
Semua orang yang melayat di rumah Nisa bisa merasakan kesedihan dan kehilangan Heru juga Hamzah. Salah satu pelayat yang hadir adalah Angga. Pria itu tentu terkejut, baru kemarin dia menghadiri pernikahan sederhana kakak Rossa itu. Sekarang dia dikejutkan dengan berita kematian Nisa. Walau Angga tahu Nisa sakit parah, tapi pria itu tidak menyangka kalau Nisa akan meninggal begitu cepat.
"Tidak ada yang tahu soal besok." Kata Santo yang duduk di sebelah Angga. Di samping Amato. Baik Angga maupun Amato setuju dengan ucapan Santo. Mereka kini mendekat ke arah Hamzah, memberi support untuk pria itu. Duper sawit baru saja launching. Duda perjaka sarang duit.
Mereka bergantian memeluk Hamzah. Pria itu tampak lebih baik setelah melakukan kewajiban Ashar-nya. Rasa sesak itu perlahan memudar, meski ada yang masih tersisa. Setidaknya Hamzah sudah mempersiapkan diri untuk kemungkinan paling buruk sekalipun. Keadaan Nisa yang memburuk akhir-akhir ini membuat Hamzah bersiap, jika sewaktu-waktu Nisa pergi, dia akan berusaha merelakannya.
Tanpa Nisa tahu, beberapa kali Hamzah melihat dirinya muntah. Hamzah langsung menghubungi dokter Bimo. Namun Nisa menolak untuk pergi ke rumah sakit. Dia hanya ingin berada di sisi Hamzah sepanjang waktu.
Doa bersama akan dilakukan selepas Isya, tapi semua orang tampaknya tidak akan pulang sebelum acara selesai. Bahkan Adnan sampai tidur di kamar tamu, saking lelahnya. Para pria menumpang mandi bergantian di rumah Heru.
Lagi-lagi Meri dan Dewi tampak asing di tengah suasana duka keluarga Heru dan Hamzah. Dewi sejak tadi gelisah, karena ini sudah sore. Dia tidak bisa meninggalkan adiknya terlalu lama. Mereka di rumah sendirian. Dewi datang ke rumah Heru bersama Aria dan keluarganya. Dan perempuan itu kini bingung. Harus pulang dengan cara apa.
Pada akhirnya Dewi memutuskan memesan ojek online, tidak ada cara lain. Gadis itu berpamitan pada Rossa yang justru diantarkan pada pemilik rumah. Heru sesaat tertegun melihat rupa Dewi. Jika Heru saja terkesima melihat Dewi, jantung Hamzah malah sudah berpacu dalam melodi. Lelaki itu seketika memaki pada dirinya sendiri, baru ditinggal istri beberapa jam saja, hatinya sudah mau oleng ke mana-mana. Hati gak punya perasaan.
"Nak Dewi mau pulang naik apa?" pertanyaan Heru membuat Dewi gugup. Hingga Rossa yang menjawab rasa ingin tahu Heru.
"Pakai saja motor yang di garasi itu. Nganggur gak pernah di pakai. Itung-itung manasin mesin." ucapan Heru tentu tidak serta merta membuat Dewi mengiyakan. Hingga ucapan tegas Hamzah membuat Dewi tak berkutik. Terlebih tatapan tajam duda newbie itu membuat Dewi ketakutan.
"Duda baru publish, auranya kek mau makan orang." Kata Dewi mengekor langkah Hamzah ke ruangan yang ada di sebelah ruang tamu. Pintu dibuka dan nampaklah motor Vario yang terlihat baru.
"Pakai dulu, jangan protes." Hamzah menyerahkan kunci motor yang sejatinya milik Nisa.
"Woelah galak bener." Kata Dewi hanya bisa bersuara dalam hati. Sementara Hamzah mulai membuka pintu garasi. Hanya motor itu yang ada di dalam sana. Mobil milik Heru dan Hamzah ada di luar. "Pak, kok gak nyala." Cicit Dewi.
Bahhh, suara Dewi yang lembut membuat Hamzah tertarik. Ada rasa ingin tahu yang membuat pria itu mendekat. Hamzah mencoba stater motor tersebut. Tidak hidup, Hamzah lalu mencoba menggunakan stater manual. Hidup! Lelaki itu membawa motor keluar, dengan Dewi mengekor di belakang.
__ADS_1
"Nanti kalau mogok, telepon saja." Pria itu berucap sambil meletakkan dua paper bag di gantungan motor.
"Nanti saya telepon Bu Rossa saja."
"Ponselmu." Hamzah mengulurkan tangannya, Dewi sedikit ragu untuk memberikan ponselnya. Hingga pria itu memaksa. Tak berapa lama satu panggilan masuk ke ponsel Dewi.
