
Bisa dibayangkan bagaimana bahagianya Rossa saat kata talak itu terucap dari bibir Angga. Mereka menjadikan Shilda sebagai saksi perpisahan itu. Ada raut wajah sedih di wajah Angga, seolah tidak rela dengan ini semua, tapi dia akan belajar menerima. Satu doa tersemat semoga Rossa bisa menemukan kebahagiaannya, pun dengan dirinya. Angga berharap dia akan hidup damai bersama Yuna.
Hal baik sepertinya terus berdatangan pada Rossa, kemampuan Adnan dalam segala hal kian meningkat. Dua minggu berlalu sejak Rossa resmi berpisah. Mereka melepas status suami istri mereka secara agama, tapi Angga berpesan agar Rossa tidak sungkan padanya jika perlu bantuan.
"Pagi Adnan." Satu sapaan terdengar di telinga Adnan. Bocah itu berlari riang ke arah sumber suara.
"Ayah....." Adnan tetap memanggil ayah pada Aria. Pria yang datang bersama Mala, simbahnya. Hanya dengan begitu Aria aman untuk berkunjung ke rumah Rossa. Tetangga kini mengenal Aria sebagai anak Mala, wanita yang pernah tinggal bersama Rossa.
"Main apa?" tanya Aria, mendudukkan anak lelaki itu di pangkuannya.
"Main tepung." Adnan tergelak kencang.
"Itu sih ibumu. Di mana dia?" tanya Mala setelah mencium puncak kepala Adnan.
"Biasa mbah, buat kue. Katanya pesanannya banyak. Jadi Adnan harus jadi anak baik. Nanti kalau selesai bisa main ke sana." Celoteh Adnan.
Aria dan Mala saling pandang. Tidak paham dengan apa yamg Adnan ucapkan. Aria mulai mengobrol dengan Aria, manakala Mala menuju dapur. Di mana bau wangi khas roti tercium sejak tadi.
Sementara di depan rumah, Amato menunggu di dalam mobil. Pria itu tengah memeriksa dokumen yang dikirim oleh asistennya. Tak berapa lama, motor Shilda berhenti di depan mobil Amato. "Mundurin! Aku mau masuk!" teriak Shilda panik.
Amato menangkap keganjalan itu. Lelaki itu memundurkan mobilnya. Dengan Shilda langsung masuk ke kontrakan Rossa. Tak berapa lama muncul dua orang berpakaian hitam, tampak mengamati rumah Rossa. Amato juga melihat gelagat aneh mereka. Amato lantas menghubungi Santo, pria yang bisa mendatangkan bodyguard untuk menjaga rumah Rossa.
"Siapa mereka?" tanya Amato pada Shilda yang ada di teras rumah Rossa.
"Siapa?" Shilda balik bertanya. Amato menunjuk dua orang di sudut jalan dengan dagunya.
"Tidak tahu." Shilda buru-buru masuk ke dalam rumah. Mengabaikan tatapan penuh ingin tahu dari Amato.
Tengah hari, pesanan roti Rossa selesai. Tiga box red velvet, dua box rainbow cake, serta dua tiramisu. Semua siap di antar ke tuannya. Karena banyak dan agak jauh, kali ini Rossa menggunakan jasa ojek online untuk mengantarkan semua kue itu. Dia tidak mau merepotkan Shilda lagi, gadis itu sudah terlalu lelah membantunya membuat roti.
"Bujubuneng, capek bener." Shilda merebahkan diri di sofa ruang tamu tengah. Bodo amat dengan Aria yang mendelik melihat kelakuan Shilda.
__ADS_1
"Tutup mata kalau gak mau lihat pak mantan bos." Celetuk Shilda asal. Dia tetap memanggil mantan bos pada Aria.
"Gak abis-abis lu marahnya sama gue. Kan gue sudah minta maaf." Kata Aria dari ruang tamu.
"Sakit hati gue belum sembuh. Lu bikin temen gue nginep di penjara."
"Woelah semalam doang. Anggap aja touring bentar ke sana." Bela Aria. Perdebatan dua orang itu masih terus berlanjut. Shilda sungguh berani dengan Aria. Gadis itu tidak takut sama sekali dengan predikat orang kaya yang disandang Aria.
