
Di tempat lain, Yuna tampak meringis pelan, menahan mual yang sejak tadi dia rasa. Ini aneh, dia tidak merasa salah makan, tapi kenapa perutnya terasa tidak nyaman sejak tadi. Dan ini sudah berlangsung selama dua hari ini. Satu keadaan yang membuat Yuna kesal. Dia jadi emosi karena hal ini. Apalagi sikap Angga kini berubah padanya. Pria itu kini acuh. Tidak lagi menunjukkan perhatiannya seperti dulu. Dan ini sejak Adinda menunjukkan video yang memperlihatkan dia sedang mendorong Nisa.
"Mas, bisa tolong aku. Aku sedang...."
Braakk!!! Terdengar suara pintu yang dibanting kasar. Angga keluar kamar tanpa menghiraukan keadaan Yuna. "Sial!!" Yuna memaki dalam hati. Bunyi muntah terdengar lagi. Entah sudah berapa kali wanita itu mengeluarkan isi perutnya. Setengah terhuyung, Yuna keluar dari kamar mandi langsung merebahkan diri di kasur. Kepalanya juga terasa pusing. Ada apa dengan dirinya?
Yuna mencoba memejamkan mata, mengusir rasa mual yang kembali menyerang. Ini sangat menyiksa! Yuna sibuk mengumpat dalam hati.
Sementara itu, Angga sedang melajukan kendaraannya menuju rumah sakit. Di sela kesibukannya, dia tetap menyempatkan diri menjenguk Nisa. Bagaimanapun Nisa terluka karena ulah sang istri, sementara yang bersangkutan justru tidak punya itikad baik untuk sekedar minta maaf apalagi menjenguk Nisa.
Kedatangan Angga disambut baik oleh Heru, pria itu cukup menghargai niat baik dari Angga. Pria itu tampak menyesal dengan kelakuan sang istri. Keduanya sering berbincang jika Angga punya waktu luang. Sementara Nisa sendiri tampak biasa saja bahkan setelah mendengar kalau Yuna yang mendorongnya. "Nisa tidak ingat Yuna." Kata Nisa saat Angga bercerita soal jatuhnya gadis itu di kafe.
Setengah jam berlalu, Angga harus kembali ke kantor. Waktu istirahat selesai. Setelah berpamitan pada Heru dan Nisa, Angga keluar dari ruangan Nisa. Saat di lorong, Angga yang sibuk dengan ponselnya tak sengaja menyenggol bahu seseorang. "Maaf." Angga reflek meminta maaf.
"Tidak apa-apa. Saya yang salah." Ucap suara itu dengan wajah tertunduk. Angga tertegun melihat sosok itu berlalu dari hadapannya. Seorang wanita berhijab yang kini berjalan riang di samping Nurul.
"Cantik." Lirih Angga tanpa sadar. Bunyi ponsel Angga membuat pria itu segera pergi dari sana.
Sedang di rumah besar Aria, tampak Adnan yang sibuk belajar bersama Umi Dewi. Begitu bocah itu memanggilnya. Ternyata yang diinfokan Amato hari itu keliru. Bukan keliru sebenarnya. Amato pernah berucap kalau guru Adnan adalah emak-emak dua anak, ternyata wanita berhijab itu sengaja memalsukan data agar bisa bekerja di rumah Aria. Bukan bermaksud menipu, tapi Dewi sangat membutuhkan pekerjaan itu.
Aria awalnya marah besar, dia tidak suka dibohongi. Namun penyelidikan Santo membuat rasa marah Aria urung meledak. Di tambah Rossa yang menahan lengannya saat itu. Cukup iba melihat Dewi yang bersimpuh di lantai, memohon agar diizinkan untuk tetap mengajar Adnan.
"Berikan aku alasan yang tepat kenapa kau membohongi kami?" Suara Aria mode preman akan membuat semua orang takut. Kecuali Rossa yang sudah biasa dengan kelakuan Aria.
Satu jawaban dari Dewi membuat Aria terdiam. "Saya punya dua adik yang harus saya biayai. Mereka sekolah SD dan SMP, dan jadi guru privat adalah pekerjaan tambahan yang saya ambil selain mengajar di TK."
__ADS_1
Jadi yang diakukan anak oleh Dewi adalah adiknya. Satu berkas yang diberikan Santo membuat Aria memicingkan mata. "Aruna Dewi." Gumam Rossa. Umurnya baru 20 tahun, masih sangat muda. Itulah yang ada di benak Rossa.
"Izinkan dia, Mas. Itung-itung kita bantuin dia." Aria langsung menoleh ke arah Rossa.
