
Lamaran Hamzah berdampak besar pada keadaan Nisa. Gadis itu terlihat begitu bahagia, setelah menerima permintaan Hamzah untuk menikah dengannya. Semangat hidup Nisa kini berlipat-lipat. Gadis itu tak lagi muram, wajah Nisa kini tampak sumringah dengan semangat untuk sembuh menyala-nyala.
Apalagi saat hari berrikutnya, Zaiharudin dan Adinda secara pribadi melamar Nisa pada Heru. Lelaki paruh baya itu hanya bisa menangis terisak, masih ada orang yang sudi menerima putrinya yang tengah sakit untuk dijadikan menantu.
"Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi besok, Pak Heru." Ucapan Zai tentu diangguki oleh Heru. Saat ini yang paling penting bagi Heru adalah membuat putrinya tersenyum.
Zai dan Adinda sendiri hanya menuruti permintaan Hamzah. Bagaimanapun putra sulungnya terbukti mencintai Nisa. Hamzah tetap menerima keadaan Nisa yang sedang sakit, bersedia menikahi gadis itu. Cinta memang luar biasa.
Dan waktu yang mereka perlukan tidaklah lama, hanya seminggu waktu yang dibutuhkan untuk mempersiapkan pernikahan Hamzah dan Nisa. Nisa tidak mau perayaan besar, dia hanya mau menikah dengan acara yang sederhana.
Kabar baiknya lagi, dua hari jelang pernikahan Nisa bisa lepas dari selang oksigen, gadis itu mampu melakukan winning oksigen. Dokter Bimo dan prof Pujo hampir tidak percaya Nisa mampu melakukannya. Hal ini tentu membuat semua anggota keluarga merasa bahagia, terlebih Hamzah. Keadaan Nisa pulih dengan cepat.
Sehari sebelum hari pernikahan, Nisa diizinkan pulang, meski Nurul di minta untuk selalu mengawasi keadaan Nisa. Mengingat rumah Nurul dekat dengan tempat tinggal Nisa. Pernikahan Santo terpaksa diundur untuk memberi waktu pada keluarga Heru dan Rossa guna mempersiapkan pernikahan Hamzah dan Nisa.
"Wk wk wk, jebol gawangnya diundur juga ya." Ledek Amato yang setelah menikah justru semakin tengil.
"Yang penting dia udah gue genggam, gak bakal lari. Yang mau gue bilang, gue gak akan nunggu sampe sebulan buat jebol gawang, apalagi harus dipush pake obat segala." Balas Santo telak.
"Aseemmm." Amato mengumpat kesal. Ya, soal jebol gawang dia memang kalah banyak.
Lagi-lagi kabar pernikahan Hamzah membuat satu orang geram, siapa lagi kalau bukan Yuna. Wanita itu sibuk memaki Nisa. "Cewek penyakitan aja! Beruntung banget dapat Hamzah yang tajir." Umpat Yuna yang baru saja masuk ke rumah. Hari ini dia menemui pemilik klinik yang menyediakan jasa menggugurkan kandungan.
Kegialaan Yuna semakin bertambah, wanita itu nekad melakukan hal yang dilarang yaitu membunuh. Menggugurkan kandungan bukannya sama dengan menghilangkan nyawa alias membunuh. Hari dan waktu sudah ditentukan, Yuna tinggal menunggu waktunya tiba.
Waktu pernikahan Hamzah dan Nisa tiba. Wanita itu tampil cantik mengenakan gaun pengantin simple dengan balutan hijab di kepala, warna putih mendominasi di tengah sedikit sentuhan warna biru di bagian ujung gaun. Senyum bahagia Nisa menambah rona cantik gadis itu.
__ADS_1
Hamzah bahkan tidak berkedip melihat wajah Nisa saat mereka dipertemukan pertama kali setelah sah sebagai suami istri. Dalam satu tarikan nafas, Hamzah sukses mengubah status mereka berdua. "Assalamu'alaikum, Humaira-ku."
Nisa menitikkan air mata saat Hamzah memanggilnya Humaira, nama panggilan kesayangan Rasulullah untuk istrinya Aisyah. "Wa'alaikum salam, ya Habibi."
Semua orang terharu melihat bagaimana Hamzah mencium kening Nisa lama, terlihat sekali jika Hamzah sangat mencintai Nisa.
Dari jauh tampak Meri dan Dewi yang juga diundang ke acara private keluarga Subagya dan Hutomo itu. Meri datang sambil mengantar Nurul sebab Santo tidak bisa menjemput Nurul, dia terlalu sibuk di rumah keluarga Hutomo. Sedang Dewi datang karena Adnan merengek meminta sang guru untuk datang. Dua orang berhijab itu jadi akrab karena sama-sama merasa asing di tempat itu. Meri dan Dewi merasa bukan bagian dari circle keluarga kaya tersebut. Namun bagaimana lagi, mereka juga tidak bisa menolak ajakan keluarga itu.
