
Waktu berlalu, hari demi hari mereka jalani. Empat orang itu melakukan aktivitas normal seperti biasa. Mereka jarang bertemu. Namun komunikasi intens terjadi. Amato sering mengirim pesan pada Shilda, meski jawaban gadis itu sering membuat gondok Amato.
Lain dengan Aria, pria itu tentu punya alasan untuk bisa terhubung dengan Rossa. Berdalih menanyakan keadaan Adnan, Aria sering menelepon Rossa. Siang mereka bekerja seperti biasa, dan malam adalah waktu mereka untuk bermunajat pada yang maha kuasa.
Jika Rossa lebih banyak bersyukur dalam doanya, sementara Shilda lebih banyak curhatnya. Dua pria itu berbeda. Amato minta petunjuk, sedang Aria lebih minta pada dibukakannya hati wanita itu untuknya. Aria sama sekali tidak minta nama lain, hanya nama Rossa yang dia sebut dalam doanya. Aria sungguh yakin jika Rossa hanyalah untuknya.
Lain Aria lain pula Angga, pria itu justru semakin dipusingkan dengan tingkah Yuna, sang istri. Wanita itu semakin posesif dan cemburuan, bahkan setelah Angga mengatakan kalau dia sudah menceraikan Rossa. Bukannya semakin ayem, rumah tangga Angga dan Yuna mulai diwarnai keributan kecil.
Yuna curiga kalau Angga masih berhubungan dengan Rossa, padahal jelas jika Rossa sudah tidak kerja di pabrik Aria lagi. Namun perempuan itu tidak percaya. Yuna selalu mengatakan itu hanyalah trik Angga agar bisa terus berhubungan dengan Rossa. Hal yang membuat Angga pusing tujuh keliling.
Angga memang masih baik pada Rossa. Beberapa kali lelaki itu mengunjungi Rossa dan Adnan. Kini pria itu hanya berani menemui Rossa di teras rumah kontrakan. Tidak berani masuk ke dalam. Rossa sendiri tidak masalah jika Angga menemui Adnan. Dia dan Angga sudah memutuskan untuk berteman. Meski kadang hal itu membuat Yuna mengamuk.
Angga dan Yuna malah sering cekcok, sedang Katy kini harus bersusah payah. Lepas dari pabrik Aria, wanita itu harus berjibaku dengan jadwal photshoot yang super padat. Pergi pagi pulang malam. Wanita itu hanya bisa mengumpat Rossa dalam hati. Gara-gara wanita itu, dia kini hidup susah. Bukan sulit dalam mencari pekerjaan. Tapi susah dalam mencari libur.
Ingin sekali Katy mencakar wajah Rossa saat melihat wanita itu berbelanja bersama Mala. Kebetulan Katy sedang melakukan pemotretan di sebuah pusat perbelanjaan di pusat kota. Di sanalah dia melihat Rossa dan Mala berbelanja untuk keperluan Amato.
Katy hanya bisa mendengus geram melihat betapa bahagianya hidup Rossa. Iri dan dengki merasuk di hati Katy Sunders, dia ingin membalas dendam, tapi tidak punya waktu untuk melakukannya. Alhasil dia hanya bisa dongkol sendiri.
Seminggu berlalu. Aria masuk ke dalam rumah dengan Adnan dalam gendongannya, tidur. Di belakangnya mengekor Rossa. "Aku di rumah saja jika Adnan gak bangun." Rossa menghentikan langkahnya saat Aria naik ke lantai dua, di mana kamar pria itu berada. Rossa tidak berani melangkah lebih jauh selain lantai bawah rumah besar itu.
"Dia pasti bangun. Dia kan sudah janji mau menemani Omnya untuk melamar tante yang hobi tidur itu." Sahut Mala dari dapur. Wanita itu datang membawa wajik (makanan dari daerah Jawa yang terbuat dari beras ketan dan gula merah) dalam loyang berbentuk hati. Mala dan Rossa dibantu bi Sumi mulai membungkus wajik itu dengan kertas hias. Selain wajik, ada juga jadah (seperti wajik tapi berwarna putih, sebab tanpa gula merah), buah-buahan, satu set kebaya untuk Shilda plus dengan perhiasan sakpengadeg (lengkap, kalung, gelang, anting). Untuk cincin ditempatkan di wadah tersendiri.
"Bu, memangnya yakin kalau Amato mau menikahi Shilda?" tanya Rossa di tengah kesibukan mereka.
__ADS_1
"Mau taruhan sama mama.Kalau Amato menerima Shilda, kamu juga mau sama Aria...."
"Lah...kok jadi gitu?" Rossa ingin protes, tapi urung.
"Bercanda," Mala meledakkan tawanya melihat wajah panik Rossa. Padahal dia memang menginginkan hal itu.
