
Aria termangu menatap ponsel Rossa, melihat dua nama yang muncul di daftar panggilan. Shilda dan bu Mala. Aria menggumamkan nama itu. Shilda, Aria tahu itu teman Rossa, tapi Mala? Kenapa mirip seperti nama mamanya? Apa ibu Rossa juga bernama Mala.
Satu pesan dari Shilda sudah Aria balas. Lancang sebenarnya, tapi mau bagaimana lagi. Shilda terus mengoceh di WA tanpa henti. Bertanya kenapa tidak masuk kerja? Apa sakit? Atau Adnan sakit. Juga panggilan tak terhitung jumlahnya.
Adnan? Siapa lagi ini. Apa anak Rossa namanya Adnan. Namun itu wajar, Rossa sudah menikah. Hal lumrah kalau Rossa punya anak. Lagi satu, panggilan juga datang dari Angga. Rasa bersalah seketika menerpa hati Aria. Bagaimana ini? Apa yang harus dia katakan pada Angga.
Cukup bingung sampai satu ide muncul di kepalanya. "Aku pergi menengok mbak Katy bersama pak bos." Send, pesan terkirim. Tak berapa lama, satu balasan datang. Senyum Aria terbit. Semoga tidak ada salah paham setelah ini.
Dari kamar atas, terdengar satu jeritan yang membuat Aria mendongak, melihat ke arah jam tangannya. "Satu setengah jam." Lama juga obat itu bekerja. Pasti Katy berharap bisa melakukan apapun yang dia suka dalam waktu itu. "Jangan mimpi ya. Aku akan pasang barikade mulai sekarang. Jaga jarak!"
Aria meringis saat Rossa berdiri di depannya, tanpa ragu menginjak kakinya. "Bapak ini ngapain sih? Apa yang sudah bapak lakukan sama saya?" Pekik Rossa penuh tanya.
"Astahfirullah, sakit, Nur!" Bukannya menjawab, Aria malah fokus pada punggung kakinya yang memerah. Bar-bar sekali perempuan ini.
Rossa mendelik ke arah Aria. "Oke...oke...aku minta maaf. Aku sengaja membawamu ke sana untuk berjaga-jaga kalau si Katy mau berbuat yang tidak-tidak..."
"Bapak ngumpanin saya ya? Jahat bener sih!"
"Kan kamu cuma kena obat tidur. Lah kalau aku yang kena obat tidur bahaya. Bisa habis aku sama si Katy."
"Ganti rugi!" Rossa menengadahkan tangannya.
"Matre!"
"Bukan matre tapi realistis saja. Buruan!"
Aria terdiam sejenak. Menatap dalam wajah Rossa. Cantik, berapa kali pria itu memuji Rossa dalam hati. Terlebih saat wanita itu tertidur tadi. Cantik alami, no debat. No poles-poles make up.
__ADS_1
"Astagfirullah, istri orang Ar." Maki Aria dalam hati.
"Buat bayar yang kemarin."
Rossa melihat Aria dengan tatapan tidak percaya. Kemarin dia sudah bayar. Dan sekarang masih dijawab buat bayar yang kemarin. Pelit amat nih orang kaya. Rossa kehilangan kata karena memikirkan hal itu. Sampai tidak tahu, kalau Aria sempat masuk ke ruang kerjanya.
"Bapak tadi gak ngapa-ngapain saya kan?" tanya Rossa resah. Bagaimanapun dia masih istri Angga. Harus menjaga diri di luar rumah.
"Gak kok, cuma pegang dikit boleh kan?" goda Aria. Ekspresi Rossa berubah judes.
"Tangannya doang. Galak bener sih...istri Angga." Dua kata terakhir diucapkan tanpa suara. Rossa kesal setengah mati. Melirik ke arah jamnya, tanggung kalau mau kembali ke pabrik. "Jangan khawatir, aku absenin kok. Terima kasih, dan maaf sudah jadiin kamu tameng."
Tanpa menjawab, Rossa melangkah keluar dari rumah Aria. Berpikir naik ojek, pergi ke pasar cari bahan untuk membuat roti. Roti gorengnya lagi naik daun. Lumayan untuk mencari tambahan.
"Nur...tunggu dulu. Ini aku kembalikan." Aria mengejar Rossa, mengulurkan amplop yang kemarin Rossa berikan.
