My Sweet Journey

My Sweet Journey
Habis Kau!


__ADS_3


Kredit Pinterest.com


Perkenalkan mama tak sayang Aria, kanjeng mami Nirmala Putri Loka, kembarannya Nurmala 🤭🤭


Mala tengah merebus daun singkong muda, setelah memberi sonde pada Adnan. Bocah itu duduk di kursi roda. Sambil menunggu waktu mandi. "Ibumu itu lo Le. Jadi orang kok baik banget. Disiram kopi panas kok diam aja. Kalau mbah sudah tak pithing tangane itu orang."


Mulailah sesi curhat Mala, dia memang biasa bicara apa saja pada Adnan. Menjadikan anak itu teman ngobrol. Meski Adnan hanya bisa mendengar. Tanpa bisa membalas curhatan Mala. "Le, nanti kamu ikut mbah ya, kalau mbah pulang. Kalau om Aria gak suka ibumu, mbah tetep mau bawa kamu pulang. Mau ya? Kalau siang sama mbah, kalau malam sama ibu." Lagi Mala mengoceh tidak karuan.


Setelahnya, wanita itu kembali berceloteh. Bercerita tentang apa saja. Tanpa Mala sadari, dua sudut bibir Adnan tersenyum, saat Mala bercerita soal ibunya yang salah memasukkan garam ke adonan roti, yang berakhir dengan Rossa yang dimarahi pembelinya.


"Ibumu yo aneh, biasane gula di toples biru. Kok ya nyomot di toples ijo (hijau). Yo asin rotine ibumu. Kena marah sama mbak Citra." Kekeh Mala. Senyum Adnan makin lebar. Kali ini dengan suara renyah yang terdengar. Mala tentu terkejut, ini tidak pernah terjadi.


"Kamu ketawa ya Le. Wah mbah senang sekali. Adnan bisa ngguyu sekarang. Ibumu pasti senang, dia sudah nunggu lama, lihat kamu sembuh. Bisa jalan, bisa makan bakso. Katanya Adnan suka bakso jumbo ya. Nanti mbah traktir, kalau Adnan sudah bisa makan." Sungguh tulus doa yang Mala panjatkan untuk Adnan.


Wanita itu dengan lincah memberi terapi pada Adnan. Menggerakkan sendi di tangan dan kaki Adnan. Bahkan Mala bisa melakukan oral terapi seperti yang Yocky ajarkan hari itu. Tangannya begitu terampil, seolah sudah biasa melakukan hal itu.


"Harusnya ibumu itu istirahat dulu. Tangannya masih perih, tapi tetap maksa mau kerja. Om Aria memang kebengetan. Tahu sakit masih disuruh kerja. Bukannya disuruh istirahar." Omel Mala pada Aria, si putra tak sayang mama.


Padahal yang terjadi sebenarnya, Rossa menolak cuti yang diberikan Aria. Bersikeras untuk tetap bekerja, Rossa meyakinkan Aria kalau dirinya baik-baik saja. Meski sampai sekarang masih sedikit perih, karena kulitnya mulai mengering. Pergantian kulit mulai terjadi. Kulit menghitam di siku Rossa akan segera di gantikan oleh kulit baru.


Jam istirahat datang. Rossa sudah menyelesaikan makan siang, juga kewajiban empat rakaatnya. Tarikan tangan Angga membuat Rossa masuk ke ruang kerja pria itu. "Lepas Mas, sakit!" Rossa menepis tangan Angga. Perih sekali rasanya.


Angga melihat tangan Rossa, ada darah di sana. Pria itu menahan tangan Rossa. "Kenapa tanganmu?" Beberapa hari ini Angga memang tidak menemui Rossa. Terlalu sibuk dengan pekerjaan, juga....Yuna. Tiap malam perempuan itu selalu menahan Angga di rumah. Caranya? Dengan memancing Angga untuk bercinta dengannya. Pria itu langsung tidur sampai pagi tiap kali selesai bertempur dengan Yuna.

__ADS_1


"Hanya kena minyak panas." Bohong Rossa. Angga memincingkan mata. Ingatan Angga kembali ke dua hari lalu. Saat itu dia tanpa sengaja mendengar pembicaraan Yuna di telepon. "Pastikan dia tidak menemui suamiku, dan mengadu."


"Apa ini ulah Yuna? Apa dia menyakitimu lagi?" Tanya Angga curiga.


"Tidak, Mas," Rossa menjawab dengan wajah pias. Perempuan itu tidak pandai berbohong sama sekali.


"Jangan bohong! Kamu sama sekali tidak bisa berbohong." Rossa menundukkan wajah. Dia tidak mau memancing kemarahan Angga. "Ini hanya kena minyak panas. Aku tidak bohong. Tanya ibu kalau Mas tidak percaya." Kali ini Rossa berusaha memasang wajah serius. Berharap Angga akan percaya.


