My Sweet Journey

My Sweet Journey
Bahaya


__ADS_3

Meri menatap iba pada Yuna yang dikurung di kamar rawatnya. Tangan Yuna dibalut kasa. Wajah dan tubuh Yuna sudah berubah. Wajah wanita itu tampak kusam, dengan tubuh terlihat kurus. Angga hanya bisa menghela nafas. Keadaan Yuna sungguh menyedihkan. Terlebih dokter Kanti baru saja menceritakan apa yang Yuna lakukan. Hati pria itu semakin sedih.


Dalam kepedihan yang Angga rasakan, tiba-tiba ada satu suara yang membuat hati Angga sedikit tenang. "Mas yang sabar. Mas pasti bisa lalui ini." Senyum Angga mengembang. Ada damai saat Angga menatap wajah Meri. Tampilan Meri mampu menyejukkan hati Angga yang sedang gundah.


Setelah berpamitan pada Yuna, meski tidak ada respon. Dua orang tersebut pamit pada dokter Kanti dan staf. Pria itu menunduk sembari minta jika kelakuan sang istri merepotkan banyak orang. Dokter Kanti tersenyum menanggapi sikap Angga. Tak banyak keluarga pasien yang bersikap demikian. Bahkan ada yang justru meninggalkan anggota keluarga mereka begitu saja, setelah masuk ke tempat itu. Tidak pernah berkunjung untuk menengok keadaan famili mereka.


"Jadi begitulah keadaanku. Sekarang terserah bagaimana kamu menilaiku. Satu hal yang pasti, aku tidak pernah ingin menipumu dan keluargamu." Meri hanya terdiam mendengar perkataan Angga. Keduanya tengah berada di sebuah restauran untuk makan siang.


"Lalu yang mengurusi Mas siapa?" tanya Meri.


"Ada ART, cuma kalau aku sudah pulang. Dia juga balik. Pagi-pagi datang lagi." Angga tidak mau ada rumor tak sedap berkembang. Meski mbok Ati sudah berumur tapi bisa saja mulut lemes tetangga menjadikan hal itu bahan ghibahan. Angga tidak ingin hal tersebut terjadi.


Meri kembali diam. Gadis itu memperhatikan tampilan Angga. Untuk baju masih rapi, tapi wajah dan Meri yakin, tubuh Angga tidak terawat dengan baik. Baru kali ini, Meri bisa melihat wajah Angga dari dekat, tampan. Bahkan dengan wajah kusut masainya Angga terlihat rupawan, bagaimana jika sudah kinclong, apa ya Meri gak tambah kesengsem.


Aisshhh, pikiran Meri malah berpikir yang tidak-tidak. Padahal mereka ada di tempat yang ramai. Ternyata ungkapan setan ada saat kita berduaan dengan lawan jenis tak sepenuhnya benar. Kenyataannya para setan itu masih bisa menggoda di tengah keramaian. Borongan kali ya godainnya. Sekali gerak semua masuk perangkap.


"Aku minta waktu Mas. Akan kupikirkan jawabanku." Ujar Meri saat mereka berhenti di depan rumah gadis itu.


"Bismillah, semoga jawaban baik yang aku terima. Assalamu'alaikum." Angga berpamitan setelah mencium tangan ayah dan ibu Meri. Angga sangat santun, sama seperti Santo. Tubuh tinggi Angga masuk ke dalam mobil Toyota Rush, setelah menganggukkan kepala, pria itu menjauh dari rumah Meri.


"Semoga niat baikku, mendapat balasan yang baik juga. Aku ingin memiliki keturunan yang in sya Allah Qurrota a'yun (keturunan yang mengerjakan ketaatan, sehingga dengan ketaatan itu mampu membahagiakan orang tuanya baik di dunia maupun akhirat). Amiiin." Angga mengusapkan tangannya ke wajah. Berharap kalau doa-doanya akan diijabah oleh junjungannya.


Di rumah Aria, teriakan Amato melengking, hingga terdengar hampir di seluruh kediaman besar itu. Shilda positif hamil. Bisa dibayangkan bagaimana sombongnya Amato sekarang.


"Lihat! Iya aku yang terakhir jebol gawang. Tapi lihatlah, aku yang lebih dulu bisa nyetak Amato junior." Ucap pria itu dengan dagu terangkat tinggi.

__ADS_1


Aria dan Santo hanya melengos lantas saling pandang. "Yeaahh, punya junior duluan. Berarti lu siap sengsara duluan." Amato kicep mendengar balasan menohok dari Aria.


