
Rossa terhuyung ke belakang saat Katy mendorongnya. Bola mata wanita itu membulat, bagaimana bisa Katy menemukan dirinya di sini. Padahal dia bertemu klien di lantai bawah, lalu berniat istirahat sebentar di kamar hotel, setelah menghubungi Aria untuk menjemputnya. Dia merasa pusing dan ingin muntah, sedang tes awal kehamilannya dinyatakan negatif. Nurul sudah mendaftarkan Rossa untuk berkonsul dengan dokter kandungan rekomendasinya sore ini.
"Kalian mau apa?" Tangan Rossa dengan cepat meraih ponselnya, melakukan panggilan pada Aria melalui kontak cepat, sebelum Katy menyadarinya. Panggilan tersambung, Rossa membiarkannya terhubung. Wanita itu lebih waspada pada Katy dan Nong Jee yang menatap lapar padanya.
Awalnya Katy dan Nong Jee ingin berkemas, sebab Mr Ang menghubungi mereka, ada job dadakan di Shanghai, yang selanjutnya disambung kontrak eksklusif, dan mereka harus berangkat siang juga. Tiket sudah disiapkan oleh agensi Shanghai. Namun saat tiba di hotel mereka melihat Rossa juga berada di sana. Bahkan keduanya melihat Rossa check ini, kesempatan itu datang. Sebelum ke Shanghai setidaknya mereka bisa bermain dulu dengan istri Aria itu.
"Dia seksi juga ya?" Kata Nong Jee dengan logat Thailand-nya.
"Mestilah, suami hot begitu masak istrinya gak." Sahut Katy cepat.
"Suaminya pasti ganas kalau di ranjang." Balas Nong Jee mesum. Dua wanita itu tertawa meninggalkan Rossa yang menatap jijik pada keduanya.
"Kalian sebenarnya mau apa sih?" pancing Rossa, wanita itu pikir harus mencari bukti kalau dua perempuan di depannya ini abnormal. Sementara di ujung sana, Aria sudah bergerak menuju hotel tempat Rossa.
"Cepetan Mat!" Pinta Aria panik.
"Ini sudah cepat, mas bos."
"Kalau sampai dia nyentuh bini gue sedikit aja, gue patahin tu tangan." Amato mendelik mendengar ucapan mengerikan dari Aria.
"Ngapain dipatahin? Biarkan aja mereka hancur di Shanghai. Bukankah itu lebih asyik. Siksa mereka sampai mampuss." Giliran Aria yang tertegun mendengar perkataan Amato.
"Sejak kapan lu jadi sadis bin kejam begini? Ketularan bar-barnya Shilda ya." Aria memicingkan mata. Amato hanya nyengir kuda menanggapi pertanyaan Aria.
__ADS_1
"Lepas!!" Rossa berontak saat Nong Jee menahan tubuhnya. Sementara Katy mulai beraksi. Astaga! Ini lebih mengerikan dari di rudaapaksa oleh pria. Bagaimana tidak? Yang berniat menyentuhnya perempuan tulen dengan kesintingan otak mereka.
Rossa bergidik ngeri, saat tangan Katy merayap di pahanya, menelusup masuk ke dalam dress panjangnya. "Kamu tahu akibatnya kalau menyentuh saya?!" Rossa mengulur waktu.
"Setidaknya kami tidak penasaran lagi." Katy dan Nong Jee tertawa bersamaan. Tatapan Katy kian menakutkan, seperti predator menemukan mangsa. Wanita itu mendekatkan wajahnya, ingin mencium bibir Rossa, tapi istri Aria itu memalingkan wajahnya. Alhasil leher mulus Rossa yang jadi korban.
"Wangi dan menggairahkan." Nong Jee hampir ngiler saat Katy mulai menurunkan dress Rossa yang terus berontak dan melawan. Namun dua perempuan yang tengah kerasukan setan itu seolah tidak terganggu. Perlawanan Rossa membuat dua orang itu semakin menggila.
Katy mulai menciumi dada Rossa di tengah jeritan Rossa yang sibuk beristighfar. "Gila Jee, ini manis sekali!" Jerit Katy, semakin membuat Nong Jee penasaran.
"Gantian!" Pinta Nong Jee. Saat itulah pintu didobrak dari luar. Aria yang masuk langsung naik pitam, melihat keadaan Rossa yang berantakan. Isak tangis sang istri membuat Aria meledak kemarahannya. Terlebih Rossa yang ditindih Katy dengan Nong Jee menahan tubuh sang istri.
"Orang gila!" Aria merangsek maju diikuti Amato, Edi juga dua orang bertubuh besar dengan wajah oriental yang kental.
Aria menarik tubuh Rossa, lantas memerintahkan dua orang itu dan Edi menangkap Katy dan Nong Jee.
