My Sweet Journey

My Sweet Journey
Empat Mata


__ADS_3

Setelah kejadian Rossa yang didatangi Katy, semua orang jadi lebih waspada. Terutama para wanita. Para suami jadi lebih protektif sekaligus posesif pada istri masing-masing. Aria bahkan menyiapkan beberapa bodyguard untuk mengawal Rossa diam-diam. Sebab wanita itu tidak mau diikuti pria dengan pakaian khas serba hitam.


"Dah kek pejabat mana aja. Dikintilin BG, enggak ah, lebay." Tolak Rossa cepat.


Aria hanya bisa menghela nafas, menatap penuh arti pada Amato dan Santo. Ya, mereka harus lebih siaga mulai sekarang. Tidak percaya diri kalau Katy menargetkan mereka, tapi apa salahnya berjaga-jaga.


Di sisi lain, Dewi masih dengan sikap cool-nya saat berhadapan dengan Hamzah. Hingga pria itu jadi pusing dibuatnya. Ada ya gadis yang jual mahalnya kelewatan, di atas harga pasaran malah, begitu keluh Hamzah pada sang adik ipar. Sementara Angga masih H2C menunggu jawaban Meri. Harap-harap cemas.


"Gue bingung deh mau diapain lagi tu perawan."


Angga dan yang lainnya mengulum senyum masing-masing. Sepertinya sekarang Hamzah terlihat lebih panik, dibanding waktu nguber Nisa dulu.


"Gasken lamar ajalah, kek Santo. Nyatanya efektif. Si Nurul langsung iyain." Saran Amato dengan mata terpejam. Semalam Shilda tengah malam, minta dicarikan gudeg manggar, nyidam eksklusif benar si Amato junior.


Di mana coba Amato mau nyari gudeg yang bahannya dari bunga kelapa itu. Siang saja susah nemuin rumah makan yang jual gudeg manggar, apalagi malam. Namun begitu, Amato tetap berangkat juga, memutari kota demi calon anak agar tidak ileran, seperti kata kanjeng mami.


"Kami pinter nyiksa bapakmu." Puji Mala pada janin yang eksistensinya saja belum terlihat.


Pukul tiga pagi, Amato kembali dengan satu besek berisi gudeg manggar yang masih panas, kata pria itu baru turun dari panci tempat masak. Sisi baiknya, Shilda langsung melahap makanan itu sampai menghabiskan dua piring nasi. Busettt, Amato sampai melotot melihat kelakuan istrinya yang lagi ngidam.


"Lah Nurul kan kek jerry ma tom sama Santo. Sudah lama kenal, tinggal dinaikin levelnya jadi bojo, suami istri. La gue, dia aja gak pernah mandang gue kalau gak kepaksa." Curhat Hamzah memelas.


Semua pria saling pandang. Iya dari semua yang ada, kisah cinta Hamzahlah yang paling tragis. Pria itu menunduk lesu. Sesekali menghela nafasnya. Hingga suara salam terdengar, membuat pria itu mengangkat wajahnya dengan segera.


"Pujaan hati datang tu." Seloroh Amato. Dewi seketika mematung di tempatnya, melihat semua pria berkumpul di ruang tengah. Canggung, malu, segan, takut, semua rasa itu menjadi satu di benak Dewi. Terlebih tatapan lekat Hamzah padanya, membuat jantung Dewi berdebar kencang.

__ADS_1


Apalagi jika Dewi teringat terakhir kali bertemu, dia tanpa sengaja berakhir di pelukan Hamzah, saat pria itu menarik tangannya, menghindari tabrakan dari seorang pengendara sepeda. Degup jantung keduanya berlomba di tempat masing-masing. Terlebih saat pandangan mereka bertemu. Dewi jelas terpesona pada wajah tampan dan dewasa milik Hamzah.


"Jangan dipandangin terus, nanti bisa munculin syahwat." Aria berucap bijak. Memberi kode pada Dewi untuk lewat. Pria itu cukup tahu bagaimana sifat Dewi.


Hamzah seketika mengusak rambutnya kasar. "Yuuhh, gak bisa dibiarin lama-lama." Kata Hamzah. Pria itu melangkah menuju ruang tengah, di mana Dewi tengah mempersiapkan materi untuk Adnan.


"Kakakmu kebelet nembak." Bisik Angga konyol.


