My Sweet Journey

My Sweet Journey
Tidak Sia-Sia


__ADS_3


Kredit Pinterset.com


Rossa tersenyum melihat di mana dia berada sekarang. Sebuah tempat makan yang terletak di atas kolam besar. Ada beberapa spot tempat makan dengan bentuk bundar, lantainya terbuat dari kayu, dengan tepian di beri pagar dari bahan yang sama. Tempatnya sangat nyaman dengan konsep back to nature.


Memilih spot paling atas, Rossa bisa melihat keseluruhan bangunan restauran. Di depan Rossa tampak Aria yang sejak tadi memandang wanita itu. Kesempatan terbuka lebar, dia tinggal menunggu masa tunggu (iddah) selama tiga bulan.


"Kau menikah dengannya, mama jamin kamu akan dapat kejutan." Satu bisikan dari Mala membuat Aria semakin penasaran. Haruskah dia menandai wanita itu sekarang? Aria seketika meraup wajahnya kasar.


"Kenapa denganmu?" tanya Rossa yang kini melihat pada Aria.


"Tidak ada. Hanya terpikirkan bagaimana jika aku ingin serius denganmu?" To the poin. Itulah yang Aria lakukan sekarang. Pria itu pikir, tidak ada lagi yang harus dipertimbangkan tentang seorang Rossa. Lebih tepatnya dia tidak peduli siapa Rossa.


"Maksudmu?" Rossa sejenak meraba arah pembicaraan Aria. Perlahan dia tahu maksud ucapan Aria


"Jangan pura-pura. Kamu sudah cukup dewasa untuk tahu apa yang kukatakan." Aria berucap santai. Dia tengah berjuudi dengan nasibnya.


"Kamu ingin kita menikah. Begitu maksudmu?"


Senyum Aria melebar, mendengar Rossa langsung tanggap dengan ucapannya. Mereka tinggal berdua, Mala sedang mengajak Adnan berkeliling. Dengan Amato dan Shilda pergi ke toilet.


"Sayangnya aku belum ingin menikah." Sahut Rossa langsung. Senyum Aria memudar. Balasan Rossa di luar ekspektasi. Ditolak? Seorang Aria ditolak. Perempuan lain sibuk mengejar, yang ini malah menolak.


"Kau yakin dengan jawabanmu?" tanya Aria. Dua orang itu saling pandang. Aria tampak mencari tahu apa kurangnya dia di mata Rossa. Sementara Rossa berusaha menahan hatinya.


"Tidak ada yang kurang dengan pria ini. Hanya saja, aku bukanlah wanita yang pantas disandingkan dengan Mas Aria." Batin Rossa.


"Alasannya?" Todong Aria.


"Aku bukanlah untukmu. Kamu berhak dapat jodoh yang sepadan seperti...Nisa."


Rahang Aria mengeras, dengan wajah langsung berubah kesal. Dia lupa kalau Nisa dan Rossa saling mengenal. Nisa tentu sudah bercerita soal dia yang dijodohkan dengan gadis itu.


"Tapi aku tidak menginginkan hal itu. Papaku berkata kalau perjodohan ini bisa saja batal jika salah satu pihak tidak setuju." Aria mencoba memberi pengertian pada Rossa.

__ADS_1


"Tapi dia sangat mencintaimu." Rossa memberitahu soal perasaan Nisa. Sesama perempuan tentu Rossa tahu bagaimana rasanya mencintai seorang pria. Nisa bisa sakit hati jika Aria menolaknya, apalagi jika alasannya karena Aria menyukai dirinya. Wanita yang sudah Nisa anggap teman.


"Tapi aku tidak!" Detik berikutnya Aria bercerita kalau dia sudah menolak perjodohan ini. Sesuai prinsipnya hari itu. Bukan bermaksud menyakiti Nisa tapi Aria berpikir akan lebih bagus jika Nisa tahu dari awal soal perasaannya.


Melihat bagaimana sikap Rossa, bisa dipastikan Aria harus menyelesaikan masalahnya dengan Nisa lebih dulu seperti keinginan kanjeng mami.


"Baik, jika kamu menolakku karena alasan ini. Akan kuselesaikan masalah segera. Tapi aku mau kita langsung menikah jika problem ini selesai."


Satu jawaban tak pasti dari Rossa membuat Aria menggeram marah. Setia kawan sekali mereka ini, omel Aria dalam hati. Satu hal yang pasti, Aria ingin segera menghalalkan Rossa jika masa iddah wanita itu sudah selesai.