Merasa bersalah karena mengabaikan Rossa beberapa hari ini, Angga melunakkan hatinya, tidak ingin berdebat dengan sang istri. Pria itu menarik nafasnya dalam. "Lain kali hati-hati. Aku tidak ingin kamu terluka. Maafkan aku beberapa hari ini tidak pulang. Aku...banyak pekerjaan." Kilah Angga memberi alasan.


Rossa tersenyum lega. Dia dapat membohongi Angga kali ini. Jika tidak, bisa dipastikan kalau Angga akan bertengkar dengan Yuna. Dia tidak mau itu terjadi.


Beberapa menit berlalu, Rossa keluar dari ruangan Angga, dia harus cepat sebelum karyawan lain masuk. Tanpa dia tahu, Aria muncul dari pintu sebelah kiri. Pria itu tampak kecewa, melihat Rossa keluar dari ruangan Angga. Haruskah dia memecat Angga? Tidak bisa menemukan jawaban, Aria hanya bisa berbalik dengan wajah kesal. Membuka tempat sampah lalu memasukkan paperbag berisi makanan yang sejatinya akan dia berikan pada Rossa. Makanan yang sengaja dia beli dari restauran tempat dia bertemu klien.


"Mubazir!" Maki Aria. Pria itu melangkah kembali ke ruangannya. Marah? Kenapa dia harus marah. Rossa adalah istri Angga, mereka bertemu tidak jadi masalah kan? Kenapa dia kecewa? Apa Aria cemburu? Pria itu menutup pintu ruangannya dengan keras.


"Jadi orang itu namanya Aria? Riffaldo Aria Loka? Kau yakin?"


Yuna mengakhiri panggilan teleponnya dengan wajah geram. "Dasar jallang sialan! Setelah merebut suamiku. Dia lalu menggoda pria lain. Belum kapok ya aku siram kopi panas." Maki Yuna.


Angga membulatkan matanya, mendengar Yuna menyiramkan kopi panas pada Rossa. "Jadi luka itu disebabkan oleh Yuna?" Marah Angga dalam hati.


"Apa itu benar? Kau menyiram Rossa dengan kopi panas?!" Pertanyaan Angga membuat Yuna ketakutan. Tidak menyangka kalau Angga ada di belakangnya.


"Aku....apa maksudmu? Aku tidak mengatakan itu." Yuna memundurkan langkahnya, cukup ngeri melihat wajah murka Angga. Melukai Rossa sama saja menggali kuburan sendiri.

__ADS_1


"Aku belum tuli! Aku dengar dengan jelas kau sendiri mengatakan sudah menyiram kopi panas pada Rossa. Masih mau mengelak?!" Mata Yuna membulat sempurna, Angga mencengkeram satu tangannya kuat. Yuna sampai meringis di buatnya.


"Mas, sakit!" Lirih Yuna.


"Katakan! Apa yang kau lakukan pada Rossa?!" Suara Angga meninggi, menandakan pria itu benar-benar marah.


"Aku tidak melakukan apa-apa?!"


"Bohong! Aku lihat tangannya memerah, apa itu ulahmu!" Pancing Angga. Dua orang tersebut saling pandang. Kemarahan Yuna ikut naik, selalu saja nama Rossa yang Angga bela. Tidak pernah sekalipun Angga melirik dirinya, kecuali saat ingin melampiaskan hasrat. Yuna jelas tidak terima akan hal itu.


"Ya! Aku memang melakukannya! Apa kau puas?! Dia berhak mendapatkannya! Dasar pelakorr!"


Plakkkk, satu tamparan mendarat di pipi Yuna. Angga memundurkan langkah. Cukup terkejut dengan apa yang dia lakukan pada Yuna. "Kau menamparku! Kau memukulku demi perempuan murahan yang setelah aku siram kopi panas, justru pergi dengan pria lain! Dia sama sekali tidak menghormatimu sebagai suami!" Teriak Yuna.


Mendengar Rossa pergi bersama pria lain, membuat Angga semakin naik pitam. "Kau bilang dia pergi dengan pria lain? Siapa?"


Yuna gelagapan, Angga kali ini mencekal bahunya dengan kuat. "Aria! Riffaldo Aria Loka! Pria itu yang membawa pelakor itu pergi."


Braakkkk


Terdengar pintu rumah yang ditutup dengan kasar. Bersamaan dengan mobil Angga yang melaju keluar dari kediaman pria itu.


"Habis kau kali ini!"


***

__ADS_1


Up lagi readers. Jangan lupa tinggalkan jejak. Terima kasih.


***


__ADS_2