanya perlahan beregenerasi dan pulih seolah tidak pernah ada luka disana.
"Seperti biasa, ketahanan tubuhmu terhadap sihir lumayan tinggi yah!" ucapku.
"Hahaha, kau sendiri juga. Sihirmu itu seperti biasa sangat liar yah!" balasnya.
"Kalau begitu, ini giliran ku untuk menyerang bukan? Divine Art's, Second Form - Speed of Light! First Form - Divine Saber!!"
Key tiba di hadapanku dengan kecepatan yang luar biasa, dia juga mengayunkan pedangnya dengan cepat. Secara reflek, aku langsung menggunakan Teleport ke tempat yang sudah ku tandai dengan Flare Lance yang aku luncurkan sebelumnya. Setelahnya, aku menghentakkan tongkatku ke tanah dan membuat tanda baru. Hal ini terus berulang-ulang, hingga membuatnya kesal.
"Berhenti.. melakukan.. Teleport! Hadapi.. aku.. dengan sihir.. yang lain!!"
"Maaf saja.. tapi aku.. tidak akan.. melakukannya!"
Alasanku melakukan hal ini adalah, Speed of Light miliknya hanya bisa bertahan selama 30 menit. Jadi tujuanku adalah mengulur waktu, hingga Speed of Light miliknya berakhir. Key berhenti sejenak, sebelum menggunakan Divine Art's miliknya yang lain.
"Divine Art's, Eighth Form - Divine Circlet!!"
Sebuah cahaya melingkar perlahan meluas dan membuatku terpaksa melakukan Teleport ke salah satu tanda yang berada ditempat yang sudah dilewati lingkaran tersebut. Tapi entah mengapa, aku tidak bisa melakukannya ke tanda lain dan hanya terhubung dengan salah satu tanda saja.
"Kena kau!!"
"Gakh!!"
Aku terhempas setelah menerima tendangan telak di perutku. Tapi dengan cepat menjaga keseimbangan untuk tidak terjatuh.
"Ugh.. begitu rupanya. Pantas saja aku tidak bisa terhubung ke tanda-tanda yang lain, tepat setelah kau melancarkan serangan tadi dan hanya menyisakan satu tempat saja untukku berteleportasi agar bisa memberikan serangan telak padaku? Tidak buruk," pujiku.
__ADS_1
"Haha, aku senang sekali menerima pujian dari seorang Grand Wizard seperti dirimu. Bagaimana sekarang, apa kau ingin menyerah?" balasnya.
"Maaf, tapi aku tidak akan melakukannya!"
"Yah, seperti yang sudah aku duga!"
Kami menatap tajam satu sama lain, lalu mengingat suatu hal yang membuatku harus melakukan hal ini.
Flashback On
"Eh? Menjadi guru pribadi? Tunggu, Kruelga! Kamu tahu bukan betapa sibuknya aku menjadi Kepala Academy? Memangnya kamu pikir salah siapa hingga aku harus menjadi Kepala Academy, huh?" ucapku menyinggung sesuatu tentang masa lalu.
"Ya ampun, kau masih memikirkan hal itu? Bukankah kau sendiri menerimanya dengan senang hati?" balas Kruelga.
Aku menghela nafas sejenak sebelum bertanya, "Jadi siapa murid yang ingin kamu aku menjadi guru pribadi?"
"Elena von Callista. Aku yakin kamu sudah mendengarnya bukan?"
"Ah! Gadis penerusmu itu rupanya! Baiklah, aku akan menerimanya! Tetapi aku ingin bayaran darimu nanti oke, My Dar-ling!"
"Aku mengerti! Lakukan tugasmu, maka aku akan menemanimu malam nanti!" balasnya.
Flashback Off
Aku tersenyum saat mengingatnya. Ellen tidak mengetahui kalau aku adalah salah satu selir Kruelga. Hanya dia saja yang tidak mengetahuinya. Selain itu, ini adalah privasi yang aku miliki. Aku kemudian merapal sihir yang bisa melindungi ku dari segala macam serangan.
"Wahai cahaya, berikan aku perlindunganmu dengan kuil yang tidak bisa dihancurkan! Sanctuary!!"
