
Aku menghela nafas, siapa yang menyangka kalau pertarungan sihir tadi cukup menguras Mana. Ultimate Magic, bisa dibilang itu adalah sihir yang aku kembangkan bersama dengan guru. Aku juga pernah menunjukkannya saat bertarung melawan Chloe, jadi aku yakin kalian bisa menebak seberapa banyak Mana yang aku gunakan.
Ultimate Magic, sesuai dengan namanya, sihir ini adalah sihir terkuat yang pernah ada. Sebenarnya sudah ada sihir semacam ini, tapi banyak yang tidak tahu harus menamainya apa. Bahkan Asosiasi Penyihir sulit menentukan namanya hingga sekarang, karena itu belum sempurna.
Selain itu, syarat agar bisa menggunakannya pun cukup sulit bagi para penyihir Master. Setidaknya mereka harus memiliki 3 sihir dengan level 10 pada status mereka. Namun berkat bimbingan dan bantuan guru, akhirnya kami bisa menentukan namanya dan bereksperimen bersama jika memiliki waktu. Pihak Asosiasi juga menerima nama sihir tersebut dan meresmikannya, mereka juga terkadang datang untuk mengawasi eksperimen kami.
Dengan menggunakan Fire Magic level 10, Inferno. Serta Wind Magic level 10, Hurricane Storm. Aku bisa menggunakan Ultimate Magic: Gigant Flare, tapi Mana yang digunakan sangat besar. Bahkan setelah menggunakan Inferno dan Hurricane Storm, Ultimate Magic: Gigant Flare tetap menggunakan Mana yang besar.
"Rasanya aku tidak ingin menggunakannya lagi, haha," gumamku tertawa hambar.
Keributan juga masih bisa terdengar dengan jelas, bahkan aku agak terkejut saat tahu Yuu dan Reus saling bertarung. Aku ingin menghentikan mereka, tapi kurasa itu tidak diperlukan.
"Lebih baik mengikatnya dan membawanya untuk mengorek informasi," ujarku berjalan menuju Ten yang masih tergeletak.
"Wah~ Wah~ Itu tidak boleh lho! Menahan anakku yang manis tanpa izin dariku!"
Aku segera memasang sikap waspada, tepat setelah suara itu muncul. Seorang wanita dengan topeng Romawi VIII keluar dari sebuah lubang hitam. Aku sama sekali tidak bisa merasakan kehadirannya sebelumnya dengan Detect. Bahkan Appraisal pun tidak berguna padanya.
"Dari topeng itu, kamu salah satu dari World Order, Eight?" tanyaku.
"Wow! Sampai mengetahui nama itu, itu berarti kamu mengetahui arti dari simbol di topeng ini yah? Artinya, kamu sama seperti Tuan Zero?" balas Eight.
"Aku sama sekali tidak kenal dengan orang yang kamu sebut! Jadi jangan samakan aku dengannya!" sahutku.
"Wah~ Maaf kalau begitu!" ujar Eight.
Yah, itu hal yang wajar jika aku tahu tentang simbol di topengnya. Itu adalah angka Romawi, bahkan sampai saat sebelum aku bereinkarnasi, angka tersebut masih dipakai. Namun seingat ku, tidak ada angka Romawi 0. Bisa ku tebak kalau orang bernama Zero adalah pemimpin World Order, sekaligus seorang Reinkarnator. Tapi apa tujuannya membentuk Organisasi World Order ini?
"Yah, bagaimanapun juga, aku tidak akan membiarkan kamu menahan anak manisku yang satu ini," jelas Eight.
Dia menjentikkan jarinya dan memunculkan banyak sekali Undead. Bahkan aku ragu bisa menyebut mereka semua dengan sebutan Undead. Itu karena aku masih bisa merasakan tanda kehidupan didalam diri mereka.
"Baiklah. Sampai bertemu lagi, Elena," ucapnya yang perlahan masuk ke lubang hitam dibelakangnya.
"Tunggu!" panggilku yang langsung ditahan oleh Undead disekitar ku.
__ADS_1
"Ah! Mengganggu saja! Fire--"
"Hentikan!"
Aku langsung menoleh ke sumber suara. Ternyata itu suara guru Gale yang berlari bersama dengan guru Gregory dan guru Ramiris.
"Guru Gale! Guru Ramiris! Guru Gregory! Apa yang kalian lakukan disini?" tanyaku bingung.
