My Reincarnation Is Demon Lord? Wait, Are You Serious?

My Reincarnation Is Demon Lord? Wait, Are You Serious?
Hari 2 - Penyelamatan Party


__ADS_3

Aku menghela nafas lega setelah menghabisi para monster yang menyerang kami. Aku menggunakan Space Magic, Dimensional Box dan memasukkan semua mayat monster yang berserakan disekitar.


"Setidaknya beberapa dari mereka ada yang bagus untuk dijadikan bahan makanan," gumamku.


"Aku akan membantumu untuk membedah saat kembali. Jadi ayo pergi!" ajak Chloe.


"Ah, Chloe. Maaf, bisakah kamu kembali lebih dulu? Ada beberapa hal yang harus aku lakukan," sahutku.


"Kau serius? Itu terlalu bahaya pergi sendirian!" cegah Chloe yang tahu apa yang aku pikirkan.


"Aku tahu itu, tapi kamu tahu siapa aku bukan? Aku adalah murid dari guru Lilith yang berhasil mencapai Rank Master dalam Ilmu Pengetahuan Sihir dalam waktu satu tahun! Juga orang yang berhasil mematahkan kemenangan beruntun Unbreakable, Chloe! Aku bukan orang yang lemah. Jadi jangan khawatir, aku akan segera kembali secepatnya!" balasku.


Chloe hanya menghela nafasnya dan berkata sebelum pergi, "Aku mengerti, berhati-hatilah dan bawa mereka dengan selamat!"


"Baiklah, mungkin sebaiknya aku atasi mereka dulu!" gumamku segera pergi dari sana menuju tempat yang ingin aku datangi.


***


"Provoke! Spear Strike!"


Seorang pria memancing beberapa monster dan menusuk mereka semua dalam satu serangan dengan tombaknya.


"Rose! Rick! Lakukan yang terbaik!" ucap pria itu menyemangati.


"Roger!" sahut Rose.


"Okay!" balas Rick.


Rose berlari menyelinap dan mengayunkan kedua belatinya untuk menggorok leher para monster. Sedangkan Rick membidik mereka dengan busur dan menembak anak panahnya kearah kepala monster yang ada di hadapannya.


"Wahai air, ciptakan badai pusaran pada lawan-lawanku! Vortex Whirlpool!!"


Seorang gadis baru saja menciptakan badai pusaran air ditengah-tengah kumpulan monster dan membuat mereka naik keatas karenanya.


"Rick! Sekarang!!" perintah gadis tersebut.


"Serahkan padaku, Mama! Wind Arrow!!" ucap Rick melepaskan sebuah anak panah berlapis sihir angin.


Anak panah tersebut masuk kedalam badai pusaran dan perlahan membekukannya. Pria yang membawa tombak dan perisai sebelumnya mengambil ancang-ancang dan tanpa ragu melempar tombaknya dengan cukup kuat hingga menghancurkan badai pusaran yang membeku tersebut.


"Mereka masih terlalu banyak! Yuu, sekarang apa yang harus kita lakukan?" tanya gadis penyihir tersebut.


"Tenanglah, Vivi. Kita hanya perlu mengulanginya lagi dan lagi hingga mereka musnah!" jawab pria dengan tombak yang tak lain adalah Yuu.


***


"Mereka benar-benar kuat! Apa kita akan tetap menyerang mereka?" tanya salah satu orang yang bersembunyi dibalik semak.


"Yah, tentu saja! Jika kita menunggu mereka lelah, kita bisa menang!" jawab salah satu orang lainnya.


"Begitu yah. Dengan begitu, kita tidak akan terkena penalti dan akan mendapatkan medal mereka," balas salah satu orang lainnya.


"Benar-benar licik yah!" sahut seorang gadis yang duduk diatas dahan pohon.

__ADS_1


"Tentu saja! Kalau kita tidak melakukannya, kita tidak akan mendapatkan peralatan buatan Guru Berg!" balas orang yang menjawab pertanyaan sebelumnya.


