My Reincarnation Is Demon Lord? Wait, Are You Serious?

My Reincarnation Is Demon Lord? Wait, Are You Serious?
Kejutan demi Kejutan


__ADS_3

"Perisai itu.. Seraphim?"


"Sepertinya begitu, Lilith. Tapi itu berbeda dengan milik keluarga Cellestya. Perisai Bumi, Galēo, memiliki energi murni yang dapat mengendalikan tanah. Tetapi, perisai miliknya berbeda. Perisai itu, dipenuhi oleh energi kedengkian!" jelas Kevin.


"Wah~ Wah~ Sampai bisa mengetahui itu, kau benar-benar tidak bisa diremehkan yah, Blood Knight!" sahut Twelve.


"Yah, seperti yang kau katakan. Perisai ini dibuat dengan penuh kedengkian dan juga material yang digunakan untuk membuat Seraphim Buatan! Nama perisai ini adalah Perisai Kedengkian, Hyrålë!" lanjut Twelve.


Kevin dan Lilith tidak bisa menutupi keterkejutan mereka. Pasalnya untuk membuat sebuah Seraphim bukanlah hal yang mudah, karena diperlukan bahan misterius yang tidak bisa diketahui sampai sekarang. Lalu sekarang, para World Order telah menemukan cara pembuatan Seraphim?


"Kevin, ulur waktu selama mungkin. Aku akan menggunakannya!" bisik Lilith.


"Aku mengerti, serahkan itu padaku!" balas Kevin.


"Oh, sudah selesai rapat strateginya?" tanya Twelve.


"Yah, begitulah dan aku yang akan menjadi lawan kalian!" jawab Kevin.


"Heh~ Bukankah melawan kami berdua bersamaan cukup sulit bagi seorang Blood Knight?" sahut Thirteen.


"Yah, jujur aku sendiri tidak yakin bisa mengalahkan kalian sekaligus!" balas Kevin.


"Kalau begitu, lebih baik menye--"


"Tapi! Bukan berarti aku tidak bisa mengimbangi kalian berdua sekaligus!!" potong Kevin.


"Blood Manipulation, Phase Two - Blood Wolf Armor!!"


Zirah Kevin sebelumnya segera tergantikan dengan zirah serigala berwarna merah darah. Kevin juga mengubah perisainya menjadi pedang tepat setelah mengaktifkan Blood Manipulation Phase Two.


Kemudian tanpa aba-aba, Kevin sudah berada dihadapan Twelve dan mengayunkan kedua pedangnya bersamaan. Twelve yang terlambat bereaksi segera terhempas, Thirteen juga agak terkejut hingga tidak menyadari kalau tubuh Twelve tengah melesat kearahnya.


"Gyaa! Apa yang kau lakukan!"


"Itu seharusnya menjadi pertanyaanku, bodoh! Hyrålë, kenapa kau tidak bisa menahannya!"


"Pria ini, menggunakan Mana dalam jumlah besar untuk menguatkan daya serangnya! Jangan menyalahkan ku! Pikirkanlah sendiri bagaimana caramu menahannya! Bagaimanapun aku ini adalah sebuah senjata!"


Twelve berdecak kesal, tapi dia segera sadar dan melempar Thirteen kearah kanan dengan cepat. Thirteen sempat ingin protes, tapi saat tahu kalau Twelve menyelamatkannya, dia memutuskan untuk diam. Twelve mencoba bertahan dari serangan membabi buta Kevin, dia menggenggam Hyrålë cukup erat dengan kedua tangannya.


"Ring of Mana buatan Murid Hazel benar-benar sangat berguna! Dengan memasukkan Mana kedalam permata, maka aku bisa menggunakannya saat Mana milikku menipis. Terlebih lagi, tidak ada batasan jumlah Mana yang bisa ditampung. Kami beruntung memiliki murid-murid yang berbakat tahun ini!" gumam Kevin dalam hatinya.

__ADS_1


Flashback On


"Eh? Kamu ingin aku mencobanya?" tanya Kevin.


"Benar sekali, Guru Kevin! Memang ini masih prototipe sih, tapi aku yakin ini sangat berguna!!" jelas seorang Demon Beast pria yang memiliki tanduk seekor banteng, dia adalah Hazel.


"Proto.. apa?" sahut Kevin bingung.


"Eh! Ah, itu.. maksudnya belum sempurna, hahaha," balas Hazel tertawa hambar.


"Tapi, apa gunanya cincin ini? Bisa jelaskan lebih detail?" tanya Kevin.


"Ah, tentang itu, cincin tersebut berguna untuk menampung Mana yang dimiliki pengguna. Dengan menyalurkannya ke permata, maka Guru akan mendapatkan Mana tambahan yang bisa digunakan saat kehabisan Mana. Ngomong-ngomong, aku berencana untuk membuat Mana yang bisa ditampungnya tidak terbatas. Tapi karena ini masih Proto-- maksudnya belum sempurna, aku harus mencobanya terlebih dahulu. Seharusnya sih, begitu.." jelas Hazel.


"Tapi kamu tidak memiliki orang yang cocok, yah?" tebak Kevin dengan menghela nafas.


