My Sweet Journey

My Sweet Journey
Kepopers


__ADS_3

Senyum Hamzah mengembang melihat Nisa telah menunggu di depan rumah. Setelah memohon izin pada ayah Nisa, Heru Subagya, pria itu membawa Nisa ke salah satu mall yang ada di pusat kota. Heru melihat kepergian sang putri dengan lantunan doa dalam hati. Semoga kebahagiaan disematkan pada putri tunggalnya. Satu-satunya hal yang masih dia punya dalam hidupnya. Setelah kepergian sang istri sepuluh tahun lalu.


Sayangnya keinginan Heru mungkin tidak akan terwujud, setidaknya begitulah yang saat ini terjadi. Heru sama sekali tidak tahu jika Nisa sakit. Yang dia tahu, Nisa sering ke rumah sakit untuk memeriksa vertigo yang kerap gadis itu alami.


Hamzah dan Nisa sampai di pusat perbelanjaan, keduanya berjalan beriringan, tapi tetap menyisakan jarak di antara mereka. Tanpa menunda mereka masuk ke toko buku yang ada di lantai dasar. Memilah dan memilih buku yang akan Nisa gunakan untuk menambah materi mengajar di tempat Nisa bekerja.


"Ini bagus." Hamzah menunjuk sebuah buku dengan jarinya. Nisa tersenyum, memang buku itu yang tengah dicarinya. Melihat Nisa tersenyum, Hamzah semakin kesengsem pada sosok Nisa. "Apa aku harus maju sekarang?" Batin Hamzah, rupanya kakak Rossa ini tipe pantang menyerah juga. Berapa kali Nisa menolak halus pinangannya, tapi Hamzah tak berniat mundur. Dari apa yang terus dia doakan di sepertiga malamnya, tekad hatinya makin kuat. Jadi dia akan terus maju. Seolah tanda kalau jalur langit yang tengah dia usahakan tidak akan sia-sia.


Hamzah dan Nissa keluar dari toko buku dengan wajah riang. Mengobrol ringan tentang banyak hal. Tidak masalah jika kata iya belum terucap dari bibir Nisa, yang penting Hamzah masih bisa berdekatan dengan Nisa. Itu lebih dari cukup.


Kebersamaan Hamzah dan Nisa ternyata membuat satu orang meradang. Orang itu tadinya ingin menyapa Nisa, saat melihat gadis itu turun di parkiran depan mall. Namun siapa sangka, Nisa justru datang bersama Hamzah. Melihat sikap Hamzah, orang itu tahu kalau pria itu menyukai Nisa. Dan melihat tingkah Nisa, orang itu juga menyimpulkan kalau keduanya sudah lama dekat.


"Sialan! Aku suruh menggagalkan pernikahan Aria dia tidak mau. Tidak tahunya dia punya gebetan lain." Geram Yuna. Wanita itu tampak marah dengan dua tangan terkepal. Matanya terus mengawasi Hamzah dan Nisa yang masuk ke sebuah restauran Jepang di lantai dua. Satu lantai di bawahnya.


Yuna tentu tahu jelas seberapa besar aset Hamzah. Rossa yang menolak tegas bagian untuk mengurus toko, membuat Hamzah menjadi satu-satunya orang yang bakal menghandle toko emas keluarga Hutomo. Boleh dikatakan aset Hamzah setara dengan Aria, sebelas dua belas tajirnya.


"Ini tidak bisa dibiarkan! Mereka tidak boleh bersama. Aku sudah lama menahan diri, bersikap baik, tapi tetap saja orang lain yang mendapat untung." Benar-benar definisi tidak bisa bersyukur sama sekali. Entah sampai kapan Yuna bisa berubah, menyadari kesalahannya. Yang terjadi justru sebaliknya, sikapnya makin hari, malah bertambah parah.

__ADS_1


Dalam hal ini, Angga sama sekali tidak tahu. Yang dia tahu, Yuna seorang istri yang sedang berusaha memperbaiki diri untuk menjadi lebih baik, itu saja. Tanpa dia tahu kalau kelakuan Yuna sangat keterlaluan di belakangnya. Tidak tahu apa yang akan Angga lakukan jika tahu tindakan Yuna selama ini.