"Orang gak waras beneran. Lihat bagaimana dia ngeliat kita, kek pecinta jengkol lihat rendang jengkol. Napsuu bener." Bisik Amato pada Edi, dengan Edi manggut-manggut membenarkan. Sementara Aria sibuk menenangkan Rossa yang terlihat shock dan trauma melihat rupa Katy dan Nong Jee.
"Dah bawa jauh sana. Pastikan mereka tidak akan kembali lagi." Perintah Aria memakai bahasa Mandarin dengan dialek Wu yang kental. Dialek Wu, dialek yang banyak digunakan oleh masyarakat kota Shanghai.
"Tapi tuan Alex Liu meminta kami membawa mereka ke...Macau, Hongkong." Bisik satu diantada dua orang Cina itu.
"Terserahlah. Yang penting mereka tidak gangguin keluarga gue." Tegas Aria. Dua orang itu mengangguk paham, lalu menyeret Katy dan Nong Jee keluar dari sana.
__ADS_1
Tidak ada perlawanan, sebab dua perempuan itu pikir, dua orang Cina itu bisa mereka goda. Edi menutup pintu, mengantar empat orang itu ke lantai bawah. Tepatnya ke basement, di mana sudah menunggu mobil van yang akan membawa mereka ke pelabuhan. Tidak, mereka tidak akan pergi dengan pesawat. Keenakan, kata Amar. Untuk perusuh kelas Katy dan Nong Jee, mereka harus diperlakukan sesuai harganya. Siapa yang tahu jika Mr Ang sesungguhnya menjual Katy dan Nong Jee orang itu dengan harga lumayan mahal.
Edi melambaikan tangan saat mobil van itu melaju meninggalkan hotel, menuju arah utara di mana pelabuhan berada. Sesaat Edi bergidik ngeri mengingat apa yang akan terjadi sebentar. "Astaghfirullah, Ya Allah ampuni kami yang terkadang khilaf." Edi berlalu dari tempat itu, menunggu di parkir valet mobil sang tuan. Meski dia datang dengan mobil yang berbeda.
Dan seperti yang dibayangkan Edi, sesuai perintah pemimpin triad yang merupakan bos dua orang Cina tersebut, mereka diperbolehkan menggunakan "barang baru" sebelum di lempar ke area perjudian dan klub malam yang ada di Macau. Empat orang itu bergumul panas dalam perjalanan menuju pelabuhan. Dengan si supir sesekali menelan ludah mendengar suara berisik dari arah belakang.
"Kenapa di lempar ke Macau?" Tanya Aria setelah membaringkan Rossa di kasur mereka. Cukup lama menenangkan Rossa yang trauma dengan perlakuan Katy dan Nong Jee padanya. Nurul yang turun tangan pun akhirnya memberi Rossa obat penenang, hingga Rossa bisa tidur dengan nyenyak.
"Mereka mengerikan! Hiii...." Bisik Nurul pada Santo sang suami. "Lebih ngeri aku gak sih?" Balas Santo dengan dua alis terangkat penuh kode. Nurul melengos denga bibir berdesis," Mesum!"
"Sorry semua keluar dari rencana semula. Aku pikir di Cina daratan ada triad yang bisa membuat mereka hilang tanpa jejak. Tapi Mbah Alex bilang, buang saja ke triad Macau di Hongkong. Biasanya jika sudah masuk ke sana tidak akan bisa keluar lagi." Jelas Amar dari ujung sama.
"Oh, okelah kalau om Alex bilang begitu. Yang penting mereka gak gangguin bini gue lagi. Trauma dia sekarang Mar." Keluh Aria.
"Ya jelaslah, siapa juga yang tidak takut sama makhluk jadi-jadian begituan. Gue yang laki aja jadi takut. Astagfirullah, ghibah kita." Tawa Amar terdengar renyah dari belahan bumi lain.
"Anyway thank's bro, dosa bagi dua ya."
"Emohhh! Lu tanggung semua dosanya sendiri. Gue TF nanti." Tawa menggema menjadi penutup percakapan dua pria beda negara satu ras itu. Setelah mengunci pintu, Aria naik ke kasur, hari masih siang. Aria hanya melepas kemejanya dan melepas gaspernya. Memeluk sang istri dari belakang.
"Semua sudah berakhir, sayang." Bisik Aria, mengecup pelan puncak kepala Rossa penuh cinta. Pria itu lantas membawa Rossa ke dalam pelukannya. Memasang alarm sebelum Ashar, sebab mereka ada janji konsul dengan dokter kandungan petang nanti.
***
__ADS_1
Up lagi reader, jangan lupa tinggalkan jejak. Terima kasih.
***