My Sweet Journey

My Sweet Journey
Keraguan


__ADS_3

Aria tidak mampu menutupi rasa bahagianya saat menemui Rossa keesokan hari, pria itu bahkan tanpa sadar memeluk Rossa saking senangnya. Hal itu membuat jengah Shilda dan Amato yang juga ada di sana. Meski dalam hati dua orang itu juga merasa bahagia.


Aria menikah, mereka juga menikah. "Woelah, biasa aja kali." Celetuk Amato yang sejak tadi illfeel melihat tingkah bosnya. Aria hanya membuat mimik wajah kesal lima detik, setelahnya pria itu kembali asyik dengan Adnan. Sibuk bertanya apa yang bocah itu inginkan untuk kamarnya.


Home schoolling Adnan akan dimulai setelah pernikahan Aria dan Rossa berlangsung. Sebab Mala ingin Adnan belajar di rumah mereka. Lagi pula Adnan masih menjalani sesi terapi yang tinggal beberapa kali lagi. Juga penyempurnaan tampilan gigi Adnan tinggal sedikit.


Sedang Rossa dan Shilda sejak tadi sibuk menggoda satu sama lain, di dapur. Dua gadis itu saling senyum. "Beda kan rasanya?" tanya Shilda. Rossa menaikkan alisnya menanggapi pertanyaan Shilda. "Apanya?"


"Dengan Angga." Bisik Shilda, gadis itu takut kalau Aria mendengar ghibahan mereka. Rossa mengulum senyum. Jelas beda, waktu dengan Angga, pria itu hanya ingin menolong dirinya. Sedang Aria, Rossa bisa merasa kalau dia sendiri menginginkan pernikahan ini, untuk menyempurnakan agamanya, memenuhi fitrahnya juga untuk meneruskan keturunan. Satu ibadah paling panjang dan penuh berkah bagi mereka yang menjalani dengan penuh keikhlasan.


"Nur, you punya papa nyuruh kamu pulang." Suara Aria terdengar dari arah depan.


"Shilda juga. Orang mau dinikahin di rumah masing-masing kok ngantennya ngontrak." Amato menambahi.


Rossa mendengus geram, kalau dia pulang bagaimana Adnan. Shilda tidak masalah, dia di sini hanya menemani Rossa dan Adnan. Shilda pindah ke kontrakan Rossa setelah Mala pulang ke rumah utama.


"Adnan tidur sama Ayah, mau ya. Ibu mau pulang ke tempat mbah kakung." Jelas Aria pelan. Pria itu tahu Adnan sudah biasa dengan Rossa.


"Sama mbah Uti gak Yah?" Aria mengangguk. Senyum Adnan mengembang. Dia tidak masalah jika ada Mala, anak itu juga dekat dengan Mala.


Masalah restu selesai, giliran Mala dan Adinda yang bergerak bak kilat. Maklum Mala mempersiapkan dua ijab kabul di satu hari dengan jam berbeda. Aria dan Amato tidak masalah jika resepsi mereka digabung. Meski Amato sempat menolak, dia merasa tidak pantas disandingkan dengan Aria, mas bosnya.

__ADS_1


Sampai permohonan dari Mala membuat pria itu manut. "Sekalian ya Mat, kasihanilah kanjeng mami ini, jika harus berdiri dua hari berturut-turut. Pegel kaki." Untuk pertama kalinya, Mala mengakui panggilan kanjeng mami yang menurut wanita itu terkesan tua.


Untungnya Mama Shilda, Siti Rohaya tidak rewel. Dia cukup sadar dengan waktu yang tersedia, jadi dia ikut saja dengan pengaturan waktu dari pihak pria. Sementara untuk konsep pernikahan Amato dan Shilda diurusi oleh ibu Shilda. Lumayan meringankan beban kerja Mala.


Namun yang paling repot dengan pernikahan ini tentu saja pemilik Dreamaker Wedding Organizer, Archie Aodra Wijaya. Beruntungnya sang istri Alicia turut membantu, hingga gedubrakan mereka terarah.


Berkas masuk KUA, undangan langsung cetak, dan disebar. Tidak banyak yang keluarga itu undang ke pesta mereka. Hanya kerabat dekat, mengingat hanya satu bulan tersisa, menuju hari H.


Kesibukan yang mereka semua lakoni menuju hari H, membuat semua orang tidak sadar jika lusa adalah hari pernikahan. Aria yang ngebut dengan pekerjaannya, Rossa yang sejak pulang ke rumah jadi jarang bertemu Aria. Shilda dan Amato pun sama. Mereka tidak sadar jika status keempatnya akan segera berubah.


