My Sweet Journey

My Sweet Journey
Kesalahan


__ADS_3

Yuna mengira Angga akan mendatangi Rossa, memarahi istri sirinya itu habis-habisan. Yuna pikir bisa memperkeruh hubungan Angga dan Rossa, hingga dapat memisahkan dua orang itu. Akan bagus sekali. Yuna melebarkan senyumnya, membayangkan Angga menalak Rossa malam ini. "Setelah ini, Angga hanya akan jadi milikku." Batin Yuna dalam hati.


Namun yang dibayangkan Yuna tidak sejalan dengan kenyataan. Bukannya mencari Rossa. Angga justru kembali mendatangi Aria. Kemarahan pria itu sekali lagi membara pada Aria. Angga pikir setelah kejadian hari itu, Aria tidak lagi memikirkan sang istri, rupanya Angga salah.


Tidak pernah melihat Rossa dan Aria bertemu, membuat Angga mengira kalau ucapan Aria tempo hari hanya gertakan tanpa bukti. Ancaman tanpa tindakan. Angga membunyikan klakson mobilnya keras. Hal yang membuat Aria dan Amato saling pandang. Siapa lagi yang berkunjung tidak sopan malam-malam begini. Keduanya keluar dari ruang kerja. Berjalan menuju pintu depan.


"Orang yang hari itu, tuan." Lapor bi Sumi. Dahi Aria berkerut. Siapa? Pikir pria itu.


"Mau apa lagi?" Tanya Aria sengit. Bayangan Rossa dan Angga yang bermesraan di kantor membuat Aria meradang. Kali ini Aria merasa cemburu, tidak rela jika Rossa berdekatan dengan pria brengsekk seperti Angga.


"Kau berani mendekati Rossa lagi, apa kau lupa ucapanku hari itu?" Kata Angga marah. Amato menepuk jidatnya pelan. Ah elah masalah teh Ocha lagi alias Nur. Kenapa tidak habis-habis sih kemelut yang berhubungan dengan nona yang satu itu.


"Aku menolongnya dari wanita mengerikan yang ingin menyerangnya!" Aria tidak mau kalah. Apa Angga hanya mendengar dari satu pihak saja. Tidak membiarkan Rossa bicara? Ini keterlaluan.


"Kau pandai sekali bicara! Kau pikir aku tidak tahu...."


"Dia menyiram Rossa dengan kopi panas apa kau tahu?!" Pekik Aria tidak sabar.


"Aku tahu! Tapi ke...."


Ucapan Angga terhenti saat Aria mencengkeram kerahnya. "Dan kau dengan santai menanggapinya. Apa kau mengerti dia kesakitan! Dia ingin menangis tapi tidak berani!" Bentak Aria.


Aria seperti kehabisan akal saat ini. Aria bisa melihat bagaimana tertekannya Rossa. Aria paham, Rossa bisa melawan Yuna. Namun Rossa memilih diam, tidak ingin membuat suasana kacau bertambah parah.

__ADS_1


Angga sejenak tertegun. Kenapa Aria seolah mengenal Rossa lebih baik darinya. Kenapa keduanya jadi terkesan dekat sekali. Angga menepis cekalan Aria. Mendorong jatuh bosnya sendiri. "Jangan berlagak kau lebih mengenal dia dari pada aku!"


"Kalau begitu dugaanku benar. Kau sama sekali tidak mengenalnya. Apa kau berpikir dia kuat?"


Angga menatap tajam pada Aria. Diam, tanpa bisa menjawab. Rossa adalah pribadi yang kuat sejak Angga mengenalnya dari zaman SMA. Aria menyeringai melihat aksi tanpa suara Angga. Aria tahu jawabannya. "Lihat, kau bahkan tidak mengerti apa-apa soal istrimu. Apa kau hanya tahu menyenangkannya di atas ranjang? Tanpa tahu apa yang dia rasakan sebenarnya! Dia tertekan! Tidak bahagia dan satu lagi, dia jelas bukan wanita menye-menye yang hanya suka dibelai. Tapi kadang dia juga ingin dimengerti."


Angga mematung, dia tidak pernah berpikir soal hal itu. Angga hanya berpikir, Rossa selalu tersenyum saat bersamanya. Dia mengira sang istri bahagia. Apa dugaannya salah?


"Jangan sok tahu soal hubungan kami!" Satu pukulan mendarat di wajah Aria. "Aishh, kenapa sih muka gue yang terus kena pukul," gerutu Aria dalam hati. Tidak sempat menghindar, hantaman lain sudah mengenai perutnya.


