
Saat ini, medan pertempuran telah terbagi menjadi 6 tempat. Elena dan Liza akan menghadapi Twelve, Xirius dan Yuu akan menghadapi Eleven kembali, Viviana akan menghadapi Ten, Rose dan Rick juga akan menghadapi Thirteen sekali lagi.
Sedangkan untuk 2 medan pertempuran sisanya, masih belum dimulai. Atau lebih tepatnya Chloe bersama para guru belum sampai ditempat Eight berada. Para murid yang lain juga akan berjaga-jaga di depan tempat pengawasan. Mereka terpaksa menonton karena tidak terlalu yakin bisa mengimbangi musuh.
"Jangan menghalangiku! Aku hanya ingin bertarung dengan Tuan Putri yang sombong disana!" ujar Ten menunjuk Elena yang tengah menghadapi Twelve.
"Maaf saja yah! Tapi aku tidak akan membiarkan itu terjadi! Akulah yang akan kamu hadapi sekarang!" balas Viviana yang sudah siap melepaskan beberapa tombak air pada Ten.
"Cih, jangan bercanda!" sahut Ten yang juga menyiapkan beberapa tombak api dengan cepat.
"Aqua Javelin! Barrage!!"
"Flare Lance! Barrage!!"
Kedua tombak dengan elemen yang berlawanan saling bertemu. Ini menyebabkan serangan mereka menguap dan menciptakan kabut tebal yang menghalangi pandangan keduanya.
"Wahai angin, tiup lah badai pada lawan ku, dorong dia sejauh mungkin! Tornado!!"
Lingkaran sihir berwarna hijau muncul dihadapan Viviana dengan tongkatnya. Tidak lama berselang, sebuah angin muncul dan menerjang kearah Ten yang berada dibalik kabut tersebut.
Ten yang tengah waspada segera membuat dinding tanah dengan menghentakkan kakinya. Belum berhenti disana, Ten juga menyiapkan sihir lain yang siap dilepaskan ke Viviana.
"Giant Rock of Bullet!!"
Batu berukuran besar dilemparkan kearah Viviana. Menyadari hal tersebut, Viviana segera menggunakan Air Cutter berulang-ulang. Dia tidak berniat menghindar karena tidak ingin mereka yang berada dibelakangnya terkena imbasnya. Karena hal inilah yang membuatnya terkena beberapa serpihan batu yang melukai dirinya.
Elena melihatnya dengan sekilas, tapi dia langsung mengabaikan hal tersebut dan melepaskan anak panahnya yang lain kearah Twelve. Viviana dengan cepat segera menggunakan sihir pemulihan dari Water Magic. Perlahan, luka-lukanya mulai menutup kembali.
__ADS_1
"Hahahaha! Kau benar-benar menjaga para beban itu dengan baik yah! Merelakan dirimu terkena serpihan batu, daripada menghindari batu besar yang mengarah menuju mereka," ujar Ten tertawa keras.
"Kamu cukup curang juga ternyata!" balas Viviana.
"Siapa peduli! Selama itu membawaku menuju kemenangan, akan aku lakukan apapun untuk menang!" ungkap Ten.
Viviana menghela nafas, setelah mengetahui sifat lawannya. Dia berniat serius untuk menghadapi lawannya.
"Sebenarnya aku selalu dilindungi oleh Yuu dan melakukan pertarungan bersama dengannya. Tapi sepertinya dia tengah sibuk dengan hal lain," ucap Viviana memandang Yuu yang tengah bertarung bersama Xirius melawan Eleven.
"Tapi meskipun begitu, kekuatanku tidak bisa diremehkan lho!" lanjutnya menghentakkan tongkatnya ke tanah dan menciptakan lingkaran sihir berwarna biru yang cukup besar.
"Sihir skala besar? Haha, baiklah! Aku terima tantangan darimu!" balas Ten yang juga menciptakan lingkaran sihir merah yang tidak kalah besarnya.
"Wahai Air! Engkau adalah unsur yang sangat dibutuhkan oleh siapapun, engkau bisa menjadi kawan maupun lawan, engkau adalah kawan yang menyembuhkan, engkau juga adalah lawan yang menenggelamkan! Jadilah ancaman bagi mereka yang menentang dirimu, bentuklah dirimu menjadi sosok yang cukup ganas! Water Dragon Fall!!"
