My Reincarnation Is Demon Lord? Wait, Are You Serious?

My Reincarnation Is Demon Lord? Wait, Are You Serious?
Berakhir, Kekacauan yang Terulang


__ADS_3

Diluar Arena, banyak para penonton yang sudah berhasil keluar dari Arena. Salah satunya adalah Elena. Dia ditarik oleh gadis Demon Beast berambut putih salju dengan beberapa helainya ada yang berwarna merah, gadis itu adalah Kyla.


Bunyi ledakan terus terdengar tanpa henti, membuat Elena khawatir dengan keadaan guru-gurunya. Meski begitu, dia tidak punya pilihan selain terus berlari. Karena meskipun dia berada disana, Elena mungkin hanya menghambat mereka saja.


"Kyla! Ellen! Disini!!" panggil seorang gadis Demon berambut pirang, yang tidak lain adalah Anastasya.


"Anna!" sahut Kyla.


"Syukurlah, kalian berhasil keluar! Aku sangat khawatir, kalian tahu!" ungkap Anastasya.


"Maaf telah membuatmu khawatir! Bagaimana keadaan Chloe?" tanya Elena.


"Gadis itu baik-baik saja, kok! Aku sudah mendengarnya dari Liza, dia bilang kalau gadis itu sama seperti kita," ungkap seorang Gadis Demon Beast berambut merah yang datang menghampiri mereka.


"Kakak! Nyaa~" panggil Kyla yang langsung lari memeluk kakaknya tersebut.


"Begitu yah, apa dia sudah sadar?" tanya Elena.


"Tenanglah, biarkan dia beristirahat lebih dulu," jawab Myla.


"Kamu benar, dia sudah mengerahkan kemampuannya untuk menghadapi kekuatan penuh milikku. Bagaimana menurutmu, Kak Myla?" balas Elena bertanya.


"Jika kamu menanyakannya, aku sendiri tidak tahu. Lagipula, informasi kita sangat sedikit. Menggunakan Appraisal pada semua orang juga tidak sopan," jelas Myla sembari mengelus rambut adiknya.


"Aku tidak tahu apa yang kalian bicarakan, tapi kita sepertinya kedatangan tamu!" ungkap Anastasya yang melihat seorang bertopeng dengan dua bilah pedang ditangannya.


"Cih, betapa malangnya aku!" gumam orang bertopeng tersebut yang tidak lain adalah Eighteen.


"Kalian semua mundurlah! Orang itu, berbahaya!" peringat Elena.


"Tidak, yang seharusnya mundur adalah kamu! Kekuatanmu belum pulih bukan?" balas Anastasya.


"Jangan, nyaa~ Untuk kali ini, biar Kyla saja yang hadapi, nyaa~" sahut Kyla.


"Walaupun kalian mengatakannya, aku tetap tidak yakin kalian bisa seimbang melawannya! Para Dewan Kebijakan saja kewalahan menghadapi mereka," jel UUas Elena.


"Hallo, gadis-gadis! Kalian terlihat bersemangat yah! Jika berkenan, bolehkah aku lewat?" tanya Eighteen.


"Apa kau pikir aku akan membiarkanmu lewat, huh?" balas Elena bersiap untuk menyerang.


"Fufu, sudah kuduga kamu mengatakannya, Elena von Callista. Tapi tujuanku hanyalah untuk menjemput rekan-rekanku yang bodoh disana," jelas Eighteen menunjuk Arena.

__ADS_1


"Apa kamu pikir kami akan percaya begitu saja?" balas Anastasya yang memanggil beberapa Fenrir untuk bersiaga.


Eighteen yang melihat itu menghela nafas dan mengatakan hal yang sama sekali lagi, "Dengar, tujuanku adalah untuk menjemput mereka dan bukan bertarung. Apa kalian tidak khawatir dengan guru-guru kalian? Aku tahu mereka kuat, tapi rekan-rekanku juga tidak bisa dianggap remeh. Bahkan mungkin, salah satu dari mereka ada yang mampu menghadapi mereka sekaligus lho!"


Elena menunjukkan keraguan, dia merasa apa yang dikatakan oleh Eighteen ada benarnya. Kyla juga merasakan hal yang sama dengan Elena, dia sangat khawatir pada guru yang mengajarkannya Sihir Roh, Ramiris. Tapi dia tidak bisa melakukan apapun selain menunggu dan itu membuatnya sangat kesal.


"Aku mengerti, kau bisa lewat," ucap Elena.


"Ellen?" panggil Anastasya bingung.


"Ah, kamu memang gadis yang bijak yah, Elena," balas Eighteen pergi meninggalkan mereka.


"Apa kamu yakin melepaskannya?" tanya Myla.


"Entahlah, tapi jika dia memang bisa menghentikan ini, aku tidak masalah," jawab Elena.


***


Sementara itu, Fourteen terus menyerang Gale. Tapi dia selalu menerima serangan dibagian yang sama dimana dia melancarkan serangan pada Gale. Counter Magic milik Gale sepertinya benar-benar membuatnya repot dan kesal. Bahkan luka yang dialami oleh Gale akan segera menutup kembali, nampaknya darah Vampire miliknya membuat dia mendapatkan regenerasi super cepat.


