My Sweet Journey

My Sweet Journey
Camer Ajib


__ADS_3

"Lepasin bang, sakit ini!" Shilda menyentak cekalan tangan pria yang dia panggil bang. Pria tersebut berbalik, berdiri di hadapan Shilda dengan tangan berada di pinggangnya.


"Minggu depan mama dan papa akan pulang. Jadi suruh dia untuk kemari saat itu. Waktunya menyusul." Titah lelaki itu.


"Gak bisa gitu dong!" Shilda protes. Sungguh dia tidak menyangka kalau akan terjebak dalam permainan Amato. Berniat menolong, yang terjadi justru sebaliknya. Dia dan Amato malah ditodong untuk segera menikah.


"Tidak bisa apanya? Dia terang-terangan menyebutmu pacar. Kau tahu kan, rule keluarga kita itu seperti apa. Jika dia tidak mau melamarmu ya sudah. Putuskan hubungan kalian. Dan kau bersiap ikut mama dan papa ke Malaysia."


Ha? Shilda melongo mendengar ucapan sang kakak. "Bang Feei jangan begitu ya. Nanti kalau aku dibawa ke sana, aku gak bisa ngapa-ngapain." Rengek Shilda. Pria yang dipanggil Feei itu tampak cuek. Tidak peduli dengan perkataan Shilda.


"Terserah, salah sendiri jadi temen kok setia amat. Ocha kabur, kamu juga kabur."


"Hee gak gitu juga bang. Ocha kan kabur lima tahun lalu. Aku kan...."


"Sepuluh bulan lalu." Satu toyoran Feei hadiahkan untuk sang adik. Pria itu sungguh gemas dengan Shilda. Gadis yang lebih muda setahun dari Rossa itu memang agak bandel. Suka sekali memberontak jika ada yang tidak sesuai dengan keinginannya. Sepuluh bulan lalu, Shilda nekad kabur menyusul sang teman dari kediaman utama mereka di Johor Bahru, Malaysia.


Rashilda Najwa putri bungsu dari seorang pengusaha roti canai asal negara dengan ikon menara kembar di sebelah. Sang ayah tidak punya darah India sama sekali, tapi sangat pandai dalam membuat roti canai. Usaha mulai ayah Shilda geluti lima belas tahun lalu. Dan kini keluarga Shilda punya puluhan cabang kedai yang menjual makanan semi berat itu.


Sedangkan pria yang merupakan abang Shilda, Syafeei Naziq, pria itu hanya terpaut jarak tiga tahun dengan Shilda. Keberadaannya di kota ini, selain untuk mencari sang adik juga untuk merintis usaha yang sama dengan sang ayah. Istri Syafeei yang berasal dari kota ini, membuat lelaki itu mudah mencari lokasi yang strategis untuk berjualan.


"Wah adik ipar kesayangan pulang? Dapat apa ni sepuluh bulan minggat." Seorang wanita berhijab keluar dari pintu di sebelah kanan.


"Dapat bojo dia." Seloroh Feei asal.


"Apaan sih? Mbak Kinan jangan percaya ucapan bang Feei yang nyata tukang PHP." Shilda memeluk Kinan, rindu. Sebenarnya apa yang membuat Shilda lari sepuluh bulan lalu. Tidak lain dan tidak bukan adalah masalah pria. Masriliska Mashood, ayah Shilda tidak pernah menjodohkan putra putrinya. Namun sepuluh bulan lalu ada seorang kerabat dekat pak Mashood yang datang melamar Shilda.


Shilda langsung menolak, tapi si pria tidak terima. Mereka tidak marah. Lelaki itu hanya berkata kalau akan menunggu Shilda mengiyakan lamarannya. Seperti di tekan, Shilda yang berpikiran pendek, memilih kabur ke tempat Rossa. Teman semasa mereka kuliah di universitas terbaik di kota ini. Dan disinilah mereka, beberapa bulan kerja di pabrik sama. Anak juragan roti canai kerja menjahit pakaian dalam. Rossa seringkali menertawakan Shilda tapi gadis itu tidak peduli. Yang penting dia bebas dari pria bernama Abdul Hafiz yang mengejarnya.

__ADS_1


"Siapa calonmu? Mbak kenal gak?" Tanya Kinan, wanita yang tengah mengandung itu duduk di sofa.


"Amato Assegaf." Shilda melotot, bagaimana bisa abangnya tahu soal Amato. Feei membuat wajah mengejek pada sang adik. Apa sang kakak selama ini memantaunya? Namun Shilda tidak panik, sebab sepuluh bulan ini dia tidak melakukan hal aneh atau keluar dari jalur. Hidupnya hanya berkutat di pabrik, kontrakan juga Rossa dan Adnan.


