My Sweet Journey

My Sweet Journey
Benci


__ADS_3

Rossa berjalan cepat menuju ruang terapi, di mana Adnan sedang berlatih berjalan di sana. Seminggu berlalu, bocah itu mulai menunjukkan perkembangan yang kentara. Lupa membawa air minum, membuat Rossa harus kembali ke kamar rawat, mengambil air untuk sang putra.


Satu pesan masuk ke ponselnya. Aria...pria itu semakin sering berkunjung, tak jarang mengerjakan pekerjaan dari rumah sakit. "Aku menemani Adnan terapi." Begitu bunyi pesan yang masuk ke ponsel Rossa.


Rossa melambatkan langkah, menghindari pertemuan dengan Aria. Dia tidak mau menimbulkan gosip lagi. Urusan dengan Angga belum selesai, karena itu dia menahan diri untuk tidak dekat dengan pria mana pun. Rossa tetap pada pendiriannya, berpisah. Rossa akan menjalani hidup baru mulai saat ini bersama Adnan.


"Nisa...." Rossa melihat Nissa duduk di bangku taman. Wajah sendu dan pucat, itulah hal yang Rossa lihat pertama kali. Gadis itu berusaha tersenyum melihat Rossa duduk di sampingnya.


"Mbak di sini?" tanya Nisa, nampak gadis itu berusaha menyembunyikan kesedihannya.


"Adnan sembuh, dia sedang menjalani terapi dengan mas Yocky." Satu kebetulan, Yocky diterima bekerja di rumah sakit tempat Adnan dirawat. Jadi pria itu yang memberi terapi pada Adnan. Meski hal itu membuat Aria tidak senang. Cemburu? Mungkin saja.


"Benarkah? Alhamdulillah, selamat ya Mbak, doamu dan perjuanganmu tidak sia-sia." Senyum Nisa melebar.


"Alhamdulillah, Dia mendengarkan doaku juga mengabulkannya." Balas Rossa bahagia.


"Lalu apa yang kamu lakukan di sini?" Nisa menggeleng pelan. Satu tangannya menyembunyikan selembar kertas yang baru saja dia dapat dari seorang dokter. Rossa tampak mengamati wajah Nisa. Wanita itu pikir kalau wajah Nisa semakin tirus akhir-akhir ini. Namun Nisa selalu menjawab kalau dirinya baik-baik saja tiap kali Rossa bertanya.


"Oh iya Mbak, bisa aku melihat Adnan, dia pasti senang sekali sekarang." Rossa mengangguk pelan. Lupa kalau di sana ada Aria.


"Ayo Nan, sedikit lagi!" Yocky menyemangati Adnan. Bocah itu sedang berjalan di antara dua batang besi yang digunakan Adnan sebagai pegangan. Di ujung sana menunggu Aria dengan dua tangan terbentang. Senyun Adnan terlihat jelas.


"Yeaahhh, pintarnya anak ayah." Puji Aria saat bocah itu menyelesaikan terapinya. Yocky mengusap kepala Adnan. Pria itu juga tidak percaya jika Adnan bisa berjalan sekarang.


"Hebat Nan." Yocky memberi semangat pada anak itu.


"Lagi ya Om." Pinta Adnan antusias.


"Besok lagi ya. Lihat, tidakkah di sini terasa sakit?" Yocky menyentuh pergelangan kaki Adnan sedikit menggerakkannya. Adnan meringis kecil.


"Kan sakit. Jadi besok lagi. Sebentar ya, Adnan akan bisa berjalan lagi. Percaya sama Om." Bujuk Yocky. Aria pun turut membujuk, hingga bocah itu pun luluh.


"Adnan lihat siapa yang datang." Mata Aria dan Nisa bertemu. Tidak menyangka akan bertemu di sini. Aria terdiam melihat interaksi antara Rossa dan Nisa. Terlihat jika keduanya saling mengenal dan akrab.


"Mas Aria ada di sini? Tanya Nisa dengan suara tertahan.

__ADS_1


"Ayah kenal tante itu?"


Deg, jantung Nisa berdebar mendengar Adnan memanggil ayah pada Aria. Ayah? Apa Aria dan Rossa adalah suami istri. Salah paham masuk ke hati Nisa. Apa dia sedang mengharapkan suami orang? Nisa seketika melihat ke arah Rossa yang langsung menggeleng. Seolah tahu apa yang ada di pikiran Nisa.


Rossa membawa Adnan untuk mandi dan ganti baju. Sementara Aria tampak acuh pada Nisa.


"Bisa kita bicara, Mas?" Nisa bicara.


"Apa yang ingin kamu tahu?" Aria pun seolah tahu apa yang Nisa pikirkan.


