
Tiga buah ledakan terdengar bersamaan, membuatku menoleh kearah belakang dan sangat ingin melihat kondisi yang lainnya.
"Aku harap mereka baik-baik saja! Bagaimana juga, lawan kita adalah World Order. Jadi mereka tidak bisa dianggap remeh," gumamku.
Aku segera mengaktifkan Aegis saat sebuah bola api melesat ke arahku. Pelakunya tidak lain adalah gadis yang tengah aku hadapi, atau bisa dipanggil Ten.
"Mungkin sebelum kamu mengatakan hal itu, sebaiknya kamu lihat dirimu sendiri lebih dulu!" ujarnya.
"Mengabaikanku itu sudah cukup membuatku berpikir kalau kamu meremehkanku!" lanjutnya.
Heh, ternyata dia tipe gadis yang tidak suka di kacangin yah? Yah, aku juga sama dengannya sih. (Maksudnya disini itu diabaikan) Tapi aku memang mengabaikannya, walau tidak ada niatan untuk meremehkan dirinya.
"Baiklah, aku minta maaf jika kamu terabaikan. Tapi menyerangku diam-diam, bukankah sikapmu jauh lebih buruk?" balasku.
Ten berdecak kesal, sepertinya perkataanku mengenainya dengan telak. Namun kata-kata itu tidak akan membuatku menang. Bagaimanapun juga, lawanku adalah World Order.
"Flare Lance! Barrage!!"
Belasan tombak api diluncurkan oleh Ten tanpa pikir panjang. Aku segera menggunakan Aegis kembali untuk menahannya. Kemudian, aku melepaskan Firebolt kearahnya dan saat bola api itu sudah dekat dengannya, aku melakukan switch dengan bola api tersebut dan siap menghantamkan pukulan pada Ten.
"Callista Martial Art Style, First Form - Dragon Smash!!"
"Protection!!"
Pukulan ku menghantam Protection yang melindungi Ten. Tapi itu tidak terlalu lama, karena beberapa saat kemudian, Protection miliknya pecah dan membuatnya terhempas.
"Cih, apa-apaan itu? Penyihir bertarung menggunakan tangannya?" tanya Ten.
"Maaf saja, tapi aku bukan seorang penyihir! Hanya seorang gadis dari Keluarga Duke, yang mampu mengendalikan 7 unsur sihir, memiliki ilmu pedang dan bela diri tangan kosong, serta memiliki hobi memanah dan memasak!" jawabku.
"Kau pasti monster," sahut Ten.
"Tidak sopan sekali! Memanggil seorang gadis dengan sebutan monster. Kamu sendiri seorang gadis bukan?" balasku.
"Haha! Seorang gadis tidak akan punya kekuatan sihir yang tidak masuk akal, kepar*t!!" ucapnya.
Baiklah, dia sudah sedikit kelewatan. Mungkin aku harus mengakhiri ini dengan cepat. Yah, sejak awal aku memang tidak berniat menahan diri sih. Aku menjentikkan jari dan memunculkan ribuan bola sihir dengan warna pelangi.
"Kamu tahu kenapa aku dipanggil Rainbow Wizard?" tanyaku.
"Itu karena aku bisa menguasai 7 unsur sihir sekaligus, seperti guruku! Rainbow Bullet! Barrage!!" lanjutku melepaskan ribuan bola sihir tersebut.
Ten menggunakan Aegis untuk menahan sihir yang aku lepaskan. Tapi aku memperingatinya kalau Aegis saja tidak cukup untuk menahannya. Namun secara mendadak, tempat kami bertukar dan aku terkena sihirku sendiri.
__ADS_1
"Kyaa!!"
"Hahaha, bagaimana rasanya terkena sihirmu sendiri, nona jenius?" ejek Ten.
Asal kalian tahu, aku benar-benar membenci kalimat itu. Mengatakan seseorang dengan sebutan jenius, padahal kalian sendiri tidak tahu apakah orang tersebut benar-benar jenius dari lahir atau berusaha keras hingga menjadi seperti itu.
"Benar-benar, memuakkan!" ujarku.
"Huh? Kau lah yang jauh memuakkan dariku, kepar*t! Stone Spike!!"
Sebuah batu tajam mendorongku keatas, bisa aku rasakan rasa perih dari tusukan ujung batu tersebut di punggungku. Kemudian Ten secara mendadak berada di belakangku dan menggunakan sihir angin untuk menghempaskanku ke tanah. Berbeda denganku yang jatuh cukup keras, Ten mendarat dengan sempurna diatas tanah.
"Kau tahu apa yang aku rasakan saat ini?" tanya Ten.
"Aku cukup senang! Bisa menghajar seseorang yang jenius daripada diriku, benar-benar sangat menyenangkan bukan?" lanjutnya tertawa bahagia.
"Sudah aku bilang, itu memuakkan!" balasku mencoba bangkit dengan darah yang mengalir dari wajah dan juga punggungku.