Pesta hanya berupa syukuran makan bersama, dengan Nisa yang tetap duduk. Nurul menyarankan begitu, menghindari kelelahan. Calon istri Santo itu berbisik pada Hamzah, "Sabar ya bang, jangan main tubruk aja, ingat sikon."
Hamzah memanyunkan wajahnya. Dia cukup paham dengan keadaan Nisa. "Aku tidak senekat itu." Balas Hamzah kesal. Nurul hanya bisa mengulum senyumnya.
"Selamat atas pernikahannya Kak, semoga samawa till jannah." Hamzah dan Nurul melihat Dewi mengucapkan selamat pada Nisa, bersama dengan Meri. Terlihat Nisa begitu bahagia menerima dua paperbag yang diberikan Meri dan Dewi. Nisa sesaat meminta Dewi dan Meri untuk duduk di sebelahnya, menemaninya sembari membiarkan kerabat lain menikmati waktu makan mereka.
Ketiganya berbincang dengan akrab, lebih tepatnya mengakrabkan diri. Dalam keadaan itu ada dua orang yang menatap intens pada ketiga perempuan itu.
Pun dengan Dewi, gadis itu sejak tadi menjadi obyek pandangan dari Hamzah, bergantian dengan sang istri. "Astahfirullah, baru juga nyandang gelar suami, mata kok sudah jelalatan lihat yang lain." Maki Hamzah pada dirinya sendiri.
Rupanya tingkah Hamzah tertangkap basah oleh mata Nisa. Cemburu? Tidak. Marah? Tidak juga. Nisa justru tersenyum. Dari perkenalan singkat mereka, Nisa tahu kalau Dewi adalah gadis yang baik dan tentunya sholeha. Nisa semakin terkesan dengan sosok Nisa.
"Sepertinya ini tidak terlalu buruk." Batin Nisa tersenyum puas. Syukuran itu tidak berlangsung lama, sekitar pukul sepuluh siang, semua orang mulai berangsur pergi. Tinggal keluarga inti saja yang tinggal. Bahkan Aria dan Rossa sudah pergi lebih dulu, Adnan sunat hari ini.
Satu hal yang Mala ributkan sejak kemarin. Wanita itu mendesak dokter Tio untuk memajukan jadwal operasi sunat Adnan. Wk wk wk operasi sunat. Dokter Tio akhirnya menuruti kemauan Mala. Siapa juga yang bisa menolak keinginan kanjeng mami keluarga Aria Loka. Asal ada fulus semua bisa mulus.
Jika keluarga Heru bahagia dengan pernikahan Nisa, maka keluarga Hutomo dan Aria Loka sedang deg-degan menunggu proses sunat Adnan. Dua suasana yang sama-sama menimbulkan euphoria bahagia yang menggelora di dada.
__ADS_1
Sepasang pengantin baru itu baru saja menunaikan kewajiban empat rakaat Dzuhur mereka, untuk pertama kali sebagai suami istri. Nisa menangis saat mencium tangan Hamzah.
"Aku akan menantikan kita bisa melakukan hal ini tiap saat, Bi." Kata Nisa sembari menyeka air mata yang meleleh di pipi.
Hamzah tersenyum mendengar perkataan sang istri. "Kita akan melakukan itu sampai kita menua nanti, bersama anak cucu kita kelak." Balas Hamzah, menuntun Nisa ke arah sofa. Dua orang itu saling berpandangan.
"Sungguh aku tidak pernah rela melepasmu, tapi apa yang bisa kulakukan jika Dia memintaku pulang lebih awal. Setidaknya aku sudah punya calon penggantiku." Batin Nisa sembari memeluk Hamzah sang suami. Cinta? Ya, Nisa kini bisa merasakan apa yang disebut cinta setelah menikah.
"Bi...."
"Hmmm,"
"Aku cinta Abi." Senyum Hamzah mengembang mendengar ucapan yang sudah lama ingin dia dengar dari bibir sang istri. Sebuah ciuman mendarat di bibir Nisa. Sebagai balasan ungkapan cinta dari Nisa.
"Jangan minta sekarang ya. Tunggu kamu lebih kuat lagi. Takut kamu kewalahan ngadepin aku." Lirih Hamzah setengah tersenyum. Sedang tawa justru terdengar dari Nisa.
"Masih bisa nunggu?" Hamzah mengangguk menanggapi pertanyaan Nisa.
"Baik, aku akan berusaha lebih keras lagi agar jadi kuat." Lanjut Nisa, hingga senyum Hamzah mengembang mendengarnya.
"That's my lovely wife." Satu kecupan mendarat di puncak kepala Nisa. Satu permulaan yang manis untuk kehidupan baru mereka.
****
Up lagi readers. Jangan lupa tinggalkan jejak. Terima kasih.
__ADS_1
****