"Kalian, apa punya hubungan?" Nisa selalu saja gemetar tiap berhadapan dengan Aria. Pria yang telah lama menempati sudut kecil di hatinya. Satu ruang yang sengaja dia sisihkan setelah sebagian lainnya dia berikan untuk pencipta-Nya.


"Menurutmu bagaimana? Maaf Nisa kembali aku tegaskan. Aku menolak perjodohan ini. Carilah pria yang tulus mencintaimu. Dan itu jelas bukan aku." Ruang terapi sudah sepi, Yocky sudah masuk ke ruang staf di bagian dalam tempat itu.


Nisa mencoba tegar mendengar penolakan Aria untuk kesekian kalinya. Aria berlalu dari hadapan Nisa. Pergi ke kamar Adnan, karena dia seperti biasa akan ngantor dari sana. Aria baru saja membuka pintu ketika Rossa berjengit kaget di depan benda persegi itu.


"Nguping ya?" todong Aria.


"Nggak. Botol minum lupa." Cengir Rossa berusaha bersikap biasa saja.


"Apa yang kau dengar?" tanya Aria blak-blakan.


"Apanya?" Rossa balik tanya.


"Jangan bohong. Aku lihat kau di sana. Kepo bener." Rossa manyun mendengar ucapan Aria.


"Jadi orang kok kejem banget." Aria menghentikan aksinya yang ingin membuka pintu kamar Adnan. Senyum samar tercipta di bibir Aria. Rossa mendengar pembicaraannya dengan Nisa.


"Lebih kejam mana? PHP-in dia atau aku bicara jujur sejak awal. Kau seharusnya tahu aku itu seperti apa."


"Tidak punya perasaan." Lirih Rossa sambil memalingkan wajah.


"Apa? Katakan sekali lagi."


"Tidak ada!" Rossa menarik Aria mundur, dia kemudian masuk ke kamar Adnan. Di sana ada Mala yang terlihat baru saja sampai.

__ADS_1


Mala dan Adnan mulai berbincang soal terapinya tadi. Sedang Rossa masuk ke kamar mandi. Membersihkan diri. Aria masuk tak lama, setelah mencium kening Adnan pria itu kembali pada pekerjaannya.


"Nurmala Alika Rossa Hutomo." Mala tersenyum mengetahui siapa Rossa sebenarnya.


Tak berapa lama pintu diketuk dengan satu baris salam terdengar. Ketiganya kompak menjawab. Bahkan Adnan dengan lancar mampu membalas salam. Jika Aria tampak biasa saja dengan orang yang berjalan menuju brankar Adnan. Tidak dengan Mala. Pun dengan Nisa. Keduanya cukup terkejut dengan kehadiran satu sama lain. Keberadaan Mala semakin memperkuat dugaan Nisa kalau Rossa punya hubungan dengan keluarga Aria. Lalu kenapa Rossa diam saja saat Nisa bercerita kalau Aria sudah dijodohkan dengannya. Apa wanita itu sengaja melakukannya, untuk mengorek informasi dari Nisa.


Lain Nisa, Mala langsung melayangkan tatapan tajamnya pada Aria. Pria itu mengedikkan bahunya acuh. "Apa Rossa tahu soal perjodohan Aria dan Nisa. Baru juga mau merancang hari baru, eh rintangan datang mak pecungul." Batin Mala berusaha memasang tampang ramah.


Nisa mencium tangan Mala, dengan Adnan mencium tangan Nisa. Obrolan basa basi pun mengalir. Baik Nisa maupun Mala hanya bicara soal Adnan juga sedikit cerita bagaimana gadis itu dan Rossa bertemu.


"Eh Nisa, aku pikir kamu pulang." Rossa menyapa setelah menyelesaikan ritual mandinya. Aria sejak tadi tidak berani mengangkat wajahnya. Takut tergoda dengan tampilan Rossa. "Nih kalau aku dah ada hak. Pengen tak bungkus rapet kek lemper." Batin Aria kesal.


"Ini bagaimana ceritanya?" Mala berbisik saat wanita itu membiarkan Nisa dan Rossa berbincang.


"Sepertinya mereka saling kenal."


Aria meringis pelan saat Mala mencubit pinggangnya. "Jangan sampai Nisa mengacaukan rencana Mama."


"Apa tu?" tanya Aria penasaran.


"Menjadikan Rossa istrimu!"


Uhukkk, Aria tersedah teh botolnya. Pria itu menatap tajam pada si mama tak sayang Aria, tapi kenyataannya sayang sekali.


"Jangan ngaco mama ini."


"Eleh sok jual mahal. Kamu benci kan sama Rossa." Aria semakin tajam memandang kanjeng mami.


"Benci....benar-benar cinta."


***


Up lagi readers. Jangan lupa tinggalkan jejak. Terima kasih.


***

__ADS_1


__ADS_2