
"Papa! Mama! Cepatlah! Pesawatnya sudah mau berangkat!" panggil seorang gadis, dia adalah anakku yang pertama, Rosaline Einzberg.
"Iya, iya, tunggu sebentar! Kita harus melakukan beberapa pemeriksaan lebih dulu sebelum berangkat!" sahut seorang wanita yang tidak lain adalah istriku, Charlotte Einzberg.
"Kamu terlalu bersemangat, kakak! Tidak bisakah kamu mengerti keluargamu dengan baik?" ujar seorang pria, dia adalah anakku yang kedua, Gerald Einzberg.
"Eh~ Apa-apaan itu? Kenapa kamu jahat sekali padaku, Ger?" tanya Rosaline.
"Panggil aku dengan nama panjangku! Ya ampun," balas Gerald.
"Eh? Tapi papa selalu memanggil mama dengan cara disingkat?" sahut Rosaline.
"Itu karena nama mama memang cocok disingkat! Sedangkan Gerald sama sekali tidak cocok, itu yang kau maksud bukan?" tanyaku.
Namaku adalah Finral Einzberg, saat ini aku dengan keluargaku tengah dalam perjalanan menuju negara lain dengan menaiki pesawat. Itu karena aku dipindah tugaskan ke negara lain sebagai perwakilan perusahaan selama 3 tahun.
Namun sayangnya, saat kami menaiki pesawat dan mulai melakukan penerbangan. Pesawat yang kami tumpangi jatuh ke laut karena mesin yang terbakar. Tidak ada yang selamat dalam insiden tersebut, termasuk aku dan keluargaku. Tetapi saat aku pikir tidak akan pernah bertemu dengan keluargaku lagi, aku segera terbangun disebuah ruangan lain yang didampingi oleh keluargaku.
Aku pun tersadar, kalau saat ini aku di reinkarnasi ke sebuah dunia lain. Keluargaku bilang, aku mengalami demam selama satu hari penuh. Tapi mereka segera tenang saat aku bangun dan sembuh dari demam tersebut.
Aku mencoba menceritakannya pada mereka dengan mengubah kejadian kehidupan sebelumnya menjadi sebuah mimpi. Mereka hanya tersenyum dan berkata kalau kesembuhan ku saja sudah membuat mereka bahagia, mereka tidak peduli dengan hal itu.
Satu hari kemudian, teman masa kecilku, Vivi. Mengajakku pergi ke sebuah taman dan bilang ingin menceritakan sesuatu padaku. Tentunya aku penasaran dengan apa yang ingin dia ceritakan padaku, jadi aku pun ikut dengannya.
"Hey, Yuu. Apa kamu percaya kalau aku mengatakan punya kehidupan sebelumnya?" tanya Vivi.
Aku agak terkejut dengan apa yang gadis ini tanyakan. Tapi entah kenapa juga, aku merasakan sebuah perasaan nostalgia saat bersama dengannya. Gadis Demon berambut ungu bergaya Ponytail, dengan sepasang mata hitam, serta memiliki sepasang tanduk di kepalanya itu benar-benar mengingatkanku pada Char, istriku. Mungkinkah dia benar-benar Char? Atau seperti itulah yang aku harapkan.
Vivi atau Viviana von Auluriss, merupakan anak dari salah satu Baron yang ada di Ibukota Herophia. Alasan kenapa kami bisa kenal dekat adalah, karena kedua keluarga kami masih memiliki hubungan darah, kakek dari ayahku merupakan salah satu saudara dari kakek dari ayah Vivi.
Bisa dikatakan kami sepupu, tapi bukan berarti kami berdua tidak bisa menikah. Malahan kedua orang tua kami sudah menjodohkan kami. Selain itu, karena orang tuaku adalah Half Demon. Kami sama sekali tidak diakui oleh Keluarga Auluriss, namun hanya dianggap sebagai kerabat jauh.
"Aku percaya kok! Lagipula, aku juga bereinkarnasi ke dunia ini," jawabku.
"Kalau begitu, mau memperkenalkan diri secara bersamaan?" lanjutku bertanya.
"Yah!" sahutnya.
Kami pun menarik nafas dan meneriakkan nama kami bersama.
"Finral Einzberg!!"
"Charlotte Einzberg!!"
Setelahnya, kami pun tertawa dan mulai bercerita tentang masa lalu.
***
".. atau begitulah ceritanya," ucap Yuu mengakhiri ceritanya.
"Tidak kusangka, kalian mempunyai cerita seperti itu," sahut Chloe.
__ADS_1
"Heh~ Apa mungkin kamu iri dengan Yuu, Chloe?" ledekku. (Note: Dari sini udah mulai balik ke POV Elena!)
"Hah? Kenapa juga aku harus iri padanya? Lagipula, bukankah kau sendiri yang menolakku waktu itu?" balas Chloe.
"Eh!? Te-tentu saja aku harus menolaknya bukan! Aku ini masih bisa berpikir jernih tahu!" sahutku dengan wajah memerah.
"Inilah sebabnya, aku membenci sikap perempuan!" ucap Chloe.
"Chloe, bukankah kamu sekarang perempuan?" tanya Vivi.
"Lupakan itu! Sekarang apa yang akan kalian rencanakan kedepannya?" tanya Chloe mengalihkan topik.
"Yah, sebenarnya kami bisa saja pergi sekarang dan mencari tempat yang bagus untuk beristirahat. Tapi entah kenapa insting buas milik Rose mengatakan kalau akan terjadi sesuatu yang buruk malam ini," jelas Yuu.
"Apa ini ada hubungannya dengan kejadian kemarin malam?" tanyaku.
"Entahlah, tapi kemungkinannya besar!" jawab Yuu.