Aku menahan rasa sakit tersebut dan berjalan pelan menuju kearahnya.
"Huh?"
"Menyebut seseorang dengan sebutan jenius, seolah kau tahu dirinya sama sekali tidak pernah bekerja keras. ITU SUNGGUH MEMUAKKAN!!" teriakku.
"Tidak tahu kan!? Jadi jangan pernah menganggap dirimu yang jenius itu sama dengan kami, kepar*t!!" lanjut Ten melepaskan beberapa bola cahaya yang saling beresonansi kepadaku.
"Enyahlah, Thunderjolt!!"
Bersamaan dengan itu, sebuah petir menyambarku dan menyentrum seluruh tubuhku. Benar-benar perih sekali! Aku pun terjatuh tergeletak karenanya dan sama sekali tidak bisa menggerakkannya.
"Kau benar-benar mengecewakanku. Aku pikir kau jauh lebih baik dari ini, ternyata kau cukup lemah yah," ucap Ten.
"Haha.. hahahahahahahahahahaha!" tawaku cukup geli.
"A-apanya yang lucu!?" tanya Ten.
"Tentu saja dirimu! Apa kau tidak berpikir, kalau aku sengaja membiarkan diriku terserang olehmu?" balasku bertanya.
"Apa maksudmu?" tanya Ten lagi.
"Baiklah, biar aku jelaskan padamu!" sahutku.
Sebuah lingkaran sihir menyejukkan muncul dibawah tubuhku dan memulihkan semua luka yang aku miliki. Ten yang melihat itu terkesiap dan langsung mengambil jarak untuk berjaga-jaga dengan serangan fisikku. Tapi kalian tahu, aku tidak akan melakukannya.
__ADS_1
"Pertama, kau sangat ceroboh karena memutuskan untuk menerima Rainbow Bullet milikku sebelumnya. Bahkan kau menggunakan Switch untuk bertukar tempat denganku," jelasku.
"Kedua, kau benar-benar gagal menjadi seorang penyihir karena sama sekali tidak menyadari apa yang aku lakukan selama ini," tambahku dengan sebuah lingkaran sihir raksasa muncul dibawah tempat Ten berdiri.
"Apa ini?"
"Lalu terakhir, kau benar-benar bodoh sampai melompat ke tempat tersebut!" lanjutku.
"A-apa yang ingin kau lakukan?" tanya Ten panik.
"Ultimate Magic: Gigant Flare!!"
Sebuah api merah menyala cukup besar dan tinggi, membakar area sekitar lingkaran tersebut. Aku sudah tidak terlalu peduli lagi dengan nilai sekarang. Jika para pengawas memutuskan untuk mengurangi poin kami, maka aku tidak peduli.
Ten yang berada ditengah-tengah tersebut tidak bisa bergerak sama sekali, dapat terdengar erangan kesakitan dari tempatnya. Namun aku tidak mempedulikannya dan tetap melakukan pembakaran tersebut.
Selang beberapa saat, Ten tergeletak dengan pakaian compang-camping yang hangus terbakar. Beberapa bagian tubuhnya terekspos cukup banyak, termasuk bagian dadanya yang cukup besar itu. Cih, apa dia benar-benar ingin membuatku membunuhnya?
"Semuanya sudah berakhir, Ten!" gumamku mendekatinya.
***
"Karena itulah, selamat tinggal, Laura."
Tring
Ujung tombak berhasil menahan ayunan belati milik Xirius. Pelakunya tidak lain adalah, Yuu.
"Kau tahu, aku sedikit khawatir terhadap dirimu. Makanya aku buru-buru datang kesini," gumamnya.
"Tapi, apa yang ingin kau lakukan pada gadis tersebut?" tanya Yuu dengan tatapan seriusnya.
Hembusan angin menerpa mereka berdua, bersamaan dengan itu, sebuah petir menyambar ke suatu tempat. Tatapan Xirius kosong, Yuu yang melihatnya hanya bisa terkekeh dengan hal tersebut. Sebelum akhirnya, mereka memulai pertarungannya.
***
Jika ada typo atau kesalahan kata, segera beritahu yah! Dukung terus Author dengan Like, Vote dan Rate kalian!
Hallo Readers! Cukup lama yah? Maaf karena baru up sekarang nih. Sebenarnya sih pengen aja up pas hari Senin waktu itu. Tapi malah dapat inspirasi Novel baru, jadinya baru bisa up hari ini. Sayang banget kalau ga diketik bukan? Makanya mulai hari ini dan seterusnya, Novel ini akan up dua kali seminggu dan bukan Senin sampai Jum'at lagi. Untuk waktunya sih ngacak, jadi harap sabar aja yah :v
Sekedar info aja nih, Novel baru yang lagi Author buat ini punya Tema Game atau VRMMORPG. Dengan sistem yang cukup unik tanpa level melainkan Blessing! Penasaran? Info lebih lanjut tanggal 1 Desember! Nantikan saja yah :v
__ADS_1