
Angga menangis dalam sujudnya. Pria itu sungguh tidak tahu harus berbuat apa? Istrinya menggugurkan anak mereka. Apa salah bayi itu? Tangis Angga semakin tak terbendung, saat teringat usia kandungan yang digugurkan Yuna, sepuluh minggu. Dua minggu lagi, janin itu akan hidup, memiliki roh dalam raga kecilnya. Pupus sudah harapan Angga untuk menimang seorang momongan.
Hatinya begitu kecewa dengan sikap sang istri. Apa yang sebenarnya Yuna pikirkan? Apa yang wanita itu inginkan? Semua tanya itu memenuhi kepala Angga, ingin sekali dia berteriak keras untuk meluahkan segala rasa yang seolah menghimpit dadanya.
Pada akhirnya lelaki itu hanya bisa duduk tertunduk di sudut mushala. Dia merasa gagal dalam hidupnya. Gagal menjadi imam baik untuk sang istri, gagal mendidik Yuna menjadi pribadi yang lebih baik selama menikah dengannya. Angga pikir, Yuna sudah mulai memperbaiki diri. Ternyata dia salah, wanita itu justru semakin tenggelam dalam kubangan dosa.
Rentetan tindakan tidak terpuji Yuna perlahan terbayang di benaknya. Menjebaknya, menampar Rossa, melukai Rossa, mendorong Nisa dan yang paling parah dan tidak termaafkan tentu menggugurkan bayi mereka. Apa yang harus dia lakukan sekarang? Dia ingin menjalani sebuah biduk rumah tangga yang harmonis, sakinah, mawadah, warahmah sesuai tuntunan agamanya. Tapi Yuna, sepertinya susah sekali dididik. Haruskah dia menceraikan Yuna? Haruskan dia menyerah kalah sebab tidak bisa meluruskan jalan yang sudah Yuna tempuh.
"Jum'at berkah, silahkan dinikmati." Satu suara membuat Angga mendongak. Sepaket snack dengan satu cup teh hangat ada di depan Angga. Pria itu melihat siapa yang sudah memberinya makanan itu. "Itukan...."
Yuna terbangun, wanita itu melihat sekelilingnya. Rumah sakit, dia tahu ini pasti rumah sakit. Perlahan Yuna mengingat apa yang sudah terjadi. Wanita itu seketika menjadi takut, bagaimana jika Angga tahu perbuatannya. "Aku harus lari! Aku harus keluar dari sini."
Yuna mencabut infus yang tertancap di tangan kirinya. Yuna baru menurunkan kakinya dari brankar pasien. Saat tirai biliknya disibak. Masuklah orang yang paling Yuna takuti. Angga, pria itu terlihat sangat marah. Sepertinya kesabaran Angga sudah habis. Dia tak lagi bisa menahan diri. Teringat calon anak yang sudah Yuna gugurkan.
"Bisa kamu jelaskan kenapa kamu melakukan hal sekeji itu?" tanya Angga to the poin.
Yuna menunduk ketakutan. "Aku belum mau hamil." Lirih Yuna setelah beberapa waktu terdiam.
"Belum mau hamil? Lima tahun lebih kita menikah, dan kamu bilang belum mau punya anak. Sekarang aku tanya, kapan kamu bersedia mengandung anakku?" cecar Angga. Sungguh kesabaran Angga sudah sampai batasnya.
Yuna terdiam, "Aku...aku...."
__ADS_1
"Apa kamu tidak mau mengandung anakku?" Inilah yang Angga takutkan. Dia sekedar menebak. Berharap kalau dugaannya salah. Namun Angga seperti dilempar ke jurang yang paling dalam saat Yuna mengangguk, membenarkan pertanyaannya. Tubuh Angga mendadak lemas. Pria itu berbalik, berjalan menjauhi bilik rawat Yuna. Sepertinya Angga perlu menenangkan diri.
Angga berjalan gontai sepanjang lorong rumah sakit. Tidak ada tujuan, pria itu sekedar mengikuti ke mana kakinya melangkah. Hingga pria itu berhenti di depan poli anak. Di mana puluhan orang tua tengah berjuang demi kesembuhan buah hati mereka.
Angga tersadar dari lamunannya saat sesuatu menarik celananya. Pria itu menundukkan pandangannya, hingga mata Angga bertemu dengan sepasang netra bening, polos, tanpa dosa seorang balita yang sepertinya terpisah dari orang tuanya.