Aku menatap Chloe dan dia pun menganggukkan kepalanya seolah tahu apa yang harus dilakukan.
"Kalau begitu, bagaimana kalau kalian disini untuk sementara waktu?" tawar Chloe.
Yuu dan Vivi saling menatap untuk sementara waktu, sebelum Yuu menerima tawaran Chloe.
"Kalau kalian tidak keberatan, kumohon!"
"Baiklah, sudah diputuskan yah!" ucapku berdiri dan berjalan kearah Liza dan yang lainnya berada.
"Ah! Biarkan aku membantumu!" tawar Vivi.
"Tentu saja, kenapa tidak?" balasku.
Aku dan Vivi pun mulai memasak makan malam untuk kami semua.
***
Hutan pada tengah malam. Saat ini seseorang tengah berlari untuk menyelamatkan hidupnya dari kematian. Dia terus berlari tanpa kenal lelah hanya untuk menyelamatkan nyawanya sendiri.
"Gawat! Gawat! Gawat! Kenapa hari ini aku sungguh sial sih! Tadi siang aku bertemu dengan seorang gadis dan dihajar habis-habisan olehnya! Lalu sekarang, seorang gadis bertopeng dengan busurnya mencoba untuk merenggut nyawaku?" gumamnya.
Sebuah panah melesat, tapi beruntungnya dia karena itu sedikit meleset.
"Huft.. hampir saja! Aku pikir panahnya mengenaiku!" ucapnya.
Dia lalu kembali berlari untuk menjauh dari tempat tersebut dan gadis yang mencoba untuk merenggut nyawanya. Sedangkan sang gadis saat ini, dia tengah menyiapkan panah berikutnya untuk dilesatkan.
"Hehehe, inilah kenapa aku sangat suka memainkan emosi mereka!" gumamnya.
"Membuat mereka berpikir kalau anak panah yang aku lesatkan itu meleset dan juga meningkatkan harapannya untuk bertahan hidup, lalu menghancurkan harapan tersebut kemudian!"
Gadis tersebut menahan anak panahnya cukup lama, sembari menentukan hembusan angin.
__ADS_1
"Sangat menyenangkan, bukan!!" teriaknya melepaskan anak panah tersebut.
Anak panahnya melesat cepat menuju pria tersebut dan tepat mengenai jantungnya hingga membuat lubang pada dada kirinya.
"Mu-mustahil! Jarak segini pun.. masih.."
Pria tersebut terjatuh, darah segar keluar dari tubuhnya. Gadis yang telah merenggut nyawanya langsung pergi meninggalkan lokasi tanpa membersihkan perbuatannya.
***
Saat ini, aku, Chloe, Yuu dan Rick pergi memeriksa sesuatu. Tapi bukan hanya kami saja, ada banyak party yang juga melakukannya. Saat kami sampai dilokasi, betapa terkejutnya kami dengan sebuah jasad yang penuh dengan darah dibawahnya.
Beberapa gadis ada yang berteriak histeris saat melihatnya, ada juga yang menutup mulut mereka menahan mual, ada yang memuntahkan makan malam mereka juga karenanya. Sedangkan Yuu dan Rick memalingkan wajahnya karena tidak kuat.
Aku dan Chloe memberanikan diri untuk maju memeriksanya. Sekali lagi aku terkejut, karena jasad yang saat ini terbaring diatas tanah adalah seorang Party Leader yang aku hadapi tadi siang.
"Kamu pasti bercanda!" gumamku.
"Ada apa? Apa kau mengenalinya?" tanya Chloe.
"Yah, itu benar! Tadi siang saat aku ingin membantu Party Yuu, mereka berencana untuk menyerang Party Yuu saat lengah. Karena itulah aku menghentikan tindakan pengecut mereka," jelasku.
"Meskipun begitu, aku hanya memberikannya sebuah pukulan telak diperutnya dan bukan daerah vital seperti itu!" lanjutku saat merasa ada beberapa dari mereka curiga padaku.
"Tenanglah! Ini masih baru, juga luka ini disebabkan oleh sebuah panah! Lihatlah disana," ucap Chloe menunjuk sebuah anak panah yang tidak terlalu jauh.
"Panah ini.. aku tidak pernah memakainya," gumamku menunjukkan anak panahku yang lain pada mereka yang masih menaruh curiga.
"Lalu, siapa pelakunya? Bukankah pengawas bilang kita dilarang saling membunuh?" tanya salah satu dari mereka.
"Hey! Jangan menakuti para gadis! Selain itu, sepertinya dia masih memiliki medal disana! Sudah jelas pelakunya bukanlah peserta!" ungkap seorang gadis Blood Elf.
Akhirnya beberapa dari mereka pun tidak curiga lagi padaku.
"Semuanya! Aku menemukan beberapa orang lain lagi disana!" panggil seorang Assassin yang ternyata adalah Reus.
"Reus? Kamu serius?" tanyaku.
"Untuk apa aku bercanda disaat seperti ini!" balasnya.
Kami pun akhirnya pergi menuju tempat yang dimaksud oleh Reus dan benar saja, banyak sekali jasad yang tergeletak ditanah dengan luka yang sama. Dada bagian kiri mereka berlubang dan ada sebuah anak panah didekat jasad mereka.
"Ada apa ini sebenarnya?" tanya seorang Barbarian yang aku kenal, dia adalah Axel.
"Entahlah, kita belum memiliki banyak petunjuk!" sahut Chloe.
Sial! Ada apa dengan hutan ini? Tidak, ada apa dengan tempat ini sebenarnya?
***
Jika ada typo atau kesalahan kata, segera beritahu yah! Dukung terus Author dengan Like, Vote dan Rate kalian!
__ADS_1