"Kok gitu?" tanpa sadar Amato bertanya.


"Lu lihat Shilda sekarang." Amato melihat ke arah wastafel di mana sang istri muntah hebat, sejak Shilda dinyatakan positif hamil. Wanita mual, muntah tak kenal waktu. Shilda jadi lemas. Bahkan tak jarang tengah malam masih muntah.


"Ini baru permulaan. Lu dah puasa berapa hari?" Santo mulai mengompori. Alis pria itu terangkat.


"Belum lagi kalau lahiran, 40 hari full palang merah. Lu nyusuu aja gak bisa. Sebab sudah dimonopoli anak lu." Wajah Amato berubah pias. Baru juga tiga hari puasa, kepala Amato sudah nyut-nyutan. Kepala atas juga bawah.


"Kok bisa sih?" Kini pria itu bersandar lemah pada sandaran sofa. Mimik memelas sudah tergambar di wajah Amato. Aria dan Santo diam-diam mengulum senyumnya. Mereka senang bisa membalas kelakuan Amato. Bisa nyetak Amato junior aja sombongnya minta ampun.


Beberapa menit, dua pria itu membiarkan Amato menikmati bayangan nelangsanya soal puasa lama. Hingga tatapan mata Aria dan Santo bertemu. "Tapi aku punya rahasia nih buat ngakalin puasa lama itu."


"Ini beneran?" Suami Shilda itu balik bertanya, ingin meyakinkan kalau yang dia dengar benar.


"Betul, kalau gak percaya nanti tanyakan sama dokter kalau periksa. Pasti dia bilang boleh."


Yessss!!! Amato kembali bersorak senang. Terdengar suara muntah dari kamar Shilda. Kali ini Amato berlari masuk ke sana. Meninggalkan Aria dan Santo yang terbahak, sambil memegangi perut masing-masing.


"Hayoo!! Kalian lagi ngapain?" Suara Nurul membuat dua pria itu kicep. Di depan mereka ada istri Santo yang berdiri sambil berkacak pinggang. Menatap penuh selidik pada Aria dan sang suami.


"Bojomu galak ya?" (Istrimu galak ya)


"Di luar kamar thok. Di dalam kalem." Balas Santo sambil berbisik. Dua pria itu mengulum senyum masing-masing, hingga membuat Nurul semakin curiga. Namun detik selanjutnya, Nurul berlalu masuk ke kamar Shilda begitu mendengar suara wanita itu muntah lagi.

__ADS_1


"Kapan kamu bobol gawang dia?" tanya Aria sambil mengulik ponselnya.


"Malam itu juga aku jebol. Halal ini, ngapain pake ditunda. Menuntaskan rasa kepo dan penasaran soal kata bercintta." Balas Santo songong.


"Loh kok sama." Dua pria itu kembali tertawa. Mengabaikan tatapan bingung Adnan dan Dewi dari ruang tengah. "Mereka ngomongin apa sih Umi?" Adnan dengan polosnya bertanya.


"Ohh soal pekerjaan, Nan." Adnan membulatkan mulutnya. "Perasaan setelah nikah malah jadi gesrek semua." Batin Dewi sesekali mencuri pandang pada foto Hamzah yang ada dalam pernikahan Rossa dan Aria. Tiba-tiba saja gadis itu merindukan sosok Hamzah. "Astahfirullah, gak boleh." Dewi membatin lagi.


Dan kegiatan belajar mereka terhenti saat Aria mengumpat cukup keras, sampai Adnan melongo mendengarnya.


"Sialan! Si bule jadi-jadian nemuin istri gue!" Aria berlari keluar rumah diikuti Santo. Pria itu jadi panik sendiri, takut kalau Rossa akan tertipu oleh tampilan wanita itu yang perempuan, tapi tidak dengan seleranya.


"Maksudmu apa sih?" Santo bertanya sambil memakai sabuk pengamannya.


"Nanti gue ceritain. Sekarang gue harus nyusul bini gue. Sebelum dia dihap sama tu makhluk jadi-jadian."


"Idih serem amat, bro."


"Makanya diam aja." Santo menurut saja. Toh itu yang terpenting sekarang. Membiarkan Aria tenang saat membawa mobil. Daripada dia mengganggu Aria nyetir. Bisa bahaya nanti.


***


Up lagi readers. Jangan lupa tinggalkan jejak ya. Terima kasih.


***

__ADS_1


__ADS_2