My Sweet Journey

My Sweet Journey
Teman Curhat


__ADS_3

Yuna mundur melihat Aria berdiri di antara dirinya dan Rossa. Pria itu menatap tajam pada wanita yang Aria anggap selingkuhan Angga, padahal Yuna adalah istri sah. Salah paham yang membuat semua semakin runyam.


"Saya peringatkan, jangan macam-macam jika anda tidak ingin berurusan dengan polisi." Ancam Aria. Satu deret kalimat yang membuat Yuna menelan ludahnya. Aura seram Aria membuat tubuh Yuna merinding dengan kaki bergetar saking takutnya. Sedang Rossa justru terdiam, mendengar ucapan Aria barusan. Aria bersedia menikahinya? Rossa tidak salah dengar kan.


Tanpa kata, pria itu menarik tangan Rossa keluar dari sana. Menerobos kerumunan orang yang menonton drama pertengkaran istri sah versus istri siri. Yang sebenarnya tidak ada orang yang tahu, selain Yuna dan Rossa.


Rossa hanya bisa pasrah, di belakang Aria dan Rossa, mengekor Amato yang membawa sling bag dan jaket Rossa. "Pak...." Rossa meringis saat Aria menarik tangannya. Perih. Aria menghentikan langkahnya. Melihat ke arah tangan Rossa. Pria itu mendengus geram mengetahui keadaan Rossa.


"Beneran gak apa-apa, Dok?" tanya Aria memandang tidak percaya pada dokter perempuan di hadapannya. Akhirnya Aria membawa Rossa ke dokter. Dokter itu menjelaskan kalau luka bakar Rossa tidak parah. Kulit wanita itu hanya memerah tanpa melepuh. Namun tetap saja akan ada bekasnya. "Mau dibuatkan visum, Pak?"


"Iya!"


"Jangan!" Aria dan Rossa saling pandang. Wanita itu baru saja mengoleskan salep pada kulitnya. Lumayan adem rasanya. Setelahnya kedua orang itu terlibat perdebatan sengit. Aria jelas ingin membawa perkara ini ke ranah hukum, tapi Rossa tidak setuju.


"Yuhhh, jadi orang mbok ya jangan baik-baik to. Untungnya itu kena tangan. Kalau kena wajah bagaimana?" Cecar Aria tidak habis pikir dengan Rossa.


"Ya berarti saya ada kesempatan jadi jelek, Pak." Amato dan Aria saling pandang. Jadi jelek kok santai amat. Tidak takut jadi buruk rupa ternyata.


"Pokoknya ini mau tak urus ke kantor polisi."


"Jangan Pak, biarkan saja. Mungkin saya yang salah sampai mbak Yuna marah." Cegah Rossa sambil menunduk.

__ADS_1


"Kamu yakin mau melepaskan antagonis itu?" Rossa mengangguk yakin. Biarlah semua dibalas oleh yang di atas. Baik dia salah atau benar. Dia akan terima itu. Karma itu berlaku, dan Rossa percaya itu.


Meski perih, untungnya Rossa masih bisa membawa motornya pulang. Aria hanya mampu menghela nafas. Melihat Rossa mengendarai motornya. Mereka akhirnya mengikuti Rossa untuk memastikan kalau wanita tersebut sampai rumah dengan selamat.


"Ini beneran rumahnya?" tanya Aria tidak percaya. Sebagai istri Angga, masak pria itu membiarkan Rossa tinggal di kontrakan murah begini. Ini bukan sifat Angga. Seharusnya Angga bisa memberikan satu rumah yang lebih bagus dari ini meski tidak mewah. Untuk pertama kali, Aria tahu tempat tinggal Rossa.


Amato dan Aria mengamati lingkungan tempat tinggal Rossa, sangat asri sebenarnya. Sederhana, adem juga nyaman. Yang tidak kondusif ya tentu saja beberapa tetangga yang suka kepo dengan urusan orang lain. Maklumi saja kehidupan di kampung.


Aria hanya sebentar berada di sana. Karena tak lama kemudian mobil Aria pergi dari kawasan kontrakan Rossa. Bersamaan dengan Mala yang keluar dari rumah. Berjalan menuju tukang sayur untuk membeli gula. Sedikit lagi Aria bisa melihat kanjeng maminya, tapi sayang author belum mengizinkannya 🫢🫢


Dongkol dan kesal itulah yang Aria rasakan. Bagaimana Yuna malah menyerang Rossa. "Kamu tahu siapa perempuan itu?" tanya Aria pada Amato.


