My Reincarnation Is Demon Lord? Wait, Are You Serious?

My Reincarnation Is Demon Lord? Wait, Are You Serious?
Kebenaran yang Terungkap


__ADS_3

Chloe, Gale, Ramiris dan Gregory berhasil memasuki Tempat Pengawasan. Beberapakali mereka dihadang, tapi itu tidak menghentikan mereka yang ingin mengakhiri ini dengan cepat. Chloe yang berada di baris depan bersama Ramiris berhasil membuka jalan untuk mereka semua.


"Sebentar lagi kita akan sampai ditujuan! Chloe, jika keadaan semakin gawat, segera pergi dan selamatkan dirimu, oke?" pinta Gale.


"Jangan khawatir, Guru Gale. Aku tidaklah selemah yang Guru pikirkan," jelas Chloe.


Tidak berapa lama, mereka pun akhirnya sampai di pusat ruang pengawasan. Mereka juga disambut oleh beberapa petugas yang sedang dikendalikan disana dan dari balik bayangan seseorang berjalan menuju tempat mereka berada.


"Wah~ Wah~ Lihat siapa orang-orang bodoh yang datang untuk menemui ajal mereka?" ujar sosok tersebut yang mengenakan jubah dan topeng dengan angka Romawi VIII.


"Kau yang bernama Eight kah?" tanya Chloe.


"Suara itu, aku pernah mendengarnya. Tetapi dimana?" pikir Eight.


"Jika iya, lalu kenapa?" balas Eight yang menjentikkan jari miliknya dan membuat para petugas itu bergerak.


"Akan ku bunuh kau," umpat Chloe yang langsung menarik Aiās dari punggungnya.


Hanya dengan sekali ayunan, para petugas tersebut segera berjatuhan akibat terkena hembusan angin tersebut. Menyadari sesuatu, Eight segera melompat ke belakang sembari menyiapkan pedang besar miliknya.


"Kau pasti bercanda, bukan?" ujarnya terkejut.


"Maaf, tapi aku tidak memiliki niat untuk bercanda sama sekali," balas Chloe yang segera menerjang Eight.


Melihat itu, Eight mengayunkan pedang besar miliknya dan berakhir beradu pedang beberapa kali. Seolah tidak ingin kalah, Gale, Ramiris dan Gregory memberikan bantuan kepada Chloe. Pada saat yang sama, Eight terdengar menggumamkan sesuatu. Tapi Chloe mengabaikannya karena tidak mendengarnya dengan jelas.


"Mencoba mengeroyok aku yah? Tapi sayangnya, ada beberapa hal yang ingin aku bicarakan dengan gadis ini, jadi bisa jangan mengganggu tidak?!" umpat Eight kesal dan memanggil seekor Chimaera untuk menghadang Gale, Ramiris dan Gregory.


"Cih, dia juga bisa Summon Magic kah?" ujar Ramiris berdecak.


Chloe hanya melirik sekilas, sebelum kembali fokus untuk menghadapi Eight. Sementara lawannya sendiri hanya berdiam diri tanpa melakukan apapun. Hal ini membuatnya curiga dengan apa yang ingin dilakukan oleh Eight. Meskipun begitu, dia juga hanya berdiam diri tanpa berniat untuk menyerang Eight.


"Jadi, apa yang ingin kau bicarakan denganku? Jika itu tidak penting, maka lebih baik kita lanjutkan pertarungan tadi," ujar Chloe.


"Kamu benar-benar sudah dewasa yah, Chloe?" tanya Eight yang membuat Chloe bingung.


"Yah, tentu saja kamu tidak menyadarinya jika aku masih memakai topeng ini bukan?" lanjutnya yang perlahan membuka topengnya.


"Mustahil, kau pasti bercanda bukan?" ujar Chloe saat melihat sosok dibalik topeng tersebut.


"Kamu tahu, Mama sangat merindukanmu lho, Chloe!" ucap Eight dengan tersenyum.


"Bagaimana mungkin? Seharusnya kau sudah tiada, kenapa kau masih hidup, Mama?!" panggil Chloe yang mengejutkan Gale dan lainnya.


