My Sweet Journey

My Sweet Journey
Kebebasan


__ADS_3

"Selesaikan masalah Nisa, jangan sampai dia menghalangi rencana mama membawa Rossa pulang sebagai mantu."


Ultimatum kembali Aria dapatkan. Tidak peduli pada perasaan Aria maupun Rossa, Mala dengan tegas sudah menunjuk Rossa untuk menjadi istrinya. Ini lebih parah dari sekedar perjodohan. Aria hanya bisa mendengus geram dengan ulah sang mama.


"Kamu keberatan punya istri Rossa?" tanya Mala suatu malam. Dua orang itu duduk di taman belakang rumah besar mereka.


"Bukan begitu Ma. Mama gak bisa memaksa orang untuk menikah. Harus ada alasannya...."


"Tujuannya jelas, menyempurnakan agama. Meraih ridho-Nya."


"Ma, sekarang harus ada cinta."


"Siapa bilang?" Potong Mala cepat. Ibu dan anak itu saling pandang. Wanita itu lantas bercerita banyak soal Rossa, bagaimana wanita itu berusaha teguh pada pendiriannya, lebih memilih sang putra ketimbang menikah, selalu menjaga diri.


"Lah dia nikah sama Angga. Siri lagi. Bagaimana itu?" Hal inilah yang sudah lama ingin Aria tahu. Kenapa Rossa menikah siri dengan Angga. Lalu kenapa umur Adnan sudah sembilan tahun padahal Rossa baru 27 tahun. Dan mereka baru menikah empat tahunan, mencurigakan. Berbagai pikiran buruk seketika memenuhi kepala Aria.


"Kamu bisa tanyakan itu pada Rossa." Aria menggeram marah. Ya jelas dia tidak berani melakukan hal tersebut. Pria itu bangkit dari duduknya. "Ke mana?" Mala bertanya.


"Rumah sakit." Balas Aria singkat. Mala mengulum senyumnya, hampir sebulan tinggal di rumah sakit. Adnan diizinkan pulang. Anak itu sibuk mengeluh bosan. Padahal terapi Adnan masih beberapa tahap lagi. Termasuk urusan gigi. Tinggal sedikit lagi prosesnya.


Jika masih di rumah sakit, Aria bebas menemui Adnan dan Rossa, tapi kalau sudah pulang ke kontrakan, jangan harap Aria bisa berkunjung tiap waktu. Kalau itu terjadi akan banyak mode julid dan kepo on.


Saat Aria masuk ke kamar Adnan, ada Shilda yang tidur meringkuk di ekstra bed yang Aria minta. Sementara Rossa, wanita itu tampak khusyuk dalam ritual doanya. Bacaan ayat suci baru saja selesai Rossa lantunkan. Sangat merdu di telinga Aria. Pria itu duduk di sofa yang posisinya di belakang Rossa.


Aria melihat Rossa yang semakin lama semakin...terisak. Wanita itu menangis. Rossa perlahan mengangkat wajahnya, saat dia melihat sepasang kaki ada di depannya.


"Kenapa masih menangis? Hal terbesar yang paling kamu inginkan sudah dikabulkan. Apalagi yang kamu inginkan? Atau yang lain bisa menyusul."


"Apa sih yang kamu tahu? Jangan sok tahu deh."

__ADS_1


"Ah elah, ngambek mulu perasaan." Aria malah duduk ndeprok di depan Rossa.


"Pengen cerai." Lirih Rossa. Aria memutar kepalanya cepat. Memandang ke arah Rossa yang masih menunduk.


"Dia tidak suka perceraian. Kamu tahu itu."


"Tapi aku tidak mau merusak rumah tangga mereka."


Setelahnya Rossa menceritakan kenapa dia dan Angga menikah siri. Satu kisah yang cukup membuat Aria tertawa. "Kalian ini seperti anak kecil yang tidak bisa berpikir dewasa. Bukankah ada cara lain, tidak harus menikah siri. Kalau begini kan kalian yang rugi."


Rossa menghela nafas, iya semua salahnya. Karena itu dia ingin memperbaiki kesalahannya. Berpisah dari Angga, membiarkan pria itu menjalani kehidupan rumah tangganya dengan tenang tanpa perlu berbagi. Perhatian juga nafkah.


