My Reincarnation Is Demon Lord? Wait, Are You Serious?

My Reincarnation Is Demon Lord? Wait, Are You Serious?
Keinginan


__ADS_3

"Kami pulang!"


Aku segera menuju pintu depan dan menyapa sepasang suami-istri yang baru saja pulang dari kesibukan kerja mereka. Yup, mereka adalah kedua orang tuaku.


"Selamat datang! Ayah! Ibu!" sahutku yang masih memakai celemek dan memegang Sutil penggorengan.


"Kalian pasti lapar bukan? Aku sudah memasakkan makanan untuk kalian! Tapi kalau bisa, coba tebak apa yang aku masak!" lanjutku dengan senyuman.


"Dari baunya, apa kamu memasak tumis kangkung?" tebak ibu.


"Wah, seperti yang diharapkan dari ibu! Tapi bukan hanya itu saja lho! Coba ayah tebak masakanku yang kedua!"


"Hmm.. sambal terong?" tebak ayahku.


Aku lalu memasang ekspresi suram, membuat ayahku menjadi bingung, apa tebakannya benar atau salah.


"Eh? Bukan yah?"


"Sayang sekali, tebakan ayah benar!"


"Duh! Kamu membuat ayah takut, tahu! Ayah kira tebakan ayah salah tadi! Jangan memasang wajah suram ketika ayah menebak dong!" protes ayah.


Kami pun tertawa dan masuk kedalam lalu makan bersama. Tapi seketika bayangan itu mengalami retakan dan pecah seperti kaca. Yah, seharusnya itu yang akan terjadi jika aku tidak tertabrak truk dan berhasil bertahan selama 6 bulan, sebelum akhirnya pindah ke sekolah dimana ayah dan ibu berada. Mungkin kami akan menjadi keluarga yang selalu bahagia setiap harinya.


"Haikal! Ini sesuai janjiku! Aku membuatnya sesuai dengan apa yang kamu minta kemarin!"


Aku menyerahkan sebuah kotak bekal pada Haikal dan dia pun menerimanya dengan antusias.


"Wah! Ini Martabak Mie yang ku pinta kemarin? Terimakasih Karen! Tadinya aku kira kamu lupa, hehe."


Haikal membuka kotak tersebut yang berisikan Martabak Mie dengan saus yang telah dipisah di bagian lain dari kotak tersebut.


"Mana mungkin aku lupa! Apa kamu mau makan dengan nasi juga? Aku membawanya nih!"


Aku lalu mengeluarkan kotak lain yang berisi nasi. Kami pun makan bersama sembari mengobrol santai. Namun lagi-lagi bayangan tersebut mengalami keretakan dan pecah seperti kaca. Seharusnya ini yang akan terjadi jika aku memutuskan menerima ajakan Haikal untuk menunggunya yang tengah melakukan aktivitas klub dan pulang bersama dengannya.


Semua itu hanya bayangan dan angan-angan ku saja. Tapi yang sebenarnya terjadi adalah, ayah dan ibu menangis tak henti-henti, bahkan ibu sebelumnya pingsan saat pertama kali menerima pesan kalau aku sudah tiada. Sedangkan Haikal, dia dipenuhi dengan rasa penyesalan yang mendalam karena tidak bersama denganku saat itu. Aku lalu mencoba memeluk mereka dengan menangis, sembari meminta maaf.


"Ayah, ibu, aku minta maaf, karena meninggalkan kalian!"


Tanpa sadar, diriku yang bernama Elena tengah mengeluarkan air mata dan mengigau.

__ADS_1


***


POV Vishnal Begin


"Ayah.. ibu.. maafkan aku.."


Nona Ellen mengigau memanggil Tuan dan Nyonya besar dan meminta maaf. Tentu saja ini membuatku sedikit panik dan memanggil Keluarga Nona yang lain untuk datang ke kamarnya.


"Dia tidak demam, tapi hanya mengigau. Apa dia bermimpi buruk?" tanya Nona Rena saat memeriksa suhu tubuh Nona Ellen yang masih terbilang normal.


"Mimpi seperti apa yang sampai membuatnya menangis?" tanya Nona Sarah juga dengan bingung.


"Tuan Besar, Nyonya Besar, akan ada baiknya jika Tuan dan Nyonya Besar untuk tidur bersama dengan Nona Ellen! Bagaimanapun, ini untuk menenangkan dirinya saat bermimpi buruk," saranku.


"Hmm.. yang kamu katakan itu ada benarnya," ucap Tuan Besar yang setuju dengan saranku.


"Kami menerima saran darimu Vishnal. Kalau begitu untuk malam ini, kita akan menemani Ellen. Kamu setuju bukan, sayang?" ucap Nyonya Besar yang setuju dengan saranku.


Tuan Besar hanya mengangguk setuju, tapi Nona Rena dan Nona Sarah iri dan ingin tidur bersama dengan Nona Ellen.