"Kamu gak takut aku tergoda padanya. Dia cantik lo." Goda Aria. Rossa terlihat santai, wanita itu justru melipat tangannya.
"Silahkan, siapa yang janji gak mendua, meniga dan...." Aria buru-buru membekap mulut sang istri. Kalah telak jika berhubungan dengan janjinya sendiri.
Dan keputusan Aria membuat Dewi mengucap syukur berkali-kali. Gadis berhijab itu berujar terima kasih pada Aria dan Rossa. Bersamaan dengan tawa lebar Adnan, bocah itu sudah cocok dengan umi Dewi-nya. Dua orang itu kembali melanjutkan acara belajar mereka yang tertunda.
Hamzah datang tak lama setelahnya. Wajah pria itu nampak murung. Sampai sekarang, Nisa belum mengingat dirinya. Hal tersebut membuat kakak Rossa jadi sedih. Hamzah sendiri tidak bisa memaksa Nisa, keadaan gadis tersebut sangat tidak stabil.
"Keinginannya membuatku bingung." Tatapan mata Hamzah lurus ke arah Adnan yang sedang belajar. Pandangan Hamzah tertuju pada guru sang keponakan.
"Apaan sih?" Balas Hamzah kesal. Dia tahu dirinya menyukai Nisa. Namun keberadaan guru Adnan membuat Hamzah penasaran. Setahu Hamzah, perempuan itu selalu menunduk saat bicara dengan lawan jenis. Sangat menjaga diri dan pandangan. Hamzah sangat menghargai wanita yang bisa melakukan hal semacam itu.
"Memangnya apa yang dia mau?" tanya Aria sambil meminum tehnya.
"Menikah denganmu."
Byuuurrrr
Uhukkk, Aria tersedak teh yang baru saja dia minum. Suami Rossa itu memandang sang kakak ipar dengan pandangan tidak percaya.
"Jangan gila kamu! Kau ingin aku menduakan adikkmu. Jangan harap!" Tolak Aria langsung.
__ADS_1
"Aku gak nyuruh kamu buat melakukan itu. Aku hanya menyampaikan apa yang aku dengar. Lagi pula siapa yang rela adiknya di madu. Mau tak sunat dua kali kamu! Aku satu aja belum, elu mau dua!"
Aria langsung merapatkan pahanya, mendengar ancaman Hamzah, meski detik berikutnya, bibir Aria meledakkan tawa.
"Jadi kau ini curhat, protes atau mengeluh." Tanya Aria dengan wajah kepo dan tengil sekaligus. Dia cukup terhibur melihat frustrasinya wajah Hamzah. Berapa lama pria tampan ini memendam rasa pada Nisa, tanpa sedikitpun berpikir untuk menyentuh gadis itu. Hebat, satu kata yang terlintas di benak Aria untuk sang kakak ipar.
Sementara dia langsung gaskeeun melamar Rossa, bodo amat perempuan itu suka atau tidak. Takut tidak bisa menahan diri. Nyatanya lamarannya diiyain aja oleh Rossa. Bonek, istilah orang dulu, bondo nekat, alias modal nekad. Dan cara itu terbukti efektif untuk Santo bahkan Amato. Dua orang itu main lamar, juga diterima. Lagi pula siapa yang akan menolak dinikahi tiga pria itu. Tampan, mapan paket komplit gak tu.
"Trus karepmu kepiye?" (Terus maumu bagaimana)"
Hamzah tidak menjawab, namun pandangannya mengarah pada Rossa. Wanita itu tampak diam sejak tadi. Hal itu membuat Aria curiga. Tiga bulan hidup bersama, membuat Aria hafal dengan sifat sang istri.
"Jangan mikir yang aneh-aneh lo ya kamu." Aria memperingatkan Rossa untuk kesekian kalinya. Sepasang suami isteri itu saling tatap. Seolah tahu apa yang istrinya pikirkan.
"Jangan harap aku akan mengabulkannya." Aria memutus kontak matanya dengan Rossa.
"Bagaimana jika ini jadi keinginan terakhir dia?" tanya Rossa tiba-tiba. Aria dan Hamzah saling pandang sebelum mereka beralih menatap Rossa.
Hamzah baru saja ingin bertanya saat ponselnya berbunyi. Sebaris salam menjadi pembuka saat Hamzah menerima panggilan telepon itu. Sesaat hanya ada keheningan di ruangan, hingga Hamzah bergerak cepat, berlalu dari sana. Wajah panik Hamzah menandakan hal buruk sepertinya telah terjadi.
***
Up lagi readers. Jangan lupa tinggalkan jejak. Terima kasih.
***
__ADS_1