Si asisten menggeleng, "Yo gak to. Sudah ya acara jadi detektifnya. Kesel, capek mas bos," keluh Amato. Aria melirik Amato yang tampak berantakan. Banyaknya urusan yang harus Amato urus di luar pekerjaan kantor, membuat pria itu terlihat kewalahan. Pada akhirnya, Aria hanya bisa menarik nafasnya dalam. Dia akan menyelidiki hal ini sendiri.


Namun mendengar ucapan Aria membuat Katy kesal. Aria dan Rossa tidak boleh bersama. Katy berpikir harus membuat dua orang itu saling benci. Caranya? Senyum Katy mengembang melihat Mala ada dari rumah Rossa.


Awalnya Katy tidak percaya saat melihat Mala keluar dari rumah Rossa. Katy perlu meyakinkan diri kalau yang dia lihat adalah benar Nirmala Putri Loka, ibu dari Aria. "Jadi kanjeng mami tinggal di rumah si pelakor itu?" Gumam Katy senang.


Satu ide terbersit di benak Katy. Dia akan menggunakan Mala untuk membuat Aria membenci Rossa. Rencana yang Katy yakini akan berhasil.


Sementara itu, Angga sampai di rumah disambut wajah kesal sang istri, Yuna. Namun begitu, perempuan itu tidak berani bercerita soal dia yang melabrak Rossa lagi. Yuna bercerita, dan Angga akan lari pada madunya itu. Menyebalkan. Ingin rasanya Yuna mencakar wajah Rossa, menjambak wajah wanita yang sudah merebut perhatian Angga.

__ADS_1


Yuna masuk ke dalam kamar, tadinya ingin mengadu, tapi melihat Angga yang keluar dari kamar mandi hanya menggunakan handuk sepinggang, membuat Yuna melongo. Wanita itu kesulitan menelan ludahnya.


"Kenapa? Kau mau?" Dengan santainya Angga bertanya. Berjalan mendekati Yuna yang meremass gaun tidur tipisnya. Angga tidak punya pilihan selain menyalurkan hasrattnya pada Yuna, istri sahnya. Untuk Rossa, Angga tidak akan pernah memaksa. Menempati posisi paling tinggi dalam hati Angga, membuat pria itu setengah memuja Rossa. Tidak akan menyakitinya, walau sedikit.


Yuna menggigit bibir bawahnya. Ditawari tubuh atletis dan seksii sang suami, juga kemampuan Angga di ranjang, siapa yang akan menolak. Tanpa ragu, Yuna langsung menerjang Angga. Mencium bibir pria yang susah payah dia dapatkan. Tidak masalah jika dia harus memakai cara kotor. Menjebak Angga waktu itu.


Angga yang memang perlu pelepasan, juga tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. Menikmati tubuh Yuna yang molek dengan lekuk tubuh sempurna, tidak salah bukan. Toh Yuna memang istrinya, dia boleh menidurinya sesuka hati. Meski Angga sering membayangkan wajah Rossa saat bercinta dengan Yuna. Apa rasanya juga senikmat ini.


Sepasang suami istri beda pikiran itu mulai bergulat panas di atas ranjang, dengan handuk dan gaun tidur Yuna sudah teronggok di lantai. Erangaan nikmat juga desaahhan segera terdengar di kamar itu, keduanya saling memuaskan satu sama lain. Rasa cinta entahlah, tapi yang jelas Angga memerlukan Yuna untuk melampiaskan gairrahnya.


Hari berganti, di sebuah taman kota. Nisa terisak lirih. Satu lembar kertas hasil pemeriksaan dokter ada di tangannya. Putus asa itu yang dia rasakan. Sekarang bagaimana dia akan melanjutkan hidup. Semangat hidupnya sudah habis tak bersisa. Bahkan satu-satunya orang yang dia harapkan untuk bergantung di dunia ini sudah menolaknya.


"Memang salah aku menggantungkan harapan padanya. Tapi setidaknya aku ingin bersamanya walau sebentar." Batin Nisa pedih.


"Nisa...." satu panggilan terdengar. Gadis berhijab itu buru-buru menyembunyikan hasil lab miliknya, Nisa juga mengusap sisa air matanya. Seorang wanita mendekat dengan siku memerah.


"Aku hanya punya dia untuk bercerita sekarang." Nisa tersenyum menyambut teman curhatnya.


***


Up lagi readers. Jangan lupa tinggalkan jejak. Terima kasih.

__ADS_1


***


__ADS_2