"Akan aku jelaskan nanti, Ramiris!" ucap guru Gale.
"Aku tahu!" sahut guru Ramiris mengayunkan tangan kanannya dan memanggil api untuk menghadang para Undead tersebut.
Guru Gale mengajak semuanya untuk segera pergi dari sana. Jadi aku putuskan untuk mengajak semuanya menuju tempat persembunyian kami. Setidaknya butuh waktu 10 menit agar bisa sampai disana.
Ketiganya terkejut saat menyadari kalau mereka telah berada disebuah gua yang cukup luas. Bahkan mungkin ini sudah tidak bisa disebut gua lagi karena luasnya yang sudah setara dengan penginapan.
"Tempat apa ini?" tanya guru Gregory dengan kagum.
"Ini adalah tempat persembunyian para peserta yang tersisa. Aku dan rekan-rekanku yang membuat semua ini," jelasku.
"Terimakasih, maaf merepotkan kalian," ujar guru Gale.
Mereka pun memutuskan untuk pergi beristirahat. Aku juga menjelaskan kalau lebih baik mandi terlebih dahulu, lalu seorang gadis datang dan mengantar mereka menuju tempat mandi.
"Rasanya sangat tenang, saat tahu masih ada tiga guru yang berada di samping kita sekarang," ujar seseorang yang tidak lain adalah Chloe.
"Kau benar!" sahut Axel.
"Jadi, bisa kalian berdua jelaskan padaku. Kenapa kalian bertarung Yuu, Xirius?" tanyaku menatap tajam pada mereka.
Yuu terkekeh, sedangkan Reus hanya menghela nafas sebelum mulai menjelaskan semuanya padaku. Semua orang yang mendengarnya agak terkejut saat tahu kalau Reus adalah Death Assassin yang sesungguhnya karena sering membunuh.
"Jadi intinya, kalian bertarung karena alasan itu?" ujarku.
"Ellen, itu bukan alasan yang sepele lho?" sahut Chloe.
__ADS_1
"Aku tahu! Itulah kenapa aku marah pada mereka berdua! Yuu sudah mengambil tindakan yang bagus untuk menyadarkan Reus. Tapi kamu tahu, pikiran naif seperti itu tidak akan bekerja dengan baik disini! Lalu untuk Reus, aku senang kamu menyesali perbuatanmu. Tapi tetap saja aku akan menghukum kalian berdua karena melanggar perjanjian!" jelasku.
Yuu dan Reus akan mendapatkan hukuman tidak mendapatkan jatah sarapan pagi. Tapi siapapun yang mau berbagi dengan mereka, aku tidak akan keberatan sih. Semua orang memandangku dengan tatapan ngeri, tapi aku tidak terlalu memperdulikannya.
***
"Aku tidak tahu kalau mereka benar-benar membangun pemandian air panas disini! Bagaimana cara mereka membuatnya?" tanya Gregory.
"Entahlah, tapi yang jelas ini pasti menggunakan sihir alam!" balas Ramiris.
"Yah, aku juga bisa merasakan tanda dari sihir alam. Tapi untuk melakukannya, dibutuhkan seseorang yang memiliki Nature Magic bukan?" ujar Gregory.
"Daripada memikirkannya, lebih baik kita beristirahat agar bisa segera pulih!" sahut Ramiris.
"Yah, kamu ada benarnya," balas Gregory.
***
Keesokan paginya, semua Party Leader telah duduk ditempatnya masing-masing. Kami hanya harus menunggu tiga guru lainnya agar bisa memulai rapat ini. Masing-masing dari Party hanya bisa membawa satu orang untuk menemani Party Leader. Jadi aku membawa Chloe pada rapat kali ini.
"Maaf atas keterlambatannya!" ujar guru Gale yang langsung duduk bersama dengan dua guru lainnya.
"Tidak masalah!" balasku.
"Baiklah, mari kita segera mulai! Rapat yang akan menentukan kehidupan kita!" jelasku.
***
Jika ada typo atau kesalahan kata, segera beritahu yah! Dukung terus Author dengan Like, Vote dan Rate kalian!
Yup! Sepertinya Author udah bisa mulai aktif lagi Up nih novel setiap Senin sampai Jumat! (Walau ga ada yang nagih sih _-) Tapi yang namanya kehidupan, pasti ada aja masalah bukan? Jadi jangan terlalu sering berharap oke 🗿
Jangan lupa baca World Impact Online yah!
__ADS_1