"Telepon aku kalau mogok." Kata Hamzah singkat, kembali masuk ke rumah.
"Eh, Pak ini apaan?"
"Buat adikmu." Balas Hamzah setelah Dewi menunjuk paperbag pemberian Hamzah. Dewi awalnya takut, tapi tak lama terdengar motor itu melaju meninggalkan kediaman Heru.
"Dewi gadis baik, aku merekomendasikannya sebagai pengganti diriku."
♧♧♧
Angga setengah berlari ke satu ruang di gedung bagian utara rumah sakit. Gedung yang berdiri sendiri dengan keadaan agak terpisah dari gedung lainnya. Bahkan ada satpam dan parkir tersendiri untuk bangunan lima lantai itu.
Kedatangan Angga disambut dokter Kanti, ahli kejiwaan yang menangani Yuna. Istri Angga itu terpaksa dimasukkan ke unit itu setelah tingkahnya menunjukkan kelainan mental. Angga waktu itu sempat dikejutkan dengan sikap Yuna yang tampak ketakutan sambil menutup telinganya sendiri. Saat dia tanya, Yuna malah mengamuk. Wanita itu justru menyalahkan Angga, karena Anggalah dia harus menggugurkan kandungannya.
"Bagaimana Dok hasil pemeriksaannya?" Angga bertanya dengan ekspresi wajah tak bisa ditebak. Bingung, kecewa sekaligus kasihan.
"Awalnya kami menemukan istri Anda mengalami gangguan paranoid, tidak percaya diri. Tapi lama kelamaan paranoid Yuna menjadi ekstrem, hingga menimbulkan gangguan jiwa."
"Gila maksud Dokter?" potong Angga cepat.
__ADS_1
"Orang awan menganggapnya begitu. Keadaan Yuna diperparah dengan tindakan aborsiii yang dia lakukan. Dia seakan mendengar tangis bayi di kepalanya."
Angga memijat pelipisnya pelan. Gila? Istrinya gila, mengalami gangguan jiwa. Karmakah ini?
"Apa dia ada kemungkinan sembuh?" Dokter Kanti menghela nafas, mendengar pertanyaan Angga. Gangguan jiwa Yuna sudah tergolong akut, wanita itu seharusnya sudah masuk karantina rumah sakit jiwa. Sebab Yuna mempunyai indikasi ingin melukai orang lain dan dirinya sendiri. Dan Angga terpaksa menceritakan kalau Yuna pernah mendorong orang dari tangga sampai koma.
Keterangan Angga semakin menguatkan keputusan Kanti untuk memasukkan Yuna ke rumah sakit jiwa
"Maafkan kami pak, kami terpaksa melakukan hal ini. Istri bapak sulit dikendalikan." Angga akhirnya hanya pasrah saat menandatangani persetujuan pemindahan Yuna ke RSJ di sebelah rumah sakit itu.
"Maafkan aku Yun, aku terpaksa melakukan ini. Semoga kamu semakin baik di sana." Angga hanya bisa diam, melihat Yuna yang meraung-raung tidak karuan saat dipindahkan. Namun aksi marah-marah Yuna dengan cepat berubah menjadi jerit ketakutan. Dengan ucapan lirih terdengar dari bibir Yuna. "Maafkan ibu, ibu tidak bermaksud membunuhmu. Ibu hanya tidak ingin ayah meninggalkanku. Ibu sangat mencintai ayah."
Angga menghela nafas, tampaknya memang benar, karma tengah datang pada Yuna, perempuan itu dihantui rasa bersalah karena tindakannya menggugurkan kandungannya waktu itu.
Pria itu berjalan keluar dari rumah sakit tempat Yuna dirawat, berdiri di tepi jalan. Angga terpaksa memarkirkan mobilnya di seberang jalan. Hembusan kasar nafas pria itu bersamaan dengan seorang perempuan yang bergumam kebingungan. Berdiri tak jauh dari Angga, seorang wanita mengenakan set tunik sampai ke lutut dipadu celana bahan berwarna hitam. Hijab besar wanita itu menambah ayu wajah pemakainya.
"Terus ini saya harus cari ojek lain mbak?" Pertanyaan wanita itu membuat Angga tertarik untuk mendekat.
"Maaf jika tidak keberatan saya bisa mengantar mbak." Dua pasang mata itu bertemu, beberapa kali berjumpa tapi baru kali ini mereka berhadapan satu sama lain. Satu perjumpaan yang estetik di depan rumah sakit jiwa.
****
Up lagi readers, jangan lupa tinggalkan jejak. Terima kasih.
****
__ADS_1