
Beberapa hari berlalu, dua keluarga itu sibuk dengan urusan masing-masing. Keluarga Aria sibuk dengan Adnan yang baru selesai sunat, 24 jam dokter Tio menahan Adnan di rumah sakit. Guna memastikan tidak ada komplikasi pasca operasi sunat yang mereka lakukan pada bocah itu. Dalam hal ini Rossa yang paling repot. Sebab Adnan tidak mau orang lain yang merawatnya. Dengan alasan tidak boleh ada yang melihat miliknya selain ibunya. Bahkan Mala pun tidak diperbolehkan membantu Rossa.
"Heleh, mbah uti dulu sering lihat waktu mandiin kamu pas sakit. Tante Shilda sama tante Nurul juga." Mala mulai mengajak bertengkar receh sang cucu.
"Itu kan dulu mbah. Sekarang kan kata Om Amat bentuknya baru. Jadi ibu thok yang boleh lihat, kan Adnan dah gedhe."
Pertengkaran cucu dan nenek itu membuat para pria yang ada di luar kamar tertawa. "Lalu kalau kami? Juga gak boleh lihat?" Nah lo si biang kerok nongol. Amato berjalan masuk ke kamar Adnan.
"Gak!" Tandas Adnan.
"Heleh, orang bentuknya sama, cuma beda ukuran." Amato meringis saat Mala mengeplak lengan kekar suami Shilda itu.
"Jangan ngeracunin otak anak kecil. Punyamu sudah banyak minum jadi gede."
"Lah kanjeng mami malah lebih parah ngomongnya."
"Minum apa mbah biar bisa cepet gede?"
Glek!! Dua orang dewasa itu saling pandang. Terjebak dengan omongan mereka sendiri. "Nah lo...." Celetuk Amato bingung.
"Ah....minum air putih Le." Sambar Mala gelagapan. Untung Adnan langsung manggut-manggut paham, jika tidak, mereka akan kesulitan menjawab. Tarikan nafas lega terdengar dari Mala dan Amato.
Sedang di rumah pengantin baru, tampak Nisa yang tengah menyiapkan makan siang. Sebentar lagi suami dan ayahnya pulang. Nisa memang hanya membantu si bibi menata hidangan di atas meja makan. Keadaan Nisa lebih baik akhir-akhir ini. Dia sudah bisa melakukan apapun tanpa bantuan Hamzah, hanya untuk mandi, Hamzah akan menunggu di depan pintu. Takut terjadi apa-apa.
Nisa sedikit terhuyung, dengan rasa mual menyerang perut. Kepalanya pusing. Namun gadis itu tidak terlalu menghiraukannya. Nisa kembali asyik dengan kegiatannya. Sementara itu Hamzah yang baru saja sampai tampak termenung dalam mobilnya.
__ADS_1
"Keadaannya memang terlihat baik, tapi kami sarankan kamu tetap waspada. Dia harus segera dibawa ke rumah sakit jika merasa pusing dan mual. Itu berbahaya."
Sel kanker Nisa sudah tumbuh tak terkendali, kemo dan obat apapun tidak mampu melumpuhkan sel itu. Keberadaan benda tersebut semakin meluas. Hal yang paling tim dokter takutkan bisa saja terjadi. Meski perkataan dokter hanya prediksi manusia biasa, sebab di atas dokter masih yang Maha Pencipta, pemilik alam semesta juga pemilik hidup makhluknya.
Tidak ada yang tidak mungkin jika Dia sudah berkehendak. Termasuk soal Nisa. Tim dokter boleh dikatakan sudah angkat tangan, tapi itu belum tentu. Tidak ada yang tahu, siapa tahu keajaiban datang pada Nisa dan gadis itu bisa sembuh.
Senyum Hamzah mengembang saat masuk ke dalam rumah, lantunan ayat suci menyambut indera pendengarannya. Terasa damai bagi lelaki itu. Satu kecupan Hamzah hadiahkan di puncak kepala Nisa. Hingga senyum keduanya tersungging di bibir masing-masing.
"Ya Allah andai hamba boleh serakah. Hamba tidak ingin berpisah dengan suami hamba." Pinta Nisa sembari menemani Hamzah makan. Satu pemandangan yang membuat hati Nisa terasa bahagia.
"Apa kamu merasa pusing atau mual hari ini, Ra?" Hamzah bertanya dengan Nisa menggelengkan kepalanya pelan sebagai jawaban. Berbohong, Nisa tahu telah mengelabui sang suami.
"Biarkan hamba tetap berada di sisi suami hamba ya Allah, sampai hari itu tiba." Bulir bening itu dengan cepat diusap oleh Nisa. Dia hanya ingin terus berada di samping Hamzah. Dua orang itu akhirnya makan dengan tenang.
