My Reincarnation Is Demon Lord? Wait, Are You Serious?

My Reincarnation Is Demon Lord? Wait, Are You Serious?
Reinkarnasi ku adalah Raja Iblis? Tunggu, Kau Serius?


__ADS_3

Matahari mulai menunjukkan dirinya, suara kicauan burung dan beberapa sapaan hangat bercampur. Alarm berbunyi cukup kencang, aku pun segera bangun dari tidur dan mematikan alarm. Aku meregangkan tanganku keatas, setelahnya baru menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuh. Kemudian aku segera mengenakan seragam sekolahku dan tidak lupa mengenakan kacamata setelah menata rambut.


Setelah melakukan semua hal tadi, aku segera turun dan memasak makanan untuk bekal. Sedangkan untuk sarapan, aku membuat sebuah Sandwich. Selagi memasak, aku juga bersenandung ria.


"Hm~ Hm~ Hm~ Kira-kira, apa dia mau memakan bekal buatan ku ini tidak yah?" gumamku sembari memasak nasi goreng.


Kedua orang tuaku meninggalkan diriku di rumah sendirian, karena mereka memiliki pekerjaan diluar kota. Jujur saja, aku sedikit kesepian. Tapi tetangga sekitar sangat ramah padaku, membuatku memiliki semangat untuk terus menunggu kepulangan mereka.


Setelah selesai memasak, aku pun sarapan dan sekaligus aku berangkat ke sekolah dengan memakan sandwich. Beberapa tetangga menyapaku cukup ramah, jadi aku pun membalas sapaan mereka.


"Eh, Dek Karen. Berangkat sekolah?"


"Selamat pagi, bibi. Yah, itu benar!"


"Kamu rajin sekali yah! Berangkat lebih pagi dari yang lain setiap hari!"


"Tidak seperti itu kok! Aku sama sekali tidak rajin," sahutku dengan senyuman dan melanjutkan perjalanan menuju sekolah.


Jarak antara rumah dan sekolah cukup jauh, sehingga membuatku harus naik kereta untuk sampai ke stasiun yang berada cukup dekat dengan sekolah. Saat sampai di sekolah, aku segera berjalan menuju loker, dimana sepatu yang disediakan oleh pihak sekolah berada.


Jika kalian bertanya tentang kehidupan sekolahku, maka bisa ku jelaskan dalam satu kata, "Suram." Benar, kehidupanku disekolah berbeda dengan kehidupanku diluar. Setiap hari aku selalu mengalami perundungan oleh 4 orang. Aku sudah memberitahukan ini pada guru disekolah, bahkan guru BP pun sudah ku beritahu. Namun mereka mengatakan, "Jika tidak ada bukti, maka kami tidak bisa bertindak."


Kalian pasti bercanda bukan? Bahkan saat aku menunjukkan bukti berupa luka lebam pun, kalian mengabaikannya dan mengatakan itu hanya sebuah kecelakaan. Yah, bagaimanapun juga anak yang merundungku itu adalah anak Kepala Sekolah. Sudah jelas siapa yang menang dan siapa yang kalah disini.


"Yah, lagipula aku hanya perlu bertahan sampai 6 bulan lagi. Karena setelah Ujian Kenaikan Kelas, aku akan pindah ke tempat orang tuaku berada," gumamku dan membuka loker.


Tumpukan sampah segera jatuh berceceran dilantai saat aku membuka loker. Lalu tawa serta ejekan diberikan padaku oleh keempat orang yang sering merundungku.


"Hahaha, lihat murid pintar itu lagi-lagi menaruh sampah di loker miliknya lagi, hahaha."


"Kau benar, ini sudah keberapa kalinya yah?"


"Fufufu, sepertinya dia hanya pintar dalam pelajaran saja yah!"


Ayolah! Aku tahu kalian pelakunya bukan? Jadi untuk apa itu semua? Aku segera memungut sampah-sampah tersebut, agar pemilik loker lainnya tidak merasa bau. Sebenarnya banyak sekali orang yang menatapku dengan kasihan dan ingin sekali membantuku. Tapi karena tatapan tajam milik anak Kepala Sekolah, jadi aku bisa memaklumi mereka. Karena ada kemungkinan mereka juga akan ikut dirundung sepertiku. Tetapi, ada seseorang yang selalu membantuku disaat seperti ini tanpa rasa takut sedikitpun.


"Memungut sampah seperti biasanya? Kamu benar-benar gadis yang baik yah, Karen!"


"H-Haikal?"


"Aku akan membantumu!"


"Te-terimakasih," ucapku merasa gugup, selain itu terlalu dekat!


