My Sweet Journey

My Sweet Journey
Drama


__ADS_3

Katy menggeram marah, sudah satu jam lebih dia berputar-putar di kota. Mengikuti arahan dari kanjeng mami melalui Amato. Wk wk wk Katy dikibulin. Ya itu adalah ulah Amato atas persetujuan dari Mala.


"Soto yang di jalan A, nyonya mau itu." Pesan kedua dari Amato setelah Katy keluar dari sebuah restauran gudeg terkenal di pusat kota.


Katy masih tersenyum, berpikir kalau si kanjeng mami sedang ingin makan banyak. Atau sedang bosan dengan menu rumah sakit. Namun setelah itu berbagai permintaan masuk ke ponsel Katy. "Ayam geprek level 2 di jalan B."


"Bebek goreng haji Dargo di jalan C."


"Ayam goreng ibu Suharti di jalan D."


Katy berteriak marah saat itu juga. Apalagi setelah itu satu pesan masuk lagi ke benda pipih canggih itu. "Untuk dessertnya, Nyonya mau serabi Notosuman sama es teler 77."


Ponsel Katy hampir kena lempar. Perempuan berambut pirang itu melihat ke arah kursi belakang mobilnya, yang penuh dengan paperbag berisi semua pesanan Mala alias Amato. Itupun masih ada yang belum terbeli.


Katy mengumpat kesal, ingin rasanya mencabik-cabik wajah Mala. Namun otak warasnya masih bisa dia gunakan. Hufttt, Katy menghembuskan nafasnya pelan. Mulai melajukan mobilnya menuju tempat penjualan serabi paling hit di kota itu. Meski jaraknya cukup jauh.


Di rumah sakit, Aria sejak tadi menatap dongkol pada Rossa. Wanita itu benar-benar menguasai si mama tak sayang Aria. Dengan tangan terlipat, pria itu duduk diam serta tatapan penuh amarah. Dua wanita tersebut tampak akrab. Berbincang penuh canda, sesekali Rossa menyuapi Mala, sebab memang sudah waktunya makan siang.


"Menyebalkan!" Desis Aria. Pada akhirnya pria itu meraih laptop yang Amato ambilkan, mulai mengerjakan pekerjaan yang sejak kemarin terbengkalai. Pun dengan Santo, pria itu jelas kelabakan, tiga kantor yang harus dia handle.


Sementara Mala dan Rossa tampak tidak peduli, keduanya terus berbincang dengan obrolan seru mereka. Tentu hal itu terjadi setelah Rossa menghubungi Shilda. Menanyakan keadaan Adnan, sekaligus mengabarkan kalau dia akan pulang sore nanti. Satu hal yang membuat Nurul dan Shilda berucap syukur.


Kehidupan mereka dari kemarin dicukupi oleh Santo. Pria itu meninggalkan cash sejuta untuk membeli apapun yang diperlukan oleh dua gadis itu dan Adnan tentunya. Praktis Shilda dan Nurul tidak pulang dari semalam.


Tawa Mala dan Rossa terhenti saat pintu ruang rawat dibuka. Diikuti masuknya Katy dengan banyaknya paperbag di tangan wanita itu. Mata Katy menatap tidak percaya pada Rossa yang ada di kamar tersebut. Ditambah tadi dia sempat mendengar tawa renyah Mala yang sangat jarang terdengar.


"Kalian mengerjaiku ya?" Teriak Katy sebal.

__ADS_1


"Oohh makan siang sudah datang." Amato dengan santai mengambil beberapa paperbag yang berada di atas lantai. "Kau mau apa mas bos, San. Teh Ocha, kanjeng mami." Tawar Amato.


Rossa mengulum senyum mendengar panggilan Amato untuk Mala. Kanjeng mami tak sayang Aria, lanjut Mala. Dua orang itu terkekeh sambil melihat ke arah Aria dan Katy. Dua orang dengan raut wajah seperti ingin memakan orang.


"Kau wanita penggoda! Apa kau yang berikan sampai Aria membebaskanmu. Bu, dia menculik ibu, apa ibu tidak tahu." Kata Katy dengan wajah menggebu-ngebu. Marah, Katy jelas sangat marah.


"Sa....saya...."


"Dia tidak memberikan apa-apa. Dan tidak perlu memberikan apapun. Apa yang kau tahu soal hal yang kulakukan?" Tanya Mala. Aura perempuan itu sungguh berbeda saat bicara pada Katy.


"Bu...."


