
"Baiklah, sebelum mulai, mari kita dengar informasi yang dimiliki oleh para guru," ujarku.
"Terimakasih pengertiannya. Aku akan menjelaskan semua informasi yang kami miliki," sahut guru Gale.
Dari penjelasannya, semua ini terjadi beberapa jam, tepat setelah hari pertama dimulai. Guru Yue atau Eight yang menyamar menjadi guru Yue mulai menunjukkan jati dirinya dengan memanipulasi semua pengawas. Para pengawas, kecuali mereka bertiga terpengaruh oleh Eight dan mulai menyerang mereka.
Guru Gale juga menerangkan sebuah fakta yang mengejutkan dari para Undead yang menghadang ku semalam. Mereka semua saat ini masih hidup, tapi bisa dibilang juga mati. Sampai sekarang guru Gale masih belum tahu bagaimana cara melepaskannya, kecuali mengalahkan pengendalinya atau Eight.
"Mirip seperti Kucing Schrödinger kah?" gumam ku pelan.
Semua orang memiringkan kepalanya, bahkan Chloe yang merupakan Reinkarnator pun bingung dengan apa yang aku gumamkan. Teori Kucing Schrödinger adalah teori khayalan atau imajinasi seorang Fisikawan terkemuka. Dengan menaruh seekor kucing disebuah kotak yang didalamnya berisi gas radioaktif dan membuat kucing tersebut memiliki persentase untuk hidup sekitar 50:50. Jadi ada kemungkinan 50% kucing tersebut bertahan hidup dan 50% kucing tersebut mengalami kematian. (Note: Cari aja sendiri di Google)
"Lupakan, jika kalian tidak paham yang aku maksud," ucapku.
"Baiklah. Sekarang lebih baik kita mulai rapatnya!" ujar guru Gale.
"Tunggu! Sebelumnya aku ingin bertanya, apa boleh?" sahut seorang gadis Demon yang merupakan Party Leader.
"Silahkan," balasku.
"Bagaimana cara guru, bisa meloloskan diri dari mereka yang dikendalikan? Bukankah jika menyerangnya, maka kematian sudah bisa dipastikan?" tanyanya.
"Kami menggunakan api! Mereka sangat takut dengan api, jadi kami memanfaatkannya!" jelas guru Ramiris.
"Lalu, dimana keberadaan guru Yue?" tanya seorang pria Vampire.
"Dia aman! Aku sudah mendapatkan informasi dari Lilith. Jadi kita sebenarnya hanya perlu bertahan sebelum bantuan datang," jawab guru Gregory.
Semua murid Floura Academy yang mengikuti rapat menghela nafas lega saat mendengarnya. Sepertinya guru Yue sangat berharga bagi mereka.
"Berapa lama bantuan akan datang?" tanya Chloe tanpa ragu.
"Satu hari dari sekarang! Tapi kita tidak bisa membiarkan dia mengendalikan para pengawas!" balas guru Gale.
"Jadi kita akan menyerang?" sahut Axel.
"Benar! Memang menyedihkan saat meminta bantuan kalian para murid. Tapi kami mohon, pinjamkan kekuatan kalian!" pinta guru Ramiris.
__ADS_1
Seperti dugaan, mereka cukup naif! Tapi kami harus menghormati mereka, karena kami semua memiliki hutang budi yang tidak bisa di lunaskan.
"Aku memiliki rencana! Kalian mau mendengarnya?" tanyaku.
Semua orang menatapku dan aku pun menjelaskan rencana yang telah aku pikirkan selama semalam bersama dengan Chloe. Rencana yang akan kami lakukan adalah melancarkan serangan ke tempat pengawasan. Chloe dan para guru akan mencoba mencari cara untuk membebaskan para guru yang dikendalikan, sedangkan sisanya akan menahan para guru yang dikendalikan serta 4 orang dari World Order.
"Bukankah itu sedikit beresiko jika hanya Chloe dan para guru saja yang melawan orang bernama Eight itu?" tanya seorang gadis Vampire yang merupakan Party Leader.
"Itu benar! Tapi tenang saja! Asal kalian tahu, Chloe jauh lebih kuat dari kalian semua! Membantunya hanya akan menjadi beban baginya dan para guru," jelasku.
Reus mengangkat tangannya, sepertinya dia ingin bertanya. Jadi aku mempersilahkannya.
"Bisakah kalian menyerahkan gadis bertopeng dengan kapak padaku? Ada sesuatu yang ingin aku pastikan," ujar Reus.
Aku menghela nafas dan menyahutnya, "Apa kamu belum puas mengacau?"