Wajahku sedikit memerah dan jantungku berdetak kencang. Setelah urusan dengan sampah selesai, aku mengeluarkan sebotol parfum dan menyemprotkannya ditempat sampah tersebut jatuh dan juga lokerku. Kemudian memasukkannya kembali kedalam tas. Awalnya aku sempat ragu untuk membawa parfum, tapi Ketua OSIS yang melihat dan tahu masalahku, memperbolehkan aku membawanya. Kami berdua berjalan ke tempat yang memiliki keran air. Karena jika aku ke Toilet, pastinya aku akan dirundung kembali dan aku tidak mau itu.


"Pasti sulit yah, menghadapi mereka setiap hari!"


"Eh? Ah, itu bukan masalah kok! Lagipula ini sudah menjadi kebiasaan sehari-hari, haha."


Aku tertawa hambar, sembari mencuci tanganku dengan air. Tidak lupa pula aku menggunakan sabun agar harum.


"Karen, apa kamu tidak memiliki niat untuk pindah sekolah?"


Aku terdiam dan mematikan keran air, lalu mengambil tas dan kembali berjalan. Haikal pun melakukan hal yang sama setelah mencuci tangannya.


"Aku akan pindah."


Haikal berhenti saat aku mengucapkannya. Aku pun berbalik dan menjelaskan kalau aku akan pindah setelah Ujian Kenaikan Kelas. Aku juga memberitahunya dimana tempatku sekolah nanti.

__ADS_1


"Ayah dan Ibumu seorang guru?"


"Tidak, hanya saja sekolahku itu berada didekat dimana kedua orang tuaku bekerja," jelasku.


Haikal tersenyum padaku dan mengatakan kalau dia akan mendukung keputusanku. Entah kenapa aku merasa kalau senyuman itu terlihat dipaksakan. Tapi aku tidak berhak untuk menanyakan hal itu padanya.


Bel sekolah berbunyi, jadi kami pun bergegas menuju ke kelas. Karena kelas kami sama, jadi kami pun tetap bersama. Saat berada dikelas, aku bisa melihat wajah seorang wanita yang kesal dan mengarahkan pandangan mengerikannya padaku.


Aku sendiri tidak tahu, kenapa mereka semua merundungku. Saat ku tanya alasannya, dia malah menendang perutku cukup keras dan tidak mengatakan apapun. Yah, kejadian itu sudah cukup lama sih dan aku juga tidak mau mengingatnya lagi. Tidak lama setelah aku duduk, seorang wanita paruh baya masuk dan memulai pelajaran setelah mengabsen kehadiran kelas.


Setelah 4 jam pelajaran, akhirnya waktu istirahat tiba. Beberapa orang segera keluar untuk membeli makan siang, ada juga yang sudah membawa makanannya dari rumah dan memakannya bersama teman-temannya.


"Haikal! Cepatlah! Jika tidak, kantin akan penuh!"


"Baiklah! Duh, tidak sabaran sekali!"


Aku harus memberanikan diri untuk memberikan bekal ini padanya.


"Anu.. Haikal!"


"Ada apa? Aku sedang buru-buru jadi cepat katakan!"


"Se-sebenarnya aku, membuat bekal untukmu, sebagai rasa terimakasih karena selalu membantuku!"


Aku menyerahkan kotak bekal yang kubuat tadi pagi pada Haikal.


"Ini.. untukku?" tanyanya dan dibalas dengan anggukan kepalaku.


"Buatan tanganmu?" tanyanya sekali lagi dan ku balas lagi dengan anggukan kepala.


"Haikal! Jadi tidak?"


"Tunggu, Haikal! Jangan mengatakannya dengan kencang!"


"Eh? Memangnya tidak boleh?"


"Bukan begitu, hanya saja.. aku malu!"


Haikal tertawa setelah mendengar ucapanku. Wajahku juga perlahan mulai memerah. Dia bahkan meminta Akira yang duduk didepan tempat dudukku untuk pindah ketempat duduknya.


"Eh? Kenapa aku harus melakukannya?"


"Ayolah! Aku ingin makan bersama orang yang membuatkan ku ini!"


"Ya ampun! Merepotkan sekali!"


Walaupun Akira mengatakannya, dia tetap melakukan permintaan Haikal. Akhirnya kami pun makan siang bersama dan Haikal pun menyukai masakan ku.


***


"Gyaa!!"


Aku baru saja diseret ke sebuah tempat kosong oleh anak-anak yang melakukan perundungan padaku. Saat ini sudah pulang sekolah, jadi jelas kalau mereka melakukan ini padaku. Haikal juga saat ini tengah melakukan kegiatan klub, jadi aku tidak mau membuatnya khawatir.


"Dengar, hanya karena kau sekarang sudah memiliki pelindung. Bukan berarti kau sudah lepas dariku! Sekarang, cepat berikan uang saku milikmu!"