"Halo ganteng, di mana ayah ibumu." Sapa Angga, balita itu tidak menjawab, hanya tersenyum lebar hingga empat buah gigi yang baru tumbuh itu terlihat jelas.Sangat lucu juga menggemaskan. Mata Angga tiba-tiba mengembun, mengingat calon anak yang tidak lagi bersamanya.
Angga terkesiap saat balita itu memeluk dirinya. "Pa....pa...." celoteh anak itu imut. Hati Angga menghangat, lima tahun dia menanti panggilan itu, tapi sepertinya dia tidak akan pernah mendengarnya. "Pa...pa..pa."
"Ahhhh...ganteng ingin cari papa. Ayo kita cari papa kalau begitu." Angga menggendong anak itu, masuk ke poli anak yang lumayan ramai. Angga yang tinggi, membuat dirinya terlihat dengan mudah. Hingga sepasang suami istri tampak tergopoh-gopoh menghampiri Angga.
"Wah mas Angga sepertinya sangat disukai anak kecil. Pasti sayang sekali dengan anak-anaknya."
Angga tampak salah tingkah, tidak tahu apa dia harus bercerita kalau istrinya tidak mau mengandung anaknya. Ah tidak, itu aib rumah tangganya, tidak boleh diberitahukan pada semua orang.
"Anak adalah anugerah, bersyukurlah bagi mereka yang bisa memiliki. Bagi yang tidak atau belum memiliki, percayalah tidak ada yang sia-sia. Semua akan ada hikmahnya."
Di tempat lain, tampak Adnan yang kebingungan, sejak tadi memanggil Rossa. Wanita itu tengah menjalankan kewajiban Ashar-nya. "Ada apa Nan? Ibu sedang shalat." Aria yang kebetulan lewat di depan kamar Adnan.
"Ah...itu Yah. Itu...anu..." Aria mengerutkan dahi, mendengar bahasa Adnan yang dia pikir tidak sesuai umur Adnan.
__ADS_1
"Ini pasti ulah si kampret Amat. Enak aja mau ngeracunin otak Adnan." Maki Aria pada asisten gemblungnya.
Pada akhirnya Adnan mengatakan kalau dirinya ingin ke kamar mandi. Aria sedikit kesal saat Adnan kekeuh tidak mau ditemani. Padahal anak itu masih harus berhati-hati dengan bekas luka sunatnya.
"Nan, sini tak kasih tahu. Kita kan sama-sama cowok ni. Adnan juga anak ayah. Sama seperti anak ibu. Jadi ayah juga boleh melihat itu." Mata Aria melirik ke bawah, ke arah milik Adnan yang baru disunat.
Adnan mengerutkan dahi. "Apa itu benar?" tanya Adnan polos. Aria mengangguk. "Tapi hanya ayah sama ibu. Yang lain tidak boleh. Ingat! Tidak boleh." Kata Aria penuh penekanan. Pada akhirnya bocah yang tahun depan menginjak usia sepuluh tahun itu mengangguk paham, setelah berpikir lumayan lama.
Huft, Aria menarik nafasnya lega. Susah-sudah gampang menangani seorang anak yang beranjak remaja. Terlebih Adnan, pemikiran anak itu harus terus dikembangkan, hal ini penting untuk mengejar perkembangan mental Adnan yang sempat vakum hampir enam tahun.
Kembali ke rumah sakit, Angga terlihat tergesa-gesa masuk ke bilik rawat Yuna, setelah seorang perawat menghubunginya. Sebenarnya Angga masih enggan melihat Yuna, tapi si perawat itu bilang ini penting.
"Ada apa sih mbak?" tanya Angga. Seorang wanita menoleh, saat suara Angga terdengar. "Eh... Maaf, saya pikir mbak perawat." Wanita itu menggeleng pelan, mengeser badannya, memberi jalan pada Angga. Terdengar jeritan histeris dari ruangan Yuna.
"Astagfirullah. Ini ada apa Dok?" Angga bertanya dengan wajah shock luar biasa. Apa yang sebenarnya terjadi pada Yuna.
****
Up lagi readers. Jangan lupa tinggalkan jejak. Terima kasih.
****
__ADS_1