"Eh? Iriana?"


"Ini bohong bukan? Seharusnya Iriana telah tiada 8 tahun yang lalu?"

__ADS_1


"Apapun itu, kita harus cepat mengalahkan mahluk ini dan membantu murid itu!" ungkap Gregory yang menyadarkan Gale dan Ramiris.


"Hey, Aiās. Hanya untuk berjaga-jaga saja, apa dia benar-benar ibuku?" tanya Chloe.


"Jujur saja, aku juga tidak ingin mempercayainya. Tapi saat bertemu dengannya, entah kenapa aku merasakan kalau aku mengenali aura miliknya," jawab Aiās.


"Tidak salah lagi, wanita yang ada dihadapan kita saat ini adalah Kontraktor ku sebelumnya dan ibu kandung Nona, Iriana von Cellestya!!" lanjutnya yang membuat Chloe merasa kesal.


"Kemari lah, Chloe! Biarkan aku memeluk dirimu," panggil Iriana.


"JANGAN BERCANDA!! Bagaimana kau masih bisa hidup? Jika kau memang masih hidup, kenapa kau tidak menjemput aku di Panti Asuhan?! Jawab aku, Mama!!" tanya Chloe yang mulai menangis.


"Maafkan aku, untuk sekarang, Mama masih belum bisa memberitahukannya pa--"


WOOSH!


"Beritahu aku, hiks.. jika tidak, aku tidak akan membalas pelukan itu," potong Chloe yang sempat mengayunkan pedangnya kearah Iriana. Tapi berhenti saat hampir memenggal kepalanya.


Iriana diam tidak bergerak sama sekali. Bukan karena takut, melainkan dia bingung harus mengatakan apa kepada anak semata wayangnya tersebut.


"Apa Papa juga masih hidup?" tanya Chloe yang dibalas dengan gelengan kepala dari Iriana.


"Jadi hanya Mama saja yang selamat?" lanjutnya bertanya lagi dan dibalas dengan gelengan kepala dari Iriana.


"LALU SIAPA YANG ADA DIHADAPANKU INI?!" umpat Chloe dengan kesal.


"Memang benar, saat itu Mama harusnya telah tiada. Tetapi Beliau datang dan menghidupkan Mama dengan kekuatan misterius miliknya. Dia mengatakan kalau hanya tubuh Mama saja yang masih utuh dibandingkan milik Papa," jelas Iriana.


"Jujur saja, Mama ingin sekali menjemputmu saat itu. Tetapi jika Mama melakukannya, itu akan melanggar perjanjian yang telah Mama lakukan dengan Beliau," lanjut Iriana.


"Sudah cukup. Aku tidak ingin mendengar apapun lagi darimu," ujar Chloe menghapus air mata miliknya.


"Aku memang senang saat mengetahui Mama masih hidup. Tetapi itu percuma saja karena Mama tidak bersama denganku," lanjutnya.


"Begitu yah? Baiklah, waktu habis. Mari akhiri perbincangan ini dan kita lanjutkan pertarungan tadi?" ajak Iriana yang kembali mengenakan topengnya.


"Maaf saja, tapi aku tidak akan menahan diri, meskipun itu Mama!" ujar Chloe.


"Itulah yang aku harapkan!!" balas Iriana yang langsung menerjang Chloe dengan pedangnya.


***


"Ada apa, Xirius? Berhenti ragu-ragu dan habisi aku!!" umpat Eleven.


Xirius terus-menerus menghindari serangan Eleven ketika Yuu pergi untuk membantu Viviana. Dia hanya bisa menghindari serangan tersebut, karena dia tidak ingin lagi melukai Eleven atau yang dia kenal sebagai Laura.


"Laura, apakah kita tidak bisa membicarakan ini baik-baik lagi? Aku sudah tidak ingin membunuh orang-orang berhargaku lagi," ungkap Xirius yang membuat Laura kesal.

__ADS_1


"Berhenti bersikap naif seperti itu! Jika kau tidak mau melakukannya, maka jangan salahkan aku jika kau terbunuh!!" umpat Laura.