Sebuah lingkaran sihir berwarna kuning muncul dibawah tanah tempatku berdiri dan membentuk sebuah kuil. Seharusnya para Demon tidak bisa bertahan dari Light Magic. Tapi kasusnya akan berbeda jika mereka menguasai Light Magic, aku bisa bertahan setidaknya selama 5 menit sebelum luka bakar muncul. Sedangkan Sanctuary akan melindungi ku dari segala serangan selama 3 menit dan itu cukup untuk mengulur waktu agar aku bisa menggunakannya.
"Wahai api, angin, tanah, air, cahaya, kegelapan dan ruang."
"Cih! Aku tidak akan membiarkannya!"
"Wahai ketujuh unsur sihir yang aku kuasai! Berikan berkah kalian, berkah yang akan menjatuhkan hukuman kepada mereka yang menentang diriku!"
__ADS_1
Aku tidak melihatnya dengan jelas karena tengah merapal. Tapi sepertinya Key mencoba menyerangku, namun gagal. Jadi sekarang dia mundur dan fokus mengumpulkan energi ilahi ke pedang ditangannya.
"Api yang akan membakar mereka hingga menjadi abu! Angin yang akan mencabik mereka hingga tak tersisa! Tanah yang akan menimbun mereka hingga perut bumi! Air yang akan menenggelamkan mereka hingga tak bernafas! Cahaya yang akan menyinari mereka hingga tak bisa melihat! Kegelapan yang akan menjatuhkan mereka hingga lenyap! Ruang yang akan menyudutkan mereka hingga tak ada tempat untuk bersembunyi!"
"Divine Art's, Tenth Form!"
"Elemental Punish!!"
"Divine Protection!!"
Sebuah energi dengan tujuh warna aku lepaskan kearahnya, membuat Key dengan terpaksa harus menahannya untuk bisa bertahan. Tapi aku sendiri tidak yakin dia bisa bertahan dari sihir terkuat milikku, Elemental Punish.
Boom
Sebuah ledakan tercipta, tepat setelah energi tujuh warna yang aku lepaskan mengenai pedang yang dia pegang. Debu bertebaran disekitarnya, tapi hal berikutnya benar-benar mengejutkanku. Dia masih berdiri dan tetap hidup, walau tubuhnya sudah hancur separuh. Tapi perlahan-lahan tubuhnya juga mulai beregenerasi, membuatku menatap tidak percaya. Itu sihir terkuat ku lho! Belum pernah ada yang bisa lolos kecuali Kruelga!
"Hahahaha! Bagaimana, kau terkejut bukan? Berkat berkah yang diberikan oleh Tuan Michael, membuatku akan terus beregenerasi walau sudah hancur lebur! Aku hanya bisa mati ditangan Beliau saja, hahahaha!"
"Cih, jangan bercanda! Elemental Ball! Barrage!!"
Bola api, angin, tanah, air, cahaya, kegelapan, serta ruang muncul banyak di sekitarku dan segera ku lepaskan kearah Key. Aku tahu kalau dia bisa bertahan, tapi tetap saja aku merasa kesal karena sihir terkuat ku tidak berkesan banyak padanya.
Kemudian secara mengejutkan, langit mengeluarkan petir yang cukup besar. Bukan hanya itu saja, bulu-bulu putih mulai bertebaran di Ibukota Herophia. Tidak, aku yakin di seluruh Demon Realm pun mengalami hal yang sama.
"Mustahil, bagaimana caranya bisa masuk ke sini? Seharusnya dia tidak bisa datang ke tempat ini. Justice King, Michael!" ucapku dengan tatapan tidak percaya melihat kearah langit.
Seorang pria berambut kuning menyala, iris mata berwarna jingga kemerahan, wajah datar miliknya dengan sayap putih yang membentang lebar di punggungnya, gaun putih, serta sebuah pedang besar satu tangan. Dia perlahan turun ke bawah tanah. Benar, dia adalah salah satu dari 7 Archangel yang ada di dunia ini atau Seven Virtues yang terlahir dari 7 Kebaikan Besar manusia. Perwakilan Keadilan, Justice King, Michael!!
POV Lilith End
***
Jika ada typo atau kesalahan kata, segera beritahu yah! Dukung terus Author dengan Like, Vote dan Rate kalian!
__ADS_1