"Kenapa aku harus memberikannya?"


"Huh?"

__ADS_1


Riana atau anak Kepala Sekolah menjentikkan jarinya, lalu kedua temannya menendang perutku bersamaan.


"Akhh!! Sakit!!"


Riana tidak puas dengan itu dan mulai menarik rambutku dengan kasar.


"Lebih baik kau turuti perkataan ku, maka aku akan melepaskan dirimu. KAU PAHAM!!"


Aku tidak mau menyerahkannya, bagaimanapun juga, uang itu akan ku pakai untuk membeli bahan makanan nanti malam.


"Ti.. dak, ma.. u. Akh!!"


Aku menolaknya dan akhirnya mendapatkan sebuah tinju di perutku. Membuatku merasakan sakit yang luar biasa. Sepertinya dia memukulku cukup keras.


"Kau masih tidak ingin memberikannya juga?"


Aku tidak menjawabnya. Aku sudah pasrah dan terus menggenggam erat tasku dengan kedua tanganku. Melihatku menggenggam erat tasku, salah satu temannya menarik tas tersebut dan mencoba merebutnya dariku. Tapi aku terus berjuang untuk tidak melepaskannya.


"Kumohon jangan! Aku harus membeli bahan makanan malam ini!!"


"Siapa peduli, bodoh!!"


"Aakhh!!"


Dia menendang perutku sekali lagi, membuatku meringis kesakitan. Bahkan air mataku juga mulai mengalir. Merasa sudah mendapatkan apa yang dia butuhkan, Riana melempar tasku ke tempat sampah dan meninggalkan diriku sendirian disini, begitupun dengan teman-temannya yang lain. Salah satu dari mereka bahkan sempat meludahi diriku sebelum pergi.


Setelah kurasa mereka cukup jauh, aku mencoba bangun dan mengambil tas yang berada ditempat sampah. Kemudian aku juga memaksakan kedua kaki ku untuk berjalan meninggalkan tempat ini. Tentunya dengan seragam yang kotor. Beberapa murid dan guru yang melihatku, hanya merasa kasihan saja. Aku yakin mereka melihatku, tapi karena tidak berani, akhirnya mereka mengabaikan hal ini.


Aku berjalan pulang, menuju stasiun. Tapi entah kenapa saat dipertengahan jalan, kepalaku mulai berdenyut kencang dan badanku juga mulai sakit. Aku juga mendengar beberapa pertanyaan orang-orang disekitar. Tapi lama-kelamaan tidak terdengar jelas, makanya aku mengabaikan mereka.


"Eh? Warnanya hijau? Kenapa orang-orang tidak menyebrang sama sekali?" gumamku.


Aku lalu menyebrang tanpa ragu, tapi aku mendengar beberapa suara memanggil seperti, awas dan juga truk.


"Truk?"


Aku menoleh kearah kanan dan benar saja, sebuah truk melaju kencang ke arahku. Aku melihat kalau supir truk itu tengah melakukan sebuah panggilan telepon dan tidak melihat ke depan. Aku mencoba bergerak, tapi kaki ku tidak bisa digerakkan.


Hingga pada akhirnya, aku tertabrak dan terhempas beberapa meter dengan darah yang keluar dari tubuhku dijalan. Aku mendengar beberapa orang yang panik dan segera mencoba menghubungi Ambulan.


Sakit! Sakit sekali! Kenapa ini semua terjadi padaku! Ayah, Ibu, maafkan aku karena selalu egois. Haikal, maafkan aku. Padahal aku berjanji akan membuatkanmu bekal lagi besok. Sakitnya menghilang dan sekarang digantikan dengan rasa dingin diseluruh tubuhku. Pandanganku juga mulai kabur dan gelap. Apa aku akan mati?


Aah, seandainya saja aku bisa bereinkarnasi seperti karakter dalam novel atau manga juga serial animasi yang ku tonton. Haha, lucu sekali. Tidak mungkin it.. u.. bi.. sa.. ter.. jadi.. pa.. da.. ku.


"Sayang, lihatlah! Betapa manisnya anak kita yang baru ini!"


"Ah! Kamu benar sayang! Dia sungguh manis!"


Terang! Tunggu! Siapa mereka! Aku sama sekali tidak mengerti apa yang mereka bicarakan! Tanduk? Kenapa mereka memiliki tanduk? Juga, apa aku tengah menangis?


[Title "The Next Demon Lord" telah didapat!]


Uwaah! Apa itu! Tulisan? The Next Demon Lord? Mungkinkah, Reinkarnasi ku adalah Raja Iblis? Tunggu, Kau Serius?


***


Jika ada typo atau kesalahan kata, segera beritahu yah! Dukung terus Author dengan Like, Vote dan Rate kalian!


__ADS_1


__ADS_2