"Amato Assegaf, asisten Riffaldo Aria Loka. Siapa yang tidak kenal dia." Balas Feei santai. Sementara Shilda tampak acuh, jika begini bisa dipastikan jika anak buah sang abang sudah mencari tahu siapa Amato.


"Kenapa tidak dengan bosnya?" Feei bertanya, setahu pria itu, Aria tidak punya calon. Terlebih Aria adalah tipe pria yang banyak diincar jadi suami.


"Dia sudah punya calon." Shilda menjawab sambil mengunyah setoples keripik kentang. Kinan sejak tadi hanya diam menyimak drama adik dan abang itu.


Feei cukup terkejut mendengar info dari Shilda. Siapa gerangan gadis yang berhasil menarik perhatian seorang Aria.


"Mau tau nggak?" Feei menggangguk antusias. Tak berapa lama bola mata pria itu mendelik dengan dua alis bertaut.Tidak percaya dengan Shilda.


"Wah kalau memang beneran iya, Riffaldo Aria Loka harus ekstra keras meluluhkan hati papa Ocha." Giliran Shilda yang kepo. "Kenapa memangnya?"


Sementara itu, tawa meledak di rumah besar Aria. Lelaki itu tidak bisa menghentikan tawa saat Amato bercerita soal Shilda dan kakaknya.


"Rasain lu! Emang enak sok jadi pahlawan." Ledek Aria habis-habisan. Di depan pria itu duduk Rossa. Ya, dengan bujukan dari kanjeng mami tak sayang Aria, Rossa akhirnya mengalah pada Adnan yang ingin bermain ke rumah sang ayah. Cukup kesulitan menjawab, saat Adnan bertanya kenapa ayah dan ibunya tidak tinggal di rumah yang sama. Bagaimana Rossa harus menjelaskan hal itu.


"Lalu sekarang bagaimana?" Rossa bertanya. Wanita itu cukup kenal dengan keluarga Mashood. Dia beberapa kali bertemu dengan ayah dan ibu Shilda dulu saat masih kuliah. Satu kedikan bahu Amato lakukan. Dia jelas kehabisan ide.


"Kalau menurutku, jalani saja." Celetuk Mala dari arah lantai dua. Rossa seketika menepuk dahinya pelan. Jam segini Adnan tidur, bisa dipastikan kalau Adnan akan bangun petang. Dan bisa tidur larut malam.


"Dijalani opo to Mi?" Amato benar-benar bingung sekarang.


"Nikah sama Shilda." Tiga orang itu saling pandang. Dengan Amato langsung bergidik ngeri. Menikah dengan Shilda? Yang benar saja. Gadis yang selama ini dia tahu sangat bar-bar. Suka main fisik, main keplak, main tendang, dan main yang lain 🤭🤭

__ADS_1


"Istikharah Mat. Cari petunjuk." Saran Aria.


"Barengan yuk." Amato tahu kalau Aria juga sedang berjuang di jalur langit untuk mendapatkan kata iya dari Rossa. Wanita yang kini hanya diam.


"Ohh... yang itu aku lebih suka melakukannya sendirian. Rasanya lebih puas jika aku bisa merayu pencipta-nya dengan usahaku sendiri." Aria tersenyum sambil mencuri pandang ke arah Rossa.


Amato mendengus geram. Kenapa juga ini harus terjadi padanya. "Memangnya apa yang kau takutkan. Shilda gadis yang baik. In sya Allah bisa menjadi istri yang baik. Materi kau jelas mampu menghidupinya. Rumah, mobil, saham kau punya. Apalagi yang kau takutkan. Keluargamu kalau tidak ada yang mau datang, kami bisa mewakili mereka. Keluarga Aria Loka selalu mendukungmu."


Mata Amato berkaca-kaca mendengar ucapan kanjeng mami. Bertahun-tahun mengabdi pada keluarga konglomerat, Amato sungguh menemukan arti dari sebuah keluarga. Kasih sayang juga perhatian yang tidak Amato dapat dari keluarga yang merawatnya.


"Terima kasih kanjeng mami. Nyonya the bestlah." Cengir Amato. Mala melengos mendengar sanjungan dari Amato, seorang pria yang sudah dia anggap seperti anaknya sendiri.


"Berjuanglah kalian, sementara kami mau shooping." Ucap Mala ceria.


"Shooping....shooping. Pemborosan Mama." Aria memperingatkan.


"Apa sih kalian ini. Bukan buat kami, tapi buat Shilda. Apapun jawabanmu, minggu depan kita harus datang ke rumahnya. Masak polosan seperti orang mau keloon aja."


Amato mendelik mendengar perkataan Mala yang memang kadang absurb. "Harap bersabar ya teh Ocha, camermu memang ajib."


***



Up lagi readers. Jangan lupa tinggalkan jejak. Terima kasih.


***

__ADS_1


__ADS_2