"Apaan?"
"Terima atau aku paksa." Tangan Aria sudah terulur ingin menyentuh tangan Rossa. Wanita itu reflek mundur, menghindari jangkauan tangan Aria. "Makanya diterima. Ayo, aku antar pulang."
"Motorku di pabrik." Kata Rossa saat mereka melangkah keluar, mengekor di belakang lelaki itu. Memasang jarak aman seperti anjuran pemerintah beberapa waktu lalu, berkaitan dengan virus Corona.
"Nanti diambil. Mau ke mana ini? Langsung ke pabrik?" tanya Aria.
"Saya mau ke pasar. Turunkan saya di sana, nanti ke pabrik tak naik ojek." Balas Rossa mencari ponselnya. Menemukan ponselnya di sling bag.
"Bapak balas WA saya ya. Gak sopan!" protes Rossa.
__ADS_1
"Sorry Shilda berisik. Berapa kali dia telepon. Sama itu...suamimu."
Rossa memandangi ponselnya. Iya, Shilda berisik tiada tara. Telepon berapa kali, belum spam chat, gila bener tu anak. Rossa akhirnya diam, mengirim pesan pada Mala.
Di pasar, Rossa turun. Wanita itu melangkah masuk, berpikir kalau Aria akan langsung pergi. Rossa ternyata salah. Saat di toko bahan roti, pria itu sudah berada di sebelah Rossa, membuat wanita itu kaget.
"Ngapain?"
"Jalan-jalan." Aria menjawab singkat. Pria itu mengikuti langkah Rossa, ke manapun Rossa pergi, ke sanalah Aria berjalan. "Gunain itu buat belanja." Saran Aria.
Rossa berpikir, uang itu bisa digunakan untuk membeli susu Adnan, dia akan belanja yang uang yang ada di dompetnya. "Ini cukup." Kata Rossa pelan. Aria menghela nafas. Tidak mau memaksa Rossa.
Si satpam cukup heran melihat Rossa yang keluar lebih awal. Namun melihat big bos di sana, satpam itu mengangguk paham. Tutup mulut atau dia akan dipecat, itulah kode dari Aria. Rossa mendengus geram. Gara-gara Aria yang sok kaya, lah emang dia kaya. Pria itu memberikan modal untuk membuat roti.
Aria cukup bingung. Apakah Angga kurang memberikan nafkah, hingga Rossa harus bekerja, ditambah harus membuat roti. Padahal sejatinya, Rossa tidak tahu siapa Angga sebenarnya. Setahu Rossa, Angga hanya seorang manager di pabrik Aria. Tanpa dia tahu kalau Angga mempunyai bisnis lain, yang hasilnya lebih besar dari gajinya di pabrik.
Motor Rossa melaju, melewati Aria yang hanya mengangguk saat Rossa membunyikan klakson. Si satpam hanya bisa menghafal motor Rossa, sudah pasti wanita itu punya hubungan spesial dengan pemilik pabrik. Dia harus hati-hati, bungkam, salah bicara dia bisa dihempaskan dari tempat itu.
Aria berbalik, masuk ke pabrik setelah memberikan ultimatum tanpa suara pada si satpam. Memastikan pria berseragam putih navi itu paham dengan warning keras darinya.
Melangkah ringan menuju lift, hari ini dia cukup senang sekaligus kelelahan. Dia bisa terhindar dari rencana licik si janda pirang, juga sedikit berjalan-jalan dengan Rossa. Astaga, apa yang membuat hari ini istimewa, dua kejadian menyenangkan itu, atau karena dia dapat menghabiskan waktu bersama istri sahabatnya. Pikiran apa ini? Apa dia menyukai istri Angga. Tidak boleh! Dia tidak boleh membiarkan hatinya jatuh pada pesona Rossa.
Aria tiba di lantai di mana kantornya berada. Begitu keluar lift, dia sudah disambut teriakan Amato yang penuh kepanikan. "Gawat Ar, ada masalah."
Dua pria itu berlari masuk keruangan Aria di mana beberapa orang sudah berkumpul di sana. "Ada masalah apa? Silahkan dijelaskan."
***
__ADS_1
Up lagi readers. Jangan lupa tinggalkan jejak. Terima kasih.
***