"Tinggal minta saja." Kata Aria santai. Ada rasa senang tak terbantahkan saat tahu Rossa ingin berpisah dari Angga. Gila! Ada orang mau cerai dia malah happy.


"Dia belum ACC."


"Tadi siang kemari." Balas Rossa cepat. Angga memang datang tadi siang. Namun saat Angga datang, Adnan baru saja tidur siang. Setelah sesi terapi yang melelahkan. Pada Angga Adnan justru memanggil Om. Padahal Angga sudah memposisikan diri sebagai ayah.


Pria itu tidak banyak bicara seperti biasa. Angga hanya sebentar karena dia harus kembali ke kantor. Dia akan datang ke rumah besok. "Apa dia marah karena Adnan memanggilku ayah?"


Rossa menggeleng. Sepertinya Angga memang tidak peduli lagi pada dirinya dan Adnan. Ada sedikit rasa kehilangan, tapi sepertinya ini lebih baik.


**


**


Dua hari berlalu, Rossa kembali ke rutinitasnya. Kali ini Adnan menjadi prioritasnya. Menolak pulang ke kediaman Aria Loka. Menolak rumah kontrakan yang lebih besar dari Mala. Tidak mau kembali ke pabrik. Aria dibuat pusing dengan semua penolakan Rossa. Niat hati ingin menolong, tapi Rossa tidak mau.


Wanita dengan skill utama membuat roti itu mulai membuka bisnis kue dan rotinya. Adnan sudah bisa berjalan meski belum terlalu lama. Namun itu sebuah kemajuan yang sangat bagus. Rossa dibantu Shilda kini merintis usaha mereka dari nol.

__ADS_1


Rossa juga tidak mau mengambil tawaran Mala untuk mengelola satu pabrik browniesnya. "Mereka kok enteng banget mau ngasih ini itu ke kamu. Modus ya?" Seloroh Shilda. Gadis itu sedang memasukkan satu loyang red velvet ke dalam oven. Pesanan seorang pelanggan untuk pesta ulang tahun anaknya. Rossa sendiri tengah mempersiapkan whip cream, aising sugar juga beberapa hiasan dari foundant.


Sementara Rossa hanya tersenyum mendengar ocehan Shilda. Teman paling bestie yang pernah Rossa punya. Shilda juga menolak kembali ke pabrik meski Aria sudah meminta maaf. Kali ini Shilda akan menikmati kehidupan bebasnya. Sebelum kekangan itu menemukannya.


Keduanya asyik dengan kegiatan mereka, serta Adnan menonton TV. Bocah itu begitu senang bisa melihat televisi seperti dulu lagi. Beberapa kali terdengar tawa renyah Adnan saat menonton kartun kembar botak kesukaannya, membuat Rossa dan Shilda sesekali saling pandang lantas ikut tertawa.


"Ini terus Adnan rencananya mau digimanain?" tanya Shilda sembari mendudukkan diri di kursi kayu.


Rossa sejenak terdiam, tampak berpikir. Hingga satu jawaban keluar dari bibir Rossa. Home shcooling dan kejar paket akan jadi solusi untuk Adnan.


Kegiatan mereka terhenti saat Adnan terdengar menjawab salam. Rossa bergegas ke ruang tamu. Wanita itu tampak biasa saja, saat Angga datang. Adnan sendiri langsung beringsut ke dapur. Seolah paham kalau sang ibu ingin bicara dengan tamunya alias Om-nya.


"Ada apa Mas kemari? Ada yang penting?" tanya Rossa setelah meletakkan secangkir teh di depan Angga.


"Ada hal penting yang ingin aku katakan." Beberapa hari ini, pria tersebut sudah mempertimbangkan. Berulangkali bertanya pada pencipta-Nya. Hasil dari semua itu, suara hati Angga meminta pria itu untuk melakukan hal ini.


"Mari selesaikan semua."


Rossa seketika melihat ke arah Angga. Wajah Angga terlihat serius. "Maksud, Mas?"


"Aku akan mengabulkan permintaanmu. Ayo kita berpisah." Kata Angga pelan.


Untuk sesaat suasana hening terjadi. Hingga Rossa mengembangkan senyumnya. Kebebasannya akan segera tiba. Wanita itu benar-benar bahagia kali ini. Menjanda tapi dia suka.


***


Up lagi readers. Jangan lupa tinggalkan jejak. Terima kasih.


***

__ADS_1


__ADS_2