
Aria tersenyum kecut mendapati Rossa berdiri tepat di hadapannya. Wanita itu benar-benar marah, beraninya Aria menemui Adnan tanpa seizinnya. "Apa yang kau lakukan di sini?" Galak Rossa. Seorang ibu di mana-mana sama ya, over protektif sama anaknya.
Aria hanya bisa diam melihat Rossa, sejenak berpikir, bukankah Rossa kalau sudah berada di mushala suka lama. Kenapa kali ini dia datang lebih cepat?
"Nur, aku tidak melakukan apa-apa. Cuma mau ketemu Adnan." Balas Aria sambil nyengir. Namun cengiran Aria langsung menghilang saat wajah Rossa bertambah marah. "Pergi kamu!" Rossa menarik ujung jas Aria, membawanya ke pintu keluar. Aria berontak, dia tidak mau pergi. "Keras kepala!" Maki Rossa. Aria sesaat berdebat dengan Rossa.
Wanita yang baru Aria tahu, ternyata sangat pandai berdebat. "Tidak ada alasan, pokoknya kamu tidak boleh kemari lagi!"
"Tapi Nur...."
"Ayah..." Rossa dan Aria menoleh ke arah Adnan. Di mana bola mata bocah itu sudah terbuka. Adnan sadar. Terlebih ada suara yang Adnan keluarkan.
"Kamu bangun, Le?" tanya Rossa dengan mata berkaca-kaca.
"Ibu...." Tangis Rossa pecah dengan Aria langsung menekan tombol yang terhubung ke nurse station. Saat pria itu berbalik, Rossa tengah memeluk Adnan. Bocah itu tersenyum, sampai tatapan Adnan melihat Aria.
"Ayah....."
Ha? Aria melongo, dia dipanggil ayah. Lah bukankah dia sudah mengenalkan dirinya sebagai om, kenapa keluarnya ayah.
Tak berapa lama dua perawat datang, melihat Adnan sadar, satu orang dari mereka langsung memanggil dokter Tio.
"Sebentar ya Bu, kami periksa dulu."
"Ayah....Ibu....jangan ditinggal." Kata Adnan terputus-putus. Masih ada ventilator juga NGT di hidung Adnan, itu menyulitkan Adnan bicara.
"Sebentar Nak, kita...tunggu di luar sebentar. Biar pak dokter periksa Adnan dulu ya," Rossa coba memberi pengertian.
"Ayah...." rengek Adnan. Aria seketika salah tingkah dengan panggilan Adnan. Terlebih tatapan tajam Rossa serasa menguliti Aria hidup-hidup. Mode garang on.
__ADS_1
"Apa yang kau katakan pada anakku? Dia bisa dengar apa kau tahu itu?" Salak Rossa.
"Aku tahu dia bisa dengar. Mama sudah cerita banyak. Aku juga tidak bilang apa-apa." Sahut Aria. Pria itu tampak fokus pada dokter Tio yang tengah melepas ventilator yang Adnan pakai.
"Lalu kenapa dia bisa memanggilmu ayah?" Todong Rossa.
"Mana aku tahu. Aku bilang padanya, aku ini Om-nya." Aria menatap Rossa yang tampak tidak percaya pada ucapannya.
Wanita itu ingin berdebat lagi, tapi panggilan dari dokter Tio membuat mereka berhenti bicara. Satu penjelasan Rossa terima dari dokter tersebut. Ventilator sudah dicabut. Adnan juga akan mulai masa transisi dari NGT ke cara makan normal. Anak itu akan diobservasi sampai besok pagi, jika tidak ada masalah, Adnan bisa dipindahkan ke ruang rawat biasa.
"Kita akan sama-sama memulihkan dia. Hebat sekali, saya salut dengan semangat Adnan." Kata dokter Tio dengan wajah berkaca-kaca. Lima tahun merawat Adnan, dia sempat putus asa dengan keadaan Adnan. Berpikir kalau anak itu tidak akan mampu melewati tahun ini, nyatanya takdir Tuhan berkata lain. Kehilangan detak jantung untuk kedua kalinya, justru membuat kesadaran Adnan kembali.