"Izinkan dia, aku yang akan mengawasinya kali ini!" balas Yuu yang membuatku sedikit terkejut.
"Terserah! Lakukan saja sesuka kalian! Aku tidak peduli," ujarku mengabaikan mereka berdua.
"Kita akan mulai rencana ini tepat siang hari nanti!" lanjutku dengan tegas.
"Apa-apaan ini?" tanya guru Gale bingung.
"Mereka semua adalah korban dari perbuatan World Order," jelasku.
"Guru Gale, aku ingin kamu menyadari ini! Tapi bersikap naif bukanlah pilihan yang bagus! Aku tahu kamu telah menyadarinya, tapi tidak ada cara untuk membebaskan mereka yang dikendalikan seperti itu. Aku benar bukan?" lanjutku.
Guru Gale menggertakkan giginya dengan kesal. Sepertinya dia sadar kalau pikirannya itu sangat naif.
"Tapi.. jika aku tidak bisa menyelamatkan mere--"
"Menyelamatkan semua orang? Walaupun harus mengorbankan diri sendiri? Memangnya kamu ini seorang pahlawan? Bukan kan? Jadi berhenti berpikir naif seperti itu dan hadapi kenyataannya!" teriakku dengan penuh kekesalan.
"Guru, asal kamu tahu. Aku sudah pernah melihat kematian yang jauh lebih menyakitkan dari ini," ujarku.
Guru Gale melebarkan matanya tidak percaya. Tapi aku hanya membalasnya dengan senyuman kesedihan. Kalian tahu, kematian itu.. sangat menyakitkan!
__ADS_1
***
"Kau berlebihan, Ellen," ujar seorang gadis dengan pedang besar di punggungnya.
"Biarkan saja, akan lebih baik jika dia menyadarinya dari awal bukan, Chloe?" balasku.
Aku meninggalkan guru Gale yang masih berada di dalam ruangan yang penuh jasad peserta. Dapat terdengar isak tangisnya dari luar, bahkan beberapa peserta yang ditugaskan untuk menjaga mereka pun menahan tangisnya.
"Apa kau yakin ingin menyerahkan Eight padaku? Dia cukup kuat, kau tahu?" tanya Chloe.
"Tenanglah, apa kamu kira aku menyerahkannya padamu tanpa keyakinan? Walau tidak terlalu besar persentasenya, kamu sendiri saja sebenarnya sudah cukup untuk mengulur waktu untukku menyiapkan semuanya," jawabku.
"Kau benar-benar berniat menggunakan teleportasi berskala besar?" tanya Chloe.
"Hanya untuk berjaga-jaga saja! Bagaimanapun juga, kita sudah kehabisan waktu," balasku.
"Lalu bagaimana dengan pria pengguna perisai itu? Bukankah kau juga berencana menghadapinya? Membagi konsentrasi itu cukup sulit kau tahu?" tanya Chloe sekali lagi.
"Kamu terlalu banyak bertanya. Apa kepalamu terbentur sesuatu saat melawan Twelve semalam?" balasku sedikit meledek.
"Membagi konsentrasi itu sulit, tapi bukan berarti mustahil. Jadi jangan khawatir dan lakukan saja tugasmu!" lanjutku.
"Baiklah, aku menyerah. Kuserahkan sisanya padamu, rekan!" ucap Chloe menghela nafas dan mengulurkan kepalan tangannya padaku.
Aku pun membalasnya dengan senyuman dan berkata, "Yah! Serahkan saja padaku, rekan!"
Kami pun berjalan bersama menuju kantin, karena sebentar lagi sudah waktunya makan siang. Bertarung dengan perut kosong bukanlah pilihan yang bijak, bukan?
***
Jika ada typo atau kesalahan kata, segera beritahu yah! Dukung terus Author dengan Like, Vote dan Rate kalian!
Yo! Maaf kemarin ga bisa up yah, soalnya Author lagi sakit! Tapi jangan khawatir, sekarang sudah sembuh dan siap mengetik kembali!
BTW, Author lagi nyari Illustrator untuk Novel baru Author, yaitu World Impact Online. Karena Illustrator Author saat ini lagi sibuk sama Project Illustrasi Novel ini. Bayarannya sih, mungkin cuman bisa ngasih 10K via Pulsa per Character, sedangkan untuk Sampul Novel 20K via Pulsa. Yah ini sih cuman buat yang minat aja sih, soalnya Author juga lagi bokek, hehe.
Itu aja dulu yah, sampai jumpa lagi!
__ADS_1