Rumah keluarga Aria, Shilda dan Rossa mulai berbenah. Rumah besar itu dihias dengan berbagai bunga. Meski untuk kediaman Aria tidak banyak hiasan yang dipasang. Sebab ijab kabul akan dilaksanakan di rumah mempelai wanita. Rumah Aria hanya mengadakan acara pengajian dan siraman.


Mala tampak terharu saat menjadi orang pertama yang menyiramkan air ke tubuh kekar Aria dan Amato bergantian. "Yuuhhh, anak kanjeng mami sudah pada mau nikah, mau ninggalin mami." Rajuk Mala sok drama. Dua pria yang bertelanjang dada itu mengulum senyum masing-masing. Lantas spontan mencium pipi kiri dan kanan wanita yang tampak cantik memakai kebaya biru langit.


"Jadi jangan tinggalin mama ya, kalian tinggal di sini saja. Jangan pindah." Pinta Mala.


Amato dan Aria mengangguk. Mereka memang sepakat untuk tinggal di rumah besar itu. Shilda sendiri tidak masalah, dia malah senang bisa tinggal bersama Rossa. Keluarga masing-masing pun sudah setuju dengan rencana itu. Tiga orang itu berpelukan sambil tersenyum.


"Kami tidak akan meninggalkan kanjeng mami, justru kami membawakan teman untuk mama." Kata Aria lagi. Sedang Amato, pria itu tampak tak banyak bicara. Dia terlalu terharu, sang paman bisa hadir dalam pernikahannya. Satu-satunya keluarga yang masih tersisa baginya.


Sementara itu, di rumah Yuna. Wanita itu tampak heran melihat Angga yang keluar dari walk in closet memakai batik senada dengan yang tengah dia pakai. Wanita itu sedang merias diri sendiri. Hari ini adalah hari penting untuk Yuna, pernikahan Rossa akan dia ubah menjadi bencana. Bujukannya berhasil, orang bersedia datang untuk memperjuangkan cintanya. Satu alasan yang Yuna lontarkan untuk merayu orang itu.

__ADS_1


"Kamu mau ke mana, Mas?" tanya Yuna.


"Bukankah hari ini pernikahan Aria. Aku mau ke sana, dia mengundangku, juga tante Adinda secara khusus memintaku datang."


"Sialan!! Kenapa wanita itu mengundang Mas Angga. Dia pasti sengaja, agar aku tidak bisa mengacaukan acara ini." Batin Yuna merutuki Adinda dalam hati.


Angga sendiri memang berniat datang, sebagai teman dia tentu merasa senang Rossa akhirnya bisa menikah dengan pria yang baik seperti Aria. Setengah menggerutu Yuna akhirnya berangkat bersama sang suami. Senyum Yuna mengembang, meski Aria kaya raya, tapi Angga juga tidak kalah. Yuna akan membuat Rossa iri dengan kebahagiaan mereka. Yuna tertawa membayangkan wajah kesal Rossa. "Kau pasti cemburu melihat mas Angga yang sangat mencintaiku." Batin Yuna percaya diri.


Sedang di venue pernikahan. Sepuluh menit sebelum acara ijab kabul. Semua tamu dan penghulu, juga rombongan Aria sudah datang sejak setengah jam lalu. Aria dulu yang akan melakukan prosesi ini, menyusul Amato dan Shilda tiga jam lagi. Dengan resepsi nanti malam di hotel milik keluarga Alicia, Alou Hotel.


Hamzah tengah berjalan menuju pintu depan saat melihat Nissa turun dari mobil bersama sang ayah. Ini kejutan, bagaimana bisa wanita yang sudah dia simpan dalam hati, ada di tempat ini. Terang saja Hamzah langsung menyambut kedatangan Nissa, mengulurkan tangan untuk menjabat tangan ayah Nisa.


"Mas Hamzah kenapa ada di sini?" tanya Nissa heran melihat tampilan Hamzah yang jelas menjadi bagian dari keluarga yang sedang punya hajat.


"Yang menikah adikku. Rossa." Nissa mematung mendengar pernyataan Hamzah.


"Mbak Rossa adalah adik mas Hamzah, ya Allah tegakah aku merusak kebahagiaan mas Hamzah yang sudah begitu baik padaku." Keraguan seketika menyerang hati Nissa. Dari kejauhan dia bisa melihat seorang wanita yang tersenyum penuh arti pada Nisa.


****


Up lagi readers. Jangan lupa tinggalkan jejak. Terima kasih.

__ADS_1


****


__ADS_2