"Kau tahu, apa yang dikatakan oleh kedua orangtuamu padaku sesaat sebelum aku membunuh mereka?" ujar Xirius.


"Berisik! Berisik! Berisik!!"


""Tolong jaga Laura untuk kami, Xirius!" Bahkan setelah maut menghampiri mereka, mereka lebih mementingkan dirimu daripada nyawa mereka sendiri!!" ungkap Xirius.


"AARGH!!" teriak Laura yang memutar kapak besarnya dan berniat menghantamkannya ke Xirius.


Namun bukannya menghindarinya, Xirius berdiam diri ditempatnya. Memasrahkan dirinya terhadap kematian yang sudah ada didepan matanya. Menyadari ini, Laura menghentikan perbuatannya tepat saat ujung kapak berada diatas kepala Xirius.


"Ada apa? Bukankah kau berniat untuk membelah diriku menjadi dua? Lakukanlah! Jika memang hanya itu satu-satunya cara untuk membuatku dimaafkan olehmu. Jika hanya ini satu-satunya jalan agar bisa membuatmu melangkah maju, maka jangan ragu untuk menghabisi nyawaku!!" ungkap Xirius.


"HYAAA!!"


BOOM!


Laura menghantamkan kapaknya, tapi bukan ke Xirius melainkan ke tanah. Dia lalu terduduk lemas dan mulai menangis.


"Mana mungkin aku bisa melakukannya bukan?" ujar Laura.


Xirius berjalan menghampirinya, mengabaikan apa yang sebelumnya ingin dilakukan oleh Laura padanya. Sebelum akhirnya memeluk Laura untuk menenangkannya. Merasakan kehangatan dari pelukan tersebut, Laura memeluk erat Xirius dan menangis sejadi-jadinya.


"Aku tahu perbuatanku itu tidak bisa dilupakan dan dimaafkan begitu saja. Karena itulah, apakah kau mau menebus dosa-dosa yang telah kita lakukan bersama?" tanya Xirius.


"Mau! Aku ingin melakukannya! Jika bersama dengan Reus, aku ak--"


Belum menyelesaikan kata-katanya, sebuah panah melubangi perut Laura. Melihat hal itu, Xirius memanggil nama Laura berulang-ulang. Sebelum suara yang sangat menyebalkan baginya terdengar.


"Ah~ Sepertinya dia sudah tidak bisa digunakan lagi yah?" ujar Viana yang membuat kemarahan Xirius memuncak.


"Keparat!! VIANA!!!" umpat Xirius.


"Hahahaha! Boleh juga! Tunjukkan semua ekspresi penuh amarah, kesal, sedih, serta keputusasaan milikmu itu! Tunjukkan semuanya padaku! Hahahaha," tawa Viana.


"Viana, kau telah melampaui batas!!" umpat Yuu.


"Melampaui batas? Siapa? Aku? Atau dirinya?" tanya Viana.


"Dia yang seorang Assassin, tidak. Anak Anjing Keluarga Kurozima tidak berhak mengumpat padaku!!" lanjutnya.


Xirius meletakkan tubuh Laura pelan-pelan dan berjalan menuju tempat dimana Viana, Yuu dan Viviana berada. Merasakan hawa membunuh yang besar, tidak membuat Viana merasa takut. Malahan itu membuatnya semakin tertawa puas.


"Yah, terserahlah. Jika kalian bertiga ingin menghadapi aku sekaligus, maka tidak perlu menahan diri lagi," ungkapnya.


"Datanglah dan penuhi panggilanku! Wahai engkau yang merupakan eksistensi lain diluar dunia ini, pinjamkan aku kekuatanmu untuk menghancurkan lawanku! Bangkitlah, Âëry!!" ujar Viana.

__ADS_1


Tidak lama setelahnya, luapan Mana yang meledak-ledak keluar dari tubuh Viana. Busur yang ada ditangannya juga mulai berubah bentuk. Kemudian pada bagian wajahnya juga mulai dipenuhi oleh sigil, sebelum akhirnya mengubah wujudnya menjadi lebih mengerikan dari sebelumnya.


"Sekarang, bagaimana kalau kita mulai pertarungan ini?" ucap Viana.


__ADS_2