My Sweet Journey

My Sweet Journey
Berita Besar


__ADS_3


Kredit Pinterest.com


Aria mendengus geram. Marah, kesal, jengkel, benci, dongkol semua jadi satu. Dua ultimatum dari mama tak sayang Aria alias kanjeng mami, membuat Aria mau tidak mau menandatangani surat pencabutan tuntutan pada Rossa.


Pria itu menghentakkan pena yang dia gunakan untuk membubuhkan tanda tangannya. Aria hampir melempar pena itu, jika saja dia tidak ingat ini kantor polisi. Bisa-bisa giliran dia yang tidur di penjara malam ini.


Dari pintu samping, tampak Rossa yang berjalan di belakang Santo. Lagi-lagi Santo diutus untuk mengawasi Aria, jangan sampai pria itu tidak melakukan apa yang diminta oleh kanjeng mami.


Aria langsung pergi dari sana, enggan melihat Rossa. Dia benci pada wanita itu sekarang. Pikiran Aria masih sama, Rossa menculik Mala.


"Maaf, Pak sudah membuat keributan dan terima kasih." Ucap Santo sambil berjabat tangan dengan beberapa anggota polisi yang tengah bertugas di sana.


Rossa pun melakukan hal yang sama. Wanita itu cukup tahu diri. Sampai di parkiran, ada Aria yang menunggu. "Kau kupecat! Satu lagi, jangan temui mama." Aria berucap dengan wajah penuh amarah. Ingin rasanya dia mengamuk, tapi dia tidak bisa melakukannya.


"Tidak apa-apa, Pak. Saya memang salah tidak memberitahu Anda, kalau bu Mala ada di rumah.


"Alasan!" Potong Aria judes.


"Dia tidak tahu kalau nyonya mamamu."


"Jangan membelanya!" tegas Aria tajam.


Dua pria itu saling pandang, dengan Rossa hanya bisa diam, sambil menundukkan wajahnya. Tanpa Aria dan Santo tahu, Rossa menangis. Namun Rossa dengan cepat mengusap air matanya. Dia tidak mau terlihat lemah di hadapan orang lain.


"Aku tidak membelanya. Aku hanya bertindak sesuai kata hatiku. Kau sekarang begitu benci padanya, karena kau tidak tahu apa-apa soal dirinya." Santo berujar pedas. Pria itu lantas membawa Rossa masuk ke mobilnya. "Saya bisa pulang sendiri, Pak." Kata Rossa lirih.


"Nyonya ingin bertemu, setelah itu kamu bisa pulang. Putramu ada yang menjaga, jangan khawatir." Santo menjawab. Begitu tenang, seolah pria itu ingin menunjukkan kalau semua baik-baik saja.

__ADS_1


Rossa hanya bisa menarik nafasnya. Sepertinya akan lama sebelum dia benar-benar pulang ke rumah. Rossa ingin cepat, tapi Santo malah mampir mengajak Rossa makan dulu. Wanita itu mau menolak, tapi Santo tidak menerima penolakan.


Sementara itu, Mala melihat jengah pada wanita yang berdiri di depannya. Perempuan berambut pirang yang sedang tersenyum manis pada Mala. "Dasar nenek lampir, nenek gayung, ulet keket, janda pirang, bule abal-abal." Maki Mala dalam hati.


Amato sejak tadi mengulum senyum, dia tahu bagaimana tidak sukanya Mala pada Katy, wanita yang akhir-akhir ini sibuk mengejar Aria. Melakukan segala cara untuk masuk ke keluarga Aria Loka. "Lepaskan saja, Nya. Nanti tiwas darah tinggi lo." Bisik Amato saat pria itu mengambilkan minum untuk Mala.


Asisten Aria itu juga kesal pada Katy, si biang kerok yang sudah menghasut Aria, sampai lelaki itu sampai hati menjebloskan Rossa ke hotel prodeo, meski hanya sehari semalam. Amato tentu sudah mendengar cerita sebenar dari Santo, hingga Amato tahu duduk permasalahan sebenar.


"Bolehkah?" tanya Mala dari ujung bibirnya. Katy tampak tersenyum senang, bisa bertemu dan menemani Mala sejak tadi. Mencoba menampilkan citra wanita baik dan perhatian.


"Tentu saja boleh." Desis Amato sebagai jawaban. Kapan lagi dia bisa mengerjai nenek lampir bule jadi-jadian di depannya.