Hening sesaat meliputi keduanya. Aria lebih banyak menatap Rossa sementara perempuan itu sejak tadi menghindari kontak mata dengannya. Aria tahu dia seharusnya menjaga pandangannya. Namun untuk saat ini biarlah dia melanggar aturan itu. Dia ingin memastikan apa yang dia rasa untuk Rossa benar, meyakin kalau wanita ini yang telah dipilihnya.


"Kamu tidak takut jika aku menggunakan cara lain untuk mendapatkanmu." Kata Aria sambil menaikkan alisnya.


Rossa seketika melihat pada Aria. Siapa yang tidak akan tertarik pada sosok Aria. Semua wanita di luar sana bisa saja tertarik pada pria ini. Bahkan Katy rela melakukan apa saja untuk mendapatkan Aria.


"Kamu tidak takut jika pencipta-mu akan oleng padaku? Karena rayuanku?"


"Kalau Dia sampai termakan bujuk rayumu berarti ini yang terbaik untukku, untukmu dan kita semua."


"Kamu tahu, tidak ada istilah pedekate dalam kamus hidupku. Aku serius, aku akan menikahi pilihanku."


Rossa hanya diam tanpa menjawab, tapi bahasa tubuh Rossa memberi Aria petunjuk, kalau wanita itu punya prinsip yang sama.


Di tempat lain, Shilda tampak berlari kencang. Dua pria berjas hitam terlihat mengejar gadis itu. "Ketahuan juga gue akhirnya." Batin Shilda dengan nafas terengah-engah.


Tadinya Shilda ngotot ingin di rumah. Namun rengekan dari Adnan membuat gadis tersebut terpaksa ikut. Shilda tidak menyangka jika ada orang yang mengikuti. "Non...jangan kabur!" Satu pria berteriak.


"Idihhh ogah. Nanti gue kalian tangkap, kalian bawa pulang!"


Teriak Shilda tak kalah keras. Gadis itu terus berlari sampai dia berhenti karena menubruk punggung seseorang. Shilda reflek berhenti. "Alamak!" Shilda memundurkan langkah melihat siapa yang dia tabrak. "Mampus gue! Malah ketemu dedengkotnya."


"Bagus ya! Lama gak pernah pulang. Malah keluyuran gak jelas!" Suara itu kontan membuat Shilda memundurkan langkah. Berniat kabur lagi. Tapi dua pria itu menahan tangan Shilda. "Woi ini gak boleh!"


Dua pria itu menunjukkan tangan mereka yang tertutup sarung tangan. "Sial! Mereka tahu!" Maki Shilda.

__ADS_1


"Dahlah ayo pulang! Kamu ini bestian banget sama si Ocha, sampai kabur pun kalian kompak!"


"Aduuhh bang, ampun! Shilda gak mau pulang! Entar yang ada Shilda dikawinin!"


Satu sentilan mendarat di kening Shilda. Gadis itu meronta dalam cekalan dua bodyguard yang memegangi dua tangannya.


"Punya calon?" Shilda menggeleng. Tak banyak kata, pria itu menyeret Shilda pergi dari tempat itu. Saat akan masuk ke mobil, satu pukulan menghantam wajah si pria. "Jangan kasar ya sama wanita!" Kata suara itu. Shilda mengerutkan dahi melihat siapa yang menarik tubuhnya menjauh dari mobil.


"Siapa kamu?!" Tanya pria yang tak lain adalah Amato. Lelaki itu menyembunyikan Shilda di balik punggungnya.


"Harusnya aku yang tanya siapa kau?" tanya balik pria itu.


Dua pria itu saling pandang. "Dia siapa Shil? Pacarmu?"


"Iya, aku pacarnya!" Shilda melotot sambil menatap wajah Amato, tidak percaya.


"Jangan aneh-aneh ya kamu! Keluargaku gak ada acara pacar-pacaran!" Shilda berbisik.


"Lah.... malah beneran langsung nikah." Balas Amato santai. Shilda dan pria itu melotot.


"Kalau gitu pulang kamu! Kamu datang rumah, lamar adikku!" Tunjuk si pria ke arah Amato.


Giliran Amato yang melotot, dia kira pria itu adalah preman yang mengganggu Shilda. Ternyata dia adalah kakak Shilda.


"Mampuuus!! Malah aku kejebak permainanku sendiri!" Amato dan Shilda saling pandang. Raut terkejut jelas terlihat di wajah keduanya.


"Kau mengaku pacarnya kan? Kau serius dengannya? Maka buktikan itu!" Pria itu menyeringai puas, melihat Shilda dan Amato yang kebingungan.


"Tidak sia-sia kau kabur dari rumah." Pria itu membatin lagi.


***


Up lagi readers. Jangan lupa tinggalkan jejak. Terima kasih. Maaf slow up ya.


***

__ADS_1


__ADS_2