My Sweet Journey

My Sweet Journey
Satu-Satunya


__ADS_3

Di sebuah kamar bernuansa pastel lembut, tampak seorang gadis berdiri di depan cermin. Menatap wajahnya sendiri pada pantulan benda persegi di hadapannya. Gadis itu menghela nafasnya berkali-kali. Dia tidaklah jelek-jelek amat. Tapi kenapa dia susah mendapatkan jodoh. Maklum usianya sudah 28 tahun, jadi dia sedikit risau tentang hal satu itu. Pendamping hidup.


Bahkan sang adik sudah lebih dulu mendapatkan tulang rusuknya. Meri menarik nafasnya dalam. Sebulan berlalu sejak Santo melamar Nurul. Sejak saat itu Meri jadi pendiam. Dia juga keluar dari pekerjaannya sebagai SPG, memilih mengajar di sebuah sekolah dengan basis agama. Dan beberapa hari ini kepalanya dipenuhi oleh ceramah seorang ustadz yang begitu ngena di hatinya.


"Jangan mencari manusianya, tapi carilah penciptanya."


Meri melihat ke arah tangannya, di sana ada selembar kain berbentuk segi empat, "Bismillah." Meri memantapkan diri untuk berubah, sedikit demi sedikit. Dia akan memulainya dari sini. Meri mulai menggerakkan tangannya, membuat kain segi empat itu perlahan menutup kepalanya dengan sempurna. Tidak ada celah yang terlewat. Semua terbalut dengan rapi.


Senyum Meri terbit, ada kedamaian tersendiri saat melihat dirinya dalam balutan hijab yang menutupi bagian depan tubuhnya. Gadis itu menarik sedikit bagian depan sisa hijabnya. Mengaitkannya ke sebelah kiri dengan sebuah pin menjadi pemanis tampilannya. Selesai. Meri menyelesaikan penampilan barunya bersamaan dengan ketukan pintu di kamar.


"Mbak....." Nurul terpukau melihat tampilan baru sang kakak. "Alhamdulillah," bisik Nurul terharu. Dua beradik itu saling pandang. Masing-masing tidak mampu menutupi gemuruh bahagia di dada.


"Semoga istiqomah." Doa Nurul tulus.


"Amiinn, bantu mbak ya." Pinta Meri. Nurul mengangguk cepat.


"Semoga jodoh mbak disegerakan." Meri tersenyum.


"Mbak lagi merayu mak comblangnya." Tawa seketika terdengar di kamar Meri. Meri berusaha berbesar hati, tidak merasa iri dengan apa yang Nurul dapat. Meri mulai menyadari, apa yang Nurul dapat sekarang tak lepas dari apa yang sang adik tanam dulu.


Nurul berhijab sejak masuk sekolah menengah, istiqomah sampai sekarang. Gadis itu begitu menjaga diri, baik dari segi penampilan juga sikap. Tidak pernah pacaran maupun dekat lelaki manapun. Hingga Santo, satu pria yang terlihat mengantar Nurul pulang hari itu. Santo, satu-satunya lelaki yang bisa membuat Nurul berkata iya, saat pria itu tanpa basa basi datang melamar.


"Berikan aku satu lelaki pilihan-Mu. Yang akhlaknya mampu membimbingku menjadi lebih baik." Kini doa itu yang selalu Meri panjatkan di tiap sujudnya. Berharap sang pencipta terbujuk dengan rayuannya.


Ayah dan Ibu Nurul nampak terharu dengan perubahan Meri. Mereka berharap putri sulung mereka bisa mendapat apa yang didoakan selama ini.

__ADS_1


Sedang di rumah sakit, bahagia tak terkira juga dirasa Heru dan yang lainnya. Nisa sadar dari keadaannya yang dinyatakan koma. Dua hari dua malam gadis itu terlelap dalam tidur panjangnya. Dalam keadaan koma itu, Nisa merasa mendengar suara seorang pria yang terus mengaji di sampingnya.


Nisa mengenal suara itu tapi tidak ingat siapa pemiliknya. Saat Nisa membuka mata, yang dia lihat adalah Aria. Pria itu kebetulan datang menjenguk Nisa. Heru tentu sangat bersyukur sang putri akhirnya sadar, meski dengan keadaan lemah.


Gumpalan darah di kepala Nisa berhasil di bersihkan dengan obat. Dokter Bimo menarik nafasnya lega. Sebab sangat beresiko jika Nisa harus masuk ruang operasi. Mungkin itu yang membuat Nisa bisa sadar dari komanya.


Namun raut wajah Heru seketika berubah, mengingat satu hal. Terlebih sorot mata Nisa yang terus melihat ke arah Aria. "Apa yang harus aku lakukan?"


Hamzah yang beberapa hari ini dekat dengan Nisa tampak heran. Tatapan Nisa padanya tampak berbeda. Hingga keheranan Hamzah mencapai puncaknya, saat Nisa bertanya, siapa kamu pada Hamzah. Semua orang tentu terkejut. Terlebih Heru dan Hamzah. Heru tahu pasti kalau Hamzahlah yang beberapa waktu terakhir banyak menemani Nisa.