Rossa seketika merasa ada yang mengganjal di hatinya. Di zaman sekarang susah sekali menemukan keluarga yang begitu welcome pada seorang wanita. Rossa menghembuskan nafasnya pelan saat Mala pergi ke dapur mengambil black forest kesukaan Shilda.
"Belum pernah nyonya sebahagia ini. Rumah jadi rame sejak mbak Rossa sama den Adnan datang. Mas Santo gak kayak robot lagi, kalau mas Amat malah tambah nemen alias parah."
Rossa terdiam, berusaha mencerna perkataan bi Sumi. Sesaat wanita itu termenung. Di rumah ini Adnan bahkan sudah punya kamar sendiri, di siapkan oleh Mala, dengan dekorasi Aria yang memilih.
Rossa selesai memasangkan pita pada semua barang yang akan dibawa ke rumah Shilda, saat Aria memanggilnya dari lantai dua. "Nur, Adnan bangun. Naiklah."
Saat masuk dilihatnya sebuah kamar mewah, dengan ranjang king size terbentang di tengah kamar. "Tu Ibu sudah datang. Jangan menangis." Bujuk Aria. Tangis Adnan berhenti, satu kedipan mata terlihat dari Aria. Bapak anak ini mulai colab rupanya.
Drama Adnan tidak berhenti sampai di situ. Anak itu minta mandi dan berganti pakaian di kamar Aria. Saat mandi Adnan berulah, hingga baju Rossa basah kuyup jadinya. Lagi-lagi duo bapak anak itu mengerjai Rossa. Adnan minta si ibu bersiap di kamar Aria.
Rossa tentu ingin protes tapi saat bi Sumi datang membawa paperbag berisi pakaian ganti Rossa, wanita itu tidak punya pilihan. Adnan bersiap bersama Aria, dengan Rossa masuk ke kamar mandi. Wanita itu sesaat menarik nafasnya, mengamati kamar mandi Aria. "Kamar mandi cowok!" Gerutu Rossa.
Satu ketukan terdengar membuat Rossa terlonjak. "Nur, kamu bisa langsung masuk ke walk in closet lewat pintu yang satu lagi." Info Aria. Pria itu ingin Rossa mengenal dirinya melalui kamarnya.
Memakai handuk kimono sambil menenteng paperbag, Rossa masuk ke walk in closet milik Aria. Satu ruangan cukup luas, yang berisi deretan pakaian lelaki itu. Di satu sudut, dia melihat satu jendela kaca lumayan besar. Saat dia melihat ke jendela, wanita itu melihat pemandangan yang membuat jantung Rossa berdebar kencang. Bukan karena rasa cinta yang mulai merasuk di hati. Namun melihat satu hal yang membuat sudut mata Rossa basah. Apa yang dia impikan ada di depan mata. Aria tengah shalat berjamaah bersama Adnan.
__ADS_1
Wanita itu menangis lirih sambil membekap mulutnya. Hatinya kian bimbang saat suara Aria terdengar membimbing Adnan membaca kitab suci mereka.
"Aku tidak jatuh cinta pada parasnya, tapi pada akhlaknya."
Rossa menjauhkan diri, mulai memakai kebaya biru navy, sesuai dengan baju yang Adnan pakai. Satu ketukan terdengar, Adnan menghambur masuk mencari sang ibu. Untung Rossa sudah selesai memakai pakaiannya.
"Ibu turun ya minta bedak sama Uti." Bukan Adnan yang menjawab tapi Aria, berputarlah. Hanya itu yang Aria katakan. Sebuah meja dengan kaca rias besar terlihat, saat Rossa membuka lacinya. Sederet peralatan make up terlihat. Merk sama dengan yang Rossa biasa pakai.
"Sengaja ya?" Todong Rossa. Aria tampak memakai kemeja batik persis seperti yang Adnan pakai.
"Katakanlah begitu." Pria itu mulai memilih jam tangan dengan Adnan tampak antusias melihat. Dapat, Aria memakainya, tak lupa Adnan pun memakai satu.
"Cepatlah Nur. Santo sudah datang." Kata Aria pelan. Tak berapa lama, pandangan semua orang terpaku menatap ke arah tangga, di mana Aria turun bersama Adnan dengan Rossa.
"Beuuhhh vibesnya dah kek keluarga bahagia aja. Dahlah kalian saja yang lamaran. Aura gue kebanting." Gerutu Amato.
"Itu jelas akan terjadi, sekarang kelarin dulu urusanmu!" Balas Aria. Menoleh ke samping di mana Rossa tampak cantik dengan make up flawless, rambut diikat sebagian. Aria mengulum senyumnya. "Dia, hanya dia yang aku mau dalam hidupku, ya Allah bukakanlah pintu hatinya untukku." Mode paksa on.
Kehebohan semakin menjadi saat Santo masuk membawa seorang wanita bersamanya. "Kalian beneran pacaran?"
***
Up lagi readers. Jangan lupa tinggalkan jejak. Terima kasih.
__ADS_1
***