
Saat yang ditunggu telah tiba. Aku segera mengeluarkan perlengkapan yang biasa aku gunakan. Busur di tanganku, ratusan anak panah yang ada di punggungku, serta pedang di pinggangku. Liza juga telah aku siapkan sepasang Gauntlet dan sepatu besi untuknya bertarung. Aku tidak memberinya Armor, karena mungkin akan mengganggu kecepatannya.
Chloe juga tidak mau kalah, dia mengenakan perlengkapan tempur yang sempat dipakai saat melawanku dulu. Blanca telah bersama Fenrir miliknya. Dia dan Sally akan bertugas menjadi penjaga tempat persembunyian. Axel tengah mengayunkan kapak besar miliknya, Reus tengah mencoba ketajaman pisau miliknya, Yuu tengah mengasah bilah tombaknya, sedangkan sisanya juga melakukan persiapan tersendiri.
Aku masih belum melihat para guru, tapi aku yakin mereka akan segera muncul. Lalu tugasku sekarang hanyalah satu, yaitu menjamin keselamatan semua orang!
"Baiklah! Semuanya dengarkan aku! Tujuan kita kali ini bukanlah menyerang, tapi bertahan hidup! Jadi jika kalian merasa nyawa kalian terancam, segera mundur tanpa perintah! Karena aku tidak ingin ada yang mati dalam rencana ini, jadi selama kita bertahan, maka kita yang menang!" ucapku dengan lantang.
Aku menarik nafas panjang, lalu mengepalkan tangan dan mengangkatnya dengan tinggi.
"Ayo kita balas kematian mereka!" teriakku.
Semua orang menyambutnya dengan penuh semangat. Entah apa yang merasuki diriku yang dulunya adalah seorang gadis culun ini. Tapi setelah bertemu dengan berbagai orang di dunia baru ini, aku telah memutuskan untuk menghancurkan mereka semua yang mencoba menyakiti orang-orang berharga bagiku.
***
"Heh~ Jadi mereka mulai bergerak yah?" gumam Eight.
"Nona Eight, apa kita juga tidak sebaiknya bersiap?" tanya Thirteen.
"Lakukan yang kalian inginkan, anak-anak tersayang ku! Selama kalian bisa bersenang-senang, aku tidak masalah," balas Eight.
"Dimengerti! Kami akan segera bersiap!" balas Ten dengan semangat.
"Oh, apa luka bakar milikmu sudah sembuh?" ledek Twelve.
"Luka seperti itu tidak akan berpengaruh padaku! Aku malah merasa kesal karena tidak bisa menghancurkan hati gadis Duke menyebalkan itu!" balas Ten.
"Ten! Jangan melimpahkan kekesalan milikmu!" tegur Eight.
"Ti-tidak! Bukan seperti itu, Nona Eight!" sahut Ten.
Eight berjalan mendekati Ten dan mengangkat dagu milik Ten dengan jari telunjuk miliknya.
__ADS_1
"Kalau begitu, jangan diulangi lagi yah!" ucap Eight.
"B-b-ba-ba-baik!" sahut Ten dengan tubuh gemetar.
"Pergilah! Kecuali dirimu, Nona Eleven!" perintah Eight.
Ten, Twelve dan Thirteen segera pergi dari ruangan. Meninggalkan Eight dan Eleven saja di ruangan tersebut. Setelah merasa ketiganya sudah pergi cukup jauh, Eight menendang perut Eleven cukup keras hingga membuatnya menabrak dinding.
"Menyebarkan informasi organisasi pada mereka. Apa yang kamu pikirkan sebenarnya, Eleven!?" tanya Eight.
"Aku.. uhuk.. tidak mengerti maksud perkataan--"
Bamn
Eight menendang kepala Eleven hingga membuatnya menghantam lantai dan membuat topengnya retak.
"Jangan pikir aku tidak tahu! Apa kamu ingin aku dibunuh oleh Beliau?" ucap Eight.
Darah mengalir keluar dari sela topeng milik Eleven. Jika tidak mengenakan topeng, dapat terlihat wajah gadis yang tengah menahan sakit dengan wajah penuh darah. Namun Eleven masih bisa mempertahankan kesadarannya saja, sudah bisa dibilang seperti keajaiban.
"Pergilah! Minta Ten untuk menyembuhkan dirimu dan bilang kalau itu terjadi karena keteledoran dirimu sendiri!" lanjut Eight.