"Kalau begitu aku tidak perlu menahan diri dengan orang selicik kalian, kan?" tanya gadis tersebut dan turun dari dahan pohon yang ia duduki sebelumnya.


"Tunggu, siapa kau!?" tanya salah satu dari mereka.


"Kalian tidak perlu tahu, lagipula aku akan mengambil semua medal kalian hingga kalian akan dikirim kembali," jawab gadis tersebut.


"Cih, jangan remehkan kami!!"


Salah satu dari mereka berlari dan mengayunkan pedangnya. Gadis tersebut diam ditempat, menunggu serangan lawannya datang padanya. Kemudian saat pedang pria tersebut mencoba menebas gadis tersebut, sebuah dinding tak terlihat melindungi gadis itu dan membuatnya tidak terluka sama sekali.


"Lemah," gumam gadis tersebut meninju perut pria yang menyerangnya hingga pingsan.


"Ja-jangan bercanda!" teriak salah satu dari mereka panik.


"Akan aku beri kalian dua pilihan! Pergi dari sini dengannya, atau tetap disini dan aku ambil semua medal kalian?" tawar gadis tersebut.


"Ma-maafkan kami!!"


Mereka berdua menggotong rekannya yang pingsan dan pergi meninggalkan tempat tersebut dengan lari sekencang-kencangnya. Gadis tadi menghela nafas karena masalah pertama selesai, dia lalu melompat ke salah satu pohon yang dekat dengan Party Yuu dan bersiap menggunakan sihirnya.


"Kendalikan Massa mereka! Gravitation!!"


Dibawah kaki para monster muncul sebuah lingkaran sihir berukuran besar berwarna ungu dan membuat tubuh mereka menjadi berat hingga sulit untuk mengangkatnya kembali.


"Sihir ini?" gumam Vivi.


"Yahoo~ Apa kalian baik-baik saja?" tanya seorang gadis yang berdiri diatas dahan pohon.


"Tepat~ Ah! Ngomong-ngomong, sihir itu tidak akan bertahan lama! Ayo ikuti aku!" ajak Elena.


Mereka pun tidak punya pilihan lain selain mengikuti langkah kaki Elena. Kemudian tidak butuh waktu lama, mereka pun sampai ditempat tujuan.


"Kita sudah sampai!" ucap Elena.


"Eh? Tapi disini tidak ada apapun lho!" sahut Rose.


"Sudah, jalan saja lurus! Percaya padaku!" balas Elena berjalan lurus dan menghilang tiba-tiba dari pandangan mereka.


Party Yuu terkejut dengan apa yang terjadi, tapi mereka pun segera melakukan hal yang sama dengan Elena dan berjalan masuk ke tempat persembunyian Elena dan yang lainnya.


"Oh! Cukup lama juga kau kembali, Ellen!" panggil Chloe.


"Maaf, maaf, ada beberapa hal yang harus diurus, jadi memakan sedikit banyak waktu," jelas Elena.


"Vivi! Ruu~" panggil seorang Demon Beast yang tidak lain adalah Blanca.


"Blanca! Kamu baik-baik saja kan?" tanya Vivi.


"Ruu~ Aku baik-baik saja! Senang melihat Vivi terlihat baik-baik juga!" balas Blanca.


"Ah! Kak Sally!? Kakak ada disini juga?" panggil Rick saat melihat Sally yang keluar bersama dengan Liza.

__ADS_1


"Kalian saling kenal?" tanya Rose penasaran, sangking penasarannya, telinga kucing miliknya berdenyut dan ekornya bergerak kesana-kemari.


"Yah, bagaimanapun juga dia adalah senior kita. Aku bertemu dengannya saat berada di perpustakaan," jelas Rick.


"Ah! Begitu rupanya, salam kenal! Aku Rose von Chrome!" ucap Rose memperkenalkan diri.