Beberapa waktu berlalu, Aria dan Rossa baru saja keluar dari kediaman Hutomo. Selain untuk mengunjungi orang tuanya, kedatangan ketiganya, Adnan juga ikut serta, untuk minta izin pada Zai, guna mengangkat Adnan menjadi putra Aria.


Zai tampak menghela nafas. Teringat sikapnya yang begitu jahat pada Adnan di masa lalu. Pria itu tampak menyesal. Apalagi melihat Adnan tidak marah padanya, setelah hal buruk yang pernah dia lakukan. Bocah itu tetap hormat dan sopan padanya. Seperti saat ini, Adnan asyik mengaji bersama Adinda dan Hamzah di mushala di tengah rumah besar tersebut.


"Jika kalian berniat begitu, ayah tidak bisa berbuat apa-apa. Sejak awal dia milikmu." Kata-kata Zai ditujukan untuk sang putri. Tidak ada dendam dalam hati Rossa setelah perdebatan mereka hampir enam tahun lalu. Rossa sendiri sadar kalau dia yang salah, karena itu dia cukup bersyukur sang ayah tidak memperpanjang masalah tersebut. Hubungan ayah dan anak pun kembali membaik.


Rossa sangat senang saat Aria minta persetujuannya untuk mengangkat Adnan menjadi anaknya sendiri. Satu hal yang sempat membuat Rossa dilema. Rossa takut kalau Aria hanya mau dirinya saja. Tidak ingin membawa Adnan.


Dalam pandangan Aria, seorang wanita yang mampu merawat anak yang tengah sakit, boleh dikatakan sendirian, bisa dibayangkan bagaimana keras perjuangan dan kukuh pendirian yang dia punya. Kesabaran dan ketekunan yang Rossa miliki ditambah keberadaan Adnan membuat pria itu jatuh hati dan memilih Rossa dari sekian banyak wanita yang pernah dia temui.


Urusan adopsi Adnan selesai, dengan izin dari Zai. Pengacara Aria mulai bergerak, mengurus semua ke pengadilan setempat, sekaligus mengurus perubahan status dua orang itu.


Jika hubungan semua orang mulai menunjukkan peningkatan menuju arah yang lebih baik. Hal sebaliknya justru terjadi pada Santo dan Nurul. Setelah urusan Adnan selesai, gadis itu menutup diri dari Santo. Tidak lagi mau diajak bertemu, tidak mau membalas chat apalagi telepon dari Santo. Si asisten robot jelas pusing tujuh keliling.


"Salahku apa sih?" Kata Santo sambil memandangi ponsel dengan logo apel yang abis kena gigit Zee. Apel e thok, hapenya mah gak kuat beli.

__ADS_1


Dan gumamam setengah gerutuan Santo di dengar Rossa yang kebetulan ada di dapur, sedang membantu bi Sumi masak makan siang. Sepertinya Santo tidak sadar dengan keberadaan Rossa.


"Kenapa Om?" tanya Rossa tiba-tiba. Santo terkejut, hampir melompat dari duduknya. Rumah masih sepi, Aria pergi dengan Mala dan Adnan mencari buku. Sedang Amato dan Shilda sedang pedekate, pedekate jalur halal.


"Eh gak apa-apa." Santo curhat pada Rossa? Ya tidak sopan. Tidak etis, begitulah yang ada di otak robot Santo. Rossa kembali ke dapur saat ponselnya berbunyi.


"Ya, Rul?" Leher Santo hampir patah karena menoleh terlalu cepat. Mencoba mencuri dengar pembicaraan Rossa dengan orang yang dia yakini adalah Nurul.


"Tapi aku harus izin sama mas Aria dulu. Nanti aku kabari lagi." Panggilan diakhiri, meninggalkan rasa kepo luar biasa di diri Santo.


"Aku harus kuntit teh Ocha." Batin Santo penasaran level akut. Well kita lihat, apa Santo mulai jadi kepopers jika berhubungan dengan Nurul.


***


Up receh readers. Jangan lupa tinggalkan jejak. Terima kasih.


***

__ADS_1


__ADS_2