My Reincarnation Is Demon Lord? Wait, Are You Serious?

My Reincarnation Is Demon Lord? Wait, Are You Serious?
Hari 3 - Menggagalkan Perburuan


__ADS_3

Tanpa kami sadari, hari sudah berganti ke malam dan ini sudah waktunya memulai rencana kami.


"Liza, Sally, Blanca, juga Vivi. Tolong tetaplah disini untuk berjaga-jaga oke?" ujarku.


"Yah! Serahkan saja semua yang ada disini pada kami!" balas Liza dengan semangat.


"Kalian juga, berhati-hatilah dalam bertindak okay? Lawan kita kemungkinan besar adalah World Order!" peringat Vivi.


"Jangan khawatir! Kami sudah tahu kemampuan beberapa dari mereka," balas Yuu.


"Yuu! Ellen! Sebaiknya kita cepat, sebelum mereka menyadarinya!" peringat Chloe.


"Baik! Tunggu sebentar!" sahutku.


"Kalau begitu, kami pergi dulu!" lanjutku pamit.


Setelahnya, aku, Chloe, Yuu, Rick, Rose, Axel dan Reus pergi meninggalkan tempat tersebut. Jika kalian bertanya kenapa Axel dan Reus ikut, itu karena kami diam-diam membuat sebuah kesepakatan kemarin malam.


Flashback On


"Sekarang, apa yang akan kita lakukan?" tanya seseorang diantara kami.


"Tidak ada pilihan lain, dengarkan aku!" panggilku menarik perhatian mereka.


"Bukan maksudku tidak percaya pada kalian, tapi saat ini kita dibuat saling mencurigai oleh pelaku sebenarnya. Karena itulah, dapat dipastikan anggota kalian yang tidak berada disini adalah pelakunya!" lanjutku.


Tentu saja beberapa dari mereka ada yang langsung membela rekannya atas tuduhan palsu tersebut. Tapi Chloe berhasil menenangkan mereka semua dengan perkataannya.


"Tenanglah, ini masih sebuah asumsi! Selain itu, ada kemungkinan juga anggota kami pelaku sebenarnya, tidak kah kalian berpikir seperti itu?"


"Karena itulah mereka membuat kita saling mencurigai kah?" gumam Reus yang mulai menyadari sesuatu.


Perlahan, semuanya pun mulai sadar akan hal itu dan berhenti berbicara karena mulai memikirkan hal yang sama.


"Abnormal Eyes!" gumamku merapal sebuah mantra singkat.


"Aku sudah membuat mata kalian bisa melihat ilusi yang aku buat! Pergilah kearah selatan dari sini dan kalian akan menemukan gua tersembunyi," jelasku.


"Jika kalian memang percaya pada anggota kalian, bawalah mereka kesana tanpa memberitahukan hal ini!" lanjutku.


Flashback Off


Kini aku tengah berjalan sendirian dan diawasi oleh teman-temanku dari jarak jauh. Alasan kenapa jarak kami sangat jauh adalah, karena untuk memancing para pemburu yang mengincar nyawa kami, sekaligus untuk membuat mereka berpikir kalau ini bukanlah jebakan.


Lagipula, jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan ataupun aku bertemu dengan mereka. Aku hanya perlu mengirim sinyal pada yang lain untuk langsung bergerak, atau begitulah rencananya.


Sebuah tombak angin melesat menuju ke arahku, tapi dengan sigap aku melenyapkannya menggunakan Dispel. Aku akhirnya menemukan pelakunya. Dapat terlihat dua orang yang membawa perisai besar dan juga sebuah tongkat sihir. Selain itu, ada satu hal yang membuat mereka mencolok. Mereka berdua, menggunakan topeng yang berlambang X dan XII.


"Heh~ Ternyata memang kalian yah, World Order?" tanyaku membuka tudung yang menutup kepalaku.


"Kau? Elena?" sahut pengguna perisai yang tidak lain adalah Twelve.


Aku lalu mengangkat tinggi tangan kananku dan melepaskan sebuah bola api ke langit, sebelum akhirnya meledakkannya. Ini adalah caraku memberi sinyal pada yang lain, agar langsung bergerak.


"Gawat, Twelve! Dia memanggil rekannya!" ucap seorang gadis penyihir yang membawa tongkat sihirnya dengan topeng berlambang X atau bisa dipanggil Ten.

__ADS_1


"Cih! Pergilah, Ten! Aku akan menahannya!" perintah Twelve.


Ten langsung lari meninggalkan Twelve tanpa ragu. Aku berdecak kesal dan berlari untuk mengejarnya.


"Tunggu! Jangan pikir aku akan membiarkanmu lari dengan mudah!" teriakku.


"Tak akan aku biarkan!" ucap Twelve muncul di hadapanku dan bersiap mengayunkan perisainya.


"Gawat!!" gumamku langsung memasang posisi bertahan.


Pang


Sebuah dentuman keras terdengar, aku melihat Chloe mencoba menahan ayunan perisai Twelve dengan pedang besarnya.


"Pergilah! Ellen!" perintah Chloe.


"Maaf, aku serahkan padamu!" balasku langsung pergi meninggalkan tempat tersebut untuk mengejar Ten.


"Cih! Pengganggu!"


"Maaf saja, tapi lawanmu adalah aku!!"


***


Padahal dia seorang penyihir, tapi kecepatannya berlari diluar dugaan ku! Apa-apaan dengan kecepatan berlarinya itu!


"Tunggu!" panggilku.


Ten mengabaikannya dan tetap berlari. Aku pun memutuskan untuk mempercepat laju lariku, tapi sebuah kapak besar berayun cepat menuju ke arahku.