Eleven mencoba bangkit dan berjalan keluar dari ruangan. Dia memaksakan tubuhnya untuk terus bergerak menuju tempat Ten berada.
"Ya ampun! Ini benar-benar merepotkan! Siapa yang menyangka kalau Eleven yang penurut itu akan memberitahu informasi organisasi dengan mudah," ujar Eight melepas topengnya dan menuang sebuah anggur ke gelas kaca.
"Tetapi kekuatannya itu sungguh mengerikan! Beliau juga masih membutuhkan dirinya. Jadi membunuhnya akan menjadi hal yang tidak berguna," lanjutnya meminum anggur miliknya.
"Kalau begitu, mari kita mulai. Pertarungan yang menegangkan ini," gumam Eight menjentikkan jarinya.
***
Kami berlari tanpa henti menuju tempat pengawasan berada. Tentunya, kami dibimbing oleh para guru yang tahu dimana tempat tersebut berada. Tapi saat ditengah jalan, kami sudah dihadang oleh beberapa pengawas yang dikendalikan. Ini menandakan kalau musuh sudah menyadari rencana penyerangan dan siap untuk diserang.
__ADS_1
Aku merasa sedikit penasaran. Jika memang mereka dikendalikan, berarti Dispel bisa menyadarkan mereka bukan? Tapi jika aku melakukannya, apa itu akan benar-benar berhasil? Aku menggelengkan kepala dan segera memberikan perintah kepada semua orang.
"Gunakan sihir kegelapan pada mereka untuk membuat mereka tertidur!"
Semua yang menguasai sihir kegelapan termasuk aku, segera melafal mantra Sleep pada mereka. Tapi siapa yang menduga kalau itu berhasil. Kalau begitu, artinya Dispel bisa menyelesaikan semua ini dengan cepat.
"Terus maju! Jangan khawatirkan diriku!" perintahku setelah berhenti dan mencoba melafal mantra lain.
"Mana Zone: Dispel!"
Lingkaran sihir yang cukup besar muncul dan dalam sekejap seluruh pengawas yang dikendalikan terjatuh pingsan. Mana Zone adalah tehnik sihir yang hanya bisa dikuasai pada tingkat Master atau diatasnya. Dengan menyebarkan Mana dalam lingkup luas, maka sihir yang kita gunakan pun akan menjadi lebih kuat dari sebelumnya.
Dalam hal ini, aku meningkatkan jangkauan dari Dispel agar semua orang yang dikendalikan segera terlepas. Inilah yang menyebabkan para pengawas yang dikendalikan jatuh tak sadarkan diri.
"Satu.. dua.. tiga!" gumam ku.
Tepat setelah hitunganku yang ketiga, sebuah anak panah melesat menuju ke arahku dari depan, sebuah bola api berada di belakangku, Eleven mengangkat tinggi kapaknya berada di kanan, serta Twelve ingin menghantamkan perisainya berada di sebelah kiri.
Aku menyunggingkan senyum dan menjentikkan jariku untuk memanggil Liza, Yuu, Vivi, Rick dan Rose untuk mengelilingiku. Liza menahan hantaman perisai dengan tangan kirinya, Yuu menahan hantaman kapak dengan perisai miliknya dan Reus seketika keluar dari bayangan milik Yuu. Sepertinya mereka memang benar-benar sudah merencanakannya kah? Vivi melepaskan bola air dengan cepat, Rose membelah anak panah tersebut menjadi dua.
"Lakukan semuanya sesuai rencana!" perintahku yang disambut oleh mereka semua.
Aku dapat mendengar jelas decakan kesal dari Twelve. Liza dengan cepat melepaskan tinjunya kearah perisai Twelve, Reus menendang perut Eleven untuk menjauhkannya, Vivi segera melakukan teleport menuju tempat Ten berada, sedangkan Rose dan Rick berlari kencang menuju tempat Thirteen memanah. Aku pun segera pergi ke tempat Liza untuk memberikannya dukungan.
"Kau benar-benar menjengkelkan, Elena!!" teriak Twelve dengan penuh kekesalan.
"Terimakasih! Akan aku anggap itu sebagai pujian!" sahutku mengambil sebuah anak panah dan mulai membidik.
"Kalau begitu, mari kita mulai. Pertarungan kita!" lanjutku melepaskan anak panah tersebut.
***
Jika ada typo atau kesalahan kata, segera beritahu yah! Dukung terus Author dengan Like, Vote dan Rate kalian!
__ADS_1
Besok ga Up dulu, jumpa lagi hari Senin!