Tim dokter segera melakukan pemeriksaan, dan hasilnya menyimpulkan kalau Nisa mengalami hilang ingatan. Meski tidak semua, hal terakhir yang dia ingat adalah Aria memutuskan perjodohan mereka. Aria seketika memejamkan mata. Terlebih saat dia melihat ke arah Rossa. Bisa dipastikan sang istri akan meminta hal antimainstream padanya. Hal rumit akan segera datang lelaki itu.


"Mas...bisa temani aku." Pinta Nisa lirih.


"Maksudmu apa? Maaf sebelumnya, tapi aku harus memberitahumu aku sudah menikah." Kata Aria tegas. Satu peringatan datang dari Rossa. Tidak bisakah dia sedikit berbaik hati pada Nisa, gadis itu sedang sakit.


"Sabar ya Bang." Rossa menepuk lengan Hamzah. Rossa tentu tahu bagaimana perasaan Hamzah. Lelaki itu hanya mengangguk pelan, melihat Nisa yang terus melihat Aria. "Ujian apa lagi ini ya Allah." Batin Hamzah setengah putus asa. Apa yang harus dia lakukan sekarang?" pertanyaan Hamzah sama dengan Heru.


"Banyak hal yang membuat Nisa hilang ingatan. Saat ini yang bisa kita lakukan adalah membuat mental Nisa tetap stabil. Buat dia senang. Itu akan membantu tubuhnya cepat pulih." Ucapan dokter Bimo semakin membuat runyam keadaan.


Jelas sekali jika Nisa ingin Aria ada di sampingnya. Tak peduli status pria itu yang sudah menikah. Berulangkali Heru menjelaskan, berulangkali juga Nisa membalas tidak percaya. Bahkan saat Heru menunjukkan foto pernikahan Aria dan Rossa, gadis itu tetap tidak peduli.


"Abi memang tidak setuju kan kalau Nisa bersama Mas Aria." Tentang Nisa saat sang ayah kembali menjelaskan kalau Aria sudah menikah.


"Bukan begitu, Nisa. Tapi ingatlah. Kamu sendiri datang waktu mereka menikah. Kamu menghadiri pesta pernikahan mereka." Lanjut Heru. Pria itu sungguh kehabisan akal untuk menjelaskan soal Aria.

__ADS_1


"Abi kenapa seperti....." Nafas Nisa terengah dengan jumlah oksigen menurun drastis. Heru tentu panik. Pria itu langsung menekan tombol yang terhubung ke nurse station.


"Nisa...Nisa.....tahan sebentar." Kali ini bukan hanya sesak yang Nisa rasa, tapi sakit kepala teramat hebat juga menghantam kepala Nisa. Gadis itu meringis menahan sakit sekaligus menahan sesak di dada.


Dua orang perawat datang langsung memberi pertolongan. Masker oksigen dipakaikan pada Nisa. Dengan satu perawat segera menghubungi dokter Bimo.


♧♧♧


"Jangan berpikir aneh-aneh." Kata Aria memeluk tubuh Rossa dari belakang. Keduanya ada di walk in closet. Sama-sama mengganti baju. Rossa kini mulai berani mengenakan baju tidur dari kain satin dengan tali tipis di pundaknya.


"Tapi dia cuma ingat kamu. Dan keadaannya Mas tahu sendiri." Parah, keadaan Nisa boleh dikategorikan akut, tindakan kemoterapi tidak lagi bisa dilakukan pada Nisa. Semua pengobatan kini hanya mengandalkan obat-obatan saja. Itu tidak akan cukup untuk melawan sel kanker di tubuh Nisa.


"Menemaninya aku masih mau. Tapi tidak lebih dari itu." Balas Aria membalik tubuh Rossa.


"Janjiku akan kupenuhi. Aku tidak akan melanggarnya. Meski kamu menangis darah, memohon padaku." Rossa membulatkan mata mendengar penuturan Aria.


"Kamu pikir aku tidak tahu apa yang otak baikmu ini pikirkan." Lanjut Aria. Dua pasang mata itu saling pandang. Hingga detik selanjutnya bibir Aria mulai menjelajahi bibir Rossa. Menciumnya lembut. Bersiap untuk membawa sang istri menikmati surga dunia yang sudah halal untuk mereka reguk.


"Aku harus bagaimana? Jika keinginan Nisa adalah menjadi pendampingmu." Batin Rossa bimbang. Teringat tulisan tangan Nisa dalam buku diari yang Rossa temukan di dalam tas gadis itu. Lancang memang, tapi bagaimana jika itu jadi keinginan terakhir Nisa, mengingat pembicaraan dokter Bimo dan prof Pujo yang tidak sengaja Rossa dengar.


"Kita tidak punya hal lain yang bisa dilakukan. Kankernya mulai menyebar ke paru-paru. Itulah kenapa dia sering sesak sekarang. Ini sangat gawat."


Air mata Rossa perlahan turun saat Aria mengerang setelah mencapai pelepasannya. "Aku akan menjadikanmu satu-satunya dalam hidupku." Bisik Aria sebelum melepaskan diri dari Rossa, memeluk tubuh sang istri lalu mulai terlelap ke alam mimpi, kelelahan.


***

__ADS_1


Up lagi readers. Jangan lupa tinggalkan jejak. Terima kasih.


***


__ADS_2