
Karena kejadian semalam, membuat kami tidak bisa tidur dan bekerja keras mencari keberadaan jasad lainnya. Kami bahkan bekerja sama dengan Party lain untuk menyesuaikan anggota pencari, anggota pendeteksi, anggota bertarung, serta anggota penyembuh untuk berjaga-jaga ada yang masih selamat.
Aku membentuk kelompok bersama dengan Reus, Axel dan seorang penyembuh wanita dari party lain. Kami menemukan banyak sekali jasad dengan Detect dan Search milikku, lalu Reus akan memastikannya dengan pergi kearah kordinat yang telah aku berikan. Kemudian kami menyusulnya dan menyerahkan pemeriksaan pada gadis penyembuh tersebut. Axel akan berjaga-jaga jika ada penyerangan.
"Melakukannya dalam waktu semalam, benar-benar membuat lelah!" keluhku.
"Tapi dengan itu, kita mengumpulkan banyak sekali jasad bukan?" tanya Chloe.
"Kamu benar! Dan karena hanya aku saja yang bisa menggunakan Space Magic, mereka dengan mudahnya memaksaku untuk membawa semua jasad tersebut," jelasku menghela nafas.
"Anu.. ke-kenapa tidak menggunakan Time Magic milikku? Aku mungkin bisa--"
"Ditolak!" potongku saat Sally mencoba berkata.
"Kamu tahu, Sally? Time Magic mu itu adalah sihir tabu lho! (Note: Tabu \= Terlarang) Bisa mengembalikan waktu seseorang itu adalah hal yang cukup terlarang. Karena pada dasarnya, orang yang sudah mati tidak akan pernah bisa hidup kembali," jelasku.
"Sally, Ellen mengatakan ini demi kebaikanmu. Melakukan tindakan yang tidak ada timbal baliknya untukmu itu, bukankah tidak ada gunanya?" sahut Chloe.
"Maaf," lirih Sally pelan.
Aku yang melihat wajah sedih Sally, hanya bisa menghela nafas saja. Kemudian aku mendapatkan sebuah ide dan ini membutuhkan kekuatan Sally.
"Ya, lagipula masih ada hal lain yang bisa kamu bantu!" ucapku.
"Benarkah! Akan aku lakukan apapun untuk bisa membantu!" sahut Sally dengan semangat.
"Fufufu~ Karena kamu sudah mengatakannya, kamu harus melakukannya sampai tuntas yah!" balasku dengan tersenyum.
"Ellen, jangan membuatnya bekerja terlalu keras lho yah!" peringat Chloe.
"Kalau begitu, kenapa kamu tidak ikut saja? Vivi, Blanca, Rose dan Liza juga mau ikut?" ajakku.
"Aku tidak tahu apa yang kamu rencanakan, tapi.. jangan apa-apakan kekasihku yah, Chloe!" ledek Yuu.
"Tidak akan!" balasnya.
Kami tertawa lepas karena hal tersebut, sebelum lanjut berjalan jauh ke dalam gua.
"Baik, aku rasa disini cocok!" ucapku.
"Ellen, sebenarnya apa yang kamu ingin aku lakukan disini?" tanya Sally.
"Membuat Onsen!" jawabku.
"Onsen?" tanya semua orang yang tidak mengerti, bahkan Chloe pun juga sama.
"Hmm.. kalian tahu, pemandian di Asrama bukan? Aku ingin membuat yang seperti itu, disini!" jelasku.
__ADS_1
"Tunggu, jadi itu maksudnya? Pemandian Jepang?" tanya Chloe.
"Kali ini, Jepang? Liza tidak paham!" ujar Liza.
"Hahaha, kita sebut saja itu pemandian air panas! Bagaimana juga, kita sudah tidak mandi selama 3 hari bukan? Terkadang membersihkan diri itu diperlukan! Termasuk perempuan!" jelasku.
"Aku mengerti maksudmu, tapi bagaimana dengan sabun dan semacamnya?" tanya Vivi.
"Aku membawanya," jawabku mengeluarkan berbagai peralatan mandi.
"Sihir ruang itu praktis yah!" gumam Rose.
Aku mengabaikan gumaman Rose dan menyuruh Sally menggunakan sihir alam miliknya untuk membuat lubang dan menciptakan air panasnya. Dia pun melakukannya dengan cepat dalam waktu 30 detik, dan kini sebuah pemandian besar telah ada dihadapan kami.
"Baiklah, ayo kita mandi sekarang!" ajakku diikuti dengan sahutan gadis lainnya, kecuali Chloe.
"Eh? Aku juga?" tanyanya bingung.
"Ah, aku mungkin lain kali saja, haha," lanjutnya.
"Tidak boleh! Bagi wanita, mandi itu sudah seperti perawatan tubuh!" ujar Vivi.