Mala tersenyum, satu kalimat pujian meluncur manis dari lidah Mala. Mahir berakting selama enam bulan ini membuat Mala tidak sulit memperdaya Katy.


Sedang Katy hatinya langsung melambung ke angkasa mendengar pujian dari Mala. Wanita itu berpikir kalau dia susah berhasil mengambil hati Mala. Sampai detik berikutnya, Katy sudah berlari keluar dari kamar rawat Mala. Tak lama satu pesan masuk ke ponsel Amato, dengan si asisten menunjukkannya pada Mala.


"Teruskan." Pinta Mala.


Perhatian Mala teralihkan saat pintu terbuka, Aria masuk dengan wajah ditekuk sepuluh. Ingin marah tapi tidak bisa. Pria itu menghempaskan tubuhnya di sofa. Tatapan matanya ingin melayangkan protes pada sang mama tak sayang Aria.


"Proteslah kalau mau protes. Dan mama bisa pulang ke rumah Rossa." Ledek Mala santai. Makin benci saja Aria pada Rossa. Tak berapa lama pintu terbuka, masuk Santo dan Rossa. Mala langsung merentangkan tangannya. Menyambut Rossa yang segera berlari ke pelukan Mala. Tangis Rossa pecah, melihat keadaan Mala.


Aria sesaat melongo, melihat bagaimana dekatnya Rossa dan mamanya. "Kaget? Mereka sudah seperti ibu dan anak. Jangan jealous tahu." Kompor Santo. Aria menggeram marah. Tidak boleh! Tidak ada yang boleh mengambil perhatian ibunya. Perhatian Mala hanya untuk dirinya.


Di depan sana, Mala masih memeluk Rossa erat, membiarkan wanita itu meluahkan rasa yang ada dalam hati. "Bu, maafkan Rossa. Saya tidak tahu kalau ibu, mamanya pak Aria. Kalau saya tahu, saya akan memberitahu pak Aria, jika ibu ada di rumah saya." Kata Rossa di tengah isak tangisnya.


"Lah kenapa kamu minta maaf. Kan memang ibu yang mau ikut sama kamu. Ibu sudah ngomong, kalau ibu diusir sama anak ibu. Karena dia lebih sayang sama pacar bulenya."


"Ma.....!" Mata Aria melotot. Dia sungguh tidak percaya kalau mamanya bisa bicara seperti itu.

__ADS_1


"Apa? Kan bener? Kamu lebih sayang sama janpir itu?" Aria mengusak kepalanya kasar.


"Aku sama Katy gak ada hubungan apa-apa!" tegas Aria.


"Jadi kamu gak bakal nikah sama Katy?"


Aria mengangguk mengiyakan.


"Kamu juga gak cinta sama si uler keket?"


"Ya gaklah!" Balas Aria cepat. Pria itu sudah berdiri dengan tangan berada di pinggang.


"Haaaaa... nantangin Mama ya?" Aria dengan cepat mengubah posisi tangannya. Jika Rossa melongo dengan perubahan sikap Aria saat di depan Mala. Santo dan Amato nyaris tersedak ludah mereka sendiri, karena sejak tadi menahan tawa. Perut mereka sakit melihat bagaimana kanjeng mami menunjukkan kuasanya pada Aria, hingga pria itu sama sekali tidak berkutik di hadapan sang ibu.


"Ma...sudahlah. Jangan aneh-aneh. Siapa yang ngusir mama. Itu kan rumah mama sama papa Genta. Aria cuma numpang." Lirih Aria.


"Padahal sertifikat sudah atas nama dia." Kekeh Amato pelan, dengan Santo berusaha keras menahan tawa.


"Kalau begitu mama ajak Rossa pindah ke rumah ya."


"Yo gak bisa! Aria gak suka dia. Aria benci dia. Lagi pula gak etis, istri orang tinggal di rumah kita. Nanti gosip panas yang ada." Tolak Aria. Rossa menundukkan wajah mendengar penuturan Aria. Meski pedas tapi itu benar semua.


"Ya gampang saja. Minta Angga ceraikan Rossa. Lalu kamu nikahi dia!"


Aria melotot, Rossa menganga, Santo dan Amato kicep seketika, mereka tidak salah dengar kan? Kanjeng mami sudah memilih mantu untuk keluarga Aria Loka. Ini berita besar.


***


Up lagi readers. Jangan lupa tinggalkan jejak. Terima kasih.

__ADS_1


***


__ADS_2