"Angga, berhenti!" Amato melerai, pria itu menarik tubuh Angga menjauh. Namun Angga yang sedang marah, seperti orang kerasukan. Tenaganya bertambah kuat. "Kau brengsek! Dasar pebinor!" Maki Angga. Satu tendangan membuat Aria tersungkur ke tanah. Pria itu meringis menahan sakit.


"Duh kalau gak ingat ini orang. Sudah aku hajar pakai taekwondo-ku." Geram Aria dalam hati. Amato menahan tubuh Angga yang ingin menyerang lagi. Namun lagi-lagi Amato kalah tenaga. Angga berhasil melepaskan diri dari cekalan Amato. Dua orang satpam yang mendekat pun ikut kena tendang oleh Angga.


Aria dan Angga kembali siap adu jotos, jika saja teriakan Rossa tidak menghentikan keduanya. Aria dan Angga melotot, melihat Rossa kembali memanjat pagar rumah Aria. "Nur! Jangan manjat lagi napa sih?" Teriak Aria panik.


"Kenapa kamu ke sini? Adnan sama siapa?" tanya Angga, tanpa peduli pada ucapan Rossa.


"Ada ibu. Kenapa kalian berantem?" Rossa bertanya dengan tatapan tajam. Setelah memberi makan Adnan, Rossa sengaja pergi ke rumah Aria. Ingin membayar biaya pengobatan luka bakarnya kemarin. Menyerahkan uangnya lalu pulang. Itu saja, tanpa dia duga, Rossa justru menemukan Aria dan Angga saling pukul.


"Kamu ngapain ke sini?" Aria bertanya, meringis menahan sakit di beberapa bagian tubuhnya. "Pak Aria tidak apa-apa?" Rossa justru mendekati Aria.


Jantung Aria berdebar kencang, kala wajah cantik Rossa berada di depan wajahnya. "Astagfirullah, ampuni hamba yang naksir istri orang ya Allah." Batin Aria. Satu tangan Rossa terulur menyentuh wajah pak bos tukang paksa. Kulit halus Rossa begitu lembut saat bergesekan dengan kulit Aria. Satu obat yang akan membuat semua apotik tutup. Sentuhan Rossa bagai penawar, bisa menghilangkan semua rasa sakit yang Aria punya.

__ADS_1


"Ayo pergi!" Cemburu! Angga menarik Rossa dari depan Aria. Angga membawa Rossa keluar dari rumah bos mereka.


"Hai, kau mau membawanya ke mana?!" Aria mencekal tangan Rossa. Dua pria itu saling pandang dengan sengit. Dengan tangan Aria dan Angga memegang tangan Rossa. Menahan dan menarik.


"Beuhhh cinta segi telu (tiga) yang seru." Cicit Amato


"Jangan pernah ikut campur dalam rumah tangga orang lain." Angga menarik, Aria menahan. Dalam sekali sentak, tangan Aria terlepas. Pria itu hanya bisa menatap kepergian Rossa, tidak rela.


**


**


"Mas kita mau ke mana?" tanya Rossa dari belakang Angga. Keduanya naik motor Rossa, meninggalkan mobil Angga di rumah Aria. Tidak ada jawaban, pria itu diam seribu bahasa sejak keluar dari rumah Angga. Rossa mencoba sabar, dia tahu Angga sedang marah, tapi tidak tahu sebabnya.


Di sebuah taman yang cukup sepi, Angga memarkirkan Blacky. Tanpa kata, Angga menarik Rossa berjalan masuk ke taman. "Tunggu Mas, ini ada apa ya?" Aria menghentikan langkahnya. Menarik nafasnya dalam untuk meredakan amarahnya.


"Kenapa kamu tidak bilang kalau Yuna menyiramkan kopi panas padamu! Kenapa kau justru pergi bersama Aria setelah itu? Dan kenapa kau datang ke rumah Aria malam ini?! Aku ingin sebuah penjelasan!" Pinta Angga, sembari menatap tajam pada Rossa.


Rossa mendadak ciut nyalinya, semua yang diucapkan oleh Angga adalah kesalahan yang tidak sengaja dia buat sebagai seorang istri. Rossa merasa tidak jujur pada sang suami.


***


__ADS_1


Up lagi readers. Jangan lupa tinggalkan jejak. Terima kasih.


***


__ADS_2