Tring


Aku mengabaikan dua orang tersebut dan terus mengejar. Orang yang menyelamatkanku barusan adalah Reus yang keluar dari bayanganku.


"Maaf, Reus!" gumamku terus berlari.


Ten berbalik dan terlihat membaca beberapa kalimat, sepertinya dia ingin menggunakan sihirnya. Benar saja, sebuah angin besar muncul untuk mencoba mendorongku menjauh. Aku mengulurkan tangan kananku sebelum menggunakan Dispel.


"Sihirnya sedikit merepotkan!" gumamku.


Ten kembali berlari setelah melepaskan sihirnya, jadi aku putuskan untuk mengejarnya. Namun baru beberapa langkah, tiga buah anak panah melesat ke arahku. Membuatku terpaksa menghindarinya agar tidak terkena panah-panah tersebut.


"Meleset kah? Yah, tidak masalah! Lagipula kau akan mati sekarang!" ucap pelaku pemanah, kembali menembakkan sebuah anak panah lainnya padaku.


"Aku percayakan pada kalian, Rick! Rose!" panggilku, membuka lubang warp yang memunculkan Rick dan Rose bersamaan.


"Okay!" sahut mereka berdua.


Rose segera menggunakan kedua belatinya untuk mengubah jalur anak panah tersebut, sedangkan Rick langsung membidik pemanah tersebut dengan cepat.


Aku terus berlari untuk mengejar Ten, tapi karena telah kesal olehnya, aku melepaskan Flare Lance yang telah ada sihir ruang kearahnya. Menyadari adanya sebuah serangan, Ten langsung waspada dan menggunakan Aegis. Tapi hal ini lah yang aku incar sejak awal.


Aku segera bertukar tempat oleh Flare Lance tersebut dan berhasil mengejutkannya. Dengan segenap tenaga, aku mengumpulkan Mana kearah tangan kananku dan menghantamkannya pada Ten hingga membuatnya menabrak salah satu pohon.


"Rainbow Punish!!"

__ADS_1


Bamn


"Kamu tahu? Saat ini aku sedang marah! Aku tidak peduli dengan pengurangan nilai yang aku terima nantinya, jadi jangan berharap aku akan membiarkanmu lepas!" ucapku.


"Maaf saja, tapi akan aku kerahkan semua kemampuan yang aku miliki!" lanjutku dengan serius.


***


"Divine Art's, Second Form - Judgement Dance!!"


Chloe mengayunkan pedang besarnya dengan cepat, membuat Twelve harus menahannya dan tidak bisa bergerak dari tempatnya.


"Katakan padaku! Dari siapa kau mendapatkannya!?" tanya Chloe.


"Apa yang kau maksud?" sahut Twelve.


"Jangan pura-pura bodoh! Seraphim itu! Siapa yang membuatkannya!" balas Chloe kesal.


"Seorang pengrajin dari organisasi yang aku masuki! Memangnya masalah untukmu, huh!?"


Twelve menyadari ayunan Chloe sedikit melemah, dia memanfaatkannya untuk mendorong Chloe mundur.


"Nona! Percuma saja bicara dengannya! Kita selesaikan ini dengan cepat, agar bisa membantu gadis Elena!" ujar Aiās.


"Yah, aku tahu itu! Tapi tetap saja aku masih penasaran siapa pembuat Seraphim tersebut! Bukankah kau mengatakan kalau Seraphim itu adalah entitas yang belum diketahui bahkan olehmu?" balas Chloe.


"Terimakasih atas perhatianmu, nona! Tapi aku tidak terlalu tertarik dengan itu! Lagipula sudah jelas kalau Seraphim itu adalah Artificial Seraphim, yang kekuatannya bahkan tidak lebih dari 10% yang asli!" jelas Aiās.


"Aku mengerti, jadi ayo selesaikan ini dengan cepat!"


Sekali lagi Chloe pun kembali maju untuk menyerang Twelve.


***


Jika ada typo atau kesalahan kata, segera beritahu yah! Dukung terus Author dengan Like, Vote dan Rate kalian!



Promosi!!


Sekedar promosi Novel Author yang lain nih!



Judul: Me and My Sister Goes to Isekai! But why, My Sister had Over Power than Me!!


Genre: Action, Komedi, Fantasy, Isekai, Magic, SoL.


Sinopsis: Menceritakan tentang dua kakak beradik yang terjatuh kedalam jurang dan bertemu dengan sosok yang mengaku dirinya sebagai Dewa. Sang Dewa tersebut mengatakan kalau mereka berdua telah "mati" dan mereka diberi dua pilihan. Pilihan pertama, mereka akan dikirim ke Surga. Atau pilihan kedua, mereka akan dikirim ke sebuah dunia bernama Fantaslla dimana dunia itu dipenuhi dengan sihir serta berbagai macam ras tinggal disana.


Saat berada di Fantaslla, sang kakak yang bernama Rey Zanish sangat terkejut dengan statusnya yang paling tinggi berada di Strength. Sedangkan sang adik yang bernama Bella Regina seluruh statusnya berada diatas rata-rata para pemula, membuat dia dengan mudah mempelajari seluruh sihir yang ada disana, Rey sendiri hanya bisa menggunakan sihir penguatan Boost.


Mereka berdua pun membentuk party dan mencoba mengerjakan quest yang ada dipapan Guild Petualang setelah mendaftarkan diri mereka. Akankah mereka menikmati kehidupan baru mereka ini? Atau mungkin....


Penasaran? Yuk dibaca ceritanya!

__ADS_1


__ADS_2