"Curang! Kenapa hanya Ayahanda dan Ibunda saja yang tidur dengan Ellen! Aku juga mau!" rengek Nona Sarah.


"Aku juga mau! Bagaimanapun, Ellen adalah adikku!" sahut Nona Rena.


Nyonya Besar menghentikan kalimatnya. Memang benar yang dikatakan oleh Nyonya Besar itu. Setidaknya jika ingin tidur bersama satu keluarga, harus menambah satu kasur besar atau dua kasur kecil untuk pelayan. Karena ini adalah saran yang ku berikan untuk menenangkan Nona Ellen, aku harus memikirkan cara untuk menyelesaikan masalah ini.


"Kalau begitu, bagaimana jika menggunakan kasur kami?"


Ketua Pelayan Neir datang dan menyarankan hal tersebut. Tuan dan Nyonya Besar menanyakan apa tidak masalah untuk mereka, jadi aku menjelaskan kalau itu bukan masalah kalau Tuan dan Nyonya Besar mau menerimanya.


"Baiklah, maaf merepotkan kalian. Tapi bisakah kalian membawa dua kasur kesini?" pinta Nyonya Besar.


"Sesuai perintah anda, Nona Fiamma!"


Tuan Neir memberikan kode padaku, jadi aku memutuskan untuk ikut menyusul Tuan Neir dan membantunya. Di tengah perjalanan, kami pun mengobrol.


"Nona Muda Ellen sangat disayangi oleh mereka yah! Bahkan Nona Rena yang notabenenya merupakan gadis dingin pun, ikut luluh olehnya," ucap Tuan Neir.


"Ya, itu benar sekali. Nona Ellen merupakan gadis yang misterius yang bisa menarik perhatian keluarganya dengan sangat baik. Dia juga merupakan gadis yang berbakat!" sahutku.


Setelah mendapatkan apa yang kami butuhkan, kami pun kembali dengan dua kasur pelayan dan meletakkanya disisi kanan dan kiri kasur Nona Ellen. Keluarga Nona Ellen lalu masuk ke kasur dan mencium kening Nona Ellen. Melihat hal itu, aku dan Tuan Neir segera keluar dan mematikan lampu.

__ADS_1


"Selamat malam, MiLady," gumamku.


POV Vishnal End


***


Pagi hari, aku membuka mataku dan terkejut ketika melihat Kak Rena dan Ayah ada di hadapanku tengah tidur dan memeluk diriku. Kemudian saat aku berbalik, aku dikejutkan kembali dengan kehadiran Kak Sarah dan Ibu yang juga terlelap dan memeluk diriku.


Hangat, itulah yang kurasakan saat ini. Rasanya aku tidak ingin terbangun dan melanjutkan tidurku. Namun niat jahat terpikirkan olehku saat melihat dada Kak Sarah yang ada didepan mataku. Aku lalu menegangnya dengan kedua tanganku, membuatnya terbangun dan terkejut saat tahu apa yang kulakukan.


"Ugh.. selamat pagi Ellen!"


"Oh, pagi Kak Sarah," sahutku dengan wajah polos dan melanjutkan perbuatanku.


"Kyaa!! Apa yang kamu lakukan!?" teriak Kak Sarah bangun dan memegang dadanya dengan wajah memerah.


"Entahlah, tanganku bergerak dengan sendirinya," jawabku menoleh kearah lain.


"Jangan mengalihkan pandanganmu saat menjawab pertanyaanku!!"


"Duh, kenapa berisik sekali pagi-pagi begini?"


Kak Rena terbangun karena suara Kak Sarah yang berisik. Aku yang melihatnya tengah memakai baju tidur miliknya, dengan segera melakukan hal yang sama pada Kak Sarah.


"Hmm, sepertinya tidak terlalu berkembang?" gumamku.


Kak Rena yang masih setengah sadar, wajahnya segera memerah saat mengetahui apa yang kulakukan padanya. Dia bahkan menanyakan hal yang sama dengan Kak Sarah, jadi aku menjawabnya dengan jawaban yang sama.


"Kyaa!! Apa yang kamu lakukan, Ellen!?" teriak Kak Rena yang memegang dadanya dengan wajah memerah.


"Entahlah, tanganku bergerak dengan sendirinya," jawabku menoleh kearah lain.


"Jangan mengalihkan pandanganmu saat menjawab pertanyaanku!!"


Mereka lalu dengan kompak menarik pipiku, membuatku memohon maaf karena kesakitan.


"Hwentwikwan Kwak! Akwu mwintwa mwawaf!"


Aku lalu memegangi kedua pipiku yang merah. Ibu dan Ayah lalu bangun dan menyuruh kami untuk bersiap, karena nanti kami akan pergi ke Katedral. Jadi kami pun segera pergi dan bersiap untuk pergi ke Katedral.


***

__ADS_1


Jika ada typo atau kesalahan kata, segera beritahu yah! Dukung terus Author dengan Like, Vote dan Rate kalian!



__ADS_2