"Iya, nembak di dalam." Semua orang terkekeh mendengar balasan Aria yang tak kalah absurd.


"Wi, kita harus bicara." Hamzah menarik ujung lengan Dewi, membawanya ke taman belakang, mengabaikan sorak mengejek dari ruang tengah.


"Apa sih, Kak. Astagfirullah." Dewi menepis tangan Hamzah. Pria itu membalikkan badan, menghadap Dewi. "Ayo menikah. Kemana aku harus melamarmu?"


"Panggilanmu yang bener yang mana, kadang Bang, kadang Kak." Protes Hamzah. Ha? Dewi melongo mendengar perkataan Hamzah. Gadis itu seketika menggaruk kepalanya. Salah tingkah. Dia sendiri tidak ingat memanggil apa ke Hamzah.


Kakak Rossa itu menghela nafas. "Panggil Kakak, jangan abang. Nanti samaan ama si Rossa." Hamzah menatap dalam wajah Dewi yang bersemu merah. Aihhh, imut dan menggemaskan.


"Ha? Eh...iya...iya..." Iyain aja deh, biar gampang urusannya, batin Dewi, mengalihkan pandangannya ke tempat lain. Asal tidak menatap Hamzah. Jujur Dewi begitu terpukau dengan kehadiran Hamzah. Dia yang yatim piatu tidak pernah berpikir akan ada pria yang mau mendekatinya. Apalagi pria sekelas Hamzah. Dia minder, insecure dengan itu semua.


"Wi, bagaimana?" Suara Hamzah membuat kesadaran Dewi kembali.


"Apanya?" tanya Dewi balik.


"Permintaanku. Mari menikah." Pria itu kembali menatap Dewi lekat. Tampilan gadis itu membawa ketenangan dan kedamaian di hati Hamzah. Hal sama yang dulu dirasakan Hamzah saat bersama Nisa. Dewi kali ini memberanikan diri menatap wajah Hamzah. Berumah tangga, tentu semua orang ingin melakukan hal itu. Tapi dia tidak bisa melakukan hal itu sekarang. Dia masih punya dua adik yang harus dia biayai.

__ADS_1


"Maaf, Kak. Tapi aku tidak bisa." Dewi berbalik, berjalan menjauhi Hamzah. Kepala Dewi tertunduk. Dia tidak akan menikah sebelum adiknya selesai sekolah.


"Apa ini karena Dwi dan Dewa?" Langkah Dewi terhenti mendengar ucapan Hamzah.


"Mereka tanggung jawabku sekarang, Kak. Mengertilah." Mohon Dewi.


"Tunggu dulu, andai ada solusi untuk Dwi dan Dewa apa kamu bersedia menikah denganku?" tanya Hamzah lagi-lagi tanpa basa basi.


"Beeuuhh, si duper sawit benar-benar tidak sabar mau nembak di dalam." Celetuk Santo. Entah kenapa pria robot itu sekarang ikut jadi gesrek setelah menikah.


Para pria itu rupanya mengintip dari balik jendela di ruang tengah. Kecuali Angga yang sejak tadi sibuk memainkan ponselnya. Mala berujar untuk meminta Angga makan di sana jika di rumah tidak ada yang mengurusi soal makan lelaki itu. Jadi di sinilah dia sekarang, minta sarapan pada Aria, sebab bi Ati tidak bisa datang karena anaknya sakit.


Yang lain masih menanti jawaban Dewi, saat Angga melesat keluar dari rumah Aria. "Ke mana Bro?" teriak Amato.


"Ketemu calon bini!"


"Alhamdulillah," seru para pria bersamaan. Setidaknya ada satu yang sudah rampung acara nyari kepastian. Saat semua masih terpaku pada Angga, Hamzah dan Dewi masuk bersamaan. Pandangan Aria cs beralih ke Hamzah dan Dewi.


"Kita perlu bicara empat mata." Kata Hamzah singkat. Pria itu melangkah meninggalkan rumah Aria. Menyisakan tanya di benak banyak orang. Bicara empat mata? Soal apa? Begitulah yang ada di pikiran Aria dan yang lainnya. Bahkan Dewi pun tidak tahu maksud Hamzah.


***


Up lagi readers. Jangan lupa tinggalkan jejak. Terima kasih.


***

__ADS_1


__ADS_2