Dokter Tio sudah menghubungi dokter Hendra, dari bagian rehab medik alias terapi, pria itu akan visit sebentar lagi, juga dari spesialist mata, gigi dan mulut. Gigi dan mulut ini yang kemungkinan akan bekerja lebih dulu. Lima tahun tidak bisa membuka mulut dengan sempurna dan jarang mengunyah, membuat Rossa tidak bisa membersihkan mulut Adnan secara maksimal. Alhasil kerak di gigi Adnan menumpuk tebal. Perlu pembersihan karang gigi segera agar Adnan bisa makan dengan nyaman.
Rumah sakit seketika heboh, bocah yang lima tahun lali dinyatakan akan mengalami cacat, kini dikabarkan sembuh.
"Saya harap kerja sama dari keluarga. Ini ayahnya Adnan....kenapa beda?"
"Bukan biasanya yang ngantar ya. Maaf, saya tidak terlalu memperhatikan. Tapi mohon bantuannya. Anda adalah orang pertama yang Adnan lihat saat bangun, jadi kemungkinan dia akan mencari anda lagi. Terlebih Adnan memanggil anda ayah."
Rossa mendelik pada Aria. Wanita itu seolah tidak terima dengan permintaan dokter Tio, dan dokter itu cukup paham dengan reaksi Rossa.
"Demi kesembuhan Adnan." Kalimat itu akhirnya ampuh menurunkan ego Rossa. Hingga Rossa mengizinkan Aria untuk sering menjenguk Adnan.
"Yeessssss!!" Teriak Aria dalam hati. Pria itu terlihat begitu bahagia. Kenapa? Tidak tahu. Aria sendiri tidak tahu kenapa dia bisa merasa sesenang ini, bakal sering bertemu Adnan dan Rossa untuk waktu ke depannya.
"Hanya demi Adnan!" Tegas Rossa.
"Demi yang lain juga gak apa-apa." Balas Aria asal. Rossa ingin protes, saat Shilda berlari ke arah Rossa. Shilda baru saja dapat kabar dari Nurul kalau Adnan sudah sadar.
__ADS_1
Dua wanita itu berpelukan saking senangnya. Di belakang Shilda terlihat Mala yang juga buru-buru datang, begitu Aria memberitahu kalau Adnan sudah bangun.
"Mana cucuku?" tanya Mala antusias.
"Mama jangan ndagel deh. Cucu nemu dari mana?" Balas Aria.
"Lo dia bakal manggil mama, mbah lo. Gak percaya, kita buktikan." Tantang Mala.
"Iya deh cucumu. La wong dia manggil aku ayah." Batin Aria terbahak sendiri dalam hati.
Aria melongo saat Adnan benar-benar memanggil Mala dengan sebutan simbah, begitu anak itu mendengar suara Mala. "Putu simbah yang ganteng sendiri."
Rossa dan Aria saling pandang mendengar ocehan Mala. Dengan Shilda menahan tawa di belakang Rossa. "Kode alam tu." Celetuk Shilda. Rossa melengos mendengar ucapan Shilda.
"Jangan begitu, nanti jodoh beneran..... gak bakal nolaklah." Rossa memberi tatapan penuh ancaman pada Shilda. Sementara Shilda pura-pura tidak tahu.
"Ayah...." Perhatian semua orang kini terpusat pada Aria. Pria itu mendekat, "Ya Nak." Jawab Aria lembut.
Hati Rossa seketika tersentuh, cara Aria memperlakukan Adnan sama dengan Angga, tapi Aria lebih luwes. Pria itu terlihat lebih sabar menghadapi Adnan yang perlu belajar bicara lagi.
Di tempat lain, tampak seorang pria tengah berdoa di atas sajadahnya. Angga, pria itu sedang mengadu pada pencipta-Nya. Meminta petunjuk atas kebimbangan yang dia rasakan. Ucapan Aria sedikit banyak mempengaruhinya.
"Apa ini sudah waktunya aku melepasnya?" tanya Angga dalam doanya.
Benar sekali kata Aria, ada banyak cara untuk menolong Rossa tanpa harus mengekang kebebasan gadis itu untuk mencari kebahagiaannya sendiri.
Angga berharap bisa mengambil keputusan yang tepat soal masalah ini. Dia ingin menjalani hidup damai dan bahagia.
***
__ADS_1
Up lagi readers. Jangan lupa tinggalkan jejak. Terima kasih.
***