My Sweet Journey

My Sweet Journey
Jalan Keluar


__ADS_3

Santo sampai di kantor polisi, bersamaan dengan Aria yang keluar dari sana. "Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Santo.


Aria tentu kaget melihat asisten sang mama berada di depannya, "Kenapa kau juga ada di sini?" Aria balik 1bertanya.


"Rossa...kau apakan dia?" Santo memang orang yang to the poin. Mendengar nama Rossa disebut Santo. Aria seketika memicingkan mata. Bagaimana Santo bisa tahu soal Rossa? Apakah Santo dan Rossa saling mengenal.


Santo sendiri sudah bergerak, menyuruh orang-orangnya untuk mencari tahu kejadian yang sebenarnya setelah Amato bercerita. Mereka mencari tahu bagaimana Mala bisa terluka.


"Kau kenal penculik itu? Rossa menculik mama."


"Jangan gila kamu Ar!" Santo, mungkin juga satu-satunya orang yang berani melawan Aria. Bahkan pria itu memanggil nama Aria langsung tanpa embel- embel apapun.


"Apa kamu juga membelanya? Kamu sekongkol dengannya?" Tuduh Aria asal.


"Astagfirullah, apa lagi ini. Aku tidak membelanya, kenal juga tidak. Tapi satu yang pasti nyonya tidak diculik. Bebaskan dia!"


"Ogah! Dia akan berada di sana, sampai proses peradilan selesai, menerima hukuman lalu dipindahkan ke rutan." Tegas Aria.


Santo jelas terkejut, tidak menyangka jika Aria akan jadi keras kepala sekali. Tanpa menunggu lebih lama. Aria pergi meninggalkan Santo yang masuk ke kantor polisi. Pria itu menanyakan di mana Rossa berada. Seorang anggota polisi mengantarkan Santo ke sel tahanan Rossa. Di mana, wanita itu tampak meringkuk di pojokan.


"Mbak Rossa...." Panggil Santo ragu. Rossa dengan cepat menghapus air matanya.


"Bapak nyari saya?" Rossa bertanya takut-takut.


"Iya, kenalkan saya Santo, asisten kanjeng mami eh ibu Mala."


Rossa membulatkan matanya, jadi yang dikatakan Aria tadi benar. Mala adalah ibu Aria. "Jadi benar bu Mala mamanya Pak Aria."


Santo terdiam sesaat, lalu mengangguk. Santo lantas menceritakan secara singkat bagaimana semua ini terjadi, sekaligus minta maaf atas kelakuan dua tuannya. Santo berjanji akan mencari jalan keluar untuk masalah.

__ADS_1


"Bu Mala apa terluka?" Rossa bertanya cemas. Santo pun kembali menuturkan bagaimana keadaan Mala berdasarkan cerita Amato. Air mata Rossa mengalir, bagaimanapun Mala sudah seperti ibunya sendiri.


"Jangan khawatir, kami akan merawat nyonya dengan baik." Keduanya diam sesaat.


"Pak, boleh minta tolong, Adnan...."


"Saya tahu, saya sudah menghubungi Nurul, akan ada home care yang merawat Adnan. Tadi dia bilang Shilda...ada temenmu yang namanya Shilda?" Rossa mengangguk sebagai jawaban atas pertanyaan Santo.


"Shilda akan ikut membantu."


Rossa menarik nafasnya lega. Adnan, meski keadaannya seperti itu, tapi bocah itu sangat sensitif. Bisa merasakan mana orang yang pernah dia kenal dan belum.


Santo tidak bisa lama-lama menemui Rossa, dia harus mencari cara mengeluarkan Rossa dari sana. Pria itu bertanya pada seorang anggota polisi, apa Rossa bisa dibebaskan dengan jaminan. Si polisi mengatakan tidak, sebab Aria melarang pembebasan bersyarat untuk Rossa bahkan dengan jaminan sekalipun.


"Anak itu benar-benar minta dijewer sama kanjeng mami. Seenaknya menjebloskan orang ke penjara. Apa dia tidak tahu kalau Rossa punya anak yang lagi sakit. Tega sekali dia." Gerutu Santo, menjalankan mobilnya menuju rumah Rossa. Dia harus memastikan kalau Nurul benar-benar mengirim perawat ke rumah Rossa.


Sampai di rumah Rossa, Santo mendengar suara tangis anak kecil. Siapa lagi kalau bukan Adnan. Ditambah satu suara yang berusaha membujuk Adnan untuk diam. Suara Shilda.