"Chrome? Kamu darah campuran bukan? Bukan maksudku untuk merendahkan dirimu, tapi menggunakan nama Bangsawan itu tidak baik lho!" peringat Sally.


"Ah, tidak masalah Sally!" ujar Elena.


"Gadis itu adalah adik angkat Lyon, teman sekelas ku!" lanjutnya.


"Oh, begitu yah!" sahut Sally.


"Ngomong-ngomong, Yuu! Vivi! Bisa ikut aku sebentar kesana! Chloe ikut juga yah!" ajak Elena.


Mereka berempat pun pergi agak jauh didekat mulut gua dan duduk dengan perapian yang menyala ditengah mereka. Dengan adanya sihir ilusi, membuat mereka sedikit tenang karena tidak akan ada yang menyerang mereka. Sedangkan untuk Rick, Rose, Liza, Blanca dan Sally, mereka berada jauh didalam gua sembari berbincang.


"Aku sudah lama ingin menanyakan ini pada kalian berdua sih, tapi tidak ada waktu yang tepat untuk menanyakannya!" ucap Elena.


"Kalian berdua, Reincarnator bukan?" lanjutnya bertanya.


***


Sehari sebelumnya, ditempat pengawasan. Terdapat banyak sekali orang yang tergeletak dilantai, penyebabnya adalah kehabisan Mana. Salah satu diantaranya adalah seorang guru Kalzaream Academy, Gale. Kemudian ada 3 orang yang tengah berselisih paham.


"Sialan! Dimana kau sembunyikan Yue!" teriak seorang Demon Elf yang tidak lain adalah Gregory.


"Tenang saja, aku tidak menyakitinya sama sekali! Lagipula gadis itu masih berada didalam kamarnya, terbaring diatas kasurnya sembari tertidur lelap selama 7 hari," sahut seorang yang mirip Yue, atau lebih tepatnya menyamar sebagai Yue.


"Sial! Jika bukan karena Gale menyalurkan Mananya padaku, sudah dipastikan aku juga akan tergeletak disana!" gumam Ramiris melirik kearah Gale.


"Gregory! Untuk saat ini kita mundur dulu! Aku akan membawa Gale," ucapnya.


"Apa kamu pikir aku akan membiarkan kalian pergi begitu saja?" sahut gadis yang mirip dengan Yue.


"Diane!!" panggil Ramiris.


Sebuah api berkobar dan seorang gadis muncul setelahnya. Ramiris lalu meminta Diane untuk mengulur waktu selagi dia, Gregory dan Gale pergi dari tempat ini. Diane lalu melepaskan apinya kearah gadis yang menyamar dan membuatnya mengerang.


"Kyaaa!! Sialan kau!!"


Gadis tersebut melepaskan sihir kearah Diane, tapi Diane langsung berubah kebentuk roh dan kembali pada Ramiris. Pakaian gadis tersebut terbakar, penyamarannya pun mulai lenyap dan tubuhnya mulai kembali ke bentuk semula. Dadanya mulai membesar, pinggulnya mulai sedikit ramping, rambutnya mulai memanjang dan berubah menjadi warna biru gelap.


"Ah~ Ini yang terburuk! Jika aku tahu kalau pakaianku akan ikut terbakar, akan lebih baik jika aku membawa pakaian ganti. Terutama pakaian dalam," gumamnya mengambil sebuah topeng bertuliskan angka romawi VIII.


"Untungnya topeng ini dilengkapi dengan pakaian khusus! Jadi setidaknya tubuhku tertutupi meski bagian bawahku terasa dingin!" lanjutnya.


"Baiklah, karena aku sudah repot-repot menyamar, setidaknya lakukan yang terbaik yah! Anak-anakku yang manis~"


***


Jika ada typo atau kesalahan kata, segera beritahu yah! Dukung terus Author dengan Like, Vote dan Rate kalian!

__ADS_1



__ADS_2