"Karena itulah.. kamu juga harus ikut mandi!" ucapku memainkan semua jariku dengan tatapan yang membuat Chloe ketakutan.
"Ughyaaa~"
***
"Ugh.. kenapa aku harus mendapatkan nasib buruk seperti ini," gumam Chloe.
"Berhenti bergerak! Aku kesulitan untuk menggosok punggungmu, ruu~" peringat Blanca yang tengah menggosok punggung Chloe.
"Maaf," sahut Chloe.
Tapi sungguh, kau pasti bercanda bukan? Maksudku, Chloe dulunya adalah Reynaldi yang merupakan seorang pria dan kini dia bereinkarnasi menjadi seorang gadis tomboy bernama Chloe. Tapi melihat dari bentuk badannya itu..
"Kamu benar-benar gemoy yah, Chloe!" ucapku spontan.
"Kau, bisa tidak jangan menggunakan kata-kata tersebut padaku?" balas Chloe.
"Habisnya, tubuhmu itu idaman bagiku! Dibandingkan dengan milikmu, punyaku.. tidak tumbuh sama sekali."
Aku meraba dadaku, tapi tidak merasakan apapun sama sekali. Lalu kemudian depresi setelah melanjutkan perkataanku.
"Apa kau baik-baik saja?" tanya Chloe.
"Lupakan itu, sekarang kita harus membuat rencana untuk menghentikan perbuatan mereka, bukan?" tanya Vivi mengalihkan topik.
__ADS_1
"Yah, itu benar! Aku sudah terpikirkan beberapa rencana. Jadi kita hanya perlu memulainya saja!" jawabku.
***
Di kedalaman hutan, ada tiga orang yang tengah berlari menjauh dari sesuatu. Mereka adalah, Gregory, Ramiris dan Gale. Gale sudah sadar saat pagi, tapi beberapa jam kemudian, lokasi mereka diketahui dan memaksa mereka untuk berlari menghindari kejaran mahluk setengah mati yang terlihat dikendalikan.
"Gale! Apa kita tidak boleh menyerang mereka?" tanya Gregory yang terus berlari.
"Jangan! Mereka masih bernafas, meskipun kondisi mereka mirip seperti Undead!" jelas Gale.
Gregory berdecak kesal mendengarnya, dia sudah kehabisan akal dalam situasi ini. Sementara itu, Ramiris masih berlari sembari memikirkan sesuatu.
"Hey, Gale! Apa kita tetap tidak boleh melawannya, meskipun tidak membunuh mereka?" tanya Ramiris.
"Yah! Jikapun itu berhasil, kita tidak akan berada dalam situasi seperti ini!" balas Gale.
"Apa menghambat mereka juga tetap tidak boleh?" lanjut Ramiris bertanya.
"Aku rasa tidak masalah?" balas Gale ragu.
"Kenapa kau malah ragu bodoh!" keluh Gregory.
"Apa boleh buat! Aku saat ini tidak bisa berpikir dengan jernih, akibat luka yang aku terima!" sahut Gale.
Apa yang Gale katakan adalah kebenaran, walaupun Blood Elf memiliki regenerasi cepat seperti Vampire. Namun karena sekarang siang hari, membuat kemampuan tersebut berkurang hingga setengahnya.
"Yah, kita tidak akan tahu sebelum mencobanya bukan? Diane! Cobalah buat api yang tidak akan menghancurkan tubuh mereka! Apa bisa?" pinta Ramiris.
"Kamu tahu, mengatakannya memang mudah. Tapi melakukannya itu sedikit sulit!" balas Diane yang masih berada dalam tubuhnya.
"Aku tahu!" sahut Ramiris.
"Tapi jika situasinya seperti ini terus, stamina kita akan habis dan itu akan membuat kami tertangkap!" lanjutnya.
"Huft.. baiklah! Aku hanya harus membuatnya tidak membakar mereka bukan?" ucap Diane menghela nafas.
Diane segera keluar dari tubuhnya Ramiris dan melepaskan sebuah api dari bawah tanah, guna menghambat pergerakan mahluk yang mengejar mereka. Mahluk tersebut berhenti sesaat, hal ini dimanfaatkan oleh ketiga orang tersebut untuk berlari menjauh dari sana.
Lalu saat ini, di ruang pengawas. Eight melihat semuanya dari ruangan tersebut. Dia berdecak kesal karena mangsanya berhasil kabur.
"Cih, mereka berhasil kabur kah? Yah, terserahlah. Lagipula dengan menatap layar ini saja, aku akan bisa menemukan mereka lagi nanti," gumam Eight.
***
Jika ada typo atau kesalahan kata, segera beritahu yah! Dukung terus Author dengan Like, Vote dan Rate kalian!
__ADS_1