"Aku bisa saja mencobanya, tapi Mana milikku tidak banyak. Jadi setidaknya, jika Guru berkenan, aku mohon untuk menggunakannya!" pinta Hazel.


Flashback Off


"Cih, merepotkan! Malice Shield Style, First Form - Malice Crash!!"


"Silva Dual Sword Style, Third Form - Thirty Bloody Slash!!"


"A-apa yang terjadi?" gumamnya pelan.


Thirteen mencoba melakukannya terus-menerus, tapi semuanya digagalkan oleh sekelebat bayangan sebelumnya. Thirteen berdecak kesal dan mencoba membidik Lilith sekali lagi dengan salah satu panah spesial miliknya.


"Kena kau!!" teriaknya dengan kesal.


Sekelebat bayangan tersebut muncul dan membelah panahnya, tapi panah tersebut segera berubah menjadi tali dan mengikatnya. Ternyata sekelebat bayangan tersebut adalah Kevin. Kevin yang tertangkap berdecak kesal karenanya, sedangkan Twelve dan Thirteen memasang raut wajah tidak percaya.


***


Boom


Tanah tempat Ramiris berbaring sebelumnya segera hancur karena hantaman palu Seventeen. Terlambat sedikit saja, mungkin nyawa Ramiris tidak akan selamat.


"Guh, luka sebelumnya masih belum pulih dan aku dipaksa untuk bergerak, sial!" gumam Ramiris memegang pinggang kanannya yang mengeluarkan darah.


Ramiris dengan cepat menggunakan Sihir Roh untuk memulihkan lukanya. Disisi lain, Seventeen mengangkat senjatanya dan menaruhnya pada pundak kanannya.

__ADS_1


"Hey, Guru! Apa kau benar-benar tidak mengetahuinya? Atau kau berpura-pura tidak mengetahuinya?" tanya Seventeen.


"Apa maksud perkataanmu? Aku sama sekali tidak mengerti!" balas Ramiris.


Seventeen menghela nafas dan berkata, "Jadi kau benar-benar sudah melupakannya yah."


"Sekali lagi aku bertanya, apa maksud perkataanmu itu? Jika kau ingin menjelaskan sesuatu, katakan dengan benar!!" sahut Ramiris yang telah selesai memulihkan diri.


"Waktu itu, kau berkata kalau aku adalah murid terbaikmu! Tapi sekarang, kau malah mengangkat murid lain dan menjadikannya murid kesayanganmu?" ungkap Seventeen.


"Murid? Aku tidak pernah memiliki murid nakal seperti dirimu!" balas Ramiris.


"Heh~ Jadi aku benar-benar telah dilupakan yah? Haha, hahahaha," sahut Seventeen tertawa.


"Mungkin, kau akan mengenalinya jika aku membuka topeng ini," lanjutnya membuka topeng diwajahnya.


Wajah pria dengan rambut Hijau, serta iris mata berwarna sama dan ada luka bakar diwajah bagian kirinya terlihat dengan jelas. Ramiris yang melihatnya terdiam membatu karena terkejut dengan apa yang dia lihat. Wajah yang tenang dan sangat familiar baginya, wajah seseorang yang pernah berada dihatinya, wajah pria yang sangat ia kagumi dan cintai.


"Mus.. tahil, kau adalah.. Rio?" ucap Ramiris.


"Akhirnya kau mengingatnya! Yah, ini aku, Rio! Murid terbaik, yang pernah engkau cintai!!" balas Rio.


"Tapi, bagaimana mungkin? Seharusnya dalam laporan itu--"


"Aku mati dalam kebakaran tersebut, kan?" potong Rio.


"Yah, seperti yang ada dalam laporan! Aku mati! Aku benar-benar sudah mati! Penyebabnya adalah dirimu! Kenapa, kenapa kau tidak datang menyelamatkanku, huh? Ramiris!!" lanjutnya.


"12 tahun, selama 12 tahun tersebut, aku harus menderita karena luka bakar ini! Jika saja Tuan Nine tidak datang dan menyelamatkan hidupku, aku tidak akan pernah menghirup udara di dunia ini lagi!!" jelas Rio.


"Maaf," kata tersebut terucap dari mulut Rio.


Mendengar perkataan tersebut, Rio menjadi murka dan mengayunkan palunya pada Ramiris. Hal ini membuatnya terhempas jauh hingga menabrak dinding Arena.


"Maaf? Maaf kata yang pertama kau ucapkan? Jangan bercanda! Kepar*t!!" teriak Rio.


Rio menenangkan dirinya dan mengenakan Topeng simbol angka romawi XVII kembali diwajahnya. Dia menghela nafas sebelum berkata, "Ya, sudahlah. Aku sudah tidak peduli lagi, sekarang yang terpenting bagiku adalah, membunuh suami bajing*n yang kau nikahi itu! Selain itu, aku tidak peduli lagi!"


***


Jika ada typo atau kesalahan kata, segera beritahu yah! Dukung terus Author dengan Like, Vote dan Rate kalian!

__ADS_1



__ADS_2