Satu salam Santo ucapkan saat tangis Adnan berangsur reda. Shilda memicingkan mata melihat Santo. Santo pun memperkenalkan dirinya, sebagai asisten Mala. "Ha? Jadi bu Mala mamanya Aria." Shilda tidak bisa menutupi rasa terkejutnya.


Santo melihat ke arah Adnan, bocah itu sudah duduk di kursi roda. Dengan satu orang tengah mempersiapkan air mandi.


"Kamu ngapain di sini?" tanya si perawat judes. Nurul memang tidak pernah ramah pada Santo, mengingat pria itu selalu ingin tahu soal Adnan.


"Kenapa jadi kamu yang dikirim ke sini?" Balas Santo tak kalah dingin. Shilda menatap Santo dan Nurul bergantian. Tidak terkejut saat dua orang itu berkata saling mengenal.


"Aku juga bisa jadi home care, lagian Adnan perlu perawat yang sudah dia kenal." Dan Nurul adalah salah satu orang yang Adnan tahu.


"Eh terus ini bagaimana ceritanya? Kenapa si Aria malah bawa Rossa pergi. Dia dibawa ke mana? Kenapa Nurul harus merawat Adnan dulu?" Cecar Shilda.

__ADS_1


"Kau cerewet sekali, cocok sama si Amat!" Ketus Santo. Shilda merengut mendengar nama Amato disebut. Shilda yang kesal pada Ario, ikut-ikutan kesal pada Amato, si asisten.


Sedikit ragu, Santo akhirnya bercerita kalau Aria membawa Rossa ke kantor. "Tuanmu gila!" Maki Shilda.


"Bukan ya. Tuanku kanjeng mami." Tolak Santo.


"Sama saja!" Nurul dan Shilda kompak bersuara.


Santo melotot dibuatnya. Biasanya tidak ada yang berani melawannya. Namun kini, dua gadis di depannya ini terlihat tak takut padanya. "Kenapa? Apa karena kalian orang kaya, jadi bisa seenaknya pada kami orang miskin? Kere begini kami hidup terhormat." Kata Nurul congkak.


"Sombong bener. Di dunia ini tetap uang yang berkuasa. Coba aku datang ke rumahmu, melamarmu bawa seratus juta sebagai mahar, pasti keluargamu terima."


Nurul melotot dengan Shilda menganga mulutnya, mendengar ucapan Santo. Ketiganya tengah memandikan Adnan di halaman belakang. Ada tempat tidur khusus yang Rossa beli khusus untuk memandikan Adnan. Hingga saat sendiripun Adnan tetap bisa mandi tiap hari. Santo hanya disuruh mengangkat Adnan.


Hanya dalam hitungan detik, hati Santo yang biasanya dingin seperti kutub, terenyuh waktu melihat Adnan. "Ehh, Rossa ini sudah tahu belum sih, kalau Adnan sudah mulai respon. Dia senyum lo, saat dengar suara si robot." Celetuk Nurul tiba-tiba. Santo mendelik kesal mendengar panggilan Nurul padanya. Meski memang begitulah Nurul memanggil Santo.


"Kata Rossa memang beberapa hari ini Adnan sering ketawa dan menangis seperti tadi."


Nurul memandang Shilda, "Ini kemajuan, besok aku konsulkan ke dokter Tio. Sama dokter Hendra. Wahhh Adnan sudah mau sembuh ya. Besok kita jalan ke alun-alun ya kalau Adnan sudah bisa jalan. Sama tante Nurul, tante Shilda." Adnan tersenyum, hingga tiga orang itu saling pandang, lantas mengucap syukur bersamaan.


"Doa ibumu terkabul Nan. Sembuh ya, cuma kamu yang ibumu punya." Kata Shilda sambil mencium kening Adnan.


Kembali hati Santo tercubit, dalam sekali lihat dia bisa menebak seperti apa beratnya kehidupan seorang Rossa. Sekarang ada mereka yang membantu, bagaimana hari biasa. Saat Rossa hanya sendirian. Satu tarikan nafas terdengar dari bibir Santo. Dia harus seger mengeluarkan Rossa dari penjara.


Meski begitu, Santo tidak akan bisa melawan Aria, satu-satunya orang yang bisa mengendalikan Aria adalah kanjeng maminya. Santo berharap Mala segera sadar. Dengan begitu, Rossa bisa keluar dari penjara. Hanya itu jalan keluarnya.


***


Up lagi readers. Jangan lupa tinggalkan jejak. Terima kasih.

__ADS_1


***


__ADS_2