My Sweet Journey

My Sweet Journey
Keadaan Yuna


__ADS_3

Hamzah melirik ke arah Dewi, perempuan yang kini duduk sendirian dengan kikuk di sudut ruangan. Sedikit menghindari keramaian pesta pernikahan Santo. Meri yang biasa jadi teman bicara saat berada di lingkungan keluarga kaya itu, kini tengah sibuk dengan tamu undangan. Alhasil Dewi hanya bisa duduk di pojokan, sambil memakan cemilan yang dia ambil, sembari memainkan ponselnya, untuk menghindari rasa gugup saat berada di sana.


Duda almarhumah Nisa itu teringat kejadian beberapa waktu lalu, saat Dewi mengembalikan motor Nisa ke rumah Heru. Yang berakhir dengan Hamzah mengantar Dewi ke kediaman Aria. Selama dua puluh menit perjalanan itu tak ada satu kata yang keluar dari mulut Dewi lebih dulu, jika Hamzah tidak mengajaknya bicara. Benar-benar gadis yang tertutup, kebalikan dari Nisa yang tipe ekstrovert.


Namun anehnya Dewi jadi banyak bicara saat sudah bertemu Adnan, mereka bisa bercerita banyak hal, layaknya sahabat. Hamzah hanya bisa geleng-geleng kepala melihat hal itu. Seperti saat ini, dilihatnya gadis itu sudah bisa tersenyum setelah Adnan duduk di sebelah Nisa. Dua orang itu berbincang seru.


"Ehemmm, boleh Om duduk di sini?" Pertanyaan Hamzah jelas tertuju pada Adnan. Dewi melirik, masih banyak tempat kosong, kenapa Hamzah memilih duduk di sana. Sudut mata Hamzah menangkap perubahana wajah Dewi, sangat tidak nyaman.


"Susah amat pedekate ama perawan ting ting." Kekeh Hamzah dalam hati. Dulu dia merasa tidak merasa kesulitan saat mendekati Nisa, sebab Nisa adik kelas jarak banyak tahun, yang jelas satu kampus. Selain itu Nisa gadis yang terbuka, mau berteman dengan siapa saja. Tanpa pilih-pilih. Tapi Dewi, sungguh perlu usaha ekstra untuk sekedar bisa mengobrol dengan gadis itu.


"Umi, bukunya yang itu Adnan sudah baca lo. Seru banget ternyata." Satu percakapan dari Adnan dan Nisa sampai ke telinga Hamzah. Dilihatnya gadis tersebut begitu antusias berdiskusi dengan Adnan mengenai isi buku yang baru saja mereka baca.


"Suka baca?" tanya Hamzah, sepertinya Hamzah menemukan topik yang bisa nyambung dengan Dewi.


"Suka." Astaga, irit amat jawabnya. Cewek lain akan menjawabnya panjang kali lebar seperti mengitari GBK lima kali. Tapi Dewi, singkat, padat, jelas. Jawaban Dewi membuat Hamzah mati kutu.


Hamzah pikir harus segera melepas status dudanya, sebab dia kini mulai risih dengan banyaknya wanita yang mengejar lelaki itu. Predikat duren sawit melekat kuat padanya. Dan Hamzah jadi tidak nyaman karenanya.


Selain itu, desakan dari Heru juga menjadi pertimbangan tersendiri bagi Hamzah. "Menikahlah lagi, sudah waktunya kamu menemukan kebahagiaan lain. Juga, supaya Nisa tenang di sana. Sebab kamu sudah ada yang merawat."


"Mau aku beritahu satu tempat yang jual banyak buku lama dan murah?" Mata Dewi membulat mendengar pertanyaan Hamzah. Abang Rossa itu seketika terdiam di tempatnya. Dewi terlihat imut menggemaskan dengan raut wajah terkejutnya.


Jantung Hamzah berdebar melihat ekspresi wajah Dewi untuk pertama kalinya. Setelahnya, dua orang itu terlibat diskusi seru tentang banyak buku yang pernah keduanya baca. Senyum tipis Hamzah terbit, melihat bagaimana antusiasnya Dewi bicara soal buku. Memberi penilaian sebuah buku dari sudut pandang yang berbeda. Satu hal yang membuat Hamzah semakin tertarik pada Dewi.


"Ternyata tidak sulit mendekati gadis ini." Batin Hamzah seolah mendapat kunci untuk membuka gembok hati Dewi.


"Foto yuk." Ajak Hamzah, melihat lambaian tangan Santo. Dewi ragu, dia bukan siapa-siapa mereka. Namun tarikan tangan Adnan membuat Dewi tak bisa membantah.

__ADS_1


Masuk dalam jajaran keluarga besar Hutomo, membuat Dewi gugup setengah mati. Terlebih Adinda langsung menarik Dewi untuk berdiri di sisi kirinya, dengan Rossa di sisi kanan sang ayah.


"Calon mantu." Bisik Adinda ke telinga sang suami. Zai hanya tersenyum samar. Kali ini pesta besar akan Zai helat untuk pernikahan putra sulungnya. Sedangkan Dewi merasa canggung berdekatan dengan Hamzah.


"Wahhh, bakalan banyak akad nikah susulan ini." Seru Amato pada sang istri dan Mala. Ketiga orang itu melihat ke arah lain, di mana Angga mendekati Meri.


