My Sweet Journey

My Sweet Journey
Habis


__ADS_3

Rumah keluarga Mashood menjadi ramai dengan kedatangan Amato dan yang lainnya. Senyum menghiasi pria paruh baya dengan aksen Melayu. Masriliska bukanlah orang asli negeri menara kembar itu, dia hanya warga keturunan yang sudah tinggal lama di sana hingga memiliki kartu identitas negara itu.


Ayah Shilda cukup terkejut melihat Rossa ada dalam rombongan Amato. Lelaki itu berpikir apa Rossa sudah menikah dengan salah satu pria yang ada di sana. Terlebih ada Adnan, seorang anak yang begitu lengket pada Aria. "Apa Zai sudah tahu soal ini?" batin Masriliska.


Shilda yang dihadirkan dalam acara itu hanya bisa manyun melihat Amato. Sementara Amato malah terpana dengan tampilan Shilda. Gadis yang biasa tampil tomboi dan sakkarepe dhewe, kini terlihat manis dalam balutan dress sederhana berwarna maroon, senada dengan batik yang Amato pakai.


Bincang-bincang berisi perkenalan pun berlanjut. Dalam hal ini Mala yang bicara. Suasana yang tadinya tegang berangsur mencair saat Adnan beberapa kali membuat tingkah menggemaskan. Padahal umur Adnan sudah sembilan tahun, tapi sepertinya kelakuannya masih stuck di umur lima tahun.


"Tante tumben pakai rok, biasanya gak pernah." Satu bisikan tapi cukup keras membuat si empunya nama langsung memberi kode diam. Merasa aibnya sedang dibuka. Aria terkekeh pelan mendengar ucapan Adnan.


Di sisi belakang, tampak si asisten robot yang sejak tadi mencuri pandang ke arah Nurul. Berdalih untuk menemani Rossa, Santo berhasil mengajak Nurul keluar. Nurul sempat menolak, tapi Santo yang tengah kerasukan setan cinta, mulutnya berubah jadi lemes. Hingga Nurul pun melongo saat Santo terus membujuknya. Sampai gadis itu pun mengiyakan ajakan Santo.


"Tapi ini tidak ada hubungannya dengan Adnan." Ancam Nurul. Santo masih sering merecoki Nurul soal siapa Adnan.


"Gaklah, untuk sementara urusan Adnan kita pending dulu. Besok kita war lagi."


Nurul memalingkan wajah saat melihat Santo menatap ke arahnya. Di depan sana, suasana mendadak tegang saat Mala memberi waktu pada Amato untuk bicara. Mala sendiri menegaskan kalau mereka hanya mengantar Amato. Tidak tahu bagaimana karep pemilik nama belakang salah satu habib di negeri ini. Padahal Amato tidak merasa memiliki hubungan apa-apa dengan marga itu.


Sejak Amato bicara, semua orang diam. Pria itu merasa gugup untuk pertama kali. Berhadapan dengan orang tua Shilda yang baru kali ini dia temui. Sedang Shilda sejak tadi tidak mengalihkan pandangannya dari Amato. Sampai satu kalimat dari Amato membuat Shilda membulatkan mata.


"Tidak ada kamus pacaran dalam hidupku. Karena itu, untukmu Rashilda Najwa binti Masriliska Mashood maukah kamu menerima lamaranku, menjadi istriku. Menyempurnakan agama kita, beribadah untuk meraih ridho-Nya. Menjalani sisa umur kita bersama sampai maut memisahkan. Hanya kematian yang membuat kita jauh."


Ibu Shilda tampak menangis, dalam rengkuhan tangan Kinan. Sementara Mala nampak menggenggam erat tangan Rossa. Hening....tidak ada suara sama sekali. Masriliska Mashood sudah memberikan pilihan pada Shilda. Gadis itu bebas menerima atau menolak Amato. Ayah Shilda hanya menerima laporan kalau Amato lelaki yang baik, tidak neko-neko. Punya basic agama yang baik.


Beberapa waktu berlalu, tidak juga ada jawaban dari Shilda. Amato mulai pesimis, pria itu kini menundukkan wajahnya. Tak lagi berani menatap ke arah Shilda.


"Aku mau...uppsss." Semua orang kini melihat ke arah Shilda yang tengah menutup mulutnya. Seolah baru saja salah bicara.


"Jawab yang bener Shil." Feei berucap dari sebelah Kinan. Satu kode dari Shilda yang berarti bagaimana membuat semua orang mengulum senyum. Merasa dijadikan bahan lawakan, Shilda manyun. "Bilang yang bener." Papa Shilda berucap.

__ADS_1


"Haaa, pokoknya gitu. Gak tahu gimana ngomongnya."


"Mau jadi istriku?"


"Iya! Uppssss."