Angga memang berbeda sejak Yuna ketahuan mendorong Nisa, untungnya Nisa tidak apa-apa. Sebab yang terjadi sekarang adalah efek dari kanker yang Nisa derita bukan karena dorongan Yuna.
Yuna sudah membuka bagian bawah pakaiannya termasuk pakaiaan dalamnya. Wanita itu kini disiapkan dengan posisi seperti orang mau melahirkan. Satu dokter sudah siap dengan alat vacuum untuk menyedoot janin dalam rahim Yuna. Prosesnya jelas akan menimbulkan kesakitan luar biasa. Namun Yuna sudah mantap dengan pilihannya.
"Kita mulai." Lampu sorot dinyalakan dan prosedur pun dimulai. Yuna tampak meringis hebat menahan rasa sakit yang menghunjam tubuh bagian bawahnya.
***
Ponsel Angga sejak tadi berdering, membuat fokus Angga terpecah. Pria itu masih ada di kantor di pabrik Aria. Sibuk dengan closing data untuk akhir bulan. Aria baru saja keluar dari ruangannya, mengantarkan undangan peresmian sunat untuk Adnan yang akan diisi pengajian dan santunan untuk anak yatim piatu.
Angga tampak tidak peduli dengan bunyi ponsel miliknya. Hingga entah di dering yang keberapa pria itu dengan terpaksa menjawab panggilan yang masuk ke benda pipih tersebut. Sesaat pria itu terdiam mendengarkan apa yang dikatakan orang di ujung sana. Hingga ketika dia mendengar nama Yuna disebut, Angga bergegas keluar dari ruangannya.
__ADS_1
Lelaki itu berjalan menuju mobil yang masih terlihat baru, hadiah dari Aria. Upah Angga menjaga Rossa selama ini, mungkin itu tidak sepadan dengan apa yang sudah Angga lakukan, hanya saja anggaplah seperti itu. Mobil itu melaju kencang menuju rumah sakit di pusat kota. Jantung Angga berdebar kencang. Ada apa gerangan dengan Yuna? Bukannya tadi wanita itu pamit pulang ke rumah orang tuanya, kenapa sekarang berakhir di rumah sakit?
Berbagai tanya semakin membuat Angga penasaran, terlebih saat Angga diarahkan ke lantai 2 di gedung yang sama dengan Nisa di rawat hari itu. Lantai dua bukannya berkaitan dengan persalinan dan inkubator sekaligus NICU (Neonatal Intensive Care Unit) ICU khusus bayi, yang diperuntukkan merawat bayi baru lahir sampai berusia 28 hari.
Seorang perawat langsung menyambut Angga di bagian nurse station, bahkan pria itu diantar ke ruangan Yuna dirawat. "Dia kenapa Dok?" tanya Angga heran, melihat kantong infus juga kantong darah yang tergantung di sisi sebelah kiri Yuna. Sementara wanita itu belum sadarkan diri.
Seorang dokter menjelaskan kalau Yuna mengalami perdarahan hebat setelah keguguran. Jantung Angga serasa berhenti berdetak. Keguguran? Yuna hamil? Sesaat pria itu tampak tak percaya. Hingga kemudian satu bukti pemeriksaan kandungan ditunjukkan oleh si dokter. Barulah Angga percaya. Angga jelas merasa bersalah, dia tidak tahu kalau Yuna mengandung anaknya. Dan kini keguguran.
Perlahan Angga mendekati Yuna. Wajah perempuan itu tampak pucat, lemah. "Maafkan aku. Aku tidak tahu kalau kamu hamil."
Bersamaan dengan itu seorang perawat menyerahkan selembar kertas pada dokter yang merawat Yuna sambil berbisik lirih. Dua orang itu saling pandang, melihat ke arah Angga dengan tatapan penuh simpati. Terlihat sekali jika Angga sangat kehilangan. Pria itu bahkan tidak segan untuk menangis.
"Maaf Pak, bisa kami bicara sebentar. Ini penting, mari ikut saya."
Angga mengekor langkah si dokter, masuk ke sebuah ruangan. Di mana dokter tersebut langsung menyerahkan selembar kertas yang membuat kening Angga berkerut saat membacanya. "Ini maksudnya apa Dok?" tanya Angga tidak paham.
"Maaf sebelumnya Pak. Tapi perdarahan ini terjadi karena istri bapak berusaha menggugurkan kandungannya."
Bak disambar petir ribuan volt, tubuh Angga mematung di tempatnya. Satu hal yang kini Angga pikirkan, kejutan apalagi ini?
***
Up lagi readers. Jangan lupa tinggalkan jejak. Terima kasih.
****
__ADS_1