Disisi lain, Ramiris yang sebelumnya menghadapi Seventeen (Rio) telah kehilangan kesadarannya. Bahkan Spirit Unite miliknya telah hilang beberapa saat yang lalu. Seventeen lalu melirik Fourteen yang terlihat kesulitan menghadapi Gale. Dia berniat memberikan bantuan, tapi saat ingin bergerak, dia merasakan kehadiran salah satu rekannya sedang menuju kemari.


"Begitu yah, mereka telah mendapatkan apa yang kita butuhkan, kah?" gumam Seventeen.


"Hahaha, kau mengatakan sebelumnya kalau dirimu saja cukup untuk menghadapi kami dengan bangganya. Tapi, lihat dirimu sekarang, menyedihkan~ Hahahaha," ledek Thirteen.


"Thirteen, tetap waspada! Kita tidak tahu apa yang dia rencanakan!" peringat Twelve.


"Baik, baik, aku tetap waspada kok! Lagipula, cukup lucu juga mengetahui apa yang dia katakan sebelumnya dengan nada sombong dan berakhir dengan kecerobohannya sendiri. Sungguh, ini membuatku tidak bisa berhenti tertawa!" balas Thirteen kembali tertawa.


"Apa kau sudah puas tertawanya, nona?" tanya Kevin.


"Huh? Apa yang kau katakan?" sahut Thirteen.


"Biar aku beritahu pada kalian, kalau aku sebenarnya hanyalah umpan!" ungkap Kevin yang membuat Twelve dan Thirteen terkejut.


"Jangan-jangan!!"


Kevin melepaskan diri dengan mudah dan langsung melompat kearah kanan. Lilith yang baru saja menyelesaikan rapalannya, segera melepaskan energi sihir tersebut kearah Twelve dan Thirteen. Sedangkan Twelve memasangkan Hyrålë dihadapannya untuk menahan serangan sihir besar tersebut dengan Thirteen berada dibelakangnya.


Eighteen yang baru saja sampai di Arena langsung menghela nafasnya saat melihat Twelve tengah bertahan dari serangan sihir milik Lilith. Dia segera melesat dan mengayunkan bagian tumpul dari kedua pedangnya secara bersamaan, membuat Lilith terhempas jauh. Kevin yang melihatnya segera bergerak cepat untuk menyelamatkannya. Twelve dan Thirteen bernafas lega saat serangan sihir tersebut berakhir.

__ADS_1


"Apa yang kalian lakukan? Twelve mungkin masih bisa dipahami karena pengguna perisai. Tapi kau, kenapa tidak mencoba menyerang pengguna sihir tersebut dengan anak-anak panahmu, papan rata?" tanya Eighteen sembari meledek Thirteen.


"Berisik! Asal kau tahu saja, aku sudah melakukan semua yang ku bisa yah! Dasar rubah licik!" balas Thirteen.


"Heh~ Aku penasaran, siapa yang kamu panggil rubah licik itu?" sahut Eighteen menahan rasa kesalnya.


"Lilith! Kau baik-baik saja?" tanya Kevin dengan khawatir.


"Aku baik-baik saja! Yang lebih penting, kita harus mengalahkan mereka disini," jawab Lilith.


"Maaf saja, tapi kami harus pergi sekarang! Jadi kami tidak memiliki waktu untuk bermain lagi dengan kalian!" ungkap Eighteen.


"Apa maksudmu?" tanya Lilith penasaran.


"Maksudku, kami sudah mendapatkan apa yang kami butuhkan. Jadi untuk apa bermain lebih lama dengan kalian? Seventeen, bawa otak otot bodoh itu bersamamu! Kita pergi sekarang!" jelas Eighteen sekaligus memberi perintah pada Seventeen.


"Ya ampun, pada akhirnya aku yang harus membawanya, kah?" keluh Seventeen menghela nafas.


"Ayo pergi, Fourteen!" lanjutnya mengajak Fourteen.


"Eh? Tapi aku masih belum puas sebelum bisa menghajarnya!" tolak Fourteen.


"Hentikan, bodoh! Apa kau ingin ku laporkan pada Tuan Zero?" balas Seventeen.


"Ugh.. kalau itu.." ucap Fourteen ragu saat mendengar balasan Seventeen.


"Kalau begitu, terimakasih atas hiburan yang telah kalian berikan! Ah, jangan lupa untuk merawat gadis yang tergeletak disana yah!" ucap Seventeen menunjuk kearah Ramiris yang kehilangan kesadaran pada salah satu dinding Arena.


"Ramiris!?"


"Sialan! Apa yang kau lakukan padanya huh?" tanya Gale dengan kesal.


"Hentikan, Gale! Jangan lakukan hal yang mengundang masalah lebih dari ini!" pinta Lilith.


"Hahaha, aku senang mendengar Guru dan Murid yang bisa berpikir secara rasional! Kalau begitu, sampai bertemu dilain waktu, dalam acara yang lebih besar!" balas Eighteen.


Thirteen lalu menembakkan salah satu anak panah dan membuka sebuah portal, yang kemudian dimasuki oleh mereka semua dan menghilang tanpa jejak. Dengan demikian, kekacauan kali ini pun telah berakhir.


***


Jika ada typo atau kesalahan kata, segera beritahu yah! Dukung terus Author dengan Like, Vote dan Rate kalian!

__ADS_1


Maaf agak lambat satu jam dari jadwal, Author lagi banyak urusan XD



__ADS_2