
Beberapa hari berlalu, Rossa masih terngiang perkataan Nisa yang sudah dijodohkan dengan Aria. Ada perasaan tidak rela dalam diri Rossa. Adakah dia mulai suka pada Aria? Tidak, dia tidak boleh suka pada Aria. Suka dan cinta akan dia berikan pada suaminya kelak. Bukan pada suami sirinya sekarang. Pernikahannya dengan Angga bertujuan untuk menolongnya dan Adnan waktu itu.
Adapun Rossa semakin kekeuh minta pisah pada Angga. Dan pria itu bersikeras belum mau melepas dirinya. "Jika dia adalah Aria. Aku tidak sudi melepasmu."
"Ini bukan soal Pak Aria atau siapapun pria di luar sana yang akan jadi jodohku. Tidakkah mas paham dengan apa yang kuinginkan. Mas sekarang harus fokus pada mbak Yuna. Perhatikan dia. Aku, insyaallah bisa hidup mandiri sekarang."
Angga menatap tajam pada Rossa. Bukan karena Aria, Rossa tetap minta diceraikan. Pria itu benar-benar di persimpangan. Cinta dan rasa ingin menolong yang Angga punya sangat besar. Bagaimana dia harus bersikap sekarang? Haruskah dia melepas Rossa? Sebab sejatinya dia juga tidak ingin pernikahan sahnya hancur. Dia ingin membangun rumah tangga yang harmonis dengan Yuna. Hati Angga dipenuhi kebimbangan.
"Mas, bukankah sebenarnya secara agama kita sudah berpisah. Selama ini...kita tidak pernah memberikan nafkah batin satu sama lain. Maaf, tapi itu kesalahanku. Aku yang berdosa dalam hal ini." Kata Rossa.
"Aku memang tidak pernah memintanya. Jadi jangan merasa bersalah, dosamu masih aku yang tanggung."
"Karena itu lepaskan aku. Agar bebanmu berkurang." Mohon Rossa.
**
**
"Nisa...tunggu dulu." Seorang lelaki dengan perawakan tinggi besar, wajah khas lokal, hidung mancung. Kulit coklat eksotik, tampak berlari ke arah gadis cantik berhijab.
Hamzah Fahlevi, pria yang sudah lama memendam rasa pada Nisa. Berulang kali ditolak, tapi Hamzah tetap berdiri tegak pada pendiriannya. "Aku tidak sedang mendekatimu, tapi aku sedang berusaha menggapai ridho-Nya melalui dirimu."
Nisa mendengus kesal melihat kegigihan Hamzah. Tidakkah lelaki itu lihat, banyak yang menyukai Hamzah, tapi pria itu sibuk menempel padanya.
"Jauhi aku! Ini tidak baik." Judes Nisa.
"Aku menemuimu bukan tanpa tujuan. Mendekatimu? Aku tidak melakukannya melalui jalur darat. Tapi jalur langit yang kutempuh. Aku tidak merayumu. Tapi aku merayu penciptamu."
Jika ucapan Hamzah ini ditujukan untuk gadis lain, percayalah, tanpa diminta dua kali, gadis itu akan mengangguk iya atas ajakan membangun mahligai rumah tangga bersama Hamzah. Tapi ini Nisa, hatinya hanya hangat pada Aria. Lain, dia tidak melihat.
"Aku tidak akan mau denganmu!"
"Isshh, jangan dijawab sekarang. Aku percaya, doa yang kulangitkan tidak akan kembali dengan kehampaan. Pasti ada jawabannya."
__ADS_1
"Jawabanku tidak, Hamzah."
"Hey nona manis, ini undangan pengajian, masak jawabanmu masih tidak. Bukan undangan pernikahan...kita."
"Hamzah....." Teriak Nisa. Dia sungguh benci pada kegigihan Hamzah. Nisa takut pada hasil ketekunan Hamzah padanya, keberhasilan pria itu dalam meluluhkan hatinya.
Hamzah tersenyum manis mendengar gerutuan Nisa. "Maaf Hamzah, aku tidak ingin membuatmu menderita. Aku ingin dia yang menemaniku di akhir perjalananku."
Sementara itu, Aria tengah berjalan menuju parkiran. Hari ini dia keluar lebih lambat dari biasanya. Katy sedikit membuat keributan di set photoshoot yang mereka adakan. Hingga dia harus membereskan hal itu.
"Kenapa Nur?" Aria reflek bertanya saat Rossa berdiri di tepi jalan, dengan Blacky tampak diutak atik oleh Shilda.