"Itu bener ya mbak Yuna masuk RSJ?" tanya Shilda yang sedang mengunyah jeruk dengan lahapnya. Tiga orang itu lantas mulai membicarakan Yuna.


"Emang pak Angga boleh nikah lagi ya kalau mbak Yuna bisa dikatakan gila?"


"Ya bolehlah, kan pria bisa punya istri empat. Apalagi Yuna kan dikatakan tidak mampu memenuhi kewajibannya sebagai istri, Angga bisa menikah lagi." Amato memberikan pandangannya.


"Lagipula Angga sudah waktunya punya anak. Lima tahun gak mau punya anak, giliran ada malah digugurin. Gila gak tu." Ceplos Mala.


"Kan memang sudah gila Bu." Sambar Shilda cepat. Dua orang itu kini malah melihat heran ke arah Shilda.


"Emang enak banget ya. Manis apa?" tanya Amato kepo, memandang dengan kening berkerut ke arah Shilda.


"Aseeemmmm, Da. Kamu ini sakit apa gimana sih, aseeemm begini di bilang seger. Bahhh...bahhhhh...." Shilda tidak peduli pada tingkah Amato, wanita itu terus saja mengunyah jeruk yang ada di tangannyan.


Hingga kejadian itu menarik perhatian Mala. "Kamu lagi hamil Da?"


Uhuukkkk, Amato tersedak minumannya sendiri, tidak percaya dengan apa yang Mala tanyakan. "Gak tahu Bu. Cuma pengen makan yang asem-asem seger gitu. Nah ini nemu di dapur tadi. Kemarin Rossa beli jeruk kan?"


Amato dan Mala saling pandang, kemudian tatapan mereka teralihkan pada Rossa yang ada di depan sana. "Apa mungkin kalian borongan juga hamilnya?" Kata Mala.


"Ya gak tahu. Sudahlah nanti kita cek saja ke dokter. Ahhhh, yesssss jadi bapak gue!!" Amato berkata keras sambil memeluk Shilda yang tampak tidak peduli. Wanita itu lebih memilih menikmati jeruknya daripada menggubris ucapan Amato.

__ADS_1


"Hamil? Kan ada suaminya. Apa masalahnya?" begitulah yang ada di otak Shilda. Wajar saja jika dirinya mengandung la wong hampir tiap malam disetori benih oleh Amato. "Benar-benar maniak seksss." Begitu Shilda mengumpat tiap kali sang suami mulai menyerangnya.


"Ngumpat aja sekarang. Habis ini kamu teriak keenakan." Dan seperti itu balasan Amato tiap Shilda protes.


"Hasil dari maniak sekss. Amato junior on the way." Bisik Amato sambil mengedipkan sebelah mata pada Shilda. Tidak mereka pungkiri kalau cinta telah tumbuh di antara keduanya. Shilda tak menjawab, wanita itu terlihat cuek meski satu sudut bibirnya tertarik membentuk lengkung senyum.


"Tokcer juga kecebongnya." Batin Shilda balas mencuri pandang ke arah sang suami, yang wajahnya sekilas mirip aktor Cina, Li Xian.


Sementara itu di sisi lain, di rumah sakit jiwa tempat Yuna dirawat. Wanita itu terus menangis, sesekali berteriak. Menjerit histeris. Dalam bayangan Yuna, terlihat seorang anak laki-laki melambaikan tangan padanya. Wanita itu jadi ketakutan dibuatnya.


Sikap Yuna semakin agresif selama beberapa waktu terakhir. Hingga petugas terpaksa mengisolasi Yuna. Keadaan Yuna sepertinya semakin buruk saja. Yuna selalu menyebut Anggalah sebagai penyebab dia menggugurkan anaknya.


"Ayahmu yang menyebabkan ibu membunuhmu!" teriak Yuna berulang kali. Pikiran wanita itu sudah tidak bisa ditolong lagi.


Dokter Kanti bahkan menggelengkan kepala beberapa kali tiap melihat keadaan Yuna. "Sepertinya dia makin bertambah parah saja, Dok?" seorang perawat berucap lirih pada sang dokter.


"Yah, dia gila karena ketakutannya sendiri. Takut kehilangan orang yang paling dia cinta."


"Padahal suaminya terlihat sangat mencintainya dan sangat menginginkan anak. Tapi sayang malah digugurkan." Sambung si perawat.


"Begitulah jika manusia sudah tertutup pintu hatinya. Tidak bisa melihat benda berharga di depan mata. Padahal orang lain berebut mencarinya, tapi dia malah menyia-nyiakannya. Bukannya bersyukur dan menjaganya baik-baik. Dia justru sibuk dengan pikiran lain yang tidak berguna. Satu pelajaran lagi untuk kita."


Si perawat mengangguk. Obrolan dua orang itu terganggu ketika seorang perawat berlari ke arah mereka. "Dokter....dokter....pasien Yuna...dia...dia..."


Ketiganya berlari ke arah kamar isolasi Yuna, melihat apa yang telah terjadi pada istri Angga tersebut.


****

__ADS_1


Up lagi readers. Jangan lupa tinggalkan jejak. Terima kasih.


****


__ADS_2