"Wahai api! Lahap lah! Membara lah! Bakar lah! Hancurkan lah! Engkau adalah api neraka yang akan melahap segalanya, engkau adalah api neraka yang terus membara, engkau adalah api neraka yang akan membakar apapun di hadapanmu, engkau adalah api neraka yang akan menghancurkan segala yang menghalangi dirimu! Penuhilah panggilanku dan habisi mereka yang menentang dirimu! Hell Rising Flame!!"
Tidak seperti Viviana yang masih menahan Naga Air miliknya, Ten melepaskan sihir skala besar miliknya tanpa memikirkan apapun. Api yang cukup besar menerjang kearah Viviana dan mencoba membakar dirinya. Melihat lawannya yang perlahan dilahap oleh Api Neraka miliknya, membuat dia tidak kuasa menahan tawa.
"Hahahaha! Lihat itu? Kau lihat betapa menyedihkannya dirimu itu? Memanggil Naga Air? Water Dragon Fall? Pada akhirnya, kau lah yang akan dilahap oleh Api Neraka milikku!" ucapnya dengan sombong.
Beberapa murid mulai sedikit panik saat melihat Viviana dilahap oleh Api Neraka milik Ten. Tetapi Elena dan yang lainnya tetap tenang saat melihat hal tersebut. Mereka sangat percaya dengan kekuatan milik Viviana. Karena itulah mereka bisa tetap tenang menghadapi lawannya.
"Kamu benar-benar naif yah!" ujar Viviana yang berada di dalam Api Neraka.
"Eh? Mustahil, bagaimana bisa?" tanya Ten bingung.
__ADS_1
"Memangnya untuk apa mantra ada di dunia ini?" balas Viviana bertanya.
"Mereka ada untuk menyempurnakan sihir yang akan kita gunakan! Pelafalan mantra juga bisa dijadikan sebagai katalis sihir yang akan kita gunakan. Hal sepele seperti itu saja kamu tidak mengetahuinya?" lanjut Viviana menjelaskan.
Api Neraka yang menyelimuti Viviana perlahan mulai mengikuti arus dua Naga Air dalam ukuran yang sama. Ten tidak menyangka kalau lawannya dapat memanggil dua Naga Air tambahan sekaligus dalam waktu yang singkat.
"Apa yang terjadi? Kenapa kau tidak dilahap oleh Api Neraka milikku!?" teriak Ten dengan geram.
"Apa kamu pikir aku akan memberitahukannya? Bodoh sekali, fufufu," balasnya tertawa pelan.
Alasan kenapa Viviana bisa memanggil dua Naga Air dalam waktu singkat adalah tongkat sihir miliknya. Tongkat sihir ini dibuat oleh Hazel dan Geld khusus untuk Viviana. Tongkat sihir tersebut memiliki sebuah efek yang dapat menggandakan sihir yang sama dengan yang digunakan terakhir kali.
Inilah kenapa Viviana bisa dengan cepat melepaskan Air Cutter terus-menerus dan dapat memanggil dua Naga Air dalam waktu singkat setelah melafalkan Water Dragon Fall. Selain itu, Water Dragon Fall juga menyembuhkan luka bakar yang diterima oleh Viviana.
"Kalau begitu, ini akhirnya!" ujar Viviana melepaskan Water Dragon Fall miliknya.
Raungan Naga membuat Ten tidak bisa menggerakkan tubuhnya karena merasakan takut. Pada akhirnya, Ten terkena Water Dragon Fall yang dijatuhkan padanya dari atas.
Squash
Air membanjiri tempat tersebut sebentar. Ten jatuh pingsan setelah menerima serangan tersebut. Ini adalah kemenangan untuk Viviana dan kekalahan dari World Order untuk kesekian kalinya. Tiga orang yang tersisa dari World Order pun akhirnya menyadari kalau lawan-lawannya tidak bisa dianggap remeh. Eight yang melihat itu dari ruang pengawas menatap dengan tajam kearah Viviana.
***
Jika ada typo atau kesalahan kata, segera beritahu yah! Dukung terus Author dengan Like, Vote dan Rate kalian!
__ADS_1