"Macet pak bos. Gak pernah serpis tapi digeber terus." Sahut Shilda cepat. Rossa hanya bisa nyengir sambil menggaruk kepalanya.
"Katanya besti tapi gak pernah dirawat. Jahat kamu, Cha."
"Sorry lah, sorry. Sekarang bisa hidup gak. Kalau gak aku tak nyari ojek. Mau beli susu nih buat Adnan."
"Eh gak perlu, Pak bos."
"Jangan membantah!" Baik Shilda maupun Rossa sampai melompat kaget. Aura Aria kalau mode preman on, mengerikan.
Shilda melambaikan tangan, saat mobil Aria lewat di depannya. "Duh Cha, semoga gak ada masalah lain, dari problem ini." Kata Shilda ambigu. Singkat kata, Aria mengantar Rossa pulang. Singgah di apotik untuk membeli susu Adnan. Wanita itu sangat senang, sebab tadi pagi dia diberi hadiah senyuman oleh sang putra. Karena itu hari ini dia ingin pulang cepat. Siapa tahu dia mendapat senyuman lagi setelah sampai rumah.
"Sudah, Pak." Rossa menunjukkan empat dus susu, cukup untuk dua minggu ke depan. Senyum Rossa mengembang sempurna. Hal yang membuat Aria ikut senang.
Tanpa sadar tangan Aria mengusap lembut kepala Rossa. Rossa terdiam di tempatnya. Hatinya menghangat hanya dengan perlakuan sederhana Aria. "Pak bos, pria ini bisa membuatku nyaman."
"Aku ingin selalu membuatmu tersenyum, Nur. Seperti namamu, senyummu seperti cahaya yang menyinari kegelapan hidupku. Kamu adalah pelita yang menungguku di ujung jalan."
Dua orang tersebut saling tersenyum. Sebuah senyuman yang menjadi tanda, kalau hati mereka mulai terisi satu sama lain.
**
__ADS_1
**
Katy berjalan masuk ke kantor Aria, tampak tergesa-gesa. "Ar...Aria....aku tadi melihat mamamu." Satu kalimat yang membuat Aria menghentikan pekerjaannya.
Sudah dua bulan ini, dia selalu membuntuti Santo, hasilnya nihil. Dia tidak menemukan jejak kanjeng mami tak sayang Aria dari si asisten robot. Zonk, semua jalan sudah dia tempuh. Tapi tidak menghasilkan apa-apa.
"Jangan bercanda kamu! Aku berbulan-bulan mencari tidak ketemu."
"Ikutlah denganku. Aku tahu di mana mamamu tinggal." Bujuk Katy. Kali ini dia harus membuat Aria bertemu mamanya. Setelah acara bujuk membujuk yang lumayan sulit. Akhirnya Aria mau ikut dengan Katy. Membawa serta Amato untuk berjaga-jaga. Siapa tahu, Katy kembali berbuat hal tidak baik seperti hari itu.
Sepanjang perjalanan, Aria dan Amato saling pandang, bukankah ini jalan menuju rumah Rossa. Kenapa Katy pergi ke daerah kontrakan Rossa. Apa yang sedang Katy rencanaka?
Mobil Aria berhenti di sekitar rumah Rossa. Saat itu banyak orang yang berkumpul di depan rumah Rossa. "Ada apa? Bukannya Nur lagi kerja." Tanya Aria. Waktu itulah, mereka melihat Mala yang digotong oleh beberapa orang. Kontan Aria berlari menyusul sang mama.
"Mama....Ma....apa yang terjadi?"
Semua orang melongo melihat Aria. Mereka tidak kenal Aria. "Kamu siapa?"
"Saya anaknya. Ini mama saya."
"Jangan bohong kamu! Dia ini ibu Mala, ibunya mbak Rossa."
Mata Aria membulat, bagaimana bisa mamanya menjadi ibunya Rossa. Pertanyaan itu berputar di kepala Aria. Bahkan saat Mala dibawa ke rumah sakit. Aria terus mengekor, pria itu yang membayar semua biaya pengobatan Mala.
"Aria...apa kamu tidak berpikir kalau Rossa sengaja menahan mamamu di rumahnya, untuk menjeratmu, misalnya."
Katy mulai menjalankan siasatnya. Rencana licik yang sudah lama dia persiapkan.
***
Up lagi readers. Jangan lupa tinggalkan jejak. Terima kasih.
***
__ADS_1