Alhamdulillah, semua orang mengucap syukur, saat Shilda mengiyakan lamaran Amato. Lelaki itu kini bisa tersenyum lebar, "Gue kawin duluan!" bisik Amato saat menoleh ke belakang. Aria dan Santo langsung berdecak pelan. Dua pria itu saling pandang.


"Eh, tapi ada syaratnya. Gue....eh aku mau nikahnya bareng Ocha." Amato melongo sama dengan Rossa.


"Mampuusss!!" Aria dan Santo bergumam hampir bersamaan. Keduanya puas melihat wajah tidak terima Amato.


"Kenapa aku dibawa-bawa?" Rossa berbisik setelah mereka ada di meja makan. Prasmanan, makan malam untuk mempererat silaturahmi.


"Gue gak mau sakit sendirian." Balas Shilda lirih. Rossa mengerutkan dahi mendengar jawaban Shilda. Sampai penjelasan Shilda membuat Rossa hampir meledakkan tawa. Wanita itu lanjut bertanya, apa iya sesakit itu. Dengan Shilda mengangguk serius. Pandangan Rossa langsung terarah pada Aria yang tengah berbincang dengan Feei. Kali ini dada Rossa berdebar kencang.


"Baik, Uncle." Balas Rossa sambil menganggukkan kepala. Masriliska mengamati Rossa sejenak. Aura kedewasaan dalam diri Rossa terasa kuat. Awalnya mereka berbincang biasa saja. Sampai nama sang ayah disebut, wajah Rossa langsung berubah.


"Sudah lama saya tidak menemuinya." Balas Rossa sendu.


Masriliska Mashood menghela nafas. Jika melihat Aria, bisa dipastikan kalau pria itu punya perasaan lebih pada Rossa. Terlebih bisikan dari Shilda yang memberitahu, Aria sedang menunggu jawaban dari Rossa.


♧♧♧♧♧♧


"Bu, Adnan tidur dengan ayah, boleh?" satu pertanyaan Adnan membuat Rossa kebingungan. Mereka baru saja sampai di halaman kediaman Aria Loka. Rossa tidak bisa berkutik saat Adnan mengiyakan tidur di rumah sang papa.


"Tapi ibu tidak bisa ikut jika Adnan tidur berdua sama ayah." Aria dan Adnan saling senyum. Bocah itu menjawab tidak apa-apa.


Singkat kata, Rossa pun menginap di rumah Aria. Tengah malam, wanita itu bangun seperti biasa. Melakukan ritual malamnya meski hanya sebentar.

__ADS_1


"Nur bisa bicara sebentar." Pinta Aria yang tiba-tiba saja muncul dari arah depan. Mereka ada di mushala keluarga itu. Satu tempat yang dibangun di taman samping rumah.


Dua orang itu sesaat saling tatap. Hingga keduanya kembali memalingkan wajah mereka bersamaan. "Aku tidak ingin berbasa basi denganmu. Bagaimana? Apa sudah menemukan jawabannya? Aku ingin segera menghalalkanmu jika masa tunggumu sudah usai."


"Lalu bagaimana Nisa?" balas Rossa cepat.


Sudah Aria duga kalau yang menghalangi keinginannya adalah Nisa. "Aku sudah bicara padanya, memberitahunya kalau aku menolak perjodohan itu."


"Jawabannya?"


"Dia tidak masalah." Pria itu lantas menceritakan pertemuannya dengan Nisa. Di mana Nisa memang menerima penolakan Aria. Dari sekian banyak doa dan petunjuk yang dia minta, Nisa akhirnya menemukan titik terang. Gadis itu akan melepas Aria, dia akan mencoba menerima kalau Aria bukan jodohnya.


"Aku ingin mendengarnya sendiri dari mulut Nisa." Pinta Rossa. Aria pun mengiyakan. Satu langkah lagi dia dan Rossa bisa bersatu.


Di tempat lain, seorang wanita terlihat masuk ke sebuah rumah besar. Langkahnya menyiratkan rasa antusias yang besar. Setelah membalas sapaan dari ART yang masih bekerja, wanita itu mengetuk sebuah pintu.


"Dia sudah bercerai. Sekarang tengah menjalin hubungan dengan Aria Loka."


Informasi yang membuat pria itu menghentikan pekerjaannya. Melihat ke arah orang yang baru saja memberinya berita baru.


"Tidak bisa! Rossa sudah aku jodohkan dengan putra dari klan Liu." Lelaki itu menggeram marah. Lima tahun tidak pulang, sang putri justru semakin liar di matanya. Padahal tidak begitu kenyataannya. Hanya karena hasutan dari wanita itu, hilang sudah kepercayaan si ayah pada putrinya sendiri.


"Habis kau kali ini!" Perempuan itu tersenyum puas. Dia tidak akan membiarkan Rossa bahagia meski hanya sebentar.


***


Up lagi readers. Maaf ya kemarin author tidak up. Lagi galau. Jangan lupa tinggalkan jejak. Terima kasih.


***

__ADS_1


__ADS_2