Adu argumen itu berhenti saat Adnan keluar dari kamar mandi, selesai mandi. Aria mengekor langkah Rossa ke kamar Adnan. Bekas kamar Mala dulu. Sementara kanjeng mami tak sayang Aria sedang bicara pada Santo, sejak tadi via telepon.
"Biar ayah bantu." Tawar Aria.
"Aku bisa sendiri, Yah." Tolak Adnan. Bocah itu akan belajar mandiri mulai sekarang. Adnan merasa dirinya sudah besar. Bocah lelaki itu telah tumbuh sebatas dada Aria, pria yang punya tinggi 185 cm.
"Pergilah, aku akan mengawasinya." Rossa keluar dari tempat itu. Di luar kamar, dia menggelengkan kepala melihat kelakuan Shilda yang tidur di sofa.
Wanita itu melongokkan kepala ke dalam kamar. "Shilda tidur." Adnan bergumam pelan, tantenya yang satu itu memang benar-benar parah kalau sudah rebahan.
"Jadi pergi ke tempat itu?" Mala bertanya, setelah selesai bicara dengan Santo. Rossa mengangguk, dia sudah berjanji pada Adnan kalau pesanan kuenya hari ini selesai, dia akan mengajak Adnan jalan-jalan. Terlebih transferan dari pembelinya sudah masuk ke rekening. Cukup untuk mereka bersenang-senang hari ini.
"Ck..aku belum tua lah kenapa kalian memanggilku kanjeng mami." Gerutu Mala. Duduk di sebelah Shild.
"Cucu satu segede Adnan, nanti mau otewe tambah lagi."
"Gimana mau tambah, gemboknya belum dibuka. Masih dikunci." Sambung Mala.
"Sudah dibuka kanjeng mami." Bisik Shilda. Gadis itu lantas bercerita perihal status Rossa yang sudah janda. Janda rasa perawan. Mala seketika melebarkan senyum mendengar informasi dari Shilda.
"Ini valid kan? Nanti mami ngelamar ke orang tuanya Rossa ada yang protes lagi. Kan malu."
Shilda memberi kode kalau semua ini benar. Gadis itu bahkan menunjukkan bukti rekaman diam-diam yang dia ambil saat Angga mengucapkan talak pada Rossa. Mala langsung minta dikirimi bukti itu.
__ADS_1
"Ehhh, kanjeng mami serius mau jadiin Ocha mantu? Emang pak mantan bos mau?"
"Mau gak mau harus mau. Masak disuguhin body seksoy gak ditubruk. Gak normal apa?" Shilda melongo mendengar jawaban frontal dari Mala.
"Mak mertua ajib ni. Bukan anaknya yang pengen, tapi dia sendiri yang ngebet pengen nikahin anaknya." Batin Shilda tidak percaya.
"Siapa yang gak normal?" Aria menyambung percakapan Shilda dan Mala. Dengan Adnan kembali ke depan TV.
"Kamulah, siapa lagi." Balas Mala.
"Kok aku, Ma."
Senyum Aria mengembang begitu mendengar status Rossa yang sudah berganti. Kalimat syukur terucap dari bibir Aria, pria itu merasa doanya dikabulkan oleh-Nya. Melihat respon Aria, Shilda dan Mala saling pandang. Kini mereka yakin kalau Aria sebenarnya mencintai Rossa, tapi kemarin mungkin terhalang status, hingga pria itu belum berani menunjukkan rasa sukanya.
Pintu kamar mandi terbuka, keluarlah Rossa yang tampak malu. Meski berpakaian lengkap, tapi semua mata yang tertuju padanya, membuat gadis itu tersipu.
"Calon istri masa depan." Batin Aria, melihat Rossa yang buru-buru masuk ke kamar.
"So....." tanya Mala.
"Cari rumah bapak ibunya. Mama lamarkan dia untuk Aria."
"Woelah sudah tidak sabar apa ya?"
"Limited edition Shil, lu mau cari di mana lagi yang kayak begini." Balas Aria cepat.
"Tahu dari mana kamu dia limited edition?"
Aria bungkam tidak mampu menjawab pertanyaan Shilda. "Ya kali gue mau ngomong dia sekarang jadi tipe gue, sholehot." Batin Aria salah tingkah.
***
__ADS_1
Up lagi readers. Jangan lupa tinggalkan jejak. Terima kasih.
***