"Jika bukan kau yang menghasut Aria, Rossa tidak perlu tidur di penjara. Kau memang biang kerok. Berapa lama lagi kontraknya?"


"Dua bulan, Nya." Amato menyahut cepat bahkan sebelum Aria menjawab pertanyaan Mala.


"Jangan diperpanjang. Cari yang lain." Putus Mala. Mata Katy melotot serasa ingin keluar dari tempatnya. Dipecat? Katy tentu tidak percaya akan hal itu.


"Aku tidak mau. Bahkan jika Aria tidak setuju dengan keputusanku. Aku bisa menggunakan kekuatan 20% sahamku, dipabrik Aria."


Katy kehilangan kata. Ternyata Mala punya saham di pabrik Aria. "Mamppus kau!" Maki Amato lirih, pria itu sangat senang mendengar Katy dipecat.


Katy menggeram marah, melihat Rossa penuh dendam. Rencananya lagi-lagi berakhir pahit, bahkan kali ini dirinya sampai dipecat.


"Ar...." Mohon Katy pada Aria. Sedang yang dipanggil seolah tidak peduli. Pria itu masih asyik dengan pekerjaannya. "Aku mohon jangan pecat aku." Katy bersimpuh di depan Aria. Menyentuh tangan pria itu.


"Kau tidak dengar yang mamaku katakan. Dua bulan lagi, tidak ada toleransi. Aku tidak suka ada orang yang main kotor di pabrikku. Kau menguncinya di gudang, sengaja menabrakkan diri ke motornya. Lalu menaruh obat tidur di minumanku. Jangan kau pikir aku tidak tahu."

__ADS_1


Deg, mata Katy membulat. Bagaimana Aria bisa tahu semua perbuatannya. Aria menatap tajam pada Katy, lantas beralih pada Rossa. Pandangan dua orang itu bertemu. Hingga Rossa yang sadar lebih dulu. Memutus kontak mata tersebut. Aria sesaat masih menatap Rossa, hingga pria itu beralih melihat ke arah Katy. Sekali lagi menegaskan kalau keputusannya tidak berubah.


Apa yang bisa Katy lalukan, selain menatap penuh dendam pada Rossa. Sejak kemunculan wanita itu hidupnya jadi berantakan. Semua yang dia inginkan seolah dirampas oleh Rossa. "Satu lagi Katy, jangan pernah berpikir untuk menyakiti Rossa karena dia ada dalam perlindungan kami. Kau akan menyesal jika menyentuh dia." Satu peringatan keras datang dari Santo, tentu atas perintah Mala.


Katy mengepalkan tangannya erat sambil keluar dari ruangan itu. Mengabaikan teriakan Amato yang mengatakan kalau dia sudah mengganti uang yang digunakan untuk membeli makanan itu. "Nah makanlah. Jangan pedulikan anak ibu yang sedang merajuk itu." Kata Mala saat Santo menyerahkan dua paperbag pada Rossa.


"Saya nanti saja makannya. Mau pulang dulu." Pamit Rossa. Mala terdiam sesaat, hingga perempuan itu memberikan izin. Meminta Amato untuk mengantar Rossa pulang.


Rossa baru saja mencium tangan Mala untuk pamit, saat ponsel Santo berdering. Satu panggilan dari makhluk paling menarik bagi Santo.


"Ya...." Santo terdiam sejenak, mendengarkan suara di ujung sana. Mata Santo dengan cepat melihat ke arah Rossa.


"Kalian ada di mana? Kami akan menyusul." Nada suara Santo mulai menunjukkan kecemasan. Pria itu mendekat ke arah Rossa.


"Ada apa, Pak?" tanya Rossa bingung.


"Kita turun. Adnan...."


Tubuh Rossa lemas setelah mendengar apa yang dikatakan Santo. Perlahan Rossa berjalan keluar dari sana, setelah Mala menyuruhnya pergi.


"Drama! Pandai sekali dia berakting!" Cibir Aria, pria itu masih bergeming di tempatnya duduk.


"Drama? Turunlah, dan kau akan lihat drama yang sesungguhnya di sana. Di larang baper dan mewek." Kata Mala sambil mengusap air matanya sendiri. Wanita itu berdoa dalam hati semoga tidak ada hal buruk yang terjadi pada Adnan.


"Lindungi Adnan ya Allah." Doa Mala dalam hati.


***

__ADS_1


Up lagi readers. Jangan lupa tinggalkan jejak. Terima kasih.


***


__ADS_2