
Tepat setelah Elena meninggalkan Xirius dengan gadis pengguna kapak besar yang menggunakan topeng berlambang XI. Xirius langsung menarik mundur dirinya, karena dia kalah dalam hal kekuatan.
"Menghadapinya sendirian sebenarnya bukanlah pilihan yang tepat. Tapi aku harus menahannya hingga Yuu datang, kah?" gumam Xirius memasukkan kedua pisaunya kembali.
"Fufufu~ Ada apa~ Apa kamu merasa takut~" ucap Eleven bersenandung.
"Takut?" sahut Xirius menyeringai.
"Kenapa harus takut, jika aku bisa menghabisi nyawamu?" lanjutnya meraih dua buah pisau lain yang berada di pinggangnya.
"Aku hanya mencari belati yang cocok untuk menghabisi nyawamu!" tambah Xirius.
"Heh~ Menarik sekali! Aku ingin tahu bagaimana caramu membunuhku, hehehe~" balas Eleven.
"Ku beritahu kau satu hal penting!" ujar Xirius.
"Oh, ya~ Apa itu~ Apa itu~" tanya Eleven.
Xirius lalu memasang kuda-kuda miliknya sebelum berkata dengan mengejek, "Senandung milikmu itu, membuat telingaku sakit!"
Xirius segera berlari, sedangkan Eleven terkejut saat mendengar perkataan Xirius yang bilang kalau senandung miliknya membuat orang lain sakit. Dari balik topengnya, dia memasang ekspresi kesal sebelum akhirnya mengangkat tinggi kapaknya.
"Tarik kembali, perkataanmu!!" ucap Eleven dengan suara yang tidak lagi diimut-imutkan. Dia tidak bersenandung lagi, malahan terus berteriak setiap kali mengayunkan kapaknya.
Xirius sempat terkejut, saat mengetahui sikap lawannya berubah. Namun dia dengan tenang terus menghindari serangan lawannya. Dia memutuskan bertahan daripada menyerang, sembari mencari celah yang bisa digunakan olehnya.
"Oh, yah? Kenapa kau sangat marah dengan itu? Aku pikir lawanku ini adalah salah satu dari organisasi jahat yang mengerikan! Tapi ini mengecewakan, saat mendengar lawanmu mengejek senandungmu!!" ucap Xirius memprovokasi selagi menghindar.
"Tarik kembali, perkataanmu itu! Senandungku itu tidak bisa membuat orang lain sakit, brengs*k!!" balas Eleven.
"Aku memancingnya untuk mencari celah, tapi kenapa dia tidak menunjukkan celahnya sama sekali?" pikir Xirius.
"Kurozima Dagger Style, Third Form - Spinning in the Dark!!"
Xirius berputar 360° dan berhasil memukul mundur Eleven walau sedikit. Xirius juga langsung menghilang tanpa jejak dan membuat Eleven sedikit panik saat lawannya menghilang.
"Tenanglah, diriku! Dia pasti masih berada disini dan jika dia seorang Assassin, maka yang dia incar adalah.."
Eleven mengayunkan kapaknya kearah belakangnya dan mengenai sesuatu. Tidak lama setelahnya, Xirius terlihat menahan bilah kapak tersebut dengan kedua belati ditangannya. Tapi karena perbandingan kekuatan yang cukup besar, dia akhirnya terhempas dan menabrak pohon.
"Guhagh.."
__ADS_1
Xirius terbatuk-batuk akibat menabrak pohon tersebut, Eleven berjalan mendekat dengan senandungnya kembali. Entah kenapa dia merasa puas setelah mendaratkan serangan pada Xirius.
"Bagaimana~ Masih tidak ingin menarik perkataanmu~" tanya Eleven.
"Uhuk.. tidak akan pernah!" balas Xirius.
"Huh?"
Eleven menendang wajah Xirius, kemudian dia menarik kerah bajunya dengan satu tangan dan menghantam badan Xirius sekali lagi ke pohon.
"Tarik kembali perkataanmu itu!!" teriak Eleven.
"Kenapa aku harus melakukannya? Memangnya sepenting itu kah senandung itu bagimu, Laura von Chrome!?" tanya Xirius menyebut namanya.
Eleven geram dan melepaskan Xirius. Dia menggenggam kapaknya dengan kedua tangannya, sebelum akhirnya mengayunkannya cukup kuat kearah Xirius. Melihat itu, Xirius menyilangkan kedua belatinya untuk bertahan dari serangan yang akan datang.
"Jangan memanggilku.. DENGAN NAMA ITU!!!"
Bamn
Yuu yang tengah berlari, saat mendengar suara ledakan dengan segera mempercepat langkahnya. Dia benar-benar sangat khawatir dengan Xirius, bagaimanapun juga lawannya adalah salah satu dari World Order, Eleven.
"Tunggu aku, Xirius!!"
"Ah~ Sungguh menyedihkan sekali~ Tenang saja~ Aku pasti akan memberikanmu kematian yang indah~" ucapnya bersenandung.
"Hey, Laura. Apakah kau tahu, apa itu Assassin?" tanya Xirius yang membuat langkah Eleven berhenti.
"Yah, aku tahu kok. Mereka adalah seorang pembunuh bayaran yang tugasnya hanya membunuh dan membunuh. Assassin jugalah yang telah merenggut kebahagiaanku, merebut keluargaku, juga merebut impianku dan pelakunya tidak lain adalah kau, Xirius! Kau lah pelakunya!!" jelas Eleven, membuka topengnya.
Wajah gadis yang manis, dengan mata merah darah dan rambut seputih salju yang dibiarkan terurai terlihat jelas. Tapi gadis tersebut tidak menunjukkan wajah cerianya, melainkan dia tengah menangis.
Perasaan nostalgia segera dirasakan oleh Xirius, kenangan menyedihkan yang menyayat hatinya mulai kembali. Dia dapat merasakan perasaan marah, benci dan sedih dari Laura. Xirius lalu tersenyum sebelum mengatakan sesuatu padanya.
"Seorang Assassin, tidak akan pernah melalaikan tugasnya. Tidak peduli siapa target mereka, entah itu keluarga, sahabat, ataupun saudara. Dia akan tetap menyelesaikan tugas yang diberikan padanya," ucapnya.
"Karena itulah, aku.. akan menghabisi dirimu disini," gumam Xirius.
"Shadow Dive! Link - Assassinate!!"
Laura segera terkejut saat tahu Xirius yang ada dihadapannya menghilang. Tapi selang beberapa saat, dia mendapatkan sebuah sayatan di punggungnya.
__ADS_1
"Mus.. tahil, bagaimana bisa?" tanya Laura bingung yang mulai kehilangan keseimbangannya dan terjatuh.
"Sebagai seorang Death Assassin, aku tidak akan pernah membiarkan musuh mengalahkan ku. Jadi maafkan aku, akan ku buat kematianmu seringan mungkin. Karena itulah, selamat tinggal, Laura!" balas Xirius mengayunkan belatinya kearah leher Laura yang sudah pasrah.
***
"Sonic Arrow!!"
"Tidak akan aku biarkan!"
Sebuah panah dilesatkan oleh Thirteen kearah Rick. Tapi Rose dengan sigap menangkisnya dengan belati miliknya. Thirteen berdecak kesal karenanya dan mulai melompat kearah dahan lainnya. Tapi sebelum itu, sebuah anak panah melesat dihadapannya.
"Cih, dia menghindarinya," ujar Rick.
"Sialan! Kedua orang ini memiliki kerjasama yang cukup baik! Mana mungkin aku bisa mengalahkan mereka sekaligus! Tapi jika aku bisa mengulur waktu hingga bantuan datang," gumamnya terdiam sesaat dan kembali berdecak.
"Apa boleh buat! Akan aku gunakan panah itu!"
Thirteen mengambil sebuah anak panah yang terlihat aneh dan melepaskannya ke sembarang tempat. Tapi bukannya tertancap, panah tersebut malah memasuki sebuah lubang dan lenyap seketika.
"Panah apa yang dia gunakan?" tanya Rose.
"Lupakan itu sekarang! Rose! Dia datang!!" balas Rick.
Benar saja, ratusan anak panah segera melesat kearah mereka. Rose dengan sigap menangkis semua anak panah tersebut. Tapi sayangnya beberapa dari mereka ada yang lolos, hingga membuat luka pada tubuhnya. Rick yang melihat itu panik dan mencoba membidik Thirteen.
Menyadari itu, Thirteen memanfaatkannya dengan bergerak cepat kearah Rose. Dia menjadikan Rose sebagai perisai, karena saat ini Rose tengah sibuk dengan ratusan anak panah tersebut.
"Cih, sialan! Menjadikan Rose sebagai perisai, apa kau tidak pernah belajar?" ujar Rick melepaskan anak panahnya keatas langit.
"Hahaha! Kemana kau melepaskan anak panah itu?" ledek Thirteen.
Rick tersenyum menyeringai dan berkata, "Kemana lagi? Kalau bukan ke arahmu! Homing Arrow!!"
Anak panah itu langsung merubah jalurnya dan menerjang kearah Thirteen. Dengan sigap Thirteen menarik anak panah dan melepaskannya. Tapi saat kedua anak panah tersebut bertemu, sebuah ledakan tercipta karenanya.
Boom
***
Jika ada typo atau kesalahan kata, segera beritahu yah! Dukung terus